Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab46. Posesif


__ADS_3

Buliran bening mengalir dari pelupuk netra tanpa bisa di bendung. Tak seorangpun mampu menahan rasa sakit dan sedih yang luar biasa, tatkala Guntur dengan gagah melangkah pergi, membawa bayi merah itu bersamanya. Tanpa sedikitpun keraguan, ia membawa masuk bayi dalam gendongannya ke dalam mobil, diikuti Jagad dan yang lain. Mereka kembali pulang, dengan membawa luka lara dan kekecewaan.


"Bagaimana nasibnya nanti?" ucap Handayani sembari mengelus lembut puncak kepala bayi dalam pangkuan Guntur.


"Jika memang tak ada yang mau merawatnya, biar Guntur saja yang rawat, Buk," ucap Guntur penuh keyakinan.


"Kamu yakin, Gun? Apa gak akan ada masalah kedepannya?" tanya Jagad.


"Masalah gimana?" tanya Guntur.


"Kamu kan belum menikah, bagaimana kalau istrimu nanti gak bisa menerima dia? Gak semua perempuan mau merawat anak yang bukan darah dagingnya loh, Gun!" jelas Jagad.


Guntur terdiam menatap bayi itu lekat-lekat, netranya mulai meremang. Tak mampu lagi membalas ucapan Jagad yang menurutnya benar adanya.


"Rundingkan dulu sama Trisnya, jika kamu memang serius dengan dia!" imbuh Jagad.


"Iya, Mas. Tapi, bagaimana jika Trisnya-" ucap Guntur.


"Jika dia menolak, biar bapak sama ibuk yang rawat. Insyaallah kita juga masih mampu, Gun!" potong Aryo.


"Iya ... nanti biar Jagad yang ngurusin!" timpal Handayani sembari menatap jahil ke arah Jagad yang tengah fokus mengemudi ditemani Heru disampingnya.


"Loh ... loh ... loh ... ndak bahaya ta?" ledek Heru.


"Ckk ...!" Jagad hanya berdecak kesal karena menjadi bahan ejekan keluarga dan teman-temannya.


"Hahaha, dasar manusia kutub!" ejek Guntur yang juga ikut tertawa. Senda gurau itu sejenak meredam amarah dan kesedihan yang sedari tadi mereka rasakan.


Di tengah-tengah keseruan mereka, terlihat bayi dalam pangkuan Guntur mengeliat. Ia tertawa begitu lepas dengan mata yang masih terpejam.


"Masyaallah, ketawa ... cantiknya!" ucap Guntur sembari mencium lembut pipi bayi mungilnya.


"Masyaallah, Mas Gun kalau gak misuh kok ya adem hawanya, hahhahah ... " timpal Heru diiringi tawa lepasnya.


"Sstt ... lambemu, cok! Jangan keras-keras ketawanya," balas Guntur.


"Baru aja di puji, nyesel dah!" gerutu Heru dibalas senyum oleh Jagad.


Handayani dan Aryo hanya mampu menggelengkan kepala, mendengar kebiasaan Guntur yang tak pernah berubah sejak dulu. Selalu saja berkata kasar tanpa peduli situasi, kondisi, kapanpun dan dimanapun.


Sesampainya di Klinik, Guntur segera menaruh bayi mungil itu pada baby bad yang memang tersedia di Klinik. Ia tinggalkan sebentar untuk menghubungi Trisnya yang telah beberapa hari tak ia temui.


Trisnya memang tengah berada di kota kelahirannya, orang tuanya memintanya pulang karena kondisi Bayu-adik Trisnya yang tengah sakit.


"Halo Mas, Assalamu'alaikum. Cie yang jadi papah muda ...," goda Trisnya dari seberang telepon.


"Wa'alaikumsalam, Reni ada cerita sama kamu?" tanya Guntur.


"Hu'um. Semalam dia ngirim video ke aku, Mas," jelas Trisnya.

__ADS_1


"Bapak sama ibu sehat, 'kan?" tanya Guntur.


"Alhamdulillah, sehat semua," jawab Trisnya.


"Bayu gimana?" tanya Guntur lagi.


"Dia cuma syok aja, beberapa hari lalu ada sosok arwah korban kecelakaan yang terus menerus meneror dia, gegara Bayu ngerekam insiden kecelakaan itu. Tapi sekarang udah gak papa, sudah kubuang juga filenya," jelas Trisnya.


"Uhm ... oh iya, kamu kapan balik?" tanya Guntur pelan. Sejauh ini memang hanya Trisnya lah yang mampu membuat Guntur bertutur kata lembut dan manis.


"Hehehe, aku sebenernya udah balik, Mas. Tapi belum sempat hubungin kamu. Maaf ya ...." jawab Trisnya.


"Kenapa gak bilang? Mas jemput, ya? Mumpung Klinik lagi gak ada pasien," tawar Guntur.


"Jangan dulu, Mas. Aku mau berangkat manggung, nanti siang aja ya. Nanti aku kirim alamatnya, biar Melli gak usah repot-repot jemput aku ke lokasi," pinta Trisnya.


Guntur mengalihkan panggilannya menjadi video call, hingga menampakan wajah cantik Trisnya yang telah full make up.


"Coba liat bajunya," pinta Guntur.


Trisnya perlihatkan dirinya yang tengah berdiri di depan kaca. Mengenakan kebaya merah yang dipadukan dengan rok batik bernuansa hitam, juga rambutnya yang tersanggul rapi. Busana itu terlihat begitu indah saat Trisnya kenakan.


