Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab21. Kelakuan Guntur


__ADS_3

Angin berhembus menerobos masuk melalui celah jendela yang tak tertutup rapat. Dinginnya menerpa wajah sendu berhiaskan rindu yang tak jua menemui ujungnya.


Sahara terbangun dari mimpi indahnya. Mimpi tentang semua kenangan bersama lelaki yang sangat ia rindu. Lelaki yang mampu mengacaukan akal sehat dan nuraninya. Hingga mengubahnya bak cangkang tak berjiwa. Terbelenggu pilu menahan kejamnya rindu.


Sahara beranjak dari ranjangnya. Langkah kakinya berjalan perlahan menuju nakas yang berada di sudut ruangan. Ia ambil sebilah pisau buah kecil yang tergeletak di sela-sela buah yang ayahnya bawa dari rumah.


"Mas, aku tak tahan lagi seperti ini. Jika aku mati, mungkin aku bisa bertemu denganmu lagi. Rindu ini benar-benar menyiksaku, Mas!" batin Sahara yang tak sanggup lagi menahan rindu pada sosok Broto--suaminya.


Ia mulai goreskan pisau yang tak terlalu tajam itu pada pergelangan tangan kirinya. Darah segar mulai mengalir dari bekas lukanya, dan menetes ke lantai yang ia pijak.


Mendengar suara samar isak tangis Sahara, sang ibu akhirnya terbangun.


"Astagfirullah, Nduk! Apa-apaan kamu, hah?! Lepaskan!" sentak sang ibu yang kebetulan hanya sendirian menemani Sahara.


Sahara menangis cukup keras tatkala sang ibu berhasil melempar pisau dari tangannya.


"Biarkan Sahara mati, Buk! Sahara mau ikut mas Broto! Sahara ndak mau lagi jadi manusia!" ujar Sahara tersengal-sengal.


"Eling, Nduk! Istighfar...," sang ibu terus mencoba menenangkan Sahara yang mulai meronta-ronta dan berniat mengambil pisaunya kembali.


Jagad dan Heru menerobos masuk begitu saja kedalam ruangan Sahara. Mereka berdua langsung berupaya membantu menenangkan gadis malang itu.


Jagad memasang kembali selang infus yang telah terlepas. Heru mencoba menenangkan Sahara dengan doa-doa semampunya.


"Kematian pun tak akan mempertemukan kamu sama dia! Jadi, tolong! Berhenti menyakiti diri kamu lagi. Kasihan orang tuamu!" ucap Jagad sembari memegang kedua pundak Sahara yang masih histeris, "dia sudah terkurung di Jagad Lelembut, tempat dimana kamu tak akan pernah menemukannya lagi," lanjut Jagad.


"Biar saya obati dulu lukanya," ucap Heru saat Sahara sudah berhasil Jagad tenangkan.


Jam sudah menunjukan pukul 1 malam, Guntur  memarkirkan mobilnya tepat di sisi klinik. Ia datang bersama dengan Trisnya, kekasih hatinya.


"Aduh, belum muhrim udah dibawa!" ledek Heru pada Guntur dan Trisnya yang baru saja menutup pintu klinik.


"Maaf, mas Her! Kepalaku sakit banget, mau minta sekalian diobati disini. Sekalian liat kondisi Sahara juga," jelas Trisnya sembari terus memijat kepalanya yang terasa berdenyut.


"Habis dari mana?" tanya Jagad yang baru saja muncul.


"Dari kampung yang sebelahan sama Alas Rongko Mayit, ada kasus teror besar-besaran di kampung temennya Trisnya!" jawab Guntur sembari membantu Trisnya berbaring di ranjang.


"Kenapa, Tris?" tanya Jagad khawatir. Ia segera menghampiri Trisnya dan mengecek keadaannya.


Guntur tampak sedikit tak suka dengan sikap Jagad yang terkesan berlebihan pada Trisnya.


"Mas, Guntur juga dokter loh! Meskipun sekarang lagi kena pecat sementara, tapi Guntur belum lupa kok cara menangani pasien," protes Guntur sembari menangkis tangan Jagad yang hendak memegang kepala Trisnya. Netranya menatap tajam kearah Jagad yang tengah menahan tawa.


Tentu! Jagad memang melakukan itu dengan sengaja. Ia tahu, Guntur paling tak suka jika miliknya disentuh oleh siapapun. Karena itulah Jagad sengaja menggodanya.


"Awas, Mas! Anoman ngamuk!" ledek Heru dari kejauhan.


"Hahahahhaah...," Jagad tertawa lepas melihat ekspresi marah Guntur, diikuti oleh Heru yang juga tak mampu menahan untuk tak ikut tertawa.


Trisnya hanya terdiam. Matanya menatap Jagad dalam-dalam.

__ADS_1


"Tawa yang tak asing!" lirih batin Trisnya.


Guntur nampak bertambah kesal, melihat Trisnya yang terus menatap wajah Jagad. Tanpa menunggu lama, Guntur langsung mengangkat tubuh Trisnya begitu saja, dan dengan cepat ia bawa masuk ke dalam kamar tidurnya.


"Mas! Ngapain? Turunin Trisnya!" rengek Trisnya.


"Woi, Cah edan! Ojo aneh-aneh awakmu. Durung di rabi wes ameh dikeloni," (woi, anak gila! Jangan aneh-aneh kamu. Belum nikah udah mau ditidurin.) omel Jagad sembari mengejar langkah Guntur.


"Astagfirullah! Kelakuan bedes satu itu emang diluar nurul," gerutu Heru sembari mengelus-elus dadanya.


Guntur merebahkan tubuh Trisnya begitu saja di atas tempat tidurnya. Dari raut wajahnya terpancar jelas kemarahan yang begitu membara. Guntur lalu beranjak mengunci pintu kamar dari dalam agar Jagad tak mengejar masuk.


"Mas! Kamu apa-apaan sih? Bukain pintunya, gak enak sama yang lain!" protes Trisnya.


"Gak!" ucap Guntur tegas.


"Nopo, loh?" (Kenapa, loh?) tanya Trisnya yang mulai takut dengan kemarahan Guntur.


Terdengar suara gedoran pintu tiada henti dari luar.


"Opo raiku kalah ganteng karo raine mas Jagad? Iso-isone, sing disawang ngasi gak kedip malah raine mas Jagad dudu raiku!" (Apa wajahku kalah ganteng sama wajahnya mas Jagad? Bisa-bisanya, yang dipandang sampai gak berkedip malah wajahnya mas Jagad bukan aku!) ucap Guntur penuh emosi.


"Ya Allah, Mas! Aku tadi cuma kepikiran sama kakek buyutku, Ki Joko Manggolo. Mas Jagad mirip banget sama beliau," jelas Trisnya sembari bergelayut manja di lengan kekar Guntur yang masih terlihat kesal.


"Bukan karena terpesona?" balas Jagad masih dengan nada kesal.


"Mboten, Sayangku! Tetap gantengan mas Guntur Mahendra kok! Uluh-uluh ya Allah, cucunya Mbah Wiro cemburuan banget," ucap Trisnya dengan ekspresi manjanya, sembari mencubit kedua pipi bulat Guntur.


Trisnya mendengkus kesal mendengar permintaan Guntur, "Pipi, 'kan?" ucap Trisnya.


"Sini dong!" ucap Guntur sembari menyentuh bibirnya.


Dengan wajah menahan malu bercampur kesal, Trisnya mulai mendekatkan wajahnya ke arah Guntur.


Plakkk


Tepat disaat bibir Trisnya dan Guntur hampir menyatu, tiba-tiba saja sebuah sabetan selendang berhasil Nyi Kinasih daratkan tepat dibibir Guntur.


Sontak, Guntur melepaskan pelukannya pada Trisnya.


Nyi Kinasih menatap tajam ke arah Guntur hingga membuatnya salah tingkah.


Brakkk


Bersamaan dengan itu, suara dobrakan pintu berhasil mengagetkan Guntur dan Trisnya yang sedang diambang ketakutan. Ketakutan akan kemarahan Nyi Kinasih yang terlihat jelas dari sorot matanya.


"Bedes ra sopan!" (Monyet gak sopan) Jagad menghampiri Guntur, lalu ia jewer keras-keras telinganya sembari menyeretnya keluar kamar.


Trisnya merasa sangat tak nyaman dengan tatapan tajam Nyi Kinasih yang terlihat bak singa yang siap mencabik-cabik mangsanya.


"Pulihkan energimu! Jangan berbuat macam-macam!" tegas Nyi Kinasih sembari melemparkan beberapa tanaman obat yang entah ia peroleh dari mana.

__ADS_1


"Njih, Nyi! Maaf," jawab Trisnya lirih.


Bruakkk


Pintu kembali tertutup dengan kasar dan terkunci dengan sendirinya. Nyi Kinasih mulai membantu Trisnya memulihkan energinya yang sempat terkuras setelah melawan pasukan lelembut dari Alas Rongko Mayit.


***


Diluar kamar, tampak Jagad yang tengah menceramahi Guntur panjang kali lebar. Ditambah Heru yang dengan antusias meledek dan menertawakan Guntur.


Mereka bertiga berkumpul di ruang santai yang sering mereka gunakan untuk sekedar beristirahat sambil menonton televisi. ruangan itu terletak diujung belakang Klinik, agak jauh dari kamar inap pasien.


"Le! Ada apa kok berisik banget dari tadi?" tanya Aryo yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang Klinik Jagad yang tak terkunci.


"Maaf, Pak! Gak ada apa-apa kok!" ujar Jagad.


"Guntur itu loh, Pakde! Masa ngumpetin cewek di kamar!" adu Heru yang sangat bersemangat melihat Guntur kena marah.


"Hah? Opo?" Aryo tampak begitu terkejut mendengar aduan Heru.


"Bercanda, Pakde! Kasian tadi anaknya hampir pingsan, terus Guntur bawa ke kamar. Mas Jagad sama Heru aja yang salah paham," kilah Guntur sembari sedikit menjauhi Aryo yang sudah bersiap mengambil sendal jepitnya.


"Halah, prett! Kalau gak Jagad dobrak udah nyