
Gelapnya langit malam, menjadi saksi sengitnya pertarungan antara pasukan Jagad dan Sengkala. Bumi semakin bergetar hebat, seiring benturan-benturan energi yang saling beradu.
Kedua raksasa itu terus saling menyerang, dengan begitu beringas dan kejam. Berkali-kali mereka berdua terlempar jatuh membentur tebing dan perbukitan di sekitar hutan.
"Ini tak bisa dibiarkan! Kekuatan mereka berdua bisa menghancurkan hutan dan desa-desa sekitarnya," resah Nyi Kinasih saat menyaksikan keganasan Jagad dan Sengkala.
Sebuah cahaya kebiruan tiba-tiba bersinar dari tempat Sengkala terkapar. Cahaya itu membentuk lubang dan retakan di sekelilingnya. Kepulan asap hitam tampak keluar dari dasar tanah melalui lubang itu.
"Sial! Segel pemisah antara Jagad lelembut dan alam manusia telah retak, kita harus menarik iblis-iblis itu kembali ke dasar tanah!" tegas Jagad.
"Untuk menarik mereka, kita butuh pedang Pakugeni Kembar, Jagad. Mustahil kita bisa mengambilnya sekarang, karena Trisnya belum selesai dengan lelakunya," jelas Nyi Kinasih.
"Maka kita yang harus menarik mereka, dengan kekuatan kita sendiri," ucap Jagad sembari menatap tajam ke arah Nyi Kinasih.
"Walaupun itu artinya, baik aku maupun dirimu akan ikut terserap ke dalam sana?" tanya Nyi Kinasih mencari kepastian.
"Benar! Namun, masih ada kemungkinan kita bisa selamat, asal kita bisa mengalahkan mereka di Jagad lelembut," jelas Jagad sembari terus menyerang Sengkala yang sudah sangat lemah.
Kepulan asap hitam yang keluar dari lubang, mulai memperlihatkan wujudnya. Berbagai macam iblis yang tak pernah terbayangkan bentuk dan wujudnya, melayang-layang ke segala sisi hutan. Mencari-cari celah agar bisa keluar menyebar ke pemukiman para warga.
Beruntungnya, seluruh kawasan Alas Rongko Mayit sudah Nyi Kinasih pagari dengan perisai gaibnya. Mereka hanya berputar-putar tanpa bisa keluar dari wilayah hutan.
Jagad segera memerintahkan sebagian pasukannya untuk menangkap satu-persatu iblis yang baru saja keluar. Sedangkan, Nyi Kinasih dan Jagad masih terus mencoba melumpuhkan sengkala.
Menangkap iblis-iblis itu bukanlah pekerjaan yang mudah, mereka terus berontak dan melawan pasukan gaib Jagad, dengan segala kemampuannya.
Satu-persatu iblis mulai tertangkap dan di tarik kembali ke dasar bumi diikuti para pasukan Jagad yang ikut tertarik ke dalamnya. Tinggalah Sengkala menghadapi Jagad dan sebagian pasukan yang tersisa, seorang diri.
Jagad terus berusaha menghantam dan melempar tubuh Sengkala ke dalam lubang. Nyi Kinasih nampak terus berada di atas bahu kekarnya untuk menyalurkan energi, sekaligus untuk memulihkan luka-luka di tubuhnya.
"Arrrggghhh ... " Jagad mengaum dengan begitu keras dan lantang. Ia berlari ke arah Sengkala yang sudah berdiri tepat di tepi lubang dengan keadaan yang sudah sangat lelah. Ia angkat tinggi-tinggi tombak berapi miliknya, lalu ia terjang tubuh kekar Sengkala hingga jatuh terjerembab bersamaan menuju lubang. Sengkala dengan segala kemampuannya, ikut menyerap setiap makhluk yang berada di sana. Beruntung, raga Jagad dan beberapa jenazah warga desa telah berhasil di bawa pergi menjauh oleh Ki Beruk Klawu, sehingga hanya sukmanya yang ikut terserap.
Semua terasa hening tatkala Ki Beruk Klawu kembali ke medan pertempuran. Tak ia dapati keberadaan Jagad dan seluruh pasukannya di tempat itu.
Disaat ia hendak kembali pergi, terdengar suara derap langkah kaki yang sangat ia kenali muncul dari bekas medan pertempuran yang telah porak poranda.
