
Hari demi hari telah berlalu, suasana rumah Baskoro kini telah kembali seperti dahulu. Tiada lagi rintih tangis kesakitan terdengar, terganti dengan suara gelak tawa dari Fahmi dan keluarganya.
Namun, ada satu hal yang membuat Reni sedikit khawatir. Semenjak kepergian Guntur malam itu, suasana kamar Guntur menjadi sedikit berbeda. Tak jarang, Reni dan Fahmi di buat merinding disaat tengah melewati kamar Guntur.
Guntur juga lebih sering menyendiri, wajahnya juga terlihat begitu sayu dengan lingkaran hitam yang menghias matanya. Awalnya, mereka menganggap itu hanya karena Guntur kelelahan karena harus mengurusi pekerjaan di Rumah sakit sekaligus memulihkan Fahmi saat di rumah. Namun, semakin hari tingkah Guntur semakin aneh.
Guntur hampir tiap tidur selalu mimpi buruk, dan dengan mimpi yang selalu sama. Entah kenapa, selalu ada bisikan yang mengatakan, "Dia lah yang kau cari, bunuh dia atau dia yang akan membunuhmu. Suatu hari nanti kemampuannya akan melebihi kemampuanmu. Kamu akan mati di tangannya."
"Gun, sebenarnya kamu ini kenapa? Kenapa sering sekali kamu ngalamun malam-malam?" tanya Baskoro saat menghampiri Guntur yang sedang duduk seorang diri di taman belakang rumah.
"Eh, enggak papa kok, Lik. Guntur cuma lagi pengen sendirian aja," kilah Guntur.
"Paklik sering denger kamu ngelindur tiap malam, Reni juga beberapa kali lihat kamu bertingkah aneh, kaya orang kerasukan. Kamu yakin gak papa?" tanya Baskoro.
"Lik, sebenarnya ... aku selalu mimpi aneh. Di mimpi itu aku selalu mencoba membunuh Heru, dan yang lebih parahnya aku juga dengan kejam membunuh Trisnya dengan tanganku sendiri. Aku takut, Lik. Sepertinya makhluk itu mencoba mempengaruhiku lagi," ucap Guntur dengan suara bergetar. Membayangkan bagaimana kejamnya dia pada Trisnya dan Heru di mimpi itu.
"Besok coba kamu bicarakan ini sama Jagad juga Mas Aryo. Siapa tahu mereka punya jalan keluar supaya makhluk itu bisa berhenti mengincarmu. Paklik gak mau kamu kenapa-napa, Gun. Ayo kita tidur, udah malam!" Baskoro bangkit dari duduknya, menepuk bahu Guntur pelan lalu meninggalkannya masuk ke dalam rumah.
"Iya, Lik. Duluan aja, aku habisin rokok dulu," ujar Guntur.
Angin berhembus begitu kencang, membawa hawa dingin yang begitu menusuk hingga ke tulang-tulang. Perasaan tak nyaman tiba-tiba menghampirinya lagi. Perasaan gelisah, marah juga sedih seolah bercampur jadi satu. Ia tahu, disaat itulah makhluk itu tengah mendekat, membangkitkan segala amarah dan dendam di dalam hatinya.
Guntur terus berusaha mengendalikan dirinya, nafasnya semakin berat. Kesadarannya perlahan menghilang, tubuhnya limbung membentur tanah di taman belakang rumah.
Reni yang tak sengaja melihat Guntur dari jendela dapur segera berlari dan berteriak memanggil ayahnya. Ia menghampiri Guntur yang sudah terkapar tak sadarkan diri. Baskoro langsung membopong tubuh Guntur menuju kamar.
***
Guntur berlari secepat mungkin saat sesosok makhluk berwujud kelelawar raksasa mengejar dan mencoba menyatu dengannya.
"Pergi ...!" usir Guntur.
"Hahahaha ... bukankah kau sendiri yang memanggilku, Guntur? Lantas kenapa sekarang kau malah mengusirku? Mari tuntaskan dendam kita yang belum usai ...." Makhluk itu semakin mendekat ke arah Guntur.
Tiba-tiba kekuatan Guntur seolah lenyap begitu saja, tubuhnya lemas hingga tak mampu lagi menghindar saat makhluk itu menerkam ke arahnya.
"Tidak ...!!" teriak Guntur yang masih dalam kondisi terpejam. Peluh mengalir deras membasahi wajah dan seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Gun ... sadar!" panggil Baskoro sembari terus menepuk-nepuk pelan pipi Guntur.
"Astagfirullahaladzim ...." Guntur membelalakan matanya lebar-lebar. Ia pandangi setiap inci tubuhnya dengan panik.
"Kenapa to, Gun?" tanya Anggun.
"Jam berapa ini, Lik?" tanya Guntur.
"Sudah subuh. Kamu semalaman pingsan, kita sampai khawatir takut kamu kenapa-napa, Gun." jawab Anggun yang begitu khawatir.
"Guntur gapapa, Lik." Guntur segera bangkit dari tempat tidurnya sembari berucap, "Aku sholat dulu."
Seusai sholat, Guntur bersiap-siap untuk menemui Jagad dan yang lain ke klinik. Ia berangkat seorang diri menuju desa Randujati sembari terus menahan gejolak aneh dalam dirinya.
"Iya ... datangi dia! Mari tuntaskan dendam kita yang belum usai ...." Bisikan kembali terdengar lirih di telinganya.
Guntur semakin mempercepat laju mobilnya, ia sudah tak sanggup lagi menahan gejolak dalam dirinya yang semakin tak terkendali.
Guntur memberhentikan mobilnya di depan rumah Aryo. Ia segera menghampiri Jagad dan Heru yang terdengar tengah bercanda di belakang Klinik.
Gejolak dalam dirinya semakin membuncah, tatkala mendengar suara Heru. Sorot matanya tiba-tiba berubah menjadi merah menyala dalam sekejap. Namun, kembali terlihat normal di saat ia mulai mendekati Jagad dan Heru. Tatapannya aneh, ia menyeringai tajam ke arah Heru yang terlihat tengah memegangi dadanya.
"Tatapanmu aneh sekali Guntur?" Tampak Nyi Kinasih yang sedikit heran dengan ekspresi Guntur.
Guntur ikut duduk disamping Heru yang terlihat tak nyaman.
"Maaf, aku ke kamar dulu. Masuk angin ini kayaknya," pamit Heru pada kedua temannya.
Tinggalah Guntur dan Jagad di tempat itu. Menikmati sejuknya pagi yang datang menyambut hari.
"Mas! Ada yang ingin aku bahas sama kamu!" ucap guntur.
"Opo?" tanya Jagad tanpa menoleh ke arah Guntur.
Guntur Pun menceritakan setiap kejadian yang ia alami setelah ritual malam itu pada Jagad. Aryo yang tak sengaja mendengar pun, mulai ikut mendekat ke arah mereka berdua.
"Gimana, Pak? Apa kita ceritakan sekarang saja?" tanya Jagad pada Aryo.
__ADS_1
"Apa?" Guntur terlihat begitu bingung dengan maksud pertanyaan Jagad pada Aryo.
"Siapapun Heru, kamu sama sekali tak ada hak untuk menyakitinya, Gun. Nasibnya bahkan jauh lebih tragis dibanding denganmu," tegas Aryo.
"Heru dulu hampir ditumbalkan oleh kedua orang tuanya, raganya akan dijadikan wadah untuk ingon milik mereka. Beruntung ada pak Junaidi yang cepat-cepat membawanya kemari. Alhamdulillah aku sama Bapak berhasil melenyapkan makhluk itu dan menyelamatkan Heru. Sampai sekarang Heru masih tak tahu menahu soal hal ini, karena setelah kejadian itu yang ia ingat hanya Pak Junaidi. Dia sama sekali tak tahu soal orang tua kandungnya," jelas Jagad dengan suara yang begitu pelan agar Heru tak mendengarnya.
Guntur masih terdiam, mencerna setiap kata yang Jagad ucapkan.
"Simbah dan Paklikmu sendiri yang meminta untuk mendekatkanmu dengan Heru. Mereka tak ingin kamu menyakitinya, itu sebabnya kita sengaja membuat kalian seperti saudara agar tak ada lagi pertumpahan darah," timpal Aryo.
"Aku juga tak mungkin tega menyakiti Heru, Pakde. Tapi tidak dengan makhluk yang tengah mencoba mempengaruhiku," ujar Guntur.
"Apa makhluk itu bisa kita kurung kembali?" tanya Jagad pada Aryo.
"Entahlah, wujudnya saja bapak belum lihat," jawab Aryo.
"Dia Kalong Pati, makhluk berwujud kelelawar raksasa. Untuk menangkapnya, kita harus menggunakan raga seseorang. Makhluk itu hanya bisa tertangkap saat berada di raga manusia," jelas Guntur.
"Itu berbahaya," timpal Jagad.
"Aku sudah pernah mengalaminya sekali, tak masalah jika harus mengulangnya. Asal kita semua bisa selamat,karena makhluk itu tak akan pernah berhenti mempengaruhi setiap manusia yang masih memiliki setitik rasa dendam di hatinya," ucap Guntur penuh keyakinan.
"Kamu yakin kuat, Gun? Dia bisa saja ikut menyerap energimu," tanya Aryo pada Guntur.
"Insyaallah kuat, Pakde."
Setelah hari menjelang siang, Guntur mengajak Jagad dan yang lain untuk kerumah Baskoro. Selain untuk menjenguk Fahmi, mereka juga hendak membicarakan perihal apa yang akan mereka lakukan demi menangkap makhluk yang mengikuti Guntur.
"Kamu gak ikut, Her?" tanya Jagad pada Heru yang masih berdiam di kamarnya.
"Ehm ... enggak, Mas. Masuk angin aku," kilah Heru yang sebenarnya tak nyaman jika harus berdekatan dengan Guntur.
"Ya sudah, kita berangkat dulu!" pamit Jagad.
Mereka berempat segera berangkat bersama-sama, meninggalkan Heru seorang diri di rumah.
"Beruntung Heru gak ikut. Jadi kita jauh lebih bebas membahasnya nanti," ucap Jagad.
__ADS_1
"Hari ini kita harus berhasil menarik makhluk itu masuk ke ragaku," timpal Guntur sembari fokus mengemudi.
Bersambung ....