
Rintih tangis dari beberapa warga yang berada di dalam Klinik, terdengar di sepanjang keheningan malam. Handayani duduk cemas menunggu suami dan anak-anaknya pulang. Sesekali ia berdiri, berjalan menuju pintu tatkala mendengar suara motor yang lewat.
Cukup lama, ia menanti. Hingga pada akhirnya sebuah suara motor berhenti di garasi Klinik. Jagad dan Heru telah sampai rumah dengan selamat.
"Loh! Kalian kenapa badannya pada lecet begini?" Handayani terlihat panik tatkala melihat tangan dan wajah kedua pemuda itu penuh dengan luka.
"Mboten kenapa-napa, Buk. Mas Jagad iki loh, ngajak 'ngambung Siti'. Heheheh ... " (Tidak kenapa-napa, Bu. Mas Jagad ini loh, ngajak 'nyium tanah/jatuh'.) balas Heru sambil cengengesan.
"Gundulmu!" Jagad menyabet mulut Heru dengan jaketnya.
"Sudah Ibuk bilang, kalau naik motor pelan-pelan saja. Masih juga ngeyel ... " ucap Handayani yang terlihat begitu kesal sekaligus khawatir.
"Halah iyo toh ... Mas Jagad itu loh, Buk. Ngeyel kalau di bilangin!" celoteh Heru sembari cengengesan dan berlari menuju kamarnya.
"Loh ... loh ... loh ... loh, kok aku toh? Ndak bahaya ta?" balas Jagad yang terlihat kesal akibat terus dijadikan kambing hitam oleh Heru. Ia sudah bersiap mengambil langkah seribu untuk mengejar Heru. Namun, harus ia urungkan niat itu tatkala Handayani berhasil meraih telinganya dan menatap tajam sembari menggeleng padanya.
"Awhh ... yang bontot dibela mulu, Buk!" protes Jagad sembari memegangi telinganya yang terasa panas akibat jeweran maut sang ibu.
"Kalian ini udah tua, kelakuan masih aja kaya anak TK!" Handayani terlihat begitu kesal melihat tingkah mereka yang tak kunjung dewasa. "Sudah, sana ganti baju. Pasien udah pada nunggu, kasihan mereka!" imbuhnya.
"Sudah lama, Buk?" tanya Jagad sambil meletakkan jaket dan tas miliknya.
"Pas ibu telepon kamu tadi, mereka baru saja datang," jawab Handayani.
Tanpa menunggu lama, Jagad segera membersihkan muka dan menyusul ke ruang tempat para pasien berada.
Terlihat beberapa lelaki paruh baya yang tengah meringis kesakitan akibat luka-luka koreng dan bernanah yang mendera. Pasien-pasien itu sudah beberapa kali berobat ke Klinik, dan sudah di berikan obat sesuai prosedur medis. Namun, sakit yang mereka derita semakin bertambah parah. Mereka bahkan sudah mengunjungi beberapa dokter kulit, namun hasilnya tetap nihil.
Jagad memang sudah merasa ada yang janggal dengan penyakit yang menyerang desa secara mendadak ini. Bahkan lebih dari separuh warga yang ikut terjangkit. Dan hanya beberapa yang berhasil disembuhkan dengan pengobatan medis.
Jagad mulai mendeteksi dan mengobati satu per satu pasien semampunya. Terlihat bibirnya yang tak henti melafalkan doa yang begitu panjang. Pada ke enam pasien secara bergantian. Mereka memang sengaja dikumpulkan di ruang yang sama agar mempermudah Jagad dan Heru dalam melakukan pengobatan.
Heru keluar kamar membawa tiga 5 botol air mineral yang sudah ia doakan, menyusul Jagad yang terlihat tengah mengobati para pasien dengan kemampuannya.
__ADS_1
"Sudah kamu siapkan?" tanya Jagad tatkala Heru muncul dari balik pintu.
"Sudah, Mas. Ini sudah selesai semua?" tanya Heru.
"Sudah!" Jagad beranjak pergi setelah selesai dengan pasien terakhir.
Heru segera mengambil alih pekerjaan Jagad. Ia mulai membersihkan dan menutup luka-luka koreng yang ada di tubuh para pasien itu satu per satu hingga selesai.
"Pak, ini ada air mineral. Nanti diminum njih, Pak. Jangan lupa sebelum minum baca sholawat dulu 3x sembari menahan napas dan minum menggunakan tangan kanan!" Heru menyerahkan botol air itu pada para pasien masing-masing satu botol.
"Terima kasih ya, Mas. Semoga kali ini kami bisa sembuh. Jujur kami sudah tak tahan jika harus menahan rasa sakit ini lebih lama," jelas salah seorang pasien.
"Pasrahkan semua pada Gusti Allah, Pak. Insyaallah semua akan segera pulih. Jangan putus berdoa, karena tiada kesembuhan selain dari Sang Maha Pencipta. Kami disini hanya perantara, yang kebetulan diberi kesempatan untuk membantu bapak-bapak sekalian," tutur Heru terdengar begitu sopan dan lembut.
"Kami sudah boleh pulang?" tanya salah seorang pasien.
"Boleh, silahkan. Hati-hati, njih!" ucap Heru mempersilahkan mereka pulang.
"Kalau begitu kami pamit, Mas Heru. Sampaikan rasa terima kasih kami pada Mas Jagad juga, ya!"
"Ini, Mas ... ada sedikit rezeki dari kami. Mohon diterima!" Salah seorang dari mereka menyerahkan sebuah amplop putih yang cukup tebal sembari menyalami Heru.
"Loh, ndak perlu Pak! Kayak sama siapa aja, loh ... kita ini jadi tetangga udah lama. Udah, uangnya buat keperluan panjenengan-panjenengan saja dirumah. Cukup doakan saja, semoga Mas Guntur segera pulih, Mbak Trisnya kembali dengan selamat, dan Klinik ini makin rame!" tolak Heru.
"Itu pasti, Mas. Tapi mohon ini di terima, ya! Sudah hampir separuh warga kita yang berobat kesini gratis, itung-itung saja ini uang ganti obat-obatan yang kalian berikan pada kami semua. Kita itu tetangga, jadi harus saling mengerti juga. Ini sudah jadi keputusan bersama, jangan ditolak!" tegas salah satu pasien yang bernama Pak Aldo.
"Baiklah kalau begitu, ini saya terima njih, Pak. Semoga setelah ini sudah tak ada lagi warga yang terjangkit penyakit-penyakit aneh lagi." ucap Heru.
"Amin, Mas. Kita juga bingung kenapa desa kita jadi seperti ini. Apalagi saya merasa kalau tanah yang kita pijak ini semakin hari semakin panas, Mas." Salah satu warga pun ikut menimpali.
"Sudahlah, bahas besok lagi saja. Kasihan Mas Heru, udah malam biar dia istirahat. Kita pamit pulang dulu, Mas!" pamit mereka.
Para pasien yang sudah tak lagi merasakan sakit dan perih seperti sebelumnya, berjalan beriringan meninggalkan Klinik menuju ke rumah masing-masing yang tak jauh dari sana.
__ADS_1
Malam sudah semakin larut, Heru rebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurnya. Mengusir lelah yang begitu memeluk erat seluruh tubuhnya. Perlahan netranya pun mulai menutup sempurna, mengantarnya dalam lelap.
Berbeda dengan Heru, Jagad terlihat masih berada di ruang pusaka. Ia duduk bersila dengan mata terpejam. Jemarinya memutar tasbih bersamaan dengan bibir yang terus merapalkan dzikir dan doa-doa. Segala asa ia agungkan pada Sang Pemilik Alam Semesta. Berharap segera ada petunjuk perihal hal-hal ganjil yang tengah melanda desanya.
Di tengah keheningan malam, tiba-tiba saja pintu Klinik terketuk cukup keras. Membuat Jagad sedikit terhenyak dan segera bangkit dari duduknya. Ia berjalan cepat untuk melihat siapa yang bertamu tengah malam begini.
Dengan cepat ia membuka pintu. Namun, tak terlihat siapapun berada di sana.
"Siapa?" teriak Jagad sambil celingukan di teras depan Klinik yang temaram.
Embusan angin yang cukup kencang tiba-tiba saja menerpa wajah teduhnya. Tengkuk lehernya pun tiba-tiba meremang. Ia merasakan kehadiran energi yang begitu kuat di sekitarnya. Namun ia sama sekali tak melihat entitas apa yang berada di dekatnya.
Jagad kembali masuk dan mengunci pintu rapat-rapat, lalu berjalan cepat ke ruang pusaka yang terdengar cukup gaduh.
Beberapa pusaka yang tersimpan mulai bergetar hebat, bahkan ada yang sampai terjatuh dari tempatnya. Ada satu pusaka yang cukup menarik perhatian Jagad. Sebuah keris lengkap dengan warangkanya, tergeletak begitu saja di lantai. Benda pipih dengan motif bertuliskan aksara jawa kuno itu terlihat bergetar dan memancarkan sinar kekuningan yang begitu menyilaukan mata.
"Pusaka ini ...." Jagad mengambil pusaka itu sembari terus mengingat-ingat siapa pemiliknya. "Apa ini milik Guntur yang pernah dititipkan sama Bapak dulu, ya?"
Jagad perlahan menarik keris itu dari warangkanya, menampilkan bilah keris yang cukup indah. Keris dengan Luk Limo (Lekuk Lima) berwarna hitam dengan hiasan ornamen pamor keemasan itu tampaknya menyimpan energi yang begitu besar.
Sinar keris itu semakin bertambah terang tatkala sudah terlepas dari warangkanya. Membentuk siluet bayangan makhluk tinggi besar dan perlahan berubah menjadi sosok yang sama seperti yang telah menyelamatkannya tadi.
Tiba-tiba saja Jagad sudah berada di dimensi yang berbeda. Ia berdiri di ruang hampa tanpa ada tumbuhan ataupun bangunan yang berdiri di sekitarnya. Hanya tanah hitam yang ia pijak tampak membentang luas tak bertepi.
"Si-siapa kamu?" tanya Jagad tatkala makhluk itu menunduk hormat padanya.
"Aku tak bermaksud buruk. Aku datang karena sukma bocah yang terus memanggilku. Namun, sepertinya ia tengah terjebak di tempat yang tak mampu ku jangkau," ucapnya dengan suara yang begitu menggelegar namun tetap terdengar sopan sembari merubah dirinya menjadi sosok menyerupai panglima perang jaman kerajaan. "Ratusan tahun tak ada yang memanggil namaku, aku yakin bocah itu tengah dalam bahaya hingga berani mengusik tidur lelapku!"
Jagad hanya terdiam, kakinya seolah bergetar melihat sosok gagah yang membawa sebilah pedang tajam di hadapannya. Ia perhatikan dengan seksama, ternyata wajah sosok itu sangat mirip dengan wajah Guntur.
"A-apa bocah yang kau maksud adalah Guntur?" tanya Jagad.
Sosok itu hanya menyunggingkan senyuman dengan sorot matanya yang begitu tajam. "Jadi namanya Guntur? Pantas saja teriakannya begitu menyiksa telingaku. Menggelegar seperti namanya! Hahahaha ...."
__ADS_1
Bersambung ....