Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab28. Jagad Lelembut


__ADS_3

Hamparan luas tanah gersang di sepanjang mata memandang, berhiaskan batang-batang pepohonan tak berdaun yang hampir lapuk, itulah yang saat ini terlihat di mata Jagad.


Ia berjalan, menapaki tanah kering-kerontang, tandus tanpa satupun tanaman hidup tumbuh. Sesekali Jagad mengusap peluhnya yang mengucur deras, akibat hawa panas yang begitu menyengat. Netranya menelisik ke sembarang arah, mencari-cari jalan keluar dari tempat terkutuk yang yang tak mengenal siang ataupun malam.


Jagad terus berjalan dalam wujud raksasa, ditemani Nyi Kinasih dan beberapa pasukannya yang masih selamat, setelah pertarungan melawan Sengkala. Sepi dan sunyi, tak ia temui siapapun di tempat yang temaram itu.


"Kenapa tempat ini sepi sekali?" tanya salah satu lelembut penghuni Alas Rongko Mayit.


"Entahlah, kesunyian ini terasa begitu aneh. Aku merasakan sesuatu yang begitu mengerikan sedang mengawasi kita," jawab Jagad yang terlihat begitu kelelahan.


"Kita harus ingat, meskipun kita berhasil melumpuhkan Sengkala dan mengubahnya menjadi asap, bukan berarti kita telah menang. Dia abadi, dia hanya akan menghilang sementara lalu bangkit kembali. Bisa jadi dia dan sekutunya tengah mempersiapkan pembalasan atas kekalahan melawan pasukan kita," timpal Nyi Kinasih, "kita istirahat dulu, sepertinya gua itu cukup untuk kita!" ajak Nyi Kinasih sembari menunjuk ke sebuah gua berbatu.


Mereka dengan hati-hati mulai mendekati gua yang Nyi Kinasih tunjuk. Sebuah gua yang terlihat begitu gelap di lereng perbukitan tandus penuh bebatuan.


Jagad masih berdiri di depan mulut gua sembari mengubah kembali wujudnya ke ukuran normal. Tampak Nyi Kinasih yang masuk begitu saja ke dalam gelapnya gua, tanpa memastikan tempat itu aman atau tidak.


Sebuah cahaya merah menyala terlihat muncul dari dalam kegelapan. Nyi Kinasih melangkah mundur perlahan, mencoba kabur dari entah makhluk apa di depannya. Sialnya, ia tersandung sebuah batu hingga membuat tubuhnya terhuyung jatuh ke belakang.


Beruntung, Jagad sigap dan segera menangkap tubuh mungil Nyi Kinasih hingga tak sampai membentur tanah.


"Tunggu diluar, biar aku saja yang masuk!" ucap Jagad pada Nyi Kinasih.


Dengan berat hati, Nyi Kinasih mengijinkan Jagad masuk ke dalam gelapnya gua ditemani beberapa pasukannya.


Sssshhh ...


Terdengar suara layaknya desis ular terdengar dari dalam. Perlahan, cahaya kemerahan itu semakin terang dan mengusir kegelapan yang sebelumnya memenuhi gua.


Samar-samar Jagad melihat seorang lelaki yang tengah duduk bersila di atas tumpukan batu. Cahaya merah itu tampaknya berasal dari mahkota yang lelaki itu kenakan. Namun ada kejanggalan, saat lelaki itu membuka mata dan menatap tajam ke arah Jagad, seketika bagian tubuh bawahnya berubah menjadi ular yang begitu besar.


"Broto!" ucap Jagad dengan ekspresi yang begitu terkejut.


"Harusnya ini menjadi kesempatan untuk aku membalaskan semuanya padamu, Keparat!" rutuk Broto sembari mendekat ke arah Jagad, "sayangnya, tuanku menginginkan hal yang sebaliknya," lanjutnya.


"A--apa maksudmu?" Jagad sudah bersiap melawan jikalau Broto menyerangnya tiba-tiba.

__ADS_1


"Tuanku ingin memastikan keadaanmu, dia bisa mendengarmu selama berada di sekitarku! Aku di tugaskan menjaga dan mengawalmu selama berada disini," jelas Broto.


"Siapa tuanmu?" tanya Jagad.


"Pemilik mustika merah delima, Heru Suseno," jawab Broto.


"Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?" Jagad masih begitu ragu dengan ucapan Broto.


"Mustika itu akan menyiksaku jika aku tak patuh dengan pemiliknya," imbuh Broto.


Jagad mulai sedikit lega mendengar penjelasan Broto. Ia memanggil Nyi Kinasih dan seluruh pasukannya untuk menyusulnya masuk ke dalam gua.


Jagad segera menyerap seluruh pasukan lelembutnya dalam satu pusaka agar tidak berkeliaran bebas dan terpengaruh oleh iblis-iblis jahat yang berada di alam itu. Tinggalah ia dan Nyi Kinasih yang sedang memulihkan energinya yang sempat melemah akibat pertempuran sengit melawan Sengkala.


"Apa tempat ini memang sesepi ini?" tanya Jagad pada Broto yang duduk sembari terpejam.


"Jika yang kau tanyakan tentang tempat ini, memang seperti yang kau lihat. Tak ada siapapun di tempat ini. Namun, jika kau tanyakan dimana iblis-iblis itu berada? Kau bisa melihatnya dari celah bebatuan di ujung gua ini. Mereka berada dalam kawasan istana sang Ratu kegelapan," jawab Broto.


