Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab9. Melawan Qodrat


__ADS_3

Bruggghhh....


Didepan mata kepalanya, Jagad menyaksikan sukma Trisnya terlempar dan membentur pilar istana cukup keras. Darah segar mengalir dari mulut, hidung hingga belakang kepalanya.


"Kurang ajar!" teriak Jagad sembari mengayunkan serangan ke arah Broto dan anak buahnya.


Splaasss....


Krakk....


Serangan Jagad berhasil mengenai beberapa anak buah Broto yang tak sempat menghindar.


Splasshh..., splasshhh....


Broto membalas serangan itu tepat kearah Jagad. Dengan cekatan Jagad terus menghindari serangan demi serangan yang Broto lemparkan.


Bugghh....


Satu serangan berhasil mendarat tepat di perut Jagad. Ia terlempar jauh hingga membentur tanah.


"Hanya sebatas itu kemampuanmu? Hahahhah, bahkan wanita yang lebih hebat darimu itu saja sudah tak berdaya," ujar Broto.


"Apa kau meremehkan kemampuan kami?" balas Jagad dengan senyum sinisnya.


Jagad melirik kearah Trisnya yang terpejam, terlihat bibirnya yang penuh luka tengah berkomat-kamit merapalkan mantra penyembuh dan penguat energi.


"Hahahhaha, aku hanya ingin menawarkan padamu sebuah kesempatan emas!" ujar Broto, "bergabunglah denganku, akan kupastikan kekuatan seluruh alam ini menjadi milikmu! Kita hanya perlu berbagi tugas, kita akan sama-sama membangkitkan kegelapan terkuat dimuka bumi ini, semua akan bertekuk lutut dihadapan kita, hahahhaha," ujar Broto dengan begitu percaya diri.


"Cuih! Simpan saja tawaran busukmu itu, aku tak akan sudi bersekutu dengan iblis sepertimu!" Jagad dengan tegas menolak tawaran Broto.


Mendengar jawaban Jagad, Broto tampak begitu murka. Wujudnya berubah menjadi lebih bengis dan menyeramkan. Tampak tubuh bagian bawahnya berubah layaknya seekor ular hitam raksasa, tubuh bagian atasnya mulai muncul begitu banyak koreng dan luka bernanah.


"Maka akan ku habisi kau saat ini juga," ujar Broto dengan begitu lantang. Ia angkat tinggi-tinggi sebuah tombak berapi, sembari berlari kearah Jagad, Broto rapalkan sebuah mantra yang entah apa artinya.


Buggghhh....


Sebuah pukulan berhasil menghempaskan Broto disaat ia hampir berhasil menusukan tombaknya ke tubuh Jagad dengan jarak yang hanya tinggal sejengkal.


Buggghhh....


Sebuah tendangan kembali menjatuhkan Broto yang hendak berdiri. Sosok manusia kera raksasa itu meraih leher Broto, ia angkat tinggi-tinggi tubuhnya lalu ia lemparkan kesembarang arah hingga membuat Broto terkapar lemah.


Sosok manusia kera raksasa itu, tak lain adalah Guntur. Ia datang bersamaan dengan Nyi Kinasih yang kini tengah berusaha memulihkan sukma Trisnya.


Langit tiba-tiba bergemuruh begitu hebat. Awan hitam mengepung langit disekitar istana. Kilatan cahaya petir mulai tampak menari-nari diiringi suaranya yang menggelegar.


"Ada apa ini?" tanya Guntur.


"Gawat, mantra itu adalah mantra pemanggil pasukan lelembut dari berbagai penjuru," timpal Jagad.


"Bagus, kumpulkan mereka! Maka, aku akan lebih mudah menyegel mereka!" ujar Trisnya yang telah sedikit pulih.


"Tapi, itu akan sangat berbahaya untukmu! Raga dan sukmamu masih dalam keadaan lemah," ujar Guntur.


"Tapi, kita gak ada pilihan lain mas," keukeuh Trisnya.


"Mas, tak ingin kamu terluka Trisnya!" ujar Guntur dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Jagad hanya melirik kearah Guntur sembari membuang nafasnya kasar. Ia sangat faham, kisah hidup Guntur yang selalu ditinggalkan oleh orang-orang terkasihnya. Hingga membentuknya menjadi seseorang yang begitu posesif dan takut akan kehilangan.


"Trisnya benar Gun!" ujar Jagad sembari menatap lembut kearah Guntur, "mahluk-mahluk itu harus kita segel, agar tak terus-menerus menggoyahkan hati dan iman manusia," imbuhnya.


"Berjanjilah, untuk selamat," ujar Guntur sembari menatap sendu kearah netra sang kekasih.

__ADS_1


"Insyaallah, bantu aku untuk tetap kuat, mas!" balas Trisnya dengan senyum manisnya.


Terdengar riuh suara pasukan lelembut mulai mendekati istana. Ratusan lelembut dengan berbagai wujud itu berbaris rapi dibelakang Broto.


"Serang!" seru Broto memberi aba-aba pada pasukannya.


"Satukan kekuatan kita dalam satu wadah," usul Nyi Kinasih.


Jagad mengangkat tinggi-tinggi keris Damarwulan miliknya. Guntur, Jagad dan Kinasih mulai merapalkan mantra penyatuan energi bersamaan.


"Gusti Ingkang Ngareksa


Sadaya Dayaning Dunya


Nyuwun paring pangestu


Manunggaling aji


Dadio panguat


Humateg ing pusaka


Kalebur dadi siji


Ngajur memala


Angkara lan murka


Bismillahirrahmanirrahim...."


Pertempuran kembali tak terelakan, Trisnya menunggu saat yang tepat agar bisa melemparkan perisai pengurung kearah Broto dan pasukannya.


Cringgg....


Suara dentingan senjata yang saling beradu, benturan-benturan energi yang terus tercipta membuat suasana semakin mencekam.


Cukup lama Trisnya menunggu kesempatan, dengan sisa tenaganya ia segera lemparkan serangan energi perisai tepat kearah Broto dan pasukannya berada.


Jagad dan Guntur secepat kilat menghindar, Nyi Kinasih membantu memperkuat perisai yang Trisnya buat.


"Tunggu!" sebuah teriakan seorang perempuan terdengar dari arah aula pernikahan.


Sosok pengantin wanita, berlari keluar menghampiri medan pertempuran.


"Sahara, tolong aku! Tolong aku sayang, aku tak ingin berpisah darimu!" ujar Broto dengan begitu sendu dan menyayat hati.


"Mas Broto!" gadis itu terus berlari menuju tempat Broto terkurung.


"Jangan kesana Sahara! Dia iblis jahat, sadarlah!" teriak Jagad.


"Tidak! Dia suamiku, aku akan tetap ikut dengannya! Kalian yang jahat, bebaskan suamiku!" teriak Sahara penuh amarah.


Jagad, Guntur dan juga Trisnya berusaha sekuat tenaga agar perisai tak retak. Mereka sama sekali tak bisa melepaskan perisainya.


Trisnya segera mengangkat tinggi-tinggi pedang pakugeni ditangannya. Bibirnya dengan lancar merapalkan mantra untuk mengaktifkan energi pusaka penyegel angkara murka itu.


"Pakugeni Mawinga winga


Tumancep bumi ambyar memala


Dawuh dumugi kula nimbali


Agawa aji pengreksa bumi

__ADS_1


Mara teka ambyar dadi segara


Jagad demit jagad manungsa


Dadi pager dadi pamisah...."


Trisnya goreskan pedang itu pada telapak tangannya hingga darah berlumuran menghiasi pedang mengalir bagaikan urat nadi yang menghidupkan pusaka, lalu ia tancapkan pedang Pakugeni yang telah berapi-api itu dalam-dalam hingga ke dasar bumi. Perlahan, Broto dan pasukan lelembutnya mulai ikut terserap ke dasar Bumi.


"Mas, tunggu!" Sahara berusaha melompat kearah Broto.


Nyi Kinasih segera melesat kearah Sahara, Jagad yang melihat tingkah nekat Nyi Kinasih juga segera melompat untuk menyelamatkan Nyi Kinasih juga Sahara agar tak ikut terserap ke jagad lelembut.


Bruggghhh....


