Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab6. Petaka Malam Satu Suro


__ADS_3

".... Terkadang, kemunafikan dan keserakahan manusia sendiri lah yang menciptakan celah bagi iblis untuk ikut andil dalam tatanan kehidupan manusia. Menciptakan ruang untuk 'mereka' terus menggerogoti hati nurani setiap manusia lemah dan tak beriman. Menggoda setiap insan dengan topeng penuh tipu daya, menggiring nurani manusia untuk terus menimbun dosa. Hanya demi harta, tahta dan wanita."


***


Riuhnya suara mesin yang menyala, menghapus keheningan malam di gedung tempat kerja Trisnya. Trisnya indriyani, gadis cantik sang kuncen pusaka Pakugeni sekaligus kekasih dari Guntur mahendra. Trisnya bekerja sebagai satpam di pabrik garmen tempat Melli, sahabatnya bekerja.


"Mbak Trisnya, kok hawanya beda ya? Apa karena ini malam satu suro? Anginnya itu loh, bikin merinding," ucap salah satu rekan Trisnya, pak Likin.


"Uhm, perasaan pak Likin aja kali pak!" jawab Trisnya.


Setelah 2 bulan bekerja di pabrik itu, banyak orang yang sudah mengetahui tentang kelebihan Trisnya yang mampu melihat dan berinteraksi dengan mahluk-mahluk lintas dimensi. Terutama teman-teman sesama satpam, karena selama bekerja Trisnya memang sering dimintai bantuan oleh atasan untuk mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan hal ghaib.


"Eh, sumpah mbak! Biasanya gak se horor ini loh," ujar pak Likin meyakinkan Trisnya.


Trisnya memang sedikit merasakan aura berbahaya disekitar gedung. Terutama di sebuah gedung kosong yang telah puluhan tahun terbengkalai, diujung pabrik.


Terlihat bayangan melintas di dekat gedung kosong. Trisnya semakin gelisah tatkala aura gelap seolah terus mengitari sekitar gedung yang ia jaga.


Trisnya berjalan cepat kearah gedung kosong itu, meninggalkan pak Likin bersama secangkir kopi hitam panas di depannya.


"Loh, kemana mbak?" tanya pak Likin.


"Disitu aja pak, aku cek ke gedung paling ujung. Kaya ada yang lewat tadi," jelas Trisnya.


Semakin mendekat ke arah gedung, semakin Trisnya rasakan hawa mencekam.


"Kemana mbak?" tanya Bagas teman kerjanya.


"Kesitu, tadi kaya ada orang lewat!" jawab Trisnya sembari mengarahkan senternya ke samping gedung kosong.


"Masa sih? Manusia bukan?" tanya Bagas sembari mengikuti langkah Trisnya.


"Gak tahu, tapi auranya gelap banget!" jelas Trisnya.


Bagas sedikit bergidik, namun ia tetap mengikuti Trisnya hingga ke depan gedung yang masih tergembok rapat itu. Mereka berdua mengecek hingga ke samping dan belakang gedung, tak mereka jumpai keanehan apapun. Namun, Trisnya melihat kepulan asap dari dalam gedung melalui jendela gedung yang ternyata tak terkunci.


"Masuk Gas, ada asep!" ujar Trisnya.


"Waduh! Kamu dulu tapi ya, takut aku Nya!" ujar Bagas.


"Iya, mana kuncinya?" pinta Trisnya.


Bagaspun memberikan segepok kunci yang sedari tadi ia bawa pada Trisnya. Trisnya segera membuka pintu gedung tanpa rasa takut.


Krieetttt....


Suara derit pintu besi yang telah lama tak terbuka itu begitu mengganggu telinga.


"Ayok Gas, temenin masuk!" ajak Trisnya.


"Tapi mbak! Gelap," tolak Bagas.


"Halah ayo!" Trisnya menarik masuk Bagas secara paksa.


Terlihat tumpukan mesin-mesin rusak memenuhi gedung. Gelap, pengap dan mencekam itulah yang mereka berdua rasakan.


Tercium bau anyir dan busuk yang menyeruak menusuk hidung. Trisnya bersusah payah menahan rasa mual dan pening dikepalanya. Bagas pun merasakan hal yang sama, ingin sekali ia berbalik dan kabur dari dalam gedung. Namun, ia tak tega jika harus meninggalkan Trisnya sendirian.