Jagad berjalan menuju ke tempat yang Broto maksud. Ia mengintip keadaan di balik bukit yang ternyata sangat jauh berbeda dengan tempat mereka berada.


"Apa yang mereka lakukan?" Tanya Jagad tatkala melihat iblis-iblis itu berkumpul melingkar, seperti mengelilingi sesuatu yang entah apa itu.


"Ritual kebangkitan! Manusia-manusia bodoh akan melakukan cara apapun untuk membangkitkan mereka dari tempat terkutuk ini. Mereka akan melakukan ritual dengan menggunakan jiwa-jiwa para tumbal yang dikirim manusia melalui ritual penumbalan, sehingga mampu merobek perisai yang selama ini mengurung tempat ini," jelas Broto.


Tanah tiba-tiba bergetar hebat tatkala kepulan asap hitam itu terus mendobrak dinding perisai di atas langit.


Gua yang mereka tempati perlahan mulai runtuh, memaksa mereka bertiga untuk segera berlari pergi sebelum tertimbun bebatuan tajam.


"Hahahaha ... Jadi kalian yang berhasil mengalahkan Sengkala! Rupanya, salah satu di antara kalian adalah sukma manusia," ucap sosok makhluk tinggi besar dengan tubuh berselimut api, sembari terus melangkah maju mendekati Jagad yang baru saja keluar dari reruntuhan gua, "Ratu pasti akan sangat senang, jika sukma manusia sepertimu menjadi tumbal selanjutnya. Dengan keistimewaanmu, segel sialan ini akan dengan mudah kami hancurkan, hahahaha ..." lanjutnya.


"Tidak akan ku biarkan itu terjadi!" sergah Jagad.


"Kalau begitu, kau saja gadis manis! Ruh dan naluri manusiamu masih terikat dalam dirimu, aku yakin kau bukan makhluk sembarangan!" Makhluk itu meraih tubuh mungil Nyi Kinasih dalam genggamannya.


"Lepaskan, dia!!" sentak Jagad sembari merubah kembali wujudnya menjadi seimbang dengan makhluk tinggi besar itu.

__ADS_1


"Jagad, jangan gegabah!" teriak Nyi Kinasih sembari terus berusaha melepaskan diri.


Tak menghiraukan ucapan Nyi Kinasih, Jagad segera melancarkan serangan ke arah makhluk itu dengan membabi buta. Broto memanfaatkan kesempatan itu untuk diam-diam mendekati Nyi Kinasih dan menarik tubuhnya keluar dari genggaman makhluk menyeramkan itu.


Setelah berhasil terlepas, Nyi Kinasih segera naik ke bahu Jagad dan membantunya melawan makhluk itu, dengan menyalurkan energi yang ia miliki ke dalam tubuh Jagad.


Kedua raksasa itu saling memukul dan menyerang. Tanah semakin bergetar hebat akibat pertempuran sengit itu. Broto membantu Jagad dengan menerobos masuk ke lubang telinga makhluk itu, ia tusuk seluruh isi kepala makhluk itu dengan begitu kejam. Hingga sang pemilik jatuh limbung berteriak kesakitan memegangi kepalanya yang terasa begitu sakit.


Buggghhh ...


Jagad menghantam tubuh makhluk yang telah terkapar itu menggunakan sikunya, hingga makhluk itu berteriak hebat, berubah menjadi asap hitam lalu melesat pergi ke arah istana.


"Gawat! Kita harus cepat pergi dari sini! Sebelum makhluk itu memanggil teman-temannya," ajak Broto pada Jagad dan Nyi Kinasih.


Jagad segera merubah kembali wujudnya ke ukuran normal. Mereka bertiga berlari pergi menjauhi istana iblis dan perbukitan. Mencari-cari tempat teraman untuk sekedar berlindung dari kejamnya para penguasa kegelapan.


Terlihat pasukan iblis yang berbondong-bondong menuju ke atas bukit, mereka terus mencari-cari keberadaan Jagad dan kedua rekannya.


"Kita harus kemana? Tak ada apapun yang bisa kita jadikan tempat persembunyian di tempat gersang ini," ujar Nyi Kinasih.


"Entahlah! Aku juga belum lama di tempat ini," timpal Broto.


Jagad hanya diam sembari menelisik ke segala arah, berharap ada tempat aman yang akan menyelamatkan mereka.


"Tunggu! Ada retakan perisai di sana! Sepertinya kita tak perlu menunggu lebih lama lagi di tempat ini," ucap Jagad antusias.


"Benar, kita harus bergegas! Sebelum lubang itu menutup," ucap Broto sembari berlari mendahului Jagad dan Nyi Kinasih.


"Tunggu! Apa kau juga akan bangkit?" tanya Jagad.


"Hahaha ... tidak ada yang gratis di dunia ini, Jagad! Aku juga akan kembali!" ucap Broto dengan begitu lantang diiringi tawa lepasnya.


Tubuh ular Broto meraih Jagad dan Nyi Kinasih dalam lilitannya, melesat secepat yang ia bisa mendekati retakan yang perlahan mulai menyempit dan hampir menutup sempurna itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2