Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab47. Nawang Kusumawati


__ADS_3

Jerit tangis bayi mungil yang tengah berada dalam penjagaan Jagad, terdengar begitu nyaring hingga membuat Jagad dan Aryo kebingungan. Berbagai macam cara sudah mereka lakukan untuk menenangkan bayi itu, namun tangisnya malah semakin menjadi.


Trisnya berjalan cepat di belakang Guntur, sembari mengangguk sopan pada orang-orang di depan Klinik yang memperhatikannya. Bukan hal aneh, jika ia menjadi pusat perhatian karena penampilannya. Ia terus mempercepat langkah mengikuti langkah Guntur menuju ke kamar tempat bayi itu berada.


Guntur langsung mengambil bayi mungil itu dari gendongan Jagad yang terlihat begitu kebingungan. Ia gendong dan ia timang bayi mungil itu hingga perlahan tangisnya mulai menghilang.


Aryo yang sedari tadi membantu Jagad, terlihat begitu lega setelah Guntur berhasil menenangkannya. Ia beranjak keluar sembari membalas uluran tangan Trisnya yang terlihat sedikit sungkan karena penampilannya.


Jagad menghembuskan nafas kasar, netranya menatap tajam ke arah Guntur yang terlihat tak seceria biasanya.


"Kenapa?" tanya Jagad sembari berbisik saat Trisnya mendekatinya.


"Biasalah, kaya gak tau aja sifat dia, Mas!" jawab Trisnya datar.


"Pensiun aja ...!" usul Jagad masih dengan suara yang begitu pelan.


"Mau makan pakai apa?" balas Trisnya.


"Nikah," ucap Jagad asal.


Trisnya menghembuskan nafasnya kasar, ia memilih meninggalkan kamar untuk berganti pakaian dan membersihkan make up-nya.


"Gun ... Gun ... mbok ya jadi orang itu yang legowo. Udah tau pacarmu itu biduan, harusnya kamu sudah tahu resikonya. Gak semua harus sesuai keinginanmu 'kan, Gun? Dia juga berhak melakukan hal-hal yang dia suka. Jangan terlalu dikekang, nanti dia kabur kamu juga gak terima!" tutur Jagad sembari memberikan sebotol susu padanya.


"Ya tapi kan itu juga demi kebaikan dia, Mas. Aku cuma berusaha menjaga marwahnya sebagai perempuan, agar tak terlalu berlebihan pada laki-laki lain." Guntur terlihat begitu kesal saat menjawab ucapan Jagad.


"Pelan-pelan Gun, dia itu masih muda. Gak bisa asal kamu larang ini itu gak boleh. Lagian kamu ini, cowok kok malah lebih sering ngambeknya ketimbang Trisnya. Ubah sifat cemburuan dan posesifmu itu, kalau masih mau Trisnya betah sama kamu," tegas Jagad sebelum akhirnya memutuskan pergi meninggalkan Guntur dan sang bayi di ruangan itu.


Tak berselang lama, Trisnya menyusul ke tempat Guntur berada. Ia tarik nafas dalam-dalam sebelum mencoba mengawali pembicaraan dengan kekasihnya itu.


"Mas ... sini biar gantian aku yang gendong!" pinta Trisnya.


"Bisa?" tanya Guntur yang menatap serius pada perempuan di hadapannya.


"Bisa lah, Mas." Trisnya terlihat kesal saat Guntur meragukannya.


Guntur segera memberikan bayi itu kepada Trisnya. "Mas kerja dulu, ya!" ucapnya.


"Iya buruan kerja, Trisnya gak mau ya nanti uang maharnya Mas minta sama Paklik Baskoro," balas Trisnya tanpa menatap ke arah Guntur.

__ADS_1


Deg ...!


Guntur membelalak tak percaya Trisnya akan mengatakan hal seperti itu. Pasalnya, selama ini Trisnya selalu menghindari pembahasan yang menjurus ke sebuah pernikahan. "Apa ini artinya kartu hijau untukku?" teriak batinnya.


Senyum mengembang begitu saja dari bibirnya. Rasa marah dan cemburu seolah lenyap begitu saja, setelah mendengar ucapan Trisnya.


"Malah diem. Buruan keluar!" paksa Trisnya sembari mencubit pinggang Guntur.


"Aww ... sakit, Sayang! Iya, mas kerja sekarang." Guntur keluar kamar dengan perasaan yang sulit digambarkan. Rasanya begitu bahagia hingga membuatnya tak mampu menahan senyumnya.


Senyum Trisnya mengembang ketika punggung Guntur sudah menghilang dari hadapannya. Tatapannya beralih pada bayi merah dalam gendongan yang terlihat menatap lembut kearahnya. Mulut mungilnya terlihat terus bergerak, entah ingin mengucapkan apa.


Trisnya terlihat begitu gemas saat melihat tingkah lucu bayi itu. Tak menunggu lama, ia segera menghubungi sang ayah. Ia perlihatkan kepiawaiannya dalam menggendong dan menimang bayi itu pada kedua orang tuanya melalui sambungan video call. Terlihat pula kedua orang tua Trisnya yang gemas melihat betapa lucunya bayi itu. 