"Ki Beruk Klawu!" panggil Guntur yang tiba-tiba muncul dari balik batang pohon tumbang.
Ki Beruk Klawu menoleh, dengan senang hati ia menghampiri tuannya yang sedang bersama Trisnya.
"Raga Tuan Jagad ada di tempat yang aman, Tuan!" ucap Ki Beruk Klawu sembari sedikit menunduk.
"Bawa kami kesana," titah Guntur.
Tanpa berkomentar lagi, Ki Beruk Klawu segera membawa Guntur dan Trisnya ke tempat Jagad berada. Sebuah gua yang cukup tersembunyi di tengah kawasan hutan jati, Jagad tampak duduk bersila lengkap dengan kerangka keris Damarwulan yang masih menempel di dadanya.
"Apa dia masih bisa kembali?" tanya Guntur.
__ADS_1
"Jika dia berhasil bertahan, sampai Pakugeni bisa disatukan, maka kita bisa mengeluarkannya dengan menggunakan pusaka itu. Pakugeni yang Trisnya bawa masih belum mampu membendung iblis-iblis yang akan berusaha ikut keluar dari lubang yang tercipta," jelas Ki Beruk Klawu.
"Tidak ada cara lain?" tanya Trisnya.
"Tidak! Segera selesaikan lelakumu, lalu ambil pusaka itu ke kawah," tegas Ki Beruk Klawu.
Setelah obrolan singkat itu, Guntur dan Trisnya membawa raga Jagad menuju pemukiman warga.
Desa yang sebelumnya terasa begitu mencekam, kini tampak begitu berbeda. Tak Guntur rasakan lagi aura negatif yang sebelumnya mengepung kampung ini.
Para warga yang sebelumnya menggila, perlahan mulai sadar. Mereka menangis kesakitan akibat luka-luka yang diderita.
"Mereka sadar, Mas?" tanya Trisnya pada Heru yang tengah sibuk dengan peralatan medisnya.
"Alhamdulillah, sudah!" ucap Heru.
"Itu berarti sukma mereka telah berhasil Mas Jagad bebaskan sebelum ia ikut terserap ke dalam," seloroh Guntur.
"Apa maksudnya? Ada apa dengan Mas Jagad?" Heru terlihat begitu panik dan berlari menghampiri Jagad ke salah satu kamar.
"Dia ikut terserap ke Jagad lelembut, Her. Mungkin akan butuh waktu yang cukup lama, untuk bisa mengeluarkannya," ucap Guntur sembari merangkul pundak Heru.
Tak terasa, netra Heru mulai meremang. Buliran bening mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. Heru tahu, Jagad lelembut bukan sembarang tempat yang mudah untuk di jamah. Tempat dimana para iblis jahat terkurung, sejak ribuan tahun. Ia takut, jika Jagad tak bisa bertahan di tempat itu. Jika sukmanya mati disana, itu juga berarti dia tak akan kembali untuk selamanya.
"Insya allah akan ada jalan, yang penting kita urusi dulu warga kampung. Sepertinya mereka sudah aman," ajak Guntur.
"Mustahil jika ini ulah manusia," ujar salah satu petugas kepolisian tatkala melihat kondisi lembah tempat ditemukannya beberapa mayat warga kampung Dukunan.
"Hutan ini memang terkenal wingit sejak dulu, Pak! Sudah beberapa kali tragedi berdarah terjadi, namun kali ini yang terparah," balas pak Kades yang juga sedang berada di sana.
***
Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi, ketika Guntur dan yang lain sampai di rumah Aryo.
Tampak Aryo dan Handayani yang menunggu di depan rumah dengan begitu cemas. Guntur mencoba terus menyiapkan diri, untuk mengatakan apa yang telah terjadi dengan Jagad kepada Aryo dan Handayani, sebelum ia membuka pintu.
Trisnya menggenggam erat jemari Guntur sembari menganggukan kepalanya. Heru pun seperti enggan untuk keluar dari dalam mobil, ia terus duduk di samping Jagad yang terpejam tanpa berucap sepatah katapun. Kesedihan tampak begitu menguasai hatinya.
"Mereka kenapa gak keluar-keluar?" tanya Handayani pada Aryo.
Aryo yang khawatir segera mendekat, bersamaan dengan Guntur yang keluar dari pintu. Terlihat Guntur yang membisikan sesuatu pada Aryo. Tubuh Aryo bergetar, air matanya tak mampu lagi terbendung. Guntur merangkul erat lelaki paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri itu, membuat Handayani yang melihat dari kejauhan semakin khawatir dan ikut menghampiri mereka.
