
Malam temaram berkerudung mendung, berselimutkan dinginnya hembusan angin yang membawa beribu beban rindu. Menyayat hati yang terus merintih pilu, memanggil namanya yang tak kunjung kembali. Handayani termenung dalam lamunan, netranya menerawang jauh ke arah yang tak pasti. Menantikan sosok putra tercinta yang tak kunjung membuka mata.
Buliran bening mengalir menerobos pelupuk mata, ia terisak begitu lirih disamping pembaringan sang putra yang masih terpejam.
Sudah 3 minggu Jagad tak sadarkan diri. Karena tak ingin sesuatu yang buruk menimpa, Guntur membawa Jagad ke Rumah sakit milik keluarganya agar mendapat penanganan medis yang lebih lengkap.
Tampak tubuh Jagad yang dipenuhi alat-alat untuk menyambung hidup. Ia telah dinyatakan koma dan entah kapan bisa tersadar kembali.
"Buk! Guntur pamit pulang dulu, ya. Guntur akan cari cara supaya Mas Jagad cepet sadar kembali," pamit Guntur pada Handayani yang masih setia menunggu Jagad tersadar.
"Iya! Kamu hati-hati, ya! Ibuk gak mau anak-anak ibuk terluka lagi. Cukup Jagad yang seperti ini," ujar Handayani sembari menangis terisak.
"Iya, Buk! Bentar lagi Heru sama Pakde nyusul kesini! Aku pamit, assalamu'alaikum!" Tak lupa Guntur mencium punggung tangan wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu sebelum pergi.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Handayani.
Guntur berjalan meninggalkan Jagad dan ibunya, melewati lorong-lorong gelap Rumah sakit. Sesekali ia tersenyum dan membalas sapaan para perawat ataupun staf Rumah sakit yang menyapanya.
Semenjak kejadian yang menimpa Jagad, Baskoro meminta Guntur untuk membantu pekerjaannya di Rumah sakit. Sembari mengontrol keadaan Jagad disana. Sedangkan urusan Klinik, sepenuhnya diserahkan pada Heru.
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam ketika Guntur sampai di parkiran. Ia segera melajukan mobilnya untuk pulang kerumah Baskoro. Setelah 30 menit perjalanan, Guntur memberhentikan mobilnya tepat di garasi rumah mewah Baskoro. Rumah berlantai tiga dengan design yang begitu mewah dan elegan itu, tampak ramai oleh para tetangga yang tengah melakukan doa bersama.
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an masih mengalun merdu dari dalam rumah Baskoro. Terlihat yang sedang Rini dan ibunya menyiapkan snack untuk jamuan para tamu. Guntur yang baru saja datang, segera menghampiri Trisnya dan keluarganya yang masih sibuk di dapur.
"Assalamu'alaikum!" ucap Guntur sembari menyalami Buliknya.
"Wa'alaikumsalam! Kamu makan dulu sana, Le!" pinta Bulik.
"Guntur langsung ke kamar Fahri saja, Bulik!" Guntur berlalu pergi meninggalkan mereka berdua menuju salah satu kamar yang berada di lantai 2.
Guntur menghentikan langkahnya di depan kamar Fahri yang sedang merintih kesakitan. Ia mencoba menguatkan diri sebelum melihat keadaan Fahri yang jauh dari kata baik-baik saja.
Ceklek ...!
Guntur membuka perlahan pintu kamar Fahri. Fahri terbujur lemah diatas pembaringannya, dengan keadaan yang begitu memprihatinkan. Tubuh yang sebelumnya gagah berisi, kini berubah kurus bak tinggal tulang. Rintihan kesakitan terus menerus terdengar dari mulutnya yang mengering, diikuti buliran bening yang terus mengalir dari pelupuk netranya.
Matanya menatap sayu ke arah Guntur yang baru saja datang.
"Mas! Fahri gak kuat ... sakit, Mas …," rintih Fahmi yang sudah sangat kesakitan.
__ADS_1
"Bersabarlah sebentar lagi," ujar Guntur sembari menggenggam lembut jemari Fahmi.
Sebenarnya sudah beberapa kali Guntur dan Heru mencoba menyembuhkan Fahmi, dengan berbagai cara. Bahkan sudah beberapa kali Fahmi di ruqyah oleh Heru, namun hasilnya tetap sama, dia hanya akan sembuh untuk sementara dan akan kembali kesakitan setelah satu malam.
Drrttt ...!
Suara dering ponsel terdengar di sela isak tangis Fahri yang begitu mendayu pilu. Guntur segera mengambil benda pipih dari dalam sakunya celananya. Terlihat satu panggilan tak terjawab dari Trisnya, iapun segera menelpon Trisnya kembali.
"Hallo, Dek. Ada apa?" tanya Guntur.
"Mas, Aku aku butuh bantuanmu. Datang ke lokasiku sekarang, aku butuh bantuanmu!" Sambungan tiba-tiba terputus tanpa sempat Guntur menanyakan lokasinya.
Guntur segera membacakan doa-doa pada Fahmi. Entah doa apa yang ia rapalkan, namun setelah Guntur meniup pucuk kepala Fahmi hingga tiga kali, Fahmi tampak sedikit tenang dan perlahan tertidur.
Setelah memastikan Fahmi tenang, Guntur segera melesat pergi ke kamarnya. Membersihkan diri lalu mempersiapkan pusaka peninggalan mendiang kakeknya untuk di bawa meraga sukma menyusul ke tempat Trisnya berada.
Ia duduk bersila diatas sajadah, menggenggam keris yang ia tempelkan pada dadanya. Matanya terpejam, dengan khusyuk ia mulai merapalkan mantra ragasukma.
Dalam sekejap, sukmanya telah berhasil keluar dari dalam raga. Terlihat seekor burung kenari emas yang terbang mengitari Guntur sembari terus berkicau.
"Bawa aku ketempat Trisnya berada!" titah Guntur pada makhluk kecil utusan Trisnya itu.
Secepat kilat Guntur melesat mengikuti burung kenari emas itu menuju ke sebuah hutan. Terdengar riuh suara pertempuran dari dalam hutan, Guntur segera melesat ke arah sumber suara.
"Mas Jagad? Nyi Kinasih? Ba-bagaimana kalian-" Guntur tampak begitu terkejut melihat Jagad dan Nyi Kinasih berada disana bersama Trisnya.
"Cepat bantu kita! Jangan banyak tanya dulu," potong Jagad.
Tanpa berkomentar lagi, Guntur segera membantu teman-temannya dengan energi yang ia punya.
Terlihat begitu banyak iblis yang mencoba keluar dari lubang hitam yang menghubungkan alam manusia dengan Jagad lelembut. Terlihat pula satu sosok yang sangat tidak asing bagi Guntur, Tengah berusaha menghalau para iblis itu. Sosok manusia berbadan ular raksasa, Broto si siluman ular.
"Jagad, kemarikan tombak naga emas!" teriak Aryo yang tiba-tiba hadir menyusul dalam wujud sukma.
Jagad yang mendengar itu segera menoleh ke arah Aryo, ia tarik energi pusaka peninggalan leluhurnya dari dalam dirinya, hingga sebuah tombak berhasil hadir dalam genggamannya. Jagad segera menyerahkan tombak itu pada Aryo, sembari terus memusatkan energinya untuk menghalau para iblis.
Aryo merapalkan sebuah mantra leluhur untuk mengaktifkan energi terbesar tombak yang ia genggam. Perlahan, motif naga pada tombak itu mulai memancarkan cahaya yang begitu menyilaukan, api kebiruan mulai berkobar menghiasi ujung tombak. Aryo segera berlari dan melemparkan tombak itu ke arah kumpulan iblis yang terus mengerang berusaha menerobos keluar.
Splashh ...!
__ADS_1
Tak sengaja tombak itu mengenai mahkota yang Broto kenakan hingga terlempar jatuh ke tanah. Tombak itu Mendorong tubuh Broto dan para iblis masuk kembali ke lubang gelap itu. Trisnya segera mengangkat tinggi-tinggi pedang Pakugeni miliknya, lalu ia tancapkan sedalam-dalamnya hingga lubang itu perlahan menutup kembali.
"Jaga, Sahara baik-baik ...." Teriakan Broto terdengar menggema, seiring menutupnya lubang hitam dari dasar bumi itu.
Tubuh Nyi Kinasih terhuyung ke belakang. Energinya seakan telah habis untuk menghalau para iblis yang sempat mengejarnya. Beruntung Jagad sigap dan segera menangkap tubuhnya. Ia terkulai lemah dalam gendongan Jagad, membuat semua yang berada di sana merasa khawatir dengan kondisinya.
"Aku terlalu lama jauh dari Pusaka yang kujaga, antarkan aku ke gua dekat kawah dimana Pakugeni Kembar berada," ucap Nyi Kinasih sembari menyentuh pipi Jagad.
"Akan segera kubawa kau kembali, bertahanlah!" Jagad segera melesat membawa pergi Nyi Kinasih tanpa berpamitan pada yang lain.
Aryo yang melihat tingkah Jagad hanya bisa menggelengkan kepala, lalu ikut menghilang dan kembali ke raganya. Tinggalah Guntur dan Trisnya di tempat itu.
Terlihat mahkota dengan mustika yang telah terlepas tergeletak begitu saja diatas tanah.
"Haruskah kita simpan?" tanya Guntur.
"Akan sangat berbahaya bila energinya tak bisa selaras dengan energimu, bisa-bisa energimu yang terserap ke dalam mustika," tolak Trisnya. Mereka segera berbalik dan bersiap pergi dari hutan itu meninggalkan mustika ular begitu saja.
Tanpa Trisnya dan Guntur sadari, mustika itu tiba-tiba menghilang entah kemana.
"Tunggu! Bagaimana Mas Jagad bisa disini?" tanya Guntur sebelum memutuskan kembali ke raganya.
"Aku sengaja membiarkan segelnya terbuka setelah berhasil melenyapkan salah satu iblis dari hutan ini, kuminta Heru untuk mengabarkan itu pada Broto dan akhirnya mereka menemukan jalan untuk keluar lewat lubang yang kubuat," jelas Trisnya. "Kembalilah, Mas!"
"Dimana ragamu?" tanya Guntur.
"Di salah satu rumah dekat hutan ini! Ada Bayu dan para warga yang berjaga di sana," jelasnya.
Mendengar jawaban itu Guntur Pun merasa tenang, ia segera meminta Trisnya untuk kembali terlebih dulu, baru setelahnya ia ikut menghilang kembali ke raganya.
***
Terdengar suara rintih kesakitan Fahmi, tatkala Guntur telah kembali tersadar. Ia segera berlari meninggalkan kamarnya menuju ke tempat Fahmi berada.
Terlihat Reni dan Ibunya yang tengah menangis disamping Fahmi. Diiringi lantunan ayat-ayat suci yang Baskoro dan beberapa lelaki bacakan di kamar itu.
Guntur segera mendekat kearah Fahmi, sembari terus merapalkan doa-doa untuk menghalau segala serangan yang sedang menyerang raga dan sukma Fahmi.
"Mas! Aku ndak kuat lagi ... Tolong ... " rintih Fahmi dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Menahan sakit yang begitu mendera jiwa dan juga raga.
__ADS_1
Guntur memeluk Fahmi erat, sembari terus berusaha membuang energi negatif yang terus menerus menyerang Fahmi, entah dari mana. Berulang kali Guntur mencoba melacak makhluk apa yang menyakiti Fahmi, namun ia selalu gagal. Makhluk itu tak pernah sekalipun muncul di sekitar Fahmi, bagaikan serangan senyap tiba-tiba datang tanpa bisa dihadang.
Bersambung ....