Tanpa Trisnya sadari Guntur terlihat mengintip dari celah pintu yang tak tertutup rapat. Senyumnya semakin mengembang, saat melihat Trisnya begitu bahagia saat bersama bayi itu.


"Dek!" panggil Guntur.


Mendengar namanya dipanggil, Trisnya menoleh ke arah pintu sembari berucap, "Hmm ... apa, Mas? Gak jadi kerja?"


"Ada yang mau aku sampaikan," ucap Guntur.


"Kenapa?"


"Mas yakin?" tanya Trisnya.


"I-iya ... tapi aku butuh persetujuanmu juga," ucap Guntur.


"Ya itu terserah kamu, Mas. Aku setuju-setuju aja, kok. Lagian dia lucu banget," ucap Trisnya.


"Kamu bersedia bantu aku ngerawat dia?" tanya Guntur dengan begitu lembut. "Boleh aku bertemu bapak sama ibu?"


"Boleh Gun, kesini saja! Kalau Trisnya ngelarang, biar bapak yang marahin." Terdengar jawaban dari layar ponsel Trisnya yang masih jua menyala.


Terlihat Pak Lukman dan Bu Nia-kedua orang tua Trisnya, tengah tersenyum haru. Guntur segera mengambil alih ponsel dari tangan Trisnya, ia menyapa kedua calon mertuanya dengan begitu sopan.


"Pak ... Buk ...! Maaf tadi Guntur gak tahu kalau kalian sedang bertelepon," ucap Guntur.


"Ndak papa, Le. Bapak sama ibuk tunggu kedatanganmu ya!" ucap Pak Lukman.

__ADS_1


"Njih Pak, siap!" jawab Guntur dengan begitu yakin.


"Ya sudah, Trisnya matiin dulu teleponnya. Assalamu'alaikum." Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya, Trisnya segera merebut dan mematikan telepon.


Ia menatap lembut ke arah Guntur sembari berkata, "Jangan kekang aku, Mas! Perlakukan aku sewajarnya. Percayalah, aku sangat mencintaimu dan tak akan pernah meninggalkanmu, Mas."


"Maafin mas ya, Dek?" ucap Guntur yang mulai menyadari kesalahannya.


"Aku tahu kamu hanya ingin melindungi aku, tak perlu meminta maaf," balas Trisnya dengan tutur kata yang begitu lembut diiringi senyum manisnya. "Ngomong-ngomong anak ini namanya siapa?"


"Be-belum ada," jawab Guntur.


"Boleh aku yang kasih nama?" tanya Trisnya dan di balas anggukan oleh Guntur.


"Nawang Kusumawati. Dia akan tumbuh menjadi wanita cantik, baik dan juga bijaksana dalam memutuskan segala hal dalam kehidupannya kelak. Bak bunga yang terus mekar dan tak pernah layu, aku harap hidupnya penuh dengan kebahagiaan dan kemuliaan," ujar Trisnya sembari mengecup kening bayi dalam pangkuannya.


"Nama yang cantik," ucap Guntur sembari mengecup lembut kening Trisnya.


Jagad yang tak sengaja melihat itu hanya mampu mengelus dada sembari melempar pandangannya ke sembarang arah. Begitu aneh rasanya melihat pasangan yang baru saja bertengkar, namun dengan begitu cepatnya berbaikan dan terlihat begitu mesra.


Sedangkan dirinya, masih terus terombang-ambing dalam perasaan cinta yang terhalang beratnya perbedaan. Perbedaan yang tak akan pernah bisa disatukan sampai kapanpun.


Suara dering telepon Guntur terdengar cukup keras, hingga membuat Nawang yang sebelumnya terpejam kembali membuka mata dan menangis kaget.


"Aduh ... maaf ya cantik. Ayah angkat telepon dulu," ucap Guntur sembari beranjak pergi keluar ruangan.


Trisnya menatap aneh pada Guntur yang berjalan meninggalkannya. "Ayah? Kok gemes aku, Mas. Pengen cubit mulutmu itu," gerutu Trisnya sembari tersenyum.


Di luar Klinik terlihat Guntur yang tengah berbicara serius dengan seseorang di telepon. Ia beralih pergi mencari keberadaan Heru, saat sambungan telepon telah terputus.


"Her ...!" panggilnya pada Heru yang baru saja selesai membantu Handayani.


"Apa, Mas?" tanya Heru.


"Kamu sudah siap? Rumah itu kembali memakan korban, kita harus segera menemukan pengikat makhluk itu. Agar tak ada lagi yang menjadi korban," tanya Guntur.


"Sore ini kita kesana! Aku sudah berhasil mengingat dimana saja pengikatnya berada," ucap Heru dengan begitu yakin.


"Oke! Kita harus berhasil malam ini, kalau tidak kita juga akan ikut menjadi korban." Guntur segera berlalu pergi, menyiapkan segala hal yang akan ia bawa dan ia butuhkan.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2