
Gemerisik dedaunan yang tertiup hembusan angin, menciptakan kegaduhan di sepinya hari. Heru duduk seorang diri di depan Klinik yang sedang tutup. Ada sekelebat rasa was-was yang terus menggelayut di hatinya.
Hari ini, Jagad dan keluarganya tengah pergi ke rumah Baskoro untuk menjenguk Fahmi. Heru sengaja memilih tinggal karena merasa begitu tak nyaman bila berdekatan dengan Guntur. Entah apa yang sebenarnya terjadi, sejak kedatangan Guntur pagi tadi, ia benar-benar tak bisa mengendalikan energinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Heru dalam kesendiriannya.
Drrrttt ...!
Suara getar ponsel menyadarkannya dari lamunan. Ia segera menyaut benda pipih itu dari atas meja yang berada di hadapannya.
Terlihat satu panggilan masuk bertuliskan Sahara, Heru buru-buru mengangkat telpon dari perempuan yang akhir-akhir ini cukup mencuri perhatiannya itu.
"Hallo, assalamu'alaikum," sapa Heru.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Maaf apa aku ganggu?" tanya Sahara dari seberang telepon.
"Eh nggak, kok. Ini juga lagi nganggur, soalnya Klinik tutup. Kenapa?" tanya Heru.
"Uhm ... Ara boleh minta bantuan?" tanya Sahara dengan sedikit sungkan.
"Apa? Mumpung aku juga lagi gabut ini, bingung mau ngapain." Wajah Heru berubah lebih bersemangat setelah mendengar permintaan Sahara.
"Gak jadi deh, Mas! Takut ngerepotin," ujar Sahara lalu mematikan panggilannya.
"Etdah ... malah dimatiin." Seketika mimik muka Heru beralih cemberut saking kecewanya.
Ia berniat menghubungi Sahara kembali, namun sepertinya Sahara enggan mengangkat telepon dari Heru. Akhirnya Heru beralih mengirimkan pesan singkat pada Sahara.
"[Mumpung libur, temenin mas jalan-jalan yuk!]" tulis Heru.
"[Kemana, Mas?]" balas Sahara.
"[Motoran aja nyari angin, hehehe ... sekalian nyari makan siang, laper aku gak ada yang masakin😁]" balas Heru.
"[Ayo, Mas. Nanti Ara sekalian mampir ke Apotik dulu ya, mau beli obat.]" balas Sahara.
"Oalah, bilang dong dari tadi kalau mau ngajak ke apotek," batin Heru sembari membalas pesan dari Sahara. "[Siap, abis ini mas otewe! Mas sholat dulu]"
Setelah membalas pesan Sahara, Heru segera melesat masuk ke dalam rumah. Membersihkan diri, sholat, lalu mengelap motor supra kesayangannya agar terlihat lebih kinclong.
Semerbak harum wewangian yang Heru kenakan, terbawa oleh hembusan angin di sepanjang perjalanan. Membuat siapapun yang dilewatinya spontan mengucap, "Wangine ...."
Setelah 30 menit melewati jalan persawahan yang cukup ramai, akhirnya Heru sampai di depan rumah Sahara yang terlihat begitu sepi.
Sahara duduk seorang diri di depan rumah, dengan mengenakan gamis berwarna merah muda dipadukan dengan jilbab pashmina hitam yang terlihat begitu cocok untuk kulit putihnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," sapa Heru.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Berangkat sekarang?" tanya Sahara sambil berjalan mendekati Heru.
"Ibuk sama Bapak kemana?" tanya Heru sembari turun dari motornya.
"Bapak sama Ibuk jual hasil panen ke pasar, Mas. Paling nanti sore sampai rumah," jelas Sahara sembari terus memegangi pinggangnya.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Heru.
"Nggak papa kok, Mas." Sahara tampak menyembunyikan rasa sakitnya.
"Bohong!"
"Ihh beneran ... cuma nyeri biasa," kilah Sahara.
"Dismenore?" tanya Heru setengah berbisik.
Dengan malu-malu, Sahara mengangguk mengiyakan ucapan Heru.
"Bilang dari tadi udah mas bawain obat dari Klinik. Apa mas ambilin obat sekarang, kamu di rumah aja," usul Heru.
Sahara menggeleng pelan. Ia terlihat begitu salah tingkah dengan perhatian Heru.
"Gapapa, santai aja wong cuma deket juga," ujar Heru.
Heru tak mampu lagi berkata-kata, senyumnya mengembang begitu lepas. Untuk pertama kalinya, dia bisa sesalting ini di hadapan perempuan.
Melihat Heru tersenyum, Sahara juga ikut tersipu malu. Ia menyembunyikan senyumnya dengan memalingkan wajah ke segala arah agar tak terlihat oleh Heru.
"Ya udah, ayo jalan-jalan." Heru segera naik ke atas motor legendnya, dan membiarkan Sahara membonceng dengan anggun di belakang.
Siang yang begitu terik seolah sirna begitu saja bagi kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu. Terus melaju membelah sepinya jalanan, tanpa arah dan tujuan yang pasti.
Heru membawa Sahara ke sebuah rumah makan yang terletak tak terlalu jauh dari kampung. Sebuah rumah makan sekaligus pemancingan yang amat nyaman untuk bersantai. Tampak rumah-rumah kayu yang berdiri kokoh di atas kolam. Heru memilih tempat yang masih kosong di dekat sebuah pohon besar, lalu memesankan makanan untuk mereka berdua.