Trisnya terus melanjutkan langkahnya mengitari gedung. Bagas mencoba menekan saklar lampu didekat pintu, namun ternyata semua lampu digedung itu telah rusak. Mereka mengitari gedung hanya berbekal senter yang mereka bawa.


Ddddrrrrrttttt....


Suara mesin yang tiba - tiba menyala, berhasil mengejutkan Bagas dan Trisnya.

__ADS_1


"Nya! Urip mesine!" ucap Bagas ketakutan.


"Iya, tahu aku!" ucap Trisnya.


Khii..., khii..., khii...,


Sebuah suara yang khas terdengar ditelinga mereka berdua. Sekelebat bayangan putih terlihat menggelantung diatas tumpukan mesin. Mahluk mirip kuntilanak itu menunjuk kearah pojokan gedung.


"Ya Allah, mbak kun! Ngapain nongol," ucap Bagas sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Trisnya berjalan kearah yang ditunjuk mahluk itu.


"Astagfirrullahal'adzim, itu sajen siapa yang masang Nya?" tanya Bagas.


"Lah embuh! Mana aku tahu Bagas," ucap Trisnya.


Trisnya dan Bagas mendekati nampan yang berisi berbagai bunga dan bangkai seekor ayam cemani lengkap dengan dupa dan kemenyan. Trisnya merasakan aura yang sangat berbahaya semakin mendekat.


"Aaaaaaakkkkhhhhh..., tolong! Tolong!" terdengar riuh teriak ketakutan dari dalam gedung tempat para karyawan bekerja.


"Gas, ayo balik! Mereka dalam bahaya," ucap Trisnya sembari mengajak Guntur kembali.


Brughh....


Baru saja Trisnya dan Bagas hendak melangkahkan kaki kearah pintu. Tiba-tiba sesosok pocong lusuh dengan wajah yang begitu menjijikan terjatuh didepan mereka.


"Huwaaaa..., pocong!" teriak Bagas.


"Mundur Gas, kamu cepet lari dari sini!" titah Trisnya.


Bagas segera berlari keluar dari gedung. Tepat setelah ia keluar, pintu tiba-tiba tertutup dan terkunci dengan sendirinya.


"Jadi, kalian ingin bermain-main denganku?" ujar Trisnya.


Sesosok kuntilanak yang sedari tadi bertengger di atas tumpukan mesin rusak, mulai mendekat kearah Trisnya.


"Semakin banyak darah tergenang, semakin banyak manusia yang akan jadi tumbal, khii..., khi..., khi...," bisik Kuntilanak itu diikuti tawa melengkingnya.


Keadaan semakin tak terkendali, semakin banyak mahluk astral yang memenuhi gedung itu. Trisnya kemudian menarik keris Darmogeni dari sukmanya. Ia telah bersiap dengan keris itu ditangannya.


Perlahan pocong-pocong yang bergelimpangan itu terbangun. Mereka berdiri memandang Trisnya dengan tatapan mengerikan.


Buggghhhh....


Trisnya menendang satu per satu pocong yang mengepungnya. Tangannya dengan lihai mengayunkan kerisnya untuk menebas setiap mahluk yang mencoba menyerangnya.


Teriakan histeris dari gedung tempat karyawan pabrik bekerja makin riuh terdengar. Trisnya semakin terkepung. Saat energinya mulai terkuras, ia memutuskan untuk memanggil Nyi Kinasih.


***


"Aaakkkhhhhh...." teriak histeris beberapa perempuan didalam gedung saat menyaksikan beberapa teman kerjanya mulai bertingkah aneh layaknya kesurupan.


"Khe..., khe..., khe...." salah satu perempuan yang kesurupan itu tertawa mengerikan, terdengar seperti suara nenek-nenek yang teramat serak dan membuat merinding siapapun yang mendengarnya.


"Astagfirrullah..., pak! Tolong pak, tolong!" teriak merela lagi yang panik saat menyaksikan tingkah aneh para perempuan yang kesurupan.


Beberapa dari mereka mulai merayap didinding gedung layaknya seekor cicak, mata mereka memutih sempurna membuat siapapun ketakutan saat menatapnya.


Ada pula yang hanya duduk bersila sembari terus tertawa, adapula yang terus menangis dengan tangisan yang begitu lirih menyayat hati.


Suasana gedung nampak begitu kacau balau. Pak Likin dan beberapa teman satpamnya mencoba menenangkan para karyawan sebisanya.


"Pak Likin, mana Trisnya?" tanya Melli khawatir.

__ADS_1


"Masih digedung kosong mbak! Sepertinya ada yang tidak beres disana, kata Bagas disana tadi ada sajen gitu terus ada pocong nongol juga," ujar pak Likin.


"Ini gimana pak? Makin banyak yang kesurupan," jelas Melli.


"Pak, saya ada kenalan tukang ruqyah. Rumahnya gak jauh dari sini. Apa kita hubungi mereka saja?" tanya Ismi salah satu teman Melli.


"Oh iya, mas Heru! Cepat hubungi mereka Mi, bilang Trisnya dalam bahaya!" ucap Melli.


"Mbak Trisnya kenal juga?" tanya Ismi.


"Iya! Buruan telpon!" bujuk Melli.


***


Kringggg....


Ponsel yang sedari tadi Heru simpan disakunya berdering, ia pun segera mengangkatnya.


"Hallo Is, ada apa?" tanya Heru.


"Siapa Her?" tanya Guntur yang telah sadar dari tidur panjangnya beberapa hari yang lalu.


Guntur sempat tak sadarkan diri hingga 3 bulan lamanya setelah kejadian di kampung Kramat. Beruntungnya, Heru tak sengaja bertemu dengan Trisnya beberapa minggu yang lalu saat nongkrong bersama teman lamanya. Heru mengabarkan apa yang terjadi dengan Guntur lalu membawa Trisnya untuk melihat keadaan Guntur. Berkat Trisnya, Guntur bisa pulih dengan cepat dan sadar kembali.


"Ssstt! Tetanggaku!" bisik Heru.


"Mas, cepat ke tempat kerjaku! Banyak banget yang kesurupan, mas! sama...," ucapan Ismi terputus saat Melli merebut ponselnya.


"Mas Her! Bilang mas Gun, Trisnya dalam bahaya! Cepet kesini!" imbuh Melli.


"Apa? Mbak Trisnya? Ahh..., ya udah ok kita berangkat sekarang!" ucap Heru sesaat sebelum mematikan telponnya.


"Kenapa Trisnya Her?" tanya Guntur khawatir.


"Kita bantuin Trisnya! Tempat kerjanya lagi ada masalah, kita harus cepet!" ujar Heru.


Mereka berdua segera melesat kekamar masing - masing untuk menyiapkan segala perlengkapan yang mereka butuhkan.


Jagad yang menyaksikan tingkah kedua temannya itu segera menyusul dan bertanya.


"Kenapa?"


"Mas, kita pamit ke pabriknya Trisnya dulu ya! Lagi ada masalah," ucap Guntur yang telah siap dengan ranselnya.


"Uhm, kalian berdua bisa kan? Ini malam satu suro, kalian harus lebih berhati-hati. Masih ada yang harus ku urusi di klinik," ujar Jagad.


"Insyaallah bisa mas," jawab Heru.


"Ya sudah, kalau ada apa-apa nanti aku nyusul!" imbuh Jagad.


"Iya mas, kita berangkat dulu! Assalamu'alaikum," pamit keduanya pada Jagad.


"Wa'alaikumsalam!" jawab Jagad.


***


Seorang gadis tengah berbaring tak sadarkan diri diatas ranjang pasien. Ibunya dengan telaten mengelap setiap bulir peluh yang menetes membasahi wajah gadis itu. Ayahnya juga tak henti melantunkan ayat-ayat suci disamping anaknya terbaring.


"Pak, apa anak saya masih bisa sembuh?" tanya ibu gadis itu pada Jagad.


"Hahahahahah..., sudah kubilang! Anakmu tak akan pernah bisa lepas dari tuanku!" ucap gadis yang bernama Sahara itu tiba - tiba. Suaranya serak dan berat, dan terdengar seperti suara seorang laki-laki.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2