Heru dan Guntur membopong keluar tubuh Jagad yang sudah terkulai lemas tak sadarkan diri itu menuju kamarnya. Diiringi isak tangis sang ibu yang histeris melihat kondisi Jagad. Aryo terus merangkul tubuh istrinya agar tak terjatuh, sembari mengikuti langkah kedua teman anaknya menuju kamar pribadi Jagad yang berada di Klinik.
"Ya Allah Gusti! Kenapa jadi seperti ini, Le? Bangun ... Le! Bangun ... " rancau Handayani sembari menciumi wajah tenang Jagad
"Buk! Kita janji, bakal berusaha keras agar Mas Jagad bangun dan berkumpul lagi sama kita. Ibuk yang tabah, Mas Jagad pasti bisa bertahan," ujar Guntur sembari menggenggam erat kedua tangan Handayani.
__ADS_1
Mendengar keributan dari arah ruang keluarga pemilik Klinik, Sahara yang baru saja hendak keluar mencari udara segar, mengurungkan niatnya dan berbalik menuju ke tempat suara berasal.
"Mbak Sahara? Apa kami mengganggumu? Maaf," ucap Trisnya yang melihat kedatangan Sahara.
"Ti--tidak, Mbak ... ?" ucap Sahara sembari mengingat-ingat siapa wanita di hadapannya.
"Trisnya, namaku Trisnya," timpal Trisnya.
"Oh iya! Ada apa, Mbak? Kenapa Bu Bidan nangis?" tanya Sahara.
Trisnya menceritakan apa yang telah terjadi pada Sahara yang terlihat khawatir.
"Jagad lelembut? Apa itu tempat Broto terkurung?" tanya Sahara.
"Uhm ...," Trisnya mengangguk. "Kamu masih ingat dia?" tannya Trisnya sembari mengajak Sahara keluar meninggalkan Jagad bersama kedua orang tuanya.
"Ingat, hanya saja rasaku sudah tak sama seperti dulu. Rasa rindu yang begitu membelenggu serasa lenyap begitu saja. Namun, terkadang perasaan kehilangan masih begitu terasa, Mbak!" Jelas Sahara dengan mata yang terlihat meremang.
"Cukup kenang dia sebagai masa lalumu, karena bagaimanapun dunia kalian berbeda," lanjut Trisnya sembari mendudukan tubuhnya di kursi kayu yang berada di halaman belakang Klinik.
"Hmm ... " Sahara tampak ikut duduk di samping Trisnya.
Disaat Sahara tengah berbincang dengan Trisnya, Heru tiba-tiba muncul dari arah belakang.
"Sudah baikan, Mbak?" tanya Heru pada Sahara.
"Alhamdulillah, sudah, Mas! Terima kasih sudah sabar ngerawat saya," jawab Sahara sopan.
Disaat Heru tengah berbicara, tiba-tiba Sahara terdiam. Ia begitu memperhatikan tubuh Heru yang terlihat memancarkan sinar kemerahan.
"Mustika itu ... ?" celetuk Sahara.
"Apa?" timpal Trisnya.
"Ma--maaf, sebelumnya saya memang tak sengaja menemukan mustika ini di dekat Mbak Sahara waktu itu. Apa perlu saya kembalikan?" tanya Heru.
"Tidak usah, Mas! Saya sama sekali tidak memerlukan itu. Itu hanya akan memperburuk kondisi saya, mustika itu akan terus menghubungkan saya dengan manusia ular itu. Bahkan saat dia sudah berada di Jagad lelembut, aku masih dengan jelas mendengar tangisannya memanggil namaku," jelas Sahara.
"Maksudmu, mustika ini mampu menghubungkan kita dengan Jagad lelembut?" tanya Heru lagi.
"Iya! Broto akan mendengarkan dan tunduk pada siapapun yang memegang mustika ini!" jawab Sahara.
Trisnya dan Heru saling menatap, seakan mendapat secercah harapan untuk bisa berkomunikasi dengan Jagad yang berada dalam alam yang sama dengan Broto.
"Apakah Broto akan patuh denganku juga?" tanya Heru.
"Harusnya sih seperti itu, Mas!" jawab Sahara.
__ADS_1
Bersambung ....