Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab62. Terbelahnya Pusaka Pakugeni


__ADS_3

Denting senjata yang saling beradu, masih jua terdengar riuh di telinga. Seiring dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang masih mengalun merdu dari dalam rumah.


"Pak, suara apa itu?" tanya Budi pada Pak RT, tatkala mendengar suara layaknya peperangan.


"Shhtt ... " Pak RT hanya memberikan isyarat dengan menempelkan telunjuknya pada bibir agar Budi tak bertanya lebih jauh.


Heru melirik jam yang terpasang pada dinding kayu dalam rumah Aryo. Terlihat jelas jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Namun, belum jua ada tanda-tanda pertempuran akan segera berakhir.


"Pak, tolong bimbing warga agar terus melanjutkan berdoa!" Heru keluar meninggalkan para warga menuju ke Klinik untuk melihat kondisi teman-temannya.


"Her!" Jagad yang masih berada di luar rumah memanggil Heru agar mendekat ke arahnya.


"Ngapain disitu, Mas?" Heru menatap heran pada Jagad yang tengah mengendus segenggam tanah.


"Sini dulu!" tegas Jagad.


Heru berjalan mendekat dan ikut memperhatikan apa yang tengah Jagad bawa. Segenggam tanah dengan bau amis darah menguar menusuk indra penciuman.


"Pertarungan kali ini bukan hanya perkara santet Pak Amir. Ada entitas lain yang ikut bergabung dan mengincar kita," ucap Jagad sembari meremas tanah dalam genggamannya.


"Kita susul!" ujar Heru tegas.


"Kamu disini bersama Kinasih, pastikan Pak Amir dan keluarganya aman." Jagad melangkah mendahului Heru menuju rumah. "Oh, iya ... pastikan tidak ada warga yang keluar sebelum pertempuran usai!" imbuhnya.


Heru mengangguk dan segera berlari ke tempat para warga berkumpul. Setelah memastikan warga aman, Heru segera berlari menuju Klinik dan menyusul Handayani yang sudah berada di ruangan Pak Amir. Wanita paruh baya itu dengan telaten membersihkan dan membalut luka-luka luar Pak Amir dengan perban.


"Heru bantu, Buk!" Heru segera mengambil beberapa peralatan yang ia butuhkan dan duduk di samping Pak Amir berbaring.


"Pak ... apa bapak saya sudah aman? Kenapa bapak saya belum sadar juga?" tanya Riko yang terlihat begitu khawatir.


"Kita pasrahkan saja sama Gusti Allah, Riko. Semoga saja bapak kamu masih bisa diselamatkan. Alhamdulillah energi negatif dalam tubuhnya sudah berkurang, tinggal pemulihan fisiknya," jelas Heru.


Selesai membersihkan luka-luka pada tubuh Pak amir, Heru segera meminta Riko dan sang ibu untuk terus memanjatkan doa pada Sang Pencipta agar Pak Amir tetap aman.


"Ini, tolong kamu baca berulang-ulang sampai subuh!" titah Heru sembari memberikan secarik kertas bertuliskan doa-doa pemagar diri.


"Jagad kemana?" tanya Handayani sembari berjalan beriringan dengan langkah Heru meninggalkan ruangan.


"Nyusul Pakde, Buk!" jawab Heru.


"Ya Allah lindungi anak-anak dan suamiku," ucap lirih Handayani sembari memejamkan mata, menahan agar air matanya tak ikut luruh.


Nyi Kinasih terlihat terus melayang-layang mengitari rumah, ia merubah dirinya menjadi perisai untuk melindungi orang-orang yang berada di dalamnya.

__ADS_1


Terlihat pula Nawang yang masih tertidur pulas di samping Guntur. Dengan memeluk botol susu kesayangannya yang telah kosong.


***


Di medan pertempuran, terlihat Aryo, Trisnya dan Jagad yang tengah menghadapi Jejengklek dan pasukannya. Terlihat jelas, makhluk kiriman itu telah kewalahan menghadapi setiap serangan dari Aryo beserta pasukannya.


Jagad yang telah merubah diri menjadi Buto, menghajar dan ******* anak buah Jejengklek dengan begitu kejam. Hingga tersisalah Jejengklek itu seorang diri.


Aryo berlari menerjang makhluk itu dengan membawa Tombak Naga miliknya. Ia hunuskan pusaka itu tepat di bagian dada yang merupakan pusat energinya.


"Aaarrrggghhh ... sakit ... " teriak histeris makhluk itu tatkala Aryo telah menarik kembali pusakanya.


Trisnya bersiap dengan pusaka Pakugeni yang telah ia goreskan pada salah satu jemari, hingga darah segar terlihat mengalir bak ukiran nadi yang menghidupkan energi pusakanya. Bibirnya dengan lancar mengucapkan sebuah mantra, hingga api kebiruan tampak menyelimuti pedang yang ia genggam.


Trisnya angkat tinggi-tinggi pedang Pakugeni yang semakin membesar dan berkobar. Lalu dengan cepat ia hunuskan ke dasar tanah tempat Jejengklek terkapar.


Belum sempat Jejengklek terserap sempurna menuju Jagad Lelembut, tiba-tiba sebuah serangan mengarah tepat ke arah pedang Pakugeni hingga Trisnya terhempas cukup jauh.


Buamm ...


Suara dentuman terdengar cukup menggelegar hingga mampu menggetarkan tanah yang mereka pijak.


Prakk ...


"Hahahahahaha ... tunggu pembalasanku! Aku akan membawa pasukan yang lebih kuat dari ini ... hahahahaha ...!" ancam makhluk itu seiring lenyapnya bersama pusaran angin.


Jagad dan Aryo berlari ke arah Trisnya yang tengah berusaha bangkit sembari memegangi dadanya yang terasa begitu sakit. Darah segar juga terlihat mengalir dari lubang hidung dan mulutnya.


"Nduk ... kamu gak papa?" tanya Aryo khawatir.


Trisnya hanya mengangguk dan segera melayang mengambil pusaka miliknya yang telah terbelah menjadi dua.


"Sial ... aaakkkhhh ...!" teriak Trisnya sembari meremas kuat pecahan pusaka miliknya. Hingga darah segar kembali mengalir dari kedua telapak tangannya.


Amarah terlihat begitu menguasai dirinya, hingga tanpa sadar darah yang mengenai pecahan pusaka itu kembali menciptakan api namun bukan dengan cahaya kebiruan, melainkan api merah gelap yang menggambarkan amarah juga dendam yang begitu besar.


"Kontrol amarahmu, atau kau sendiri yang akan menghancurkan semua karma baik yang telah leluhurmu lakukan. Ingat, kemarahanmu akan membawa malapetaka bagi alam manusia. Karena takdir tak mengijinkanmu menyimpan amarah barang sedikitpun, Trisnya!" sentak Jagad yang mulai melihat perubahan pada sorot mata Trisnya.


Mendengar ucapan Jagad, Trisnya segera melepas genggamannya. Dan mencoba menenangkan diri, meredam segala amarah yang tengah menguasai hatinya.


"Astaghfirullahaladzim ... maafkan aku Ya Allah!" ucapnya lirih sembari memejamkan mata.


Trisnya jatuh terduduk bersama patahan pusaka yang selama ini ia jaga dan ia gunakan untuk melawan segala angkara murka.

__ADS_1


"Semua hanya titipan, Nduk. Ikhlaskan, mungkin Tuhan tengah mempersiapkan hal lain yang jauh lebih berguna ketimbang pusaka ini. Toh sesakti dan seampuh apapun sebuah pusaka, tak akan ada gunanya jika Tuhan tak menghendaki untuk kau gunakan," hibur Aryo sembari mengusap lembut bahu Trisnya yang telah bergetar menahan tangis.


"Sudah, ayo kembali. Suamimu juga butuh pertolongan!" ajak Jagad.


"Pusaka itu belum hancur, hanya saja dia butuh menyatu dengan pasangannya. Segera ambil Pakugeni dari dalam kawah, dan satukan kedua pusaka itu menjadi, Pakugeni Kembar!" ucap sosok ratu jin yang telah membantu mereka.


"Nyai ... terima kasih atas bantuannya, kalau boleh tahu siapakah Nyai ini sebenarnya?" tanya Aryo.


"Aku Waringgit, sahabat Kinasih juga ibu asuh dari anaknya!" jawabnya sembari menatap ke arah Jagad.


"Terima kasih Nyai ... saya janji akan segera menyatukan pusaka itu," timpal Trisnya.


"Baiklah, aku kembali. Jangan sampai amarah dan nafsu dunia menguasaimu. Atau semua akan hancur sia-sia!" pesan Nyai Waringgit sebelum akhirnya menghilang bersama para pasukannya.


Ketiganya pun ikut menghilang dan kembali ke raga masing-masing.


"Alhamdulillah kalian sudah sadar," ucap Handayani saat melihat suami dan anaknya telah bergerak dan menoleh ke arahnya.


"Insyaallah sudah aman, Buk. Kamu bisa istirahat," ucap Aryo dengan begitu lembut.


"Para warga masih di rumah, Buk?" tanya Jagad.


"Baru saja bubar, tinggal Pak RT sama Mas Budi yang nunggu penjelasan dari kalian," ucap Handayani.


"Ya sudah biar bapak yang jelaskan, kamu susul Guntur sama istrinya. Pastikan kondisi mereka aman." Aryo pun pergi meninggalkan Jagad sembari merangkul istri tercintanya.


Jagad terlihat menyunggingkan senyuman. Entah kenapa hatinya selalu damai melihat keharmonisan rumah tangga Aryo dan Ibunya. "Ayah benar, cuma Pakde Aryo yang bisa membuat Ibuk sebahagia ini," gumamnya.


Terlihat Aryo dan Heru yang tengah berbicara serius dengan Pak RT juga Budi yang merupakan ketua keamanan kampung Randujati.


"Pak, ada apa lagi sebenarnya? Kenapa hal seperti ini kembali terulang? Apa kutukan dari hutan itu kembali terbuka?" tanya Pak RT.


"Saya juga masih belum yakin, Pak. Tapi sepertinya memang masih ada sangkut pautnya dengan hutan itu. Sepertinya masih ada makhluk yang mengincar desa ini seperti dulu." Aryo terlihat begitu serius dengan ucapannya.


"Apa kutukan yang sama seperti kejadian di hutan waktu itu? Yang di sendang?" tanya Heru.


"Bukan, Mas! Jauh sebelum ada kutukan itu, kampung kita memang sudah menjadi incaran para makhluk halus. Gak banyak orang yang tahu, karena saya juga mendengar kutukan ini dari almarhum kakek saya," jelas Pak RT.


"Tapi kenapa?" tanya Heru lagi.


"Nanti kalau sudah yakin pasti akan pakde jelaskan padamu, Her. Yang pasti ini jauh lebih berbahaya dari perkiraanmu," ujar Aryo.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2