Tubuh mereka bertiga jatuh membentur tanah. Tak sengaja Jagad menindih tubuh Nyi Kinasih, tatapan netra mereka berdua saling beradu. Tanpa disadari, bulir-bulir air mata mengalir begitu saja dari mata Jagad hingga mengenai pipi Nyi Kinasih.


"Tatapan mata yang tak asing, siapa kamu Jagad?" batin Nyi Kinasih.


"Aaaaa..., mas Broto! Jangan tinggalin Sahara mas! Mas Broto...." Sahara terus menangis meraung-raung.


"Ah, maafkan aku!" ucap Jagad saat tersadar akan posisinya.


"Uhm, i..., iya! Terimakasih!" ucap Nyi Kinasih sedikit tergagap.


Trisnya dan Guntur hanya saling berpandangan melihat tingkah canggung Jagad dan Nyi Kinasih.


Mereka segera berhambur menghampiri Sahara yang masih begitu terpukul atas kepergian sosok suaminya.


"Sadarlah, dia siluman ular! Dia bukan manusia!" ujar Jagad mencoba menyadarkan Sahara.


"Aku tahu, aku tahu dia bukan manusia! Tapi, aku sangat mencintainya, hikhikhik...," jelas Sahara ditengah isak tangisnya.


"Apa? Jadi kamu tahu?" Guntur sedikit heran dengan jawaban Sahara.


"Dia jauh lebih baik daripada manusia, cinta, kasih sayang, perhatian dan segala hal yang dia berikan dengan tulus. Tak pernah sekalipun aku dapatkan dari manusia. Bahkan orang tuaku pun, selalu menuntut balas budi atas apa yang mereka berikan padaku. Tak ada ketulusan dihati manusia, aku benci kalian! Kembalikan suamiku..., huhuhu..., aku hanya ingin hidup bahagia bersamanya," ujar Sahara yang semakin histeris.


"Sahara, manusia dan Jin tak seharusnya hidup bersama! Tuhan menciptakan pasangan untuk setiap mahluknya dari jenis yang sama. Manusia dengan manusia, begitu pula dengan Jin. Sadarlah, ayo pulang. Orang tuamu menunggu kamu pulang dan sehat kembali," bujuk Jagad.


"Tidak, aku mau suamiku! Aku akan menunggunya disini," tolak Sahara.


Trisnya yang mendengar itu segera memeluk Sahara erat.


"Maafkan aku, ini pasti sangat sulit untukmu! Tapi percayalah, akan ada cinta dan ketulusan yang jauh lebih besar dari yang pernah kau dapatkan dari Broto. Percayalah, Allah akan kirimkan seseorang yang akan benar-benar meratukanmu. Ayo pulang!" ujar Trisnya sembari berusaha menenangkan Sahara.


Tanpa Sahara sadari, Trisnya telah membacakan doa untuk membawanya kembali ke raganya. Perlahan tubuh Sahara memudar lalu menghilang.


Tinggalah Jagad, Guntur, Trisnya dan Nyi Kinasih ditempat itu.


"Sebuta itukah cinta?" ujar Trisnya.


"Sudahlah, ayo kembali!" ajak Jagad.


Mereka kembali ke raga masing-masing. Kecuali Nyi Kinasih, karena memang dia tak beraga. Ia hanyalah sosok jin penjaga yang ditugaskan untuk menjaga pusaka Pakugeni beserta kuncennya. Ia duduk termenung sendirian ditempat sunyi itu.


"Kangmas, Asih rindu!" ucap Nyi Kinasih sembari menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya.


Perlahan ia mulai terisak, air matanya luruh begitu saja tanpa bisa dibendung. Terbayang tatapan netra Jagad yang begitu sama persis dengan tatapan seseorang yang sangat ia rindukan. Tatapan sejuk itu mengingatkannya pada sosok Ki Joko Manggala yang merupakan suaminya semasa hidup sebagai manusia.


Dari balik kejauhan, tampak Jagad yang masih berdiri menatap Nyi Kinasih dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Seandainya, aku mampu melawan ketetapan dari Sang Pencipta! Ingin sekali kurengkuh dan kubawa kau bersamaku Asih. Namun, aku sama sekali tak kuasa untuk itu. Perbedaan diantara kita terlalu berat untuk disatukan," gumam Jagad dengan begitu lirih. Buliran air mata ikut terjatuh dari sudut matanya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2