Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab15. Menyelamatkan Heru


__ADS_3

"Aaarrrggghhh..., kembalikan anak itu!" makhluk berkepala kambing itu nampak begitu marah. Ia terus menyerang pasukan ghaib yang dipimpin oleh Ki Beruk Klawu dengan membabi buta.


Aryo memapah Jagad masuk kedalam rumah. Mbah Warsi nampak begitu panik melihat keadaan Jagad yang banyak mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya.


"Ya Allah Gusti, Jagad!" teriak mbah Warsi menghampiri Jagad dan Aryo.


"Jagad gapapa, mbah! Mbah gak perlu khawatir," ujar Jagad mencoba menenangkan mbah Warsi.


"Duduk yang tegak, merem, konsentrasi!" titah Aryo pada Jagad sembari membantu Jagad memposisikan diri, "ikuti kata-kata pakde!" lanjutnya.


"Bismillahirrohmanirrohim


Dzat gumilang tanpa sungkan


liyep, cut prucut,


Sukmaningsun metu saka raga,


Gampang saka sarining gampang sak niatku


Lan slamet saka kersaning Allah,


Laa Ilaaha Illallah Muhammadurrasulullah."


Jagad mengikuti setiap kata yang Aryo ucapkan. Angin yang begitu lembut perlahan menerpa tubuh Jagad. Rasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, ia berhasil beranjak dari duduknya dengan wujud sukma.


Jagad melayang menggenggam keris Damarwulan yang ikut tertarik bersama sukmanya. Tak lagi ia rasakan sakit dan perih dalam tubuhnya.


"Kamu siap?" tanya Aryo pada Jagad.


"Siap, pakde!" jawab Jagad begitu yakin saat sukma Aryo menepuk pundaknya.


"Ingat, dalam wujud ini kamu tak boleh sampai terluka parah. Akan sangat berbahaya jika sukmamu terluka, energimu belum sepenuhnya menyatu dengan dirimu," pesan Aryo.


"Hmm!" Jagad hanya menganggukan kepalanya.


Sukma Aryo dan Jagad segera melesat keluar menyusul pasukannya yang telah begitu kewalahan melawan mahluk yang disebut Ingon itu.


"Aaarrrggghhh...," teriak Aryo sembari berlari menerjang ke arah ingon dari orang tua Heru itu.


Aryo angkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Sebuah tombak dengan ujung berapi tiba-tiba muncul dalam genggamannya.


Entah dari mana tombak itu berasal, namun hal itu cukup membuat Jagad semakin takjub dengan kemampuan pakdenya.


Crushhh....


Criiinggg....


Splashhh....


Suara dentingan senjata dan kilatan cahaya dari energi yang saling beradu tampak jelas terdengar dan terlihat di halaman rumah mbah Kromo bagi siapapun yang memiliki kemampuan untuk melihat dan mendengarnya.


Jagad kembali menyerang makhluk itu dengan segala kemampuannya. Ki Beruk Klawu dan seluruh pasukannya terus menyerang makhluk ingon itu tanpa sedikitpun rasa gentar.


Splaaassshhh....


Sebuah lemparan energi hampir saja mengenai tubuh Jagad. Beruntung Buto Kidang dengan sigap menarik tubuhnya.


"Terimakasih!" ucap Jagad kepada salah satu penjaganya itu.


"Sudah menjadi tugas saya, tuan!" balas Buto Kidang sembari menganggukan kepala tanda hormat.


"Panggil aku Jagad, cukup dengan namaku," balas Jagad sembari kembali berlari ke arah makhluk yang tengah bertarung dengan Aryo.


Crussshhh....


Aryo lemparkan tombaknya tepat di dada makhluk itu hingga menembus ke jantungnya.


"Arrrggghhh..." Makhluk itu tampak begitu kesakitan akibat serangan tak terduga dari Aryo.


Tatkala makhluk itu tengah fokus dengan rasa sakitnya, Jagad memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang dari arah belakang.

__ADS_1


Jagad melayang tepat diatas kepala makhluk bertanduk itu. Keris Damarwulan di tangannya telah memancarkan sinar kebiruan, Jagad angkat tinggi-tinggi keris di tangannya, lalu ia hunuskan tepat di pusat energi makhluk itu, yang terletak diantara kedua tanduknya.


"Aaarrrggghhh..., sial*n kalian!" makhluk itu kembali meraung kesakitan. Tubuhnya mulai terhuyung kesana kemari menahan rasa sakit yang teramat sangat, akibat serangan dari Aryo dan Jagad.


Jagad ambil kerisnya, lalu ia hunuskan lagi ditempat yang sama, dengan tusukan yang semakin dalam hingga menembus isi kepala makhluk itu.


Bruggghhh....


Makhluk itu terkapar beralaskan tanah dalam keadaan yang begitu lemah. Cairan hitam tampak mengalir dari bekas luka-lukanya.


Aryo perlahan mendekati makhluk itu, ia tarik tombak apinya, lalu ia hunuskan lagi semakin dalam.


