
Seminggu setelah kejadian di hutan, semua tampak begitu normal seperti biasanya. Sang surya bersinar dengan begitu cerah, menerobos masuk melalui celah-celah pintu dan jendela. Diiringi kicauan kutilang yang seolah menjadi nyanyian penyambut pagi.
Jagad keluar kamar mengenakan kemeja batik lengkap dengan celana formal hitam yang begitu pas dengan tubuh jangkungnya. Ia berjalan sambil mengenakan jam tangan. Bibirnya bersiul ria, menyusul Heru dan kedua orang tuanya yang telah menunggu di depan rumah. Semua tampak begitu kompak mengenakan batik dengan motif dan warna senada.
Terlihat pula Nawang yang tengah tertidur di gendongan Handayani. Mengenakan gaun berwarna merah muda yang begitu cocok dengan kulit putihnya.
"Sudah jam 6, ayo berangkat! Biar gak telat liat Guntur ijab qabul." Terlihat Aryo yang begitu bersemangat untuk menyaksikan pernikahan Guntur dan Trisnya yang akan terlaksana pagi ini.
Jagad segera masuk ke dalam mobil yang telah Baskoro siapkan untuk keluarganya sejak beberapa hari yang lalu. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera melajukan mobil agar segera sampai di tempat acara.
Perjalanan menuju ke kota tempat tinggal Trisnya memakan waktu kurang lebih 2 setengah jam dari rumah mereka. Beruntungnya, jalanan tak terlalu macet hari ini. Mereka sampai di tempat Trisnya tepat disaat Guntur dan keluarganya baru saja tiba.
Terlihat hiasan janur kuning yang terpasang di depan rumah keluarga Trisnya. Riuh terdengar suara dari para warga yang tengah rewang, mempersiapkan segala keperluan untuk menjamu tamu yang hadir. Tak ketinggalan, nyaringnya suara musik khas acara pernikahan yang mengalun, seolah menyambut kedatangan mereka.
"Beruntung ya ... orang super duper keras kepala seperti Mas Gun, bisa dapat istri sesabar dan secantik Mbak Trisnya," seloroh Heru saat melihat foto kedua mempelai yang terpasang di sepanjang jalan pelataran rumah.
"Dia pakai jalur langit, Her. Backingannya pusat, gak main-main ampuhnya! Hahaha ...," timpal Jagad.
Disaat Heru, Jagad dan Aryo berjalan menyusul Guntur yang telah bersiap di lokasi ijab qabul akan dilangsungkan. Handayani memilih membawa Nawang ke rumah salah satu warga yang digunakan sebagai tempat merias calon pengantin.
Terlihat Trisnya yang telah mengenakan kebaya putih lengkap dengan sanggul dan cunduk mentul khas pengantin solo. Ia tersenyum anggun menyapa Handayani yang datang membawa Nawang ke arahnya.
"Terima kasih, Buk. Sudah menyempatkan waktu jauh-jauh kemari," ucapnya sembari memeluk Handayani.
"Iya, Nduk. Ibuk gak mau melewatkan moment bahagia kalian. Kamu beneran siap 'kan, Nduk?" tanya Handayani.
"Njih, Buk. Insya Allah Trisnya siap." Terlihat senyum sumringah dari wajah ayu Trisnya. Membuat Handayani tersenyum haru mendengarnya.
Trisnya membelai lembut pipi halus Nawang. Netranya meremang tiba-tiba, tatkala menyadari sebentar lagi ia akan menjadi ibu dari sosok menggemaskan yang ada di gendongan Handayani.
"Boleh ku gendong, Buk?" tanya Trisnya.
"Kamu yakin?" tanya Handayani dan di balas anggukan oleh Trisnya.
__ADS_1
Trisnya dengan luwes mengambil Nawang ke dalam gendongan tangannya. Ia timang sebentar, lalu membawanya ke tempat kedua orang tuanya tengah berganti pakaian.
"Pak, Buk. Ini Nawang, anakku ...," ucap Trisnya dengan senyum menawannya. Ia terlihat begitu bahagia memperkenalkan Nawang pada Keluarga besarnya.
"Masyaallah, Nduk. Cantik sekali," ucap Nia sembari mengambil Nawang dari gendongan Trisnya. Semua terlihat begitu tulus menerima kehadiran Nawang.
***
Guntur telah duduk bersiap di depan penghulu, menunggu kedatangan Trisnya dengan perasaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Terlihat beberapa kali ia meremas jemarinya yang terasa dingin. Berkali-kali pula ia hembuskan nafas kasar, untuk sekedar mengusir rasa grogi yang mulai menjalar.
"Grogi, Gun? Perlu aku gantiin?" goda Jagad yang menjadi salah satu saksi di pernikahannya.
"Hush, lambemu!" timpal Aryo yang tak sengaja mendengar ucapan Jagad.
"Astagfirullah, mulutnya emang perlu di ruqyah, Pakde. Tolong itu disadarkan dulu, barang kali ada yang nempel," balas Guntur.
Lukman yang mendengar celotehan calon menantunya itu hanya mampu tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.
