Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab31. Buhul Santet


__ADS_3

Indah terpancar sinar rembulan, berhiaskan awan-awan hitam yang bergelayut manja pada gagahnya langit. Guntur duduk seorang diri di kursi balkon kamar Fahmi, sambil sesekali ia hisap sebatang rokok yang terselip di antara jemarinya. Matanya menatap nanar pada kumpulan bintang-bintang yang menghias malam.


"Gun, kamu kenapa?" tanya Mbah Darti-nenek Guntur, sembari menepuk bahu Guntur yang sedang melamun.


"Guntur gapapa, Mbok! Cuma lagi kangen ayah sama ibuk aja," jelas Guntur pada neneknya.


Mbah Darti duduk disamping Guntur, ia ikut menatap ke arah langit malam.


"Tak bolehkah aku membalas mereka, Mbok?" tanya Guntur sembari menatap Mbah Darti dengan mata yang meremang.


Mbah Darti menoleh ke arah Guntur sembari berucap, "Tidak ... Ingat baik-baik pesan almarhum simbah kakungmu, dendam hanya akan menciptakan dendam lain dan tak akan pernah ada akhirnya."


Guntur memeluk neneknya erat, tangisnya pecah seketika. "Kenapa hal-hal seperti ini selalu menimpa keluarga kita, Mbok? Apa salah ayah sama ibuk? Apa salah Fahmi? Mereka orang baik, harusnya Tuhan tak mengijinkan hal buruk itu menimpa mereka ... harusnya-"


"Sudah, Le. Istighfar ... terima semua dengan ikhlas agar kedua orang tuamu juga tenang disana," pangkas Mbah Darti sembari mengusap lembut kepala Guntur.


Terlihat Baskoro dan Anggun-istrinya, tengah menatap sedih ke arah Guntur yang masih terisak dalam dekapan neneknya, dari dalam kamar Fahmi. Mereka sadar, selama Fahmi sakit, Gunturlah yang paling berkorban banyak. Berkorban waktu juga tenaga, untuk terus merawat dan menyembuhkan Fahmi. Sering kali Baskoro mendapati Guntur berdzikir dan berdoa semalam suntuk di dalam kamar Fahmi. Mengabaikan rasa kantuk dan lelah selepas bekerja, Guntur terus berusaha keras agar Fahmi bisa terlepas dari penyakit aneh itu.


Anggun mendekat ke arah Fahmi yang masih tertidur lelap. Ia kecup kening anak lelakinya itu dengan begitu lembut. Sedangkan Baskoro memilih pergi meninggalkan mereka, karena sudah tak sanggup lagi melihat anak dan keponakannya. Dalam diam, batinnya menangis begitu keras seakan tak sanggup lagi menahan semua hal buruk yang menimpa keluarganya.


"Paklik ... kenapa?" tanya Trisnya saat mendapati Baskoro keluar kamar dengan ekspresi murung.


Baskoro mencoba memaksakan senyumnya, sembari membalas pertanyaan Trisnya, "Nduk! Paklik sangat berharap kalian bisa membebaskan Fahmi dari ini semua, paklik sudah gak kuat jika harus terus melihat Fahmi kesakitan." Air matanya luruh seketika.


"Insyaallah, Lik! Trisnya akan bantu sebisa Trisnya," ujar Trisnya.


Baskoro menepuk bahu Trisnya pelan lalu melangkah pergi meninggalkan Trisnya dengan tangis yang tak lagi bisa dibendung.


***


Jam sudah menunjukan pukul 8 malam, rumah Baskoro telah dipenuhi oleh para warga untuk melakukan doa bersama, yang telah rutin dilakukan setiap malam sejak Fahmi sakit.


Kali ini doa bersama akan dipimpin oleh seorang kyai yang merupakan guru Heru sewaktu mondok. Heru juga membawa beberapa teman mondoknya yang lumayan ahli dalam berurusan dengan santet.


Guntur meminta ketujuh teman Heru untuk ikut bergabung bersamanya di dalam kamar Fahmi. Trisnya sudah sedari tadi meragasukma dan ikut masuk ke dalam tubuh Fahmi, agar bisa mendeteksi langsung saat serangan itu kembali datang.


