Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab58. Jalan-Jalan Pagi


__ADS_3

Angin berhembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di saat embun masih dengan setia menyelimuti rerumputan. Membuat siapapun enggan untuk segera bangkit dari peraduan.


Jagad mengeliat malas, tatkala Heru membangunkannya dari luar pintu kamar. Rasa kantuknya seolah tak mampu lagi ia tahan.


"Subuh ... bangun woy ... tumben jam segini belum bangun, Mas?" Heru terus berusaha membangunkan Jagad yang belum jua merespon.


Ceklek ...!


Pintu terbuka dari dalam, menampilkan wajah sayu Jagad yang menyembul dari sela pintu.


"Sholat dulu!" ucap Heru sembari berlalu meninggalkan Jagad.


Jagad segera keluar berjalan gontai menuju kamar mandi dengan handuk mengalung di lehernya. Segera membersihkan diri agar sedikit mengurangi rasa kantuk dan lelahnya.


Sedangkan Heru memilih keluar, berjalan seorang diri menuju Masjid yang tak jauh dari rumah. Sembari menikmati sejuknya embun yang ikut terbawa hembusan angin. Menerpa wajahnya yang begitu teduh dan candu untuk dipandang.


Seusai sholat berjama'ah di Masjid, Heru menyempatkan diri untuk berjalan-jalan sebentar. Mengelilingi sepinya kampung Randujati dikala pagi hari.


Entah kenapa, langkah kakinya seolah memaksanya melangkah lebih jauh menyusuri jalan menuju kampung Sahara yang terpaut cukup jauh dari kampung ini.


Terlihat hamparan luas area persawahan yang membentang. Berhiaskan bunga-bunga indah yang tertanam rapi pada setiap sisi petak tanah. Semakin menambah kesan indah dan asri pemandangan desa ini.


Semburat sinar sang surya semakin terang terlihat. Sesekali Heru menghentikan langkahnya untuk sekedar memotret indahnya pemandangan yang alam suguhkan pagi ini.


"Mas, mau kemana pagi-pagi?" tanya seorang lelaki tua yang muncul dari balik punggung Heru. Dari tampilannya, sudah dipastikan orang itu hendak pergi ke sawah.


"Jalan-jalan, Pak. Pagi-pagi udah mau ke sawah, apa ndak dingin, Pak?" tanya Heru.


"Justru karena masih pagi masih enak buat kerja, nanti kalau sudah siang panas jadinya males," jelasnya sembari berlalu meninggalkan Heru.


Heru kembali melanjutkan langkahnya. Dari kejauhan ia tak sengaja melihat Sahara yang tengah berjalan dari arah berlawanan.


Heru mempercepat langkah kakinya, menghampiri Sahara yang tengah asyik ngobrol bersama seorang perempuan paruh baya di pinggir sawah.


"Assalamu'alaikum," sapa Heru dari balik punggung Sahara.


Spontan perempuan itu berbalik dan membalas sapaan Heru, "Wa'alaikumsalam. Ngapain sampai sini?" tanya heran Sahara.


"Eh ada Mas Heru. Tumben pagi-pagi sudah sampai sini?" tanya perempuan disamping Sahara, yang ternyata adalah ibunya.


Heru segera menyalami ibu Sahara dengan begitu sopan.


"Tadi dari masjid lanjut jalan-jalan, Bu. Mumpung niat, hehehe ...!" balas Heru.

__ADS_1


"Ya sudah. Ibu mau ke sawah dulu, kalian kalau mau jalan-jalan silahkan!" ucapnya seraya berjalan pergi meninggalkan Heru dan Sahara.


"Njih, Bu!" jawab Heru dan Sahara bersamaan.


Mereka berdua berjalan beriringan menikmati sejuknya pagi. Sembari saling bercerita tentang hal-hal rancu yang berhias tawa. Meski hanya sebatas berjalan berdua, rasanya sudah cukup untuk mengobat rindu yang telah mereka tahan karena jarang sekali berjumpa.


Seusai jalan-jalan dan mengantar Sahara hingga depan rumah. Heru kembali ke Klinik dengan perasaan bahagia yang sulit digambarkan.


Terlihat Klinik yang telah ramai. Beberapa orang terlihat menunggu di kursi tunggu depan Klinik, menunggu Jagad dan Handayani yang masih bersiap di dalam. Tampak terlihat pula Guntur dan Trisnya yang tengah menimang-nimang Nawang di halaman belakang Klinik.


"Mas, Mbak ... pagi banget nyampenya?" sapa Heru pada mereka berdua.


"Iya, Her. Males macet kalau kesiangan," balas Guntur.


Heru segera melesat masuk dan bersiap-siap untuk bekerja. Meninggalkan mereka berdua yang tengah asyik bersama Nawang.


Setelah puas bermain dengan Nawang, Guntur segera bersiap menyusul kedua temannya untuk bekerja. Melayani pasien-pasien yang datang hingga tak terasa pagi mulai berganti siang.


Pelajar yang tadi di bawa Guntur telah sadar dari pingsannya. Ia pun segera mengambil ponsel dari tasnya, untuk memberi kabar orang tuanya di rumah.