"Aman, Mas. Aku juga gak suka yang terlalu terbuka," ucapnya sembari tersenyum manis pada Guntur.


"Tetep aja keliatan sexy," protes Guntur.


"Baju kamu kan ngepas body, Sayang. Lelaki manapun juga bakal bilang kalau kamu sexy," Guntur selalu saja memprotes pakaian yang Trisnya kenakan saat manggung.


"Terus aku kudu pakai gamis?" tanya Trisnya yang mulai bete.


Guntur mengangguk mengiyakan ucapan Trisnya, hingga membuat lawan bicaranya di seberang telepon merengut kesal.


"Udahlah, aku berangkat dulu, Mas. Assalamu'alaikum!" pamit Trisnya.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati. Sama satu lagi ... jangan sampai aku lihat kamu goyang-goyang di depan lelaki lain. Tak kurung kamu kalau sampai goyang-goyang gak sopan," titah Guntur.


"Hmmm." Trisnya terlihat begitu jengah dengan sikap posesif Guntur yang terkadang menjengkelkan. Tak berselang lama, panggilan pun berakhir.


Guntur kembali menghampiri bayi mungil ke kamarnya dengan membawa sebotol Asi yang telah Handayani siapkan.


"Buk, nanti siang Guntur pergi bentar, ya?" ucap Guntur pada Handayani yang tengah memilah-milah pakaian bayi di ruangan tempat bayi itu berada.


"Kemana?" tanya Handayani.


"Jemput calon istri, hehehe!" ucapnya sembari tersenyum.


"Emang sudah kamu lamar?" tanya Handayani.


"Dianya belum mau, Buk. Padahal Guntur udah pengen nikah," jawab Guntur dengan muka memelas.

__ADS_1


"Hahaha, gak yakin dia sama kamu, Gun. Wong kamunya posesif tingkat dewa gitu, mana betah Trisnya." Jagad yang tak sengaja mendengar obrolan Guntur dan Ibunya, ikut menimpali.


"Jomblo dilarang berkomentar!" protes Guntur dengan nada kesalnya.


***


Siang terasa begitu terik, Guntur melajukan mobilnya untuk segera menjemput sang kekasih hati. Ia bersiul dengan begitu bahagia, sembari sesekali menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Untuk memastikan ia tak terlambat ke tempat Trisnya bekerja.


Guntur hentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang nampaknya tengah mengadakan acara pernikahan. Masih terlihat beberapa tamu yang berlalu lalang, juga sang empunya hajat yang terlihat sibuk menyambut dan menyalami para tamu.


Seorang gadis cantik dengan kebaya merahnya, berjalan anggun sembari tersenyum ke arah Guntur. Namun, pemandangan itu harus terganggu karena beberapa pemuda yang menghentikan langkah gadis itu, untuk sekedar mengajak foto bersama.


"Ah, sialan!" rutuk Guntur yang terlihat kesal saat melihat Trisnya tersenyum manis bersama para pemuda di sekitarnya.


Ia memilih tetap berada di dalam mobil sembari menutup matanya dengan tisu. "Nasib punya pacar biduan," keluhnya saat sudah benar-benar jengah melihat tingkah para pemuda yang terlihat sok manis di depan Trisnya.


Hingga sebuah ketukan berhasil mengejutkannya. Trisnya membuka pintu mobil dan segera duduk di samping Guntur yang tengah menatapnya tajam.


"Apa, Mas?" tanya Trisnya yang sebenarnya sudah tahu alasan kenapa Guntur terlihat begitu kesal.


"Sudah dibilang jangan ramah-ramah sama laki-laki lain. Masih aja ngeyel!" ketus Guntur.


"Mas, wajar lah aku menyapa penggemar dengan senyuman. Kamu aja yang terlalu over mikirnya," protes Trisnya yang juga terlihat kesal.


"Gak boleh?!" tegas Guntur.


"Ya udah, maaf!" Balas Trisnya datar.


"Enggak!" ketus Guntur.


Trisnya menghembuskan nafasnya kasar, bingung harus berbuat apa. "Maunya apa sih? Dasar om-om?!" ketus Trisnya.


"Nikah!" balas Guntur sembari menatap lekat ke arah Trisnya.


Trisnya terdiam, ia berbalik menatap lekat ke arah Guntur. Mencoba memastikan apa yang baru saja ia dengar.


Tiba-tiba saja suara ponsel Guntur memecah keheningan. Ia segera mengangkat telepon yang ternyata dari Jagad.


"Cepat pulang! Bayinya tiba-tiba demam gak mau diem," ucap Jagad dari seberang telepon.


"Minta Ibuk atau Heru buat nenangin, Mas!" suruh Guntur.


"Ibuk sama Heru lagi banyak pasien, cepet pulang!" Panggilan pun terputus.


Guntur buru-buru melajukan mobilnya untuk pulang ke Klinik. Terlihat jelas betapa paniknya Guntur, hingga membuat Trisnya sedikit tak percaya. "Sekhawatir itu kamu, Mas?" tanyanya dalam hati.


Tak seperti biasanya, Trisnya terlihat begitu sedih dan gelisah. Ia terus menatap keluar jendela, tanpa sedikitpun mencoba membuka obrolan seperti yang selalu ia lakukan ketika Guntur sedang kesal.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2