Tepat pukul jam 9 malam, Fahmi mulai merintih kesakitan. Bersamaan dengan raga Trisnya yang mulai terbatuk-batuk menahan kuatnya serangan. Heru dan kawan-kawannya segera melantunkan doa-doa ruqyah mengitari Fahmi.


Guntur keluar menuju balkon diikuti oleh sukma Jagad yang juga telah hadir. Mencoba menerawang energi-energi negatif yang mengitari sekitar rumah.


"Energi yang begitu kuat justru muncul dari tubuh Fahmi sendiri," ujar Jagad.


"Benar! Tak ada hal lain di sekitar sini," balas Guntur.


"Aku akan menyusul Trisnya dan Kinasih ke alam bawah sadar Fahmi. Tetap jaga raga kami semua disini, tetap waspada!" ucap Jagad.


"Baiklah, Mas. Pastikan Fahmi selamat," pesan Guntur.


Trisnya melihat dengan jelas sukma Fahmi yang terus melukai tubuhnya sendiri. 

__ADS_1


"Sialan! Pelaku menggunakan qorin milik Fahmi untuk menyerang dan menghabisinya. Kita harus lepaskan ikatan gaib yang mengikat qorinnya," jelas Nyi Kinasih.


"Bagaimana caranya, Nyi?" Tanya Trisnya. "Ini pertama kalinya aku menangani santet seperti ini."


"Bukankah insting Reni kuat? Akan aku cari buhulnya bersama gadis itu," ujar Nyi Kinasih.


"Tunggu, aku saja!" usul Jagad yang baru saja datang.


"Kau tak bisa memperlihatkan wujudmu pada Reni, biar aku saja. Bantu Trisnya mengendalikan Fahmi," tolak Nyi Kinasih. Ia lalu menghilang meninggalkan Trisnya dan Jagad yang mulai disibukan dengan tingkah Fahmi yang semakin tak terkontrol.


Nyi Kinasih menemui Reni yang tengah menyibukan diri di dapur bersama sang ibu.


"Reni ... " panggil Nyi Kinasih yang tiba-tiba muncul di samping Reni.


"Astagfirullahaladzim ... " Reni terperanjat bukan main saat pertama kali melihat Nyi Kinasih.


"Kenapa, Ren?" tanya Anggun.


"Gak papa, Buk! Reni mau ke belakang dulu," kilah Reni, ia segera bergegas pergi meninggalkan ibunya.


"Maafkan aku ... kamu pasti terkejut," ucap Nyi Kinasih mengikuti langkah Reni menuju halaman belakang.


"Mbak Trisnya sudah sering menceritakanmu, Nyi. Ada apa?" tanya Reni tanpa melihat kearah Nyi Kinasih.


"Jangan takut, aku hanya ingin meminta bantuanmu untuk mencari buhul yang mengikat Fahmi," jelas Nyi Kinasih.


"Gimana caranya, Nyi?" tanya Reni.


"Buka matamu dulu!" pinta Nyi Kinasih.


Perlahan Reni mulai membuka matanya, menatap lekat pada wajah Nyi Kinasih yang bak pinang dibelah dua dengan Trisnya.


"Masyaallah, cantiknya ... " sorak batin Reni saat menatap Nyi Kinasih.


"Gunakan instingmu, aku tahu kamu bisa merasakan hal-hal yang tak bisa dirasakan orang lain, instingmu bahkan jauh lebih kuat dari Guntur dan juga Trisnya," jawab Nyi Kinasih.


"Apa aku bisa, Nyi?" Reni terlihat ragu.


"Cobalah! Demi kakakmu," paksa Nyi Kinasih.


"Kalau begitu, ikuti aku. Sudah lama aku merasakan ada hal yang aneh di sekitar kebun belakang," ajak Reni.


Reni berjalan menuju gelapnya kebun pisang yang berada di belakang rumah Baskoro. Ia mencoba terus fokus mencari cari sumber dari energi asing yang ia rasakan.


"Aku gak tau lokasi persisnya dimana. Tapi ada di sekitar tempat kita berdiri," ucap Reni dengan mata terpejam.


Nyi Kinasih segera melesat memanggil Guntur yang sedang membantu memegangi tubuh Fahmi yang bergetar hebat. Akibat menahan pertarungan energi didalam tubuhnya.


"Bantu Reni mencari buhul yang tertanam di halaman belakang rumah," ucap Nyi Kinasih pada Guntur.

__ADS_1


"Her, tetap jaga raga Fahmi. Aku akan keluar sebentar, lanjutkan ruqyahnya sampai Trisnya kembali." Guntur segera pergi meninggalkan Heru dan kawan-kawannya, setelah mendapat anggukan dari Heru.


Guntur memanggil Baskoro dan beberapa warga laki-laki yang berada di lantai satu. Mereka berbondong-bondong menyusul Reni yang masih berdiri di tengah-tengah kebun. Membawa beberapa cangkul dan linggis untuk menggali beberapa titik yang telah Reni tandai.


"Aku gak tau letak pastinya, Yah! Tapi aku sangat yakin, energinya semakin terasa di sekitar sini," ucap Reni yang masih setia dengan posisinya.


Samar terlihat bayangan Mbah Wiro hadir di hadapan Reni yang masih terpejam. Reni tersenyum kearah kakeknya yang perlahan mendekat dan menyentuh tangannya. Menuntun Reni ke depan pohon pisang yang terlihat baru saja ditanam.


Reni membuka mata tatkala bayangan Mbah Wiro menghilang, ia melihat dengan seksama pohon pisang di depannya yang terlihat sedikit berbeda. Firasatnya sangat yakin, ada sesuatu di bawah pohon itu berdiri.


"Mas, coba cabut pohon pisang ini!" pinta Reni pada Guntur yang sedang menggali tanah di dekatnya.


Guntur mendekat, lalu merobohkan pohon pisang di hadapan Reni.


"Kurang ajar!" rutuk Guntur saat mendapati bungkusan kain putih bertuliskan nama, weton Fahmi, dan rajah dalam bahasa arab.


Guntur meremas benda itu kuat-kuat dihadapan Baskoro dan para warga yang mengelilinginya. Dengan ekspresi penuh kemarahan, Guntur merapalkan mantra hingga benda itu terbakar lalu menghilang.


***


Terdengar tangis haru Anggun dari kamar Fahmi. Ia memeluk erat anaknya yang telah selesai di doakan oleh Heru dan teman-temannya.


Trisnya tersadar dalam keadaan yang begitu lemah. Tubuhnya bersandar pada nakas di samping ranjang Fahmi.


"Mbak, aman?" tanya Heru memastikan keadaan Trisnya.


"Aman! Makasih, berkat bantuan kalian aku bisa kembali dengan selamat," ucap Trisnya pada Heru dan teman-temannya.


Heru hanya membalas dengan senyum dan anggukan, lalu melangkah pergi meninggalkan Fahmi bersama Anggun dan Trisnya di dalam kamar.


Nyi Kinasih menghampiri Trisnya yang masih mencoba memulihkan energinya. Ia segera ikut membantu memulihkan energi Trisnya secepat mungkin.


"Mbak ... " panggil Reni yang baru saja masuk ke kamar bersama dengan Baskoro.


"Insyaallah kakakmu sudah aman," ucap Trisnya.


Reni menangis, lalu ikut memeluk Fahmi bersama sang ibu juga ayahnya. Seulas senyuman terlihat dari bibir Fahmi yang masih begitu lemah.


Trisnya yang telah bugar segera beranjak dari duduknya. Meninggalkan keluarga Baskoro dalam tangis bahagia setelah sekian lama tersiksa oleh sakitnya Fahmi.


"Mas, kemana Mas Gun?" tanya Trisnya pada Heru yang tengah bercengkrama dengan teman-teman dan beberapa warga yang masih berada di sana.


"Loh, aku juga belum lihat Mbak!" jawab Heru jujur.


Trisnya terus mencari keberadaan Guntur hingga ke sekeliling rumah, namun sama sekali tak ia temukan keberadaannya. Entah kenapa perasaannya begitu gelisah dan terus mengkhawatirkan Guntur.


"Tadi saya lihat Mas Gun pergi pakai motor, Mbak!" ucap salah satu tetangga Baskoro.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2