
Gemuruh langit malam terus terdengar saling bertautan. Hingga rintik hujan pun akhirnya turun, bersamaan dengan embusan angin yang terasa menusuk permukaan kulit.
Terlihat Guntur yang mulai mendekat kearah Trisnya. Menatapnya dengan tatapan penuh nafsu, dan bersiap menuntaskan seluruh hasratnya malam ini juga.
Trisnya mencoba mengimbangi permainan licik makhluk yang merasuki Guntur sembari mencari celah agar bisa melepasnya dengan paksa dari raga sang suami. Menahan jijik tatkala lelaki itu mulai mencumbunya dari dahi hingga ke tengkuk dan leher jenjang miliknya.
Disaat lelaki itu telah lengah akibat gairahnya yang semakin membuncah, dengan sengaja Trisnya bisikan sebuah mantra yang membuatnya sontak menutup telinga. Trisnya benahi kembali pakaiannya yang telah tersingkap lalu ia hampiri Guntur yang tengah mengejang kesakitan.
Trisnya letakkan telapak tangannya di wajah Guntur yang memerah padam, hingga terlihatlah wajah sosok yang bersemayam di dalamnya.
"Bagas!" Trisnya begitu terkejut melihat bayangan wajah Bagas. Sontak ia melepaskan tangannya, lalu bersiap untuk melepas paksa sukma Bagas dari tubuh suaminya.
Baru saja Trisnya mengeluarkan selendang emas miliknya, sebuah serangan tak terduga lelaki itu lemparkan pada tubuh Trisnya. Perempuan itu terpental hingga membentur dinding. Darah segar terlihat keluar dari mulut dan hidungnya.
"Brengsek?!" umpat Trisnya sembari memegangi perutnya yang terasa begitu sakit.
"Ternyata kau sudah tahu dan mencoba menipuku, Trisnya. Tapi maaf, aku tidak bisa kau lepas dari raga ini dengan mudah. Darahku sudah mengalir bersama aliran darahnya, aku sudah hampir menyatu seutuhnya. Jadi, terima saja. Akulah suamimu saat ini ...!" tegasnya sembari menarik rambut Trisnya dengan kencang, hingga membuatnya mendongak kesakitan.
Terlihat Bagas mengeluarkan sebuah pedang yang menyerupai Pusaka Pakugeni, lalu ia goreskan pedang itu tepat pada leher Trisnya hingga darah segar mengalir deras membasahi pedang yang Bagas bawa. Meski tidak terlalu dalam, itu sudah cukup untuk menciptakan sensasi sakit yang luar biasa perempuan itu rasakan.
"Tenanglah, aku tak akan membunuhmu! Nikmati rasa sakit ini! Ini tak sebanding dengan luka yang pernah kau torehkan begitu dalam hingga rasa perihnya tak kunjung menghilang dari hatiku, Trisnya!" ucapnya sembari terus menarik cekalan pada rambut Trisnya.
Trisnya rasakan energinya ikut terserap bersama dengan derasnya darah yang mengalir.
"Ba-bagaimana kau bisa membawanya?" tanya Trisnya dengan sisa-sisa kesadaran yang ia miliki.
"Hahaha ... kau tak perlu tahu, Cantik! Terima kasih telah mengambilkan wujud sukma Pusaka ini, tanpa perlu aku bersusah payah mengambilnya sendiri. Hahahahah ...!" Bagas pun menghilang bersamaan dengan raga Guntur. Ia berhasil membawa seluruh energi yang Trisnya miliki.
Brak ...!
"Ya Allah, Mbak!" Reni berlari menghampiri Trisnya yang sudah tergeletak bersimbah darah.
"Nawang ... bawa kemari Nawang!" ucap Trisnya yang masih meringkuk sembari terus memegang lehernya.
Reni pun berlari menuju kamar Nawang, seiring dengan kedatangan Baskoro bersama Anggun dan Fahmi yang menghampiri Trisnya.
"Angkat ke ranjang!" titah Baskoro. Ia pun segera berlari mengambil beberapa peralatan untuk mengobati luka Trisnya.
Fahmi segera membopong tubuh lemah Trisnya ke atas ranjang.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim ... ini ada apa, Nduk?" Tangis Anggun pecah. Ia terisak sembari memegang tangan Trisnya yang mulai terasa dingin.
Reni datang membawa Nawang yang tengah menangis histeris. Buru-buru ia mendekatkan Nawang ke arah Trisnya yang sudah terlihat melambaikan tangan untuk memeluk bayi mungil itu.
"Ijinkan bunda mengambil energi yang telah bunda titipkan padamu, Nak!" ucap Trisnya lirih.
Mata Trisnya mulai terpejam, bibirnya berkomat-kamit mengucap mantra untuk mengambil lagi energinya. Sambil menikmati sensasi perih dan menyengat disaat Baskoro mulai menjahit luka sayatan di lehernya.
***
Rembulan malam bersinar dengan begitu terang. Diatas tirai langit gelap, berhiaskan manik-manik bintang gemerlap. Terlihat sosok Patih Drupala tengah duduk bersila dengan pedang keagungan yang selalu ia bawa. Matanya terpejam erat, sembari terus fokus berkomunikasi dengan seseorang yang telah memanggilnya.
Meski samar, ia dengan jelas mendengar setiap untaian kata dari lawan bicaranya yang tengah berada di Jagad Lelembut.
"Buatlah celah dari alam itu, maka aku akan masuk dan menjemputmu!" ucap Patih Drupala dalam pertapaannya.