"Aaarrrggghhhh..., kepar*t kalian! Aku akan membalas kalian! Suatu saat pasti akan ada yang membangkitkanku, tunggu pembalasanku...," ditengah sekaratnya, makhluk itu terus merancau penuh amarah. Tubuhnya mulai memudar kembali menjadi kepulan asap hitam dan perlahan mulai menghilang terbawa hembusan angin malam.


Aryo dan Jagad mengambil kembali pusaka mereka yang telah tergeletak diatas tanah. Jagad juga segera memerintahkan pasukan ghaibnya untuk kembali ke alam mereka.


"Toss!" ucap Aryo sembari mengangkat tangan kanannya kearah Jagad dan disambut dengan senang hati oleh Jagad.


"Tombaknya joss tenan, pakde!" ujar Jagad yang terkagum-kagum melihat tombak yang Aryo bawa. Tombak bermotif naga emas dengan ujung berapi itu tampak begitu gagah dan mengagumkan di mata Jagad.


"Ini salah satu pusaka peninggalan mbah buyutmu, pakde cuma gunakan pusaka ini saat benar-benar genting. Kamu juga tau, pakde jarang banget mau berurusan dengan hal-hal seperti ini," jelas Aryo.


Jagad memandangi pusaka yang ia genggam, senyumnya mengembang cukup lama. Aryo nampak tak mengerti dengan maksud dari ekspresi Jagad.


"Kamu bangga dengan apa yang kamu pegang sekarang?" celetuk Aryo.


"Aku hanya kagum saja pakde, keris Damarwulan ini terlihat begitu kuat dan indah. Sama seperti pemilik aslinya, Kinasih." Ucap Jagad sembari terus menatap keris di tangannya.


"Siapa? Kinasih?" Aryo tampak tak mengerti dengan ucapan keponakanya tersebut.


"Dia istriku, pusaka inilah yang selalu ia gunakan untuk menumpas angkara murka di jagad manusia ini," lanjut Jagad sembari menatap kearah Aryo. Sorot matanya nampak begitu berbeda, begitu teduh layaknya orang dewasa.


"Jadi, kau benar-benar Ki Joko Manggala yang selalu mbah buyut ceritakan?" tanya Aryo.


"Joko Manggala adalah masalaluku, kini aku adalah Jagad. Jagad Wahyu Linduaji, keponakanmu!" jawab Jagad.


Aryo merangkul bahu Jagad. "Ayo kembali!" ajaknya.


Brugghh....


Tubuh Jagad limbung. Ia tergeletak di samping Aryo dengan mata terpejam erat.


"Astaghfirullahaladzim, Jagad!" Aryo segera memeriksa keadaan Jagad. Dengan panik, ia berusaha membangunkan keponakannya itu.


"Heheheh, Jagad cuma capek, pakde!" ucap Jagad dengan mata yang masih terpejam.


"Woo, sontoloyo! Pakde kira kamu gak bisa balik ke ragamu," ucap Aryo sembari menoyor kepala Jagad ke samping.


"Aduh! sakit, pakde!" protes Jagad.


"Aryo, bantu bapak sebentar!" panggil mbah Kromo.


Jagad pun beranjak bangun dan mengikuti Aryo mendekat kearah mbah Kromo.


"Sukma bocah ini sudah terlanjur terikat, bantu bapak membawanya pulang sebelum ada makhluk lain yang mengambilnya," ujar mbah Kromo pada Aryo sembari berbisik.


"Jagad ikut, mbah!" usul Jagad dengan suara yang begitu pelan.


"Gak usah! kamu jaga disini saja," tegas mbah Kromo.


"Hmmm...," mau tak mau Jagad pun hanya bisa menuruti perintah dari mbah Kromo.


Cukup lama mbah Kromo dan Aryo meraga sukma. Jagad dengan sabar menunggu Heru ditemani pak Junaidi dan juga mbah Warsi.


"Pak, kalau capek istirahat aja gapapa! Biar saya yang jaga," usul Jagad pada pak Junaidi.


"Ndak, mas! Saya mau nungguin Heru bangun," ucap pak Junaidi.


"Maaf pak, tapi bagaimana bapak bisa membawa kabur Heru kesini?" tanya Jagad penasaran.


"Sebenarnya saya diperintahkan untuk mengawasi Heru agar tak keluar dari kamar yang disiapkan khusus untuknya. Tapi, karena saya gak sengaja dengar kalau Heru mau ditumbalkan, saya nekat ambil dia dikamar. Saya bawa lari pakai mobilnya," jelas pak Junaidi.

__ADS_1


"Jadi itu mobil juragannya bapak? Bapak gak takut dilaporkan polisi, pak?" tanya Jagad lagi.


"Saya ndak takut, mas! Yang penting Heru selamat. Sejak kecil, dia selalu ditinggal orang tuanya bekerja. Tak pernah ada sedikitpun perhatian dari kedua orang tuanya, karena itulah Heru apa-apa mintanya sama saya. Saya sudah menganggapnya seperti anak saya sendiri, bahkan istri saya pun juga sangat menyayanginya. Tiap kali saya pulang kampung, Heru pasti ngikut," jelas pak Junaidi sembari menikmati kopi hitam buatan mbah Warsi.


