
Suara derap langkah kaki terdengar menggema membelah sepi dan sunyinya malam. Guntur terus fokus melangkahkan kakinya menyusuri lorong gelap jauh dibelakang Jagad.
Ketika Guntur arahkan senternya ke salah satu bangunan, Guntur tak sengaja melihat sekelebat bayangan perempuan yang berlari ke arah tangga. Tanpa meminta persetujuan Jagad, Guntur memutar langkahnya mengikuti bayangan tersebut.
Guntur menghentikan langkahnya di depan pintu salah satu ruang kelas. Guntur mengintip keadaan di dalam kelas melalui kaca jendela yang tak tertutup gorden.
Tampak seorang gadis berseragam osis tengah duduk meringkuk di sudut ruang, dengan memeluk kedua lututnya. Rambut panjangnya terurai menutupi hampir seluruh wajahnya.
Lirih terdengar suara tangisan dari dalam kelas. Guntur yang merasa iba, berniat membuka pintu dan menyusul gadis itu.
Gagang pintu telah digenggam erat oleh Guntur, dengan ragu-ragu Guntur mulai memutarnya dan bersiap mendorong pintu agar terbuka.
"Heh! Semprul, dipanggil-panggil dari tadi kok gak jawab," tegur Jagad sembari menepuk bahu Guntur keras-keras, "aku kira kamu hilang diculik wewe," lanjut Jagad.
"Lambemu, mas! Huss diem dulu, ada cewek di dalam kelas ini!" ujar Guntur sembari menatap kesal ke arah Jagad karena berhasil mengagetkannya.
"Cewek gundulmu! Jam piro iki? Mana ada cewek jam segini keluyuran di sekolahan," balas Jagad dengan nada tak kalah kesal.
"Sumpah! Tuh, lihat aja!" ucap Guntur sembari mengarahkan senternya ke arah bangku yang kosong di sudut kelas.
"Noh, mana?" tanya Jagad sembari menoyor kepala Guntur.
"Kok gak ada ya, mas? Sumpah loh, tadi ada. Beneran, mas! Tadi dia duduk meringkuk gitu sambil nangis," jelas Guntur.
"Pakai nalarnya Guntur! Gak mungkin cewek jam segini nongkrong sendirian di sekolah, kecuali cewek jadi-jadian," balas Jagad.
"I--iya juga sih, mas!" ucap Guntur sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Tak lelo lelo lelo ledung...,
Cup meneng
Ojo pijer nangis...."
Samar terdengar nyanyian yang begitu mengusik pendengaran.
"Stt!" Jagad memberikan kode pada Guntur untuk diam. "Ini tembang yang sering dinyanyiin mbah-mbah, bukan?" tanya Jagad sembari menatap tajam ke arah Guntur.
"Entahlah, mbah ku ndak bisa nembang, mas! Suaranya dari arah gudang, ayo kita cek kesana!" ajak Guntur.
Mereka berdua melanjutkan langkahnya ke arah gudang, tempat dimana jasad pak Basuki ditemukan tewas mengenaskan.
Dengan hati-hati mereka melangkah melewati garis polisi yang masih menghiasi area sekitar gudang.
Bau anyir dan busuk menyambut kedatangan mereka berdua, tatkala mereka telah berada di dalam gudang.
"Huwekk...," rasa mual dan pening tiba-tiba menyerang Guntur hingga membuatnya memuntahkan seluruh isi perutnya.
Jagad segera membacakan doa pada Guntur agar tak lagi merasa mual dan pening. Ia juga mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisikan wewangian, ia oleskan wewangian itu pada pelipis dan area hidung Guntur.
"Lemah banget sih," ucap Jagad dengan nada sedikit kesal.
"Mual beneran, cok!" rutuk Guntur yang kesal dibilang lemah oleh Jagad.
Jagad terus melangkah masuk lebih dalam, masih ia rasakan sisa-sisa residu dari kejadian beberapa hari yang lalu.
Jagad coba melihat kembali reka adegan yang masih terekam jelas dalam sepinya ruang.
"Badjing*n!" umpat Jagad dengan mata terpejam. Tangannya menempel pada dinding yang masih berhiaskan percikan darah yang mengering.
__ADS_1
"Opo loh, Su?! Malah misuh!" balas Guntur yang mengira Jagad tengah mengumpatnya.
Jagad menengok ke arah Guntur dengan raut wajah sedikit merasa bersalah. Lantaran tak sengaja mengucapkan kata-kata kasar.
"Dudu awakmu, cok!" ucap Jagad membalas Guntur.
"Terus?" balas Guntur dengan suara sedikit meninggi.
"Sebelum tewas, dia melakukan pelecehan terhadap seorang gadis ditempat ini," ucap Jagad sembari terus melangkah menyusuri gudang.
"Si--siapa, mas? Mungkin gadis itu yang membangkitkan makhluk di sumur tua," Guntur mulai penasaran akan gadis yang Jagad maksud.
"Gak jelas, sepertinya siswi sekolah kita," ucap Jagad sembari berlalu pergi meninggalkan Guntur.
Guntur segera menyusul langkah Jagad keluar dari gudang.
Brakkk
Baru beberapa langkah Jagad dan Guntur keluar meninggalkan gudang. Terdengar suara seperti benda terlempar dari dalam.
"Astagfirullah," ucap Jagad sembari terperanjat karena kaget.
Sekelebat bayangan hitam kembali Guntur lihat diantara tumpukan barang didalam gudang.
"Ada yang keluar dari gudang lewat jendela belakang, mas!" ucap Guntur.
"Ayo kita cek ke sumur," ajak Jagad sembari berjalan mendahului Guntur.
"Yakin, mas? Kalau kita kenapa-napa gimana? Kita gak tahu 'kan, makhluk apa yang akan kita temui nanti?" ujar Guntur sembari mengimbangi pesatnya langkah Jagad.
"Kalau takut pulang aja!" balas Jagad santai.
Jagad hanya menggelengkan kepala, heran dengan sifat Guntur yang ternyata paling tak mau dianggap remeh orang lain.
Halaman belakang sekolah tampak begitu gelap dan sepi. Tak ada satupun suara hewan malam terdengar di telinga Jagad dan Guntur.
Bayangan hitam yang sedari tadi Guntur lihat. tampak berputar-putar mengelilingi sumur tua yang telah terbuka itu.
"Khee..., khee..., khee..., ono opo cah bagus?" ( ada apa anak ganteng ) terdengar suara serak seperti nenek tua, menyambut kedatangan Jagad dan Guntur.
Angin kencang berputar-putar mengelilingi Jagad dan Guntur yang telah mematung. Tangan dan kaki mereka terasa kaku dan tak dapat digerakan.
"Lepaskan kami, Koloabang!" susah payah Jagad mencoba bersuara disaat tenggorokannya terasa begitu sesak dan tercekik.
Guntur terus mencoba melepaskan tubuhnya dari ikatan gaib makhluk yang Jagad sebut sebagai Koloabang itu. Pikirannya terus fokus mengingat doa-doa yang diajarkan kakeknya, jikalau harus berhadapan dengan makhluk jahat dari alam gaib.
Sialnya, rasa panik Guntur membuat pikirannya tak bisa fokus. Berkali-kali ia mengulang doa-doanya, namun tak satupun berhasil Guntur lafalkan dengan benar.
"Sekar arum, Sekar melati.
Cacah telu betara kula nimbali.
Aji asih aji pambudi.
Teko mara agawa aji kang sayekti....
...."
Jagad lafalkan mantra untuk memanggil ketiga raksasa penjaganya. Langit bergemuruh hebat menyambut kedatangan ketiga raksasa yang Jagad panggil.
__ADS_1
"Aaarrrrggghhh...." auman ketiganya berhasil membuat kepulan asap hitam diatas sumur itu sedikit menjauh dari tempat Jagad dan Guntur berada.
Perlahan makhluk yang berupa kepulan asap hitam itu berputar putar lebih cepat dan merubah wujudnya menjadi seekor kelabang raksasa dengan tangan dan kepala layaknya manusia.
Makhluk itu menyeringai jahat kearah Jagad dan ketiga anak buahnya.
"Khee..., khee..., khee..., ternyata kau bukan orang sembarangan, cah bagus!" ucap makhluk dengan wajah hancur itu sembari meliuk-liukan lidah panjangnya, menjilati rambut panjangnya yang telah memutih sempurna.
"Lepaskan tuanku, nenek tua!" sentak Ki Beruk Klawu pada siluman kelabang dihadapannya.
"Khee..., khee..., khee..., mereka akan segera jadi makan malam ku, makan malam yang begitu istimewa. Jantung perjaka akan membuatku semakin kuat, khee..., khee..., khee...." ucap Koloabang sembari terus menyeringai jahat kearah Ki Beruk Klawu dan kedua temannya.
Jagad dan Guntur sudah semakin melemah. Nafas mereka sudah mulai tersengal-sengal tak karuan.
"Mas, bisa meraga sukma?" tanya Guntur dengan suara yang begitu lemah.
"Aku belum pernah mencoba sendiri!" balas Jagad dengan suara tak kalah pelan.
"Kita coba sama-sama," ajak Guntur.
"Ta--tapi?" Jagad tampak begitu ragu dengan usulan Guntur.
"Kita gak ada pilihan lain. Kalau sampai ketiga raksasa itu kalah, kita tak mungkin bisa menyelamatkan diri," jelas Guntur.
"Baiklah, ayo lakukan!" Jagad pun akhirnya menyetujui usulan Guntur dan segera melafalkan mantra Raga Sukma bersama Guntur.
"Bismillahirrohmanirrohim.
Dzat gumilang tanpa sangkan.
liyep, cut prucut,
Sukmaningsun metu saka raga,
Gampang saka sarining gampang sak niatku
Lan slamet saka kersaning Allah,
Laa Ilaaha Illallah Muhammadurrasulullah."
Jagad dan Guntur telah berhasil keluar dari raga mereka. Mereka melayang-layang ikut membantu ketiga raksasa penjaga Jagad untuk menyerang Koloabang.
"Kau tak membawa apapun?" tanya Jagad pada Guntur yang tak terlihat membawa senjata apapun.
"Aku tak memiliki pusaka apapun. Tapi tenang! Aku masih punya Allah Swt yang akan menjagaku. Kemampuan geludku juga tak kalah dengan ketiga anak buahmu," sombong Guntur sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Jagad.
"Hahahha, sombong juga kamu Gun! Awas aja kalau sampai merepotkanku!" balas Jagad diiringi senyum kakunya.
Pertarungan gaib pun tak terhindarkan. Riuh dan mencekamnya medan pertempuran, bahkan mampu dirasakan oleh beberapa warga sekitar sekolah. Tampak langit yang terus bergemuruh dengan kilat yang menari-nari mengelilingi sekitar bangunan sekolah.
"Ini, bukan pertanda baik!" ujar salah seorang warga yang kebetulan rumahnya dekat dengan sekolah.
***
Seorang gadis berjalan mengendap-endap menuju ke halaman belakang sekolah. Tampak senampan bunga tujuh rupa lengkap dengan kemenyan dan dupa. Ada pula semangkuk cairan merah segar yang terlihat seperti darah, entah darah apa.
"Sial, siapa mereka? Mengapa mereka ada disini?" gumam gadis itu tatkala melihat Guntur dan Jagad berdiri mematung dalam keadaan mata terpejam di dekat sumur tua.
Gadis itu bersiap mengambil sebilah pisau dari ranselnya. Ia genggam erat pisau itu, lalu ia perlahan mendekat kearah Jagad dan Guntur dengan langkah yang begitu pelan, hampir tak menciptakan suara.
__ADS_1
Bersambung....