
Semburat cahaya jingga dari ufuk barat, menghias langit di kala senja menyapa. Guntur berhentikan mobilnya di halaman sebuah masjid, untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah. Terlihat Heru yang masih sedikit lemas, berjalan mendahului Guntur menuju tempat wudhu.
Seusai sholat magrib, Heru memilih berdiam sejenak di dalam sana. Jemarinya terus memutar tasbih seiring dengan lantunan dzikir dan sholawat yang terucap dari bibirnya. Bagi Heru, tiada hal yang lebih menenangkan jiwa selain dzikir dan sholawat.
Guntur pun melakukan hal yang sama, berlanjut hingga sholat isya' berjamaah, baru mereka berdua memutuskan untuk beranjak keluar dari masjid.
Terlihat seorang kakek tua bungkuk menghampiri mereka berdua yang tengah duduk di kursi dekat mobil terparkir.
"Assalamu'alaikum ... Mas-Mas ini orang mana? Sepertinya saya baru lihat," ucap lelaki tua itu.
"Oh njih, Pak. Wa'alaikumsalam, kami dari kampung Randujati, kebetulan tadi lewat sini terus mampir sholat," jawab Guntur sembari membalas uluran tangan lelaki tua itu.
Heru pun melakukan hal yang sama, dengan sopan ia mengangguk sembari tersenyum menyapanya.
"Kalau pulang hati-hati, ya! Baca doa dulu sebelum masuk mobil," ucap lelaki tua itu sebelum akhirnya memutuskan pergi meninggalkan mereka berdua ke dalam masjid.
"Njih, Pak." Heru dan Guntur saling menatap. Mereka langsung bergegas menoleh ke arah mobil.
Terlihat sosok yang terbungkus kain putih lusuh tengah duduk di jok belakang. Mata merahnya menatap tajam ke arah Heru dan Guntur yang sedang menatapnya.
"Pantesan, lemes banget tadi badanku di mobil," keluh Heru.
"Rupanya ada penggemarmu yang ikut, Her!" timpal Guntur.
"Amit-amit punya penggemar seserem itu," balas Heru yang bergidik ngeri melihat wajah hancur dan melepuh makhluk itu.
Heru dan Guntur bergegas merapalkan doa-doa untuk mengusir makhluk itu dari dalam mobil. Dalam sekejap makhluk itu pun berubah menjadi asap dan menghilang.
Setelah memastikan semua aman, Guntur dan Heru segera melanjutkan perjalanan menuju Klinik agar tak sampai terlalu malam.
***
Rembulan bersinar dengan begitu terangnya, ditemani bintang-bintang yang menghambur menghias gagahnya langit malam. Jagad duduk dan bercengkrama bersama Fahmi dan Reni di halaman belakang Klinik.
"Udah gak ada gangguan lagi, 'kan?" tanya Jagad pada Fahmi.
"Alhamdulillah ... berkat bantuan kalian sekarang tinggal pemulihan aja. Udah gak ada yang aneh-aneh juga di rumah," jelas Fahmi.
__ADS_1
"Kerjaan gimana?" tanya Jagad lagi.
"Nah itu, Mas. Kemarin pas aku sakit, proyek sebenernya udah diambil alih sama temenku, si Bimo. Tapi malah sekarang mangkrak, banyak yang bilang temenku tiba-tiba ngilang gak ada kabar," jelas Fahmi pada Jagad. Ia menyeruput teh hangat yang telah Jagad buatkan untuknya. "Apa dia ada hubungannya sama santet itu ya, Mas?"
"Temen?" tanya Jagad.
"Hmm." Fahmi mengangguk mengiyakan pertanyaan Jagad.
"Sudahlah yang penting kamu udah gapapa sekarang, siapapun pelakunya biar Gusti Allah yang membalasnya." Jagad beranjak dari duduknya dan mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam rumah.
Tak berselang lama, Guntur dan Heru telah sampai di Klinik. Mereka melanjutkan obrolan di dalam rumah sembari menikmati cemilan malam yang sebelumnya Guntur dan Heru beli.
Ditengah-tengah serunya obrolan, tiba-tiba saja bell pintu Klinik berbunyi. Jagad segera beranjak pergi memeriksa ke depan.
Terlihat seorang wanita yang tengah bersandar di samping pintu sembari memegangi perutnya yang membesar, didampingi oleh suaminya.
"Bu Bidan ... tolong, Bu. Istri saya sudah mau melahirkan!" teriak sang suami sembari mengetuk pintu Klinik yang sudah terlihat gelap.
Ceklek ...!
Pintu akhirnya terbuka. Terlihat Jagad dan Heru yang telah bersiap membawa kursi roda untuk membawa wanita itu ke ruang bersalin.
"Sakit ... Dok! Sakit ...." Wanita yang terlihat masih cukup muda itu terus menangis sembari memegangi perutnya yang sudah terasa berdenyut.
"Sebentar ya ... biar saya periksa!" ucap Handayani yang baru saja muncul.
Jagad pun meninggalkan pasien itu bersama Handayani dan Heru. Ia berjalan kembali ke ruang Fahmi, Reni dan Guntur berada.
"Kok ditinggal?" tanya Reni.
"Pasien lahiran, biar Ibuk sama Heru yang ngurus. Gak tega aku denger tangisannya," jawab Jagad sembari mempersiapkan segala keperluan untuk mengurus ari-ari serta bayinya nanti.
Suara tangis dari pasien masih terus terdengar, hingga membuat mereka larut dalam kekhawatiran.
"Kenapa belum lahir juga ya, Mas?" tanya Reni.
"Kadang emang ada yang lama, Ren. Kita doakan saja, biar semua aman dan bayinya cepat keluar," ucap Jagad.
__ADS_1
Terlihat Handayani yang berjalan terburu-buru sambil memanggil nama Jagad.
"Ada apa, Buk?" tanya Jagad.
"Coba kalian bantu doa, biar bayinya cepat keluar. Kasihan ibunya sudah mulai lemes nahan sakit," pinta Handayani pada Jagad dan Guntur.
Jagad beranjak pergi menyusul Heru ke kamar pasien, diikuti Handayani dibelakangnya yang terlihat begitu khawatir.
"Istighfar ya, Bu ...." Terlihat Heru yang masih terus mencoba menenangkan pasien itu.
Perempuan itu masih terus menangis kesakitan sembari sesekali mengejan kuat.
"Eh ... jangan mengejan dulu, Bu. Belum siap jalannya," ucap Handayani sembari mengenakan kembali sarung tangan untuk kembali mengecek wanita itu.
Jagad membisikan sesuatu pada Heru dan di balas anggukan olehnya. Jagad menyentuh perut besar perempuan itu, matanya terpejam, bibirnya mulai berkomat-kamit merapalkan doa-doa. Heru pun fokus merapalkan doa-doa dengan membawa sebotol air mineral di tangannya.
Heru segera meminta suami pasien untuk meminumkan air itu pada istrinya. Setelah beberapa saat, perut perempuan itu semakin terasa berdenyut. Jagad masih terus membacakan doa-doa tatkala sang ibu sudah mulai memberi aba-aba pada pasien.
"Bagus, tarik nafas dulu ya ... yang rilex, kalau kontraksi lagi langsung dorong kuat-kuat," ucap Handayani yang sudah bersiap.
"Bu, Jagad keluar!" Jagad berjalan keluar meninggalkan kamar, saat dirasa tugasnya sudah selesai. Ia benar-benar tak terbiasa jika harus berada di ruang bersalin.
Selang beberapa menit, suara tangisan bayi akhirnya terdengar begitu nyaring di telinga. Semua orang yang berada di sana terlihat begitu lega, tak terkecuali Reni, Fahmi dan Guntur yang ikut tegang sejak tadi.
"Alhamdulillah!" seru semua orang.
"Siap-siap, Gun. Jangan sampai kita kecolongan ... pastikan Klinik aman," ucap Jagad sembari berlalu menyusul ibunya yang tengah membersihkan ari-ari.
"Siap-siap apa, Mas?" tanya Fahmi yang penasaran.
"Akan ada yang hadir setiap kali ada pasien yang melahirkan, Fahmi. Dia akan mengincar bayi yang baru saja terlahir ke dunia, untuk ia jadikan makanannya," jelas Guntur.
Baru saja Guntur selesai dengan penjelasannya, mereka mulai mencium bau anyir yang menyeruak entah dari mana asalnya.
Sosok perempuan dengan rambut panjang terlihat mengintip dari sela-sela pepohonan. Kuku-kuku panjangnya terlihat terus membelai rambutnya yang terurai menyentuh tanah. Ia menyeringai tajam ke arah Klinik yang telah riuh dengan tangisan bayi dan tangis haru kedua orang tuanya.
Ia seperti sedang menunggu waktu yang tepat untuk menerobos masuk disaat semua orang lengah.
__ADS_1
"Khe ... khe ... khe ... aroma darah ini sangat berbeda. Dia pasti bukan bayi biasa ...." Tawa makhluk itu terdengar begitu melengking dan menyeramkan, hingga membuat hewan-hewan malam beterbangan menjauhinya.
Bersambung ....