Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab23. Persiapan Ke Alas Rongko Mayit


__ADS_3

Sang surya telah bersinar dengan begitu gagah. Memberikan kehangatan untuk setiap makhluk diatas bumi, setelah berselimut dinginnya embun pagi.


Terlihat Handayani yang tengah disibukan dengan beberapa pasien di Klinik Jagad. Disusul Jagad yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menuju ruang kerja sang ibu yang telah selesai menangani pasien.


"Buk! Nanti tutup sore saja, biar Ibuk gak capek!" ujar Jagad sembari memijat lembut kedua bahu ibunya.


"Halah, wong cuma kerja sambil duduk-duduk saja kok, Le! Justru kalau ibuk gak kerja malah capek," balas Handayani pada sang anak, "udah sana sarapan! Yang lain kalau sudah bangun, langsung ajak makan aja! Tadi ibuk masak banyak," lanjut Handayani.


Tin ... Tin ...


Suara klakson mobil terdengar begitu keras dari depan rumah Handayani yang bersebelahan dengan Klinik. Jagad segera berjalan keluar melihat siapa yang datang bertamu.


"Mas Jagad!" Panggil seorang gadis yang tengah berdiri disamping mobil, sembari melambaikan tangannya ke arah Jagad.


"Loh, Ren! Tumben pagi-pagi kesini!" sapa Jagad sembari berjalan mendekat ke arah Reni.


"Ayah yang ngajak kesini! Abis Mas Gun gak pernah pulang ke rumah," ujar perempuan tomboy itu sembari menyalami Jagad.


"Lik! Gimana kabarnya? Maaf Jagad jarang kesana," ucap Jagad sembari menyalami Baskoro--paman Guntur.


"Alhamdulillah, baik. Kalian sehat, 'kan?" tanya Baskara.


"Alhamdulillah sehat, Lik! Monggo, mau ke rumah ibuk atau bangunin Guntur ke Klinik aja?" tawar Jagad.


"Waaa! Kesempatan langka ini, Yah! Ayo bangunin Mas Gun," ujar Reni penuh semangat. Ia segera berlari masuk ke Klinik dan mencari keberadaan kakak sepupunya. Meninggalkan sang ayah bersama dengan Jagad.


"Ren," sapa Handayani yang hendak keluar ruang kerjanya.


"Bude!" sapa Reni sembari memeluk Handayani erat, "mana Mas Gun, Bude?" tanya Reni.


"Itu kamarnya!" tunjuk Handayani ke pintu kamar yang terlihat tak tertutup rapat.


Reni membuka pintu kamar Guntur dengan begitu pelan. Matanya membelalak lebar, tatkala melihat pemandangan di depannya.


Guntur tertidur pulas di samping Trisnya yang berbantal pada lengan kekar Guntur. Mereka berdua terlihat begitu nyaman dan nyenyak dalam tidurnya.


Reni tersenyum ke arah mereka berdua, dengan senyuman yang sulit diartikan.


Ia segera menghampiri Guntur dan Trisnya yang masih tertidur pulas. Dengan sengaja ia merebahkan dirinya tepat diantara Guntur dan Trisnya.


"Asekk…, isuk-isuk ganggu calon manten!" Reni terus berteriak sembari menendang-nendang tubuh Guntur hingga ia terbangun.


"Ya Allah, Ren! Berisik amat pagi-pagi!" protes Guntur.


"Pagi gundulmu!" Reni mencubit pinggang Guntur cukup keras. "Jam 10 ini, masih mau bilang pagi?"

__ADS_1


"Kamu ngapain disini, Mas Reno?" tanya Trisnya sembari mengucek mata sembabnya.


"Sakit, Ren!" protes Guntur sembari memukul wajah Reni dengan bantal.


"Asem!" Reni menangkis pukulan bantal yang mengenai wajahnya. Ia kemudian menoleh ke arah Trisnya sembari menjawab, "ayah yang ngajak kesini, Mbak! Tuh orangnya," Reni menunjuk ke arah Baskoro yang sudah berdiri tepat di depan pintu yang terbuka lebar. Ia menatap tajam kearah Guntur yang baru saja terbangun.


Trisnya dan Guntur menjadi salah tingkah akibat kepergok tidur berdua oleh Baskoro.


Guntur dan Trisnya segera berjalan menghampiri Baskoro dan tak lupa mencium punggung tangannya.


"Aduh...," teriak Guntur tatkala sebuah jeweran yang cukup keras berhasil Baskoro daratkan di telinganya.


Trisnya dan Reni hanya bisa menahan tawa melihat Guntur.


***


Di siang yang begitu terik, tampak Baskoro yang tengah duduk sembari berbincang-bincang dengan Guntur, Trisnya dan Jagad di teras rumah orang tua Jagad. Sedangkan Heru, ia terlihat tengah sibuk membantu Handayani menangani pasien-pasien Klinik, yang kebanyakan merupakan ibu hamil.


"Gun! Malam ini kamu pulang, ya?" ajak Baskoro pada Guntur.


"Malam ini Guntur belum bisa, Lik! Memang ada apa?" tanya Guntur.


"Fahmi sakit!" ucap Baskoro.


Fahri merupakan anak lelaki Baskoro yang paling tua, usianya hanya terpaut 2 tahun lebih muda dari Guntur.


"Gak tahu, sudah seminggu lebih dia berada dirumah sakit. Tapi anehnya semua hasil tes tidak menunjukan adanya penyakit didalam tubuhnya. Dia terus-menerus menangis kesakitan, Gun! Paklik takut, kalau sakitnya ini masih ada hubungannya sama proyek yang sedang Fahmi kerjakan," jelas Baskoro.


"Pembangunan Hotel baru itu?" tanya Guntur.


"Iya! Banyak yang mengatakan, tanah disana itu wingit. Paklik cuma takut Fahmi kenapa-napa, Gun!" lanjut Baskoro.


"Setelah selesai urusanku disini, aku akan pulang! Paklik coba minta Reni untuk menjaga Fahri dulu sampai Guntur pulang, anak itu sudah banyak belajar dari almarhum simbah. Aku yakin, Reni bisa membantu Fahri," balas Guntur.


"Ya sudah, kalau begitu. Paklik tunggu kedatangan kalian. Bulikmu pasti seneng, liat kalian semua datang. Apalagi kalau Trisnya juga mau ikut," ujar Baskoro.


"Insyaallah nanti Trisnya juga ikut kesana, Lik!" balas Trisnya.


"Jagad dan Heru juga harus ikut, ya!" pinta Baskoro.


"Siap! Insya Allah," balas Jagad.


"Ya sudah! Paklik pamit pulang dulu, sampaikan salam paklik sama bapakmu ya, Gad! Kapan-kapan kalau ada waktu luang, aku main kesini lagi," pamit Baskoro pada Jagad.


Guntur segera menghampiri Reni yang tengah bersantai di halaman belakang Klinik.

__ADS_1


Guntur tampak membisikan sesuatu pada Reni. Dan terlihat dibalas anggukan oleh gadis seumuran Trisnya itu.


***


"Hati-hati, Ren!" teriak Guntur pada Reni yang telah bersiap melajukan mobilnya.


"Siap! Assalamu'alaikum!" ucap Reni.


"Wa'alaikumsalam!" balas Guntur dan yang lain.


"Langit sudah memberi kita tanda, sepertinya kita harus segera berangkat ke Alas Rongko Mayit!" ucap Jagad tatkala melihat kepulan awan hitam mulai datang, "Sebenarnya apa yang tengah terjadi di kampung temanmu, Tris? Sampai kamu harus berhadapan dengan penghuni Alas Rongko Mayit?" tanya Jagad kepada Trisnya.


"Hampir seluruh warga kehilangan separuh sukma mereka secara tiba-tiba. Dalam waktu semalam mereka berubah bagaikan mayat hidup. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Diam, melamun dan menjatuhkan diri dari ketinggian, hanya itu yang mereka lakukan. Aku sudah berhasil menidurkan mereka semua agar tak melakukan hal-hal berbahaya, namun aku masih belum bisa membebaskan sukma mereka dari Alas Rongko Mayit, justru malah pasukan iblis itu yang beralih mengejarku saat tahu aku membawa pusaka Pakugeni," jelas Trisnya.


"Uhm..., Habis ashar kita berangkat!" Jagad berlalu pergi menuju kamar pribadinya. Kamar tempat dimana seluruh pusaka peninggalan leluhurnya tersimpan.


Ia keluarkan satu-persatu pusaka dari dalam lemari kayu tua. Ia kumpulkan setiap energi yang ada dalam pusaka-pusaka itu agar tersimpan dalam sukmanya.


Berbagai macam keris, kujang hingga tombak berjajar rapi di depan Jagad yang tengah fokus dengan mantranya.


Tiba-tiba, salah satu pusaka bergetar hebat. Pusaka berwujud tombak berukirkan naga emas itu terus bergerak tatkala Jagad mencoba menyerap energinya.


"Ada apa?" tanya Jagad.


"Akan ada pertumpahan darah di setiap jengkal tanah yang kau pijak malam ini! Iblis yang akan kau hadapi, adalah sekejam-kejamnya iblis. Dialah utusan langsung, Dewi Durga--sang penguasa kegelapan alam semesta," Sebuah bisikan terdengar jelas ditelinga Jagad.


Jagad terdiam sesaat. Pikirannya seolah tengah berputar-putar mencari cara untuk memenangkan pertempurannya malam ini.


"Harus dengan cara apa aku menggagalkan kebangkitannya?" tanya Jagad.


Senyap! Tak terdengar jawaban lagi dari pusaka peninggalan leluhurnya itu.


"Ya Allah! Beri aku petunjuk-Mu," doa Jagad dalam hatinya.


Tokk ... Tokk ...


Dikala Jagad tengah sibuk mempersiapkan segala pusakanya, pintu ruangan terketuk cukup keras dari luar.


"Apa?" teriak Jagad.


"Mas, kita harus segera berangkat ke kampung Bagas sekarang!" ucap Trisnya dengan nada yang begitu panik.


"Apa yang terjadi?" tanya Jagad tanpa membukakan pintu.


"Para warga yang berhasil ku tidurkan, kembali bertingkah aneh. Sudah ada 2 korban tewas akibat melompat dari atas tebing di samping hutan," jelas Trisnya.

__ADS_1


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Jagad begitu lirih.


Bersambung ....


__ADS_2