Heru membiarkan Sahara istirahat sebentar setelah makan dan minum obat, agar sedikit mengurangi rasa nyeri pada perut dan pinggang nya. Sembari mengamati ikan-ikan yang berenang bebas di bawah tempatnya makan. Mereka pun menghabiskan waktu di tempat itu hingga sore menjelang.
"Astagfirullah ... udah sore ternyata, Ra. Balik yuk!" ajak Heru pada Sahara yang sedari tadi terdiam.
Sahara sudah seperti itu sejak Heru kembali dari mushola. Padahal sebelumnya, Sahara terlihat baik-baik saja dan sangat cerewet.
"Ra ... kamu gak apa-apa, 'kan?" tanya Heru yang khawatir melihat Sahara semakin memucat.
Sahara menoleh ke arah Heru dengan tatapan yang sangat berbeda. Ia menyeringai aneh ke arah Heru, dan menatap tajam dengan mata merahnya.
__ADS_1
Keadaan rumah makan masih cukup ramai, beberapa orang yang melihat ekspresi Sahara segera berlari menjauh.
"Ada apa, Mas?" tanya salah seorang karyawan perempuan.
"Bisa bantu pegangin teman saya, Mbak?" tanya Heru.
"Bisa, Mas." Beberapa karyawan perempuan mulai memegangi tangan dan kaki Sahara yang terus mencoba berontak.
Heru terus berusaha menyadarkannya dengan melantunkan ayat-ayat ruqyah. Beberapa orang berjajar mengitari lokasi, agar Sahara tidak menjadi tontonan.
"Khe ... khe ... khe... aku suka disini. Gadis ini tak sebanding dengan ketampananmu, biar aku saja yang menggantikannya, khe ... khe ... khe ...." Sahara terus meracau dan memberontak. Untungnya para perempuan yang memeganginya cukup kuat, sehingga mampu mengimbangi kekuatannya.
Heru tak menggubris ucapannya, dan memilih untuk terus melantunkan doa-doa agar makhluk itu segera enyah dari tubuh Sahara.
"Aaaaa ... panas ... hentikan! Tidak ...." Sahara semakin menggila. Dengan kasar ia hempaskan kelima perempuan yang sedari tadi menahannya.
Sahara dengan lincah memanjat pohon besar yang berada di samping tempatnya makan. Sembari sesekali menatap jahat ke arah Heru dan yang lainnya. Suasana semakin tak terkendali, sebagian besar orang berlari tunggang langgang meninggalkan Rumah makan itu.
Heru semakin panik, tanpa pikir panjang ia gunakan kemampuan dari Mustika ular miliknya untuk menyelamatkan Sahara. Heru berlari melesat menyusul Sahara yang tengah bertengger di atas pohon, lalu memaksa makhluk yang ada di dalamnya untuk segera keluar.
Orang-orang yang melihat itu seakan tak percaya dengan apa yang mereka lihat. "Bagaimana bisa dia berlari dari atas pohon sambil membopong temannya? Dia manusia apa bukan, sih?" gumam beberapa orang yang melihat Heru turun sembari menggendong Sahara ala bridal style tanpa pengaman apapun.
Sahara masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Heru segera memercikan air mineral yang sudah ia bacakan doa-doa ke wajah cantiknya.
Setelah beberapa kali percikan akhirnya Sahara pun tersadar. Ia terlihat bingung dengan ekspresi orang-orang yang menatapnya.
"Ada apa, Mas? Kenapa pada liatin Ara?" tanya Sahara.
"Ndak papa, kamu tadi cuma pingsan," kilah Heru. "Ya, 'kan Mbak?" tanyanya mencari dukungan dari orang-orang di sekitarnya.
"I-iya, Mbak. Tadi Mbak pingsan, makanya kita panik," ucap salah satu dari mereka.
"Sudah ... bubar ... bubar! Mbak nya sudah gapapa," teriak seorang satpam membubarkan kerumunan.
Sahara merasa sedikit aneh, namun ia juga tak berani bertanya lebih pada Heru yang terlihat begitu lelah.
"Ayo pulang!" Heru segera bangkit menuntun Sahara pergi dari tempat itu.
Saat hendak membayar ke kasir, seorang lelaki membisikan sesuatu di telinga Heru. "Mustikamu membuat setiap perempuan tergila-gila padamu, baik di alam ini ataupun alam sebelah. Jaga baik-baik pacarnya, Mas." Lelaki itu berlalu pergi setelah membisikan itu pada Heru.
Heru hanya terdiam, mencerna setiap kata yang lelaki itu ucapkan. Ia juga memperhatikan begitu banyak mata wanita yang menatap ke arahnya. Ia merinding, karena tak terbiasa menjadi pusat perhatian seperti ini.
"Kenapa, Mas?" tanya Sahara saat melihat Heru hanya terdiam saat sang kasir memberinya kembalian.
"Astagfirullahaladzim, maaf Dek. Ya udah yuk, balik." Heru segera mengambil uang kembalian yang di ulurkan oleh kasir sembari berucap, "Makasih ya, Mbak."
__ADS_1
Bersambung ....