
Sinar terang sang rembulan menghias di atas tirai langit malam. Seolah tak mampu menembus gelap gulitanya hutan yang sedang Aryo dan Jagad jelajahi.
Sukma mereka berdua terus melayang-layang semakin masuk ke dalam hutan. Menyusuri gelap yang berteman sunyi senyap, tanpa satupun suara hewan malam terdengar. Kesunyian itu terasa begitu janggal. Bahkan suara rancau dari para lelembut pun tak satupun terdengar di telinga.
"Aaaaarrrrggghh ...!" Suara raungan panjang kembali terdengar. Diiringi getaran tanah yang cukup terasa hingga ke desa.
Jagad dan Aryo celingukan mencari-cari asal-muasal suara mengerikan itu. Hingga sebuah cahaya kebiruan terlihat dari sebuah sendang yang tak jauh dari tempat mereka berada.
"Itu seperti retakan perisai Jagad Lelembut, Pak!" ucap Jagad dengan wajah paniknya.
"Kurang ajar?! Bagaimana pintu itu bisa terbuka?" teriak Aryo sembari melesat pergi menuju retakan pintu dimensi.
Jagad segera menyusul ke tempat dimana Aryo berada. Terlihat beberapa tepah berisikan sesajen yang telah berserakan. Percikan darah dan juga potongan-potongan daging merah berceceran di sekitar sendang.
Brugghh ...!
Seonggok Jasad tak bernyawa tiba-tiba saja keluar dari retakan pintu dimensi. Dengan keadaan terkoyak dan sudah tak utuh lagi. Disusul sosok makhluk besar bertanduk dan berbulu hitam lebat, menyembul dari retakan itu.
Mata merahnya menatap nyalang ke arah Jagad dan Aryo yang masih berada disana. Tangannya yang begitu panjang terus berusaha menggapai mereka berdua. Menampilkan kuku-kuku panjang berlumur darah yang begitu runcing dan tajam.
"Dia belum keluar sepenuhnya!" ucap Aryo tatkala melihat makhluk itu hanya mengeluarkan tubuhnya hingga sebatas pinggang.
"Kita harus segera menutup pintu itu! Bisa celaka bila makhluk ini bangkit sepenuhnya!" balas Jagad.
Hawa mencekam semakin terasa, tatkala pasukan makhluk kerdil berwujud layaknya manusia setengah babi muncul dari segala penjuru. Mengintip dari balik pepohonan, menatap tajam ke arah Jagad dan Aryo dengan mata merahnya.
Makhluk besar yang berada dalam retakan pintu dimensi itu menghentikan serangan dan mulai merapalkan sebuah mantra, dengan bahasa yang sama sekali tak Aryo mengerti. Satu hal yang pasti, itu bukanlah sembarang mantra. Energi negatif begitu terasa dari mantra itu, membuat Aryo sedikit bergidik ngeri.
"Aku pernah mendengar mantra itu!" ucap Jagad saat para makhluk kerdil itu mulai mendekat dan mengepungnya.
"Dimana? Bapak bahkan belum pernah mendengarnya!" timpal Aryo.
"Di Jagad Lelembut. Aku ingat jelas, ditempat itu ada sebuah istana iblis yang tengah mempersiapkan ritual kebangkitan. Jika pintu ini berhasil terbuka, maka iblis-iblis terkuat dari tempat itu akan ikut keluar dan menghancurkan alam kita, Pak." Jagad lemparkan serangan ke arah para makhluk kerdil yang sudah tinggal selangkah dari tempatnya berada.
"Tapi hanya pemilik Pakugeni yang bisa menutupnya kembali!" ucap Aryo sembari menatap serius ke arah Jagad.
"Kita kembalikan mereka dulu, Pak. Kita masih bisa menguncinya sementara dengan beberapa pusaka yang kita miliki! Jika tak bisa, terpaksa kita panggil Guntur dan Trisnya kemari." Jagad melesat menerjang makhluk-makhluk kerdil itu.
Jagad ayunkan kerisnya menebas dan melempar kembali makhluk-makhluk yang menyerang ke dalam lubang retakan. Ia lemparkan pula serangan-serangan energi hingga membuat beberapa dari mereka lenyap bagai asap.
Aryo bangkitkan energi tombak naga emas dalam genggamannya. Ia ikut menyerang makhluk-makhluk itu dengan begitu membabi buta.
Mereka berdua terus melayang-layang menyelip di antara pepohonan tinggi menjulang. Menghindari setiap serangan dari makhluk-makhluk kerdil itu. Terus melesat bebas melemparkan serangan-serangan terkuat, hingga menciptakan kilatan cahaya kilat yang begitu terang dan menyilaukan.
__ADS_1
Langit semakin bergemuruh hebat. Disertai hembusan angin yang begitu kuat berputar-putar mengelilingi kawasan hutan dan perkampungan di sekitarnya.
Heru yang tengah menjaga Nawang bersama Handayani, tak henti-hentinya melantunkan doa. Memohon perlindungan dan keselamatan dari Sang Maha Kuasa.
Buammm ...!
Suara dentuman yang begitu keras terdengar dari dalam hutan. Diikuti getaran tanah yang kembali terasa.
Handayani semakin gelisah. Ia beranjak dari duduknya berniat menyusul ke tempat Aryo dan Jagad berada.
"Buk, biar Heru saja. Ibuk tetap disini bersama Nawang!" Heru segera beranjak pergi menggantikan Handayani. Menyusul Jagad dan Aryo ke ruang pusaka.
Terlihat raga Jagad dan Aryo telah basah oleh peluh dan keringat. Beberapa luka lebam kebiruan juga terlihat di beberapa titik. Hal itupun membuat Heru sedikit khawatir akan keselamatan mereka.
Ia ambil kedua mustika miliknya, lalu ia masukan pada genggaman Aryo dan Jagad agar bisa membantu sukma mereka untuk bertahan.
***
Di dalam hutan, pertarungan masih berlanjut. Pasukan makhluk kerdil yang sebelumnya menyerang, telah berhasil mereka lempar kembali ke dalam lubang retakan. Tinggalah memikirkan bagaimana caranya melempar makhluk bertanduk itu kembali ke Jagad lelembut, dan menutup pintu retakannya kembali.
Jagad terus berusaha menyerang, namun serangannya seolah mental dan tak mampu menembus makhluk itu. Berkali-kali ia dan ayahnya terlempar jauh akibat serangan balik darinya.
Berkat energi mustika ular milik Heru, kondisi mereka selalu pulih dengan cepat, dan bertambah semakin kuat. Meski berkali-kali terlempar dan terkena serangan energi dari makhluk itu, mereka akan selalu bangkit dan bugar kembali.
Langit gelap mulai menurunkan hujannya, diiringi suara menggelegar dari kilatan petir yang menari-nari di atas kepala.
Di kediaman Guntur, terlihat ia tengah merapikan beberapa pusaka milik mendiang kakeknya. Tangannya terhenti tatkala mendengar panggilan batin dari Jagad. Tanpa menunggu lama, ia segera mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Trisnya.
"Dek, kita susul Mas Jagad dan Pakde Aryo ke hutan jati samping Klinik. Mereka butuh bantuan untuk menutup retakan pintu perisai Jagad Lelembut!" ucapnya tanpa basa-basi ketika sambungan teleponnya terhubung.
"Baiklah, Mas!" jawab Trisnya dari seberang telepon.
Mereka berdua segera meraga sukma dari rumah masing-masing. Dan melesat pergi menyusul ke tempat Jagad dan Aryo berada.
***
Mereka berempat mengitari lubang retakan dari segala sisi. Melemparkan serangan demi serangan bergantian hingga darah hitam terlihat mengalir dari mulut besar makhluk itu.
"Satukan kekuatan!" Seru Jagad.
Tanpa banyak berbicara, Guntur dan Trisnya segera mendekat ke arah Jagad. Mereka satukan Keris Damarwulan dengan selendang emas milik Trisnya dan belati Ilat Kadal yang Guntur bawa.
"Gusti Ingkang Ngareksa
__ADS_1
Sadaya Dayaning Dunya
Nyuwun paring pangestu
Manunggaling aji
Dadio panguat
Humateg ing pusaka
Kalebur dadi siji
Ngajur memala
Angkara lan murka
Bismillahirrahmanirrahim...."
Mantra telah terucap. Cahaya api keemasan telah menyelimuti keris Damarwulan sepenuhnya. Guntur dengan wujud raksasanya berlari menerjang membawa keris Damarwulan yang telah ikut membesar. Dengan membawa Jagad yang bertengger di bahu besarnya. Menyerang makhluk dari Jagad Lelembut itu dalam satu kali hunusan pusaka.
Guntur tancapkan keris di tangannya tepat diantara kedua mata merah makhluk mengerikan itu. Menciptakan auman panjang nan menggelegar yang terdengar hingga ke seluruh penjuru hutan.
Trisnya goreskan pedang Pakugeni pada salah satu jemarinya. Hingga darah segar berhasil mengalir menghiasi pedang yang ia genggam. Lalu ia angkat tinggi-tinggi pusaka itu sembari merapalkan sebuah mantra.
"Pakugeni Mawinga winga
Tumancep bumi ambyar memala
Dawuh dumugi kula nimbali
Agawa aji pengreksa bumi
Mara teka ambyar dadi segara
Jagad demit jagad manungsa
Dadi pager dadi pamisah...."
Trisnya melesat maju membawa pedang Pakugeni yang telah berselimut api kebiruan. Tepat saat Guntur menarik keris Damarwulan dari kepala makhluk itu, Trisnya hunuskan pedangnya yang membesar ke dalam dasar bumi. Menciptakan getaran tanah yang begitu hebat, tatkala makhluk bertanduk itu kembali mengaum keras seiring terserapnya kembali ke dalam Jagad Lelembut. Perlahan lubang retakan itu mulai menutup kembali, menyisakan tulang belulang dan potongan tubuh manusia yang berserakan di sekitarnya.
"Kita kuburkan mereka besok pagi!" ucap Aryo.
Setelah memastikan semua aman, mereka berempat melesat pergi, kembali ke raga masing-masing. Tanpa menyadari, masih ada sepasang mata merah yang mengintip dari balik kegelapan.
__ADS_1
"Khee ... khee ... khee ...! Aku tak akan pernah menyerah untuk membangkitkan tuanku dari tempat terkutuk itu. Tunggu pembalasan ku, Kinasih. Akan kupastikan anak keturunanmu hancur bersama pusaka yang kau jaga. Khee ... khee ... khee ...!" Suara serak dan paraunya mengalun bersama hembusan angin yang berputar-putar dan menghilang dalam kegelapan malam.
Bersambung ....