Jagad mendengarkan pak Junaidi dengan seksama. Ia begitu tersentuh dengan ketulusan beliau terhadap Heru yang notabene tak ada hubungan apapun dengannya.


"Ternyata benar, tak perlu ada hubungan darah untuk menjadi keluarga," gumam Jagad dalam hati.


Aryo terlihat telah tersadar, ia berjalan menghampiri Jagad dan Junaidi yang tengah asyik mengobrol.


"Gimana, Yo? Apa Heru baik-baik saja?" tampak Junaidi begitu antusias melihat kedatangan Aryo.


"Insyaallah sudah aman, kita tunggu saja sampai bangun. Kamu istirahat disini saja, besok kalau Heru sudah lebih baik, kamu bisa membawanya kembali," saran Aryo.


Jagad berjalan menyusul ke tempat mbah Kromo dan Heru berada. Tampak mbah Kromo yang masih berkomat-kamit membacakan doa di samping Heru. Mbah Kromo hanya memandang sekilas kearah Jagad sembari mengangguk dan tersenyum, menandakan semua telah usai dan Heru baik-baik saja.


Karena malam sudah begitu larut, Jagad memutuskan untuk segera tidur di kamarnya. Meninggalkan Aryo dan Junaidi yang masih asyik bercengkrama.


***


Kicauan burung-burung bernyanyi ria, menyambut sang penguasa siang yang telah menyembul bangkit dari peraduan.


Jagad tengah berlatih bersama Aryo di halaman rumah. Terlihat mbah Warsi yang datang menghampiri mereka berdua dengan membawakan sepiring singkong rebus kesukaan Jagad.


"Sarapan!" ucap mbah Warsi.


"Matur Suwun, mbah!" ucap Jagad tatkala mbah Warsi hendak kembali masuk kedalam rumah, meninggalkan sepiring singkong rebus di meja dekat Jagad dan Aryo berlatih.


Tak ada jawaban dari mbah Warsi, beliau hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju rumah.


"Wah, pagi-pagi udah latihan aja kalian," tegur pak Junaidi.


"Iya Di, mumpung masih seger," jawab Aryo. "Ayo sarapan singkong rebus," ajak Aryo pada Jagad dan juga Junaidi.


Mereka bertiga menikmati sarapan sederhana itu bersama-sama, sembari saling bertukar cerita.


***


"Kamu akan kembali kesana Di?" tanya Aryo pada Junaidi yang tengah bersiap hendak pulang kerumahnya.


"Belum tahu aku, Yo! Aku masih takut jika mereka akan mencelakai Heru lagi," jawab Junaidi, "aku nitip Heru sebentar ya, nanti aku balik lagi kesini," lanjut Junaidi.


Belum sempat Junaidi masuk ke dalam mobilnya, sebuah mobil bertuliskan Polisi berhenti tepat di halaman rumah mbah Kromo. Dua orang lelaki dengan seragam kepolisian nampak keluar dari mobil, mereka berjalan mendekati Aryo dan Junaidi.


"Kulonuwun, pak!" ucap salah seorang petugas kepolisian dengan begitu ramah.


"Oh njih, pak! Monggo pinarak," balas Aryo mempersilahkan kedua polisi itu untuk duduk di kursi bambu depan rumahnya.


"Maaf, benar dengan bapak Junaidi?" tanya salah satu petugas.


"Oh, itu saya, pak! Ada apa njih?" tanya Junaidi sembari terus berusaha terlihat santai.


"Begini, pak! Saya ingin mengabarkan bahwa tadi malam telah terjadi kebakaran di rumah bapak Suherman, majikan bapak. Apa bapak bersedia ikut ke kantor, untuk memberikan keterangan," jelas petugas dengan nama Harjuno itu.


"Loh, tapi teman saya ini dari tadi malam berada disini, pak! Kenapa teman saya harus dibawa ke kantor?" tanya Aryo.


"Kami cuma butuh keterangan saja pak untuk keperluan penyelidikan, karena kedua pemilik rumah sudah tewas akibat kebakaran itu," jelas petugas satunya yang ber-nametag Bagus Suwito.


"Baik, pak! Saya akan ikut," jawab Junaidi, "nitip Heru ya, Yo!" ucap Junaidi pada Aryo.


"Ini, teman saya beneran gak di apa-apain to, pak?" tanya Aryo dengan penuh kekhawatiran.


"Bapak tenang saja, kami tak akan menghukum orang yang tak bersalah," jawab salah satu petugas.


Junaidi akhirnya mengikuti langkah kedua polisi itu dan masuk kedalam mobil bersama mereka.


"Pakde! Kenapa pak Junaidi dibawa ke kantor polisi?" tanya Jagad.


"Juragannya tewas karena kebakaran tadi malam, dia dibawa ke kantor untuk keperluan penyelidikan. Semoga saja, dia gak diapa-apain. Pakde khawatir, kalau sampai dia yang disalahkan," ujar Aryo.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2