"Maaf ya Dek. Tadi saya kaget ada kucing nyebrang, makanya saya injak rem mendadak. Untuk perbaikan motor biar saya yang bayar. Apa masih ada yang sakit?" Guntur mencoba menjelaskan kecerobohannya pada anak yang masih mengenakan seragam SMA itu.


"Ndak papa, Pak. Sebenarnya saya juga lagi masuk angin. Gak konsen bawa motornya, Pak. Tadi juga sebelum nabrak mobil Bapak saya sempat kerasa kaya mau pingsan. Maaf ya, Pak!" jelas remaja itu.


"Njih, Pak!" jawabnya sopan.


Wajahnya memang masih terlihat sangat pucat. Jelas sekali kalau anak itu memang tengah sakit.


Tak berselang lama akhirnya keluarganya pun datang. Mereka terlihat begitu khawatir saat melihat remaja itu terbaring lemah dengan selang infus melekat di tangan. Dan juga beberapa goresan luka pada pelipis, siku dan kali sebelah kirinya.


"Ya Allah Riko, kamu kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya sang ibu pada remaja itu.


"Ndak papa, Buk. Riko tadi pingsan di jalan, untung ditolong sama Pak Dokter itu!" jawabnya sembari menunjuk ke arah Guntur.


"Makasih njih, Pak!" ucap perempuan bergamis itu pada Guntur.


Baru saja Guntur hendak menjelaskan perihal kejadian tadi pagi, Rico segera menggelengkan kepala seolah memberi kode agar Guntur mengurungkan niatnya. Sepertinya ia tak ingin ibunya semakin khawatir. Jika tahu Riko telah menabrak mobil Guntur.


"Sama-sama, Bu. Oh iya, badannya masih sangat panas. Jadi lebih baik malam ini Riko menginap disini dulu, sampai kondisinya benar-benar pulih!" ucap Guntur.


Terlihat raut wajah wanita itu yang sedikit murung.


"Kira-kira biayanya berapa ya, Pak?" tanya wanita itu.

__ADS_1


"Gratis, Bu. Saya yang tanggung," ucap Guntur.


"Riko ndak perlu di tunggu juga kok, Bu. Ibu sama Bulik dirumah saja jaga bapak," timpal Riko.


"Terima kasih banyak, Pak!" ucap wanita itu sembari meraih tangan Guntur dan menggenggamnya erat.


"Njih, Bu. Sama-sama jangan khawatir soal Riko, insyaallah dia aman disini!" ucap Guntur.


Riko tersenyum lega, mendengar penuturan Guntur. Setidaknya itu mampu membuat ibunya tak terlalu khawatir dengan keadaannya.


"Ibu gak perlu lama-lama disini, tadi Riko kan sudah bilang gak perlu disusul. Nanti kalau udah sembuh Riko langsung pulang, ibu gak usah terlalu mikirin Riko. Kasihan bapak gak ada yang jaga," ucap Riko pada sang ibu.


"Ini, ibu bawa baju ganti sama beberapa cemilan buat kamu. Ibu temani kamu sebentar, ya? Lagian bapakmu juga lagi tidur," ujar perempuan itu pada anaknya.


"Iya, Ko. Biar ibumu disini dulu, Bulik bisa jaga bapakmu sendirian," ucap perempuan di samping ibu Riko.


"Ndak, Bulik. Lebih baik ibu pulang. Aku ndak mau bapak sampai kenapa-napa dirumah, wong Bulik juga harus nyambi kerja jaga warung," tolak Riko.


Dengan terpaksa sang ibu pun menuruti perkataan anaknya. Karena keadaan tak memungkinkannya untuk meninggalkan sang suami yang juga tengah sakit dirumah.


Setelah kepergian sang ibu, Guntur segera mendekat ke arah Riko.


"Kenapa gak bilang kalau kamu jatuh gara-gara saya?" tanya Guntur.


"Gak usah lah, Pak. Kalau Ibuk tahu mobil Bapak rusak gegara kena motor saya, malah makin panik," jelas Riko.


"Bapak kamu sakit?" tanya Guntur.


"Iya, Pak. Sudah setahun bapak saya gak bisa keluar rumah," jawab Riko.


"Sakit apa? Udah ke Rumah sakit?" tanya Guntur.


"Sudah, Pak. Sampai tanah dan rumah habis dijual buat bayar biaya rumah sakit, tapi hasilnya tetap sama. Bapak saya masih saja tak bisa bergerak. Dia hanya bisa terbaring menahan sakit dari tubuhnya yang dipenuhi koreng. Perutnya juga membesar kaya orang hamil," jelas Riko dengan mata yang meremang.


"Dokter gak bilang ke kamu sakitnya apa?" tanya Guntur.


"Belum bisa memastikan, Pak. Dokter cuma mengatakan itu penyakit langka," imbuhnya.


"Nanti kalau kamu sudah sembuh, biar saya antar ke rumah. Saya mau sekalian lihat kondisi bapakmu!" ucap Guntur.


"Beneran, Pak?" tanya Riko.


"Iya, yang penting kamu sembuh dulu!" Guntur segera pergi meninggalkan Riko, menyusul Jagad dan Heru yang tengah bercanda dengan Nawang diruang belakang.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2