"Itu terlalu berbahaya, bagaimana jika mereka ikut keluar dari celah yang kubuat?" tanya Guntur dari Jagad Lelembut.
"Carilah tempat paling jauh dari istana mereka, bertanyalah pada Naga Gendeng itu. Dia pasti sudah hafal tempat-tempat yang tak pernah terjamah di alam itu!" Patih Drupala terlihat menghembuskan nafasnya perlahan. "Ragamu terlanjur dikuasai oleh orang lain. Ini bisa sangat membahayakan istrimu juga pusaka yang ia bawa! Jadi cepatlah kembali sebelum semua terlambat," imbuhnya.
Mendengar jawaban dari makhluk yang ia panggil, Guntur segera beranjak dari pertapaan dan meminta bantuan pada Ular Naga.
"Ada satu tempat, tapi sangat berbahaya!" jawab sang Naga sembari merubah wujud menjadi seorang kakek tua.
"Tak masalah, yang terpenting aku bisa segera keluar!" balas Guntur dengan tegas.
Kakek tua itu kembali merubah wujud menjadi Ular Naga raksasa dan meminta Guntur untuk segera naik ke atas kepalanya.
"Jangan sesali keputusanmu, Bocah!" ucapnya sembari melesat pergi.
Makhluk itu terus melesat pergi menembus temaramnya suasana alam yang tak mengenal siang ataupun malam. Membawa Guntur menuju ketempat yang jauh dari tempat sebelumnya. Menuju ke sebuah pegunungan batu yang begitu tinggi dan gersang.
Hawa panas begitu menyengat tatkala Guntur menginjakan kaki di tempat itu. Sapuan angin yang berhembus pun terasa begitu panas hingga membuat peluhnya menetes deras.
"Ciptakan celah di tempat ini!" titah sang Naga.
"Bagaimana caranya?" tanya Guntur yang masih terlihat bingung.
"Keluarkan seluruh energimu, pusatkan ke arah dimana kau melihat titik cahaya kebiruan!" jelas ular Naga.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Guntur segera memposisikan dirinya untuk mengumpulkan seluruh energi yang ia punya. Kakinya memasang posisi kuda-kuda, tangannya bergerak mengikuti datangnya aliran energi sembari sesekali membuat gerakan memutar. Setelah dirasa semua energinya terkumpul, ia segera lemparkan ke arah dimana ia melihat titik cahaya kebiruan yang ada di puncak tebing.
Kilatan cahaya yang begitu menyilaukan tampak menerjang ke arah yang ia tuju. Menciptakan retakan dimensi yang cukup besar.
"Cepat naik!" titah Naga.
Setelah Guntur berhasil naik ke atas tubuhnya, Naga itu melesat secepat kilat menembus tebalnya perisai penghalang yang berhasil mereka retakan.
Guntur rasakan sensasi panas yang luar biasa, hingga membuatnya berteriak hebat. Tubuhnya berputar-putar seolah terbawa pusaran angin yang begitu dahsyat hingga pada akhirnya mereka berhasil menembus permukaan bumi.
Mereka muncul dari dalam kawah gunung berapi yang telah tertidur puluhan tahun. Menciptakan getaran yang cukup kuat di sekitar gunung itu berdiri.
Buamm ... buam ... buam ...!
Akibat retakan yang Guntur buat, gunung itu kembali aktif dan memuntahkan isinya. Mengakibatkan erupsi tiba-tiba yang membuat panik orang-orang di sekitar lereng gunung itu.
"Naga, bagaimana ini?" tanya Guntur yang mulai panik.
Terlihat Patih Drupala keluar dari balik perbukitan membawa sebuah batu besar yang telah terselimuti oleh kekuatan Pakugeni. Ia melemparkan batu itu ke arah retakan dimensi hingga semua benar-benar kembali tertutup sempurna.
Gunung itu pun mulai berhenti memuntahkan isi dalam perutnya. Tanah kembali diam seperti sedia kala, beruntung tak ada satupun warga yang terluka.
"Aakkkhhh ...!" teriak Guntur sembari memegang dadanya yang terasa begitu nyeri.
"Energinya telah terserap habis untuk membuat retakan dari Jagad Lelembut," ucap Naga pada Patih Drupala.
"Heleh dasar lemah! Bertahanlah atau istrimu yang cantik akan kuambil untuk ku jadikan istri kedua!" goda Patih Drupala sembari menyabetkan selendang emas yang ia dapatkan dari Nyai Kinasih sebelum berangkat menjemput Guntur.
"Jangan mimpi bisa merebutnya dariku, Patih Gendeng!" balas Guntur yang sudah kembali bugar setelah terkena sabetan selendang.
"Lambemu ... lambemu ... woo bocah ora nggenah?! Sopo sing mbok arani Patih Gendeng?" (Mulutmu ... mulutmu ... woo bocah gak bener?! Siapa yang kau sebut Patih Gendeng?) balas Patih Drupala yang terlihat tak terima dengan sebutan itu.
Melihat lawan bicaranya terlihat kesal, Guntur tak langsung menjawab dan memilih menoleh ke arah Ular Naga yang sudah melesat pergi, menghindar dari amukan Patih Drupala.
"Awas kowe Naga Tuek ... tak lempit-lempit kui lambemu?!" (Awas kamu Naga Tua ... tak lipat-lipat mulutmu itu?!) teriak kesal Patih Drupala pada sahabat lamanya itu.
"Hahaha ... sampai jumpa lagi Patih Gendeng! Selesaikan dulu urusanmu bersama bocah itu, baru kau kejar aku!" teriak Naga sembari terus melesat pergi entah kemana.
Bersambung ....
__ADS_1