"Hahahah ... canda, Gun. Tapi kalau boleh juga gapapa," imbuh Jagad diiringi tawa pelannya.
Dari kejauhan, terlihat Trisnya yang tengah berjalan anggun di dampingi sang ibu dan beberapa kerabat. Pesonanya benar-benar mampu membuat semua orang yang berada disana enggan untuk mengalihkan pandangan, terutama Guntur.
Perempuan itu dengan ramah tersenyum dan mengangguk ke arah para tamu yang menatapnya takjub. Hingga tiba-tiba saja, senyumnya menghilang tatkala melihat seorang lelaki yang menatap penuh dendam ke arahnya dari kejauhan. Tak sadar, langkahnya pun ikut terhenti begitu saja.
"Bagas," gumamnya dalam hati.
"Nduk, kenapa? Ayo calon suamimu sudah menunggu," bisik Nia menyadarkan Trisnya.
"Eh, ndak papa Buk." Trisnya pun kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat Guntur berada.
Trisnya duduk disamping Guntur dengan menahan rasa haru bercampur malu, menunggu detik-detik terucapnya janji suci dari sang kekasih hati.
Susah payah ia menenangkan hatinya. Dari rasa bahagia yang begitu sulit diutarakan dengan kata-kata. Sekaligus rasa gelisah, akan kedatangan Bagas yang membawa energi kemarahan yang begitu kuat.
__ADS_1
Bagas merupakan satu-satunya teman lelaki Trisnya. Lelaki yang ia kenal saat bekerja di pabrik itu, sudah berulang kali mengutarakan perasaan cinta padanya. Namun, berulang kali pula Trisnya menolak dan memintanya mengubur jauh-jauh perasaan itu. Karena hati gadis itu sudah sepenuhnya dimiliki oleh Guntur, dan sama sekali tak berniat membagi pada siapapun juga.
Trisnya tepis segala perasaan buruknya. Dan kembali menatap teduh ke arah calon suami yang tengah bersiap mengikrarkan janji suci di depan kedua orang tuanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Trisnya Indriyani binti Lukman Darsono dengan mas kawin 23 gram emas, 2 sertifikat tanah, satu unit mobil dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap Guntur dengan begitu lantang.
SAH ...!
Terdengar seruan meriah dari para tamu undangan yang hadir. Dilanjutkan doa-doa juga tukar cincin diantara kedua mempelai.
Guntur dan Trisnya saling menatap haru. Buliran bening luruh begitu saja dari pelupuk netra. Doa pun terlantun lirih dari bibir Guntur, sebelum akhirnya lelaki itu daratkan sebuah kecupan hangat di pucuk kepala sang istri dengan begitu lembut.
Setelah prosesi ijab qabul selesai dilaksanakan, acara dilanjutkan dengan resepsi ala adat Solo. Semua tamu undangan disuguhkan dengan aneka hidangan khas dan juga hiburan orkes karawitan ternama di daerahnya.
Semua tamu undangan tampak begitu menikmati seluruh rangkaian acara. Menyantap hidangan yang lebih dominan pada rasa manis itu sembari mendengarkan alunan lagu-lagu jawa yang terdengar begitu menyentuh dan sopan di telinga.
Suasana haru dan sakral begitu terasa menghanyutkan. Apalagi ketika prosesi sungkem, yang diwarnai dengan genangan air mata. Dimana Guntur harus menahan sesak didada, menikah tanpa didampingi kedua orang tua kandungnya, dan digantikan oleh paman juga sang nenek.
"Sindene ayu-ayu, Her!" bisik Jagad pada Heru disampingnya.
"Hahahaha ... mangga Mas, tampil ke depan duet sama salah satu sinden, nyumbang lagu. Siapa tahu ada yang nyantol," usul Heru yang tengah menikmati sepiring sop bening berisikan irisan wortel, jamur, ayam, dan beberapa sayuran yang dihidangkan.
Baru saja Heru selesai berucap, terlihat sepasang mata yang menatap tajam ke arahnya. Sosok itu tak lain adalah Nyi Kinasih yang tiba-tiba berdiri di samping Jagad. Sontak hal itu membuat Heru tersedak dan menjadi pusat perhatian.
"Ampun, Nyi!" ucap lirih Heru pada sosok yang menatapnya.
Jagad yang menyadari tatapan tajam Nyi Kinasih beralih padanya, hanya berusaha tenang sambil sesekali berdehem. Menahan gemuruh hati yang ketakutan dengan kemarahan sosok di sampingnya.
Disela-sela kemeriahan pesta, tiba-tiba saja Guntur terbatuk-batuk dengan darah segar menyembur dari mulutnya. Ia jatuh bersandar pada pangkuan Trisnya yang mulai menangis panik.
Jagad, Heru dan Aryo segera berlari menghampiri Guntur bersamaan. Alunan musik pun tiba-tiba saja terhenti dengan sendirinya. Membuat semua orang yang berada di tempat itu panik dan ketakutan.
Handayani berlari menggendong nawang yang terus menangis histeris, menuju ke tempat Guntur dan Trisnya berada. Kebahagiaan terasa musnah seketika, berganti jerit tangis yang saling bersahutan.
__ADS_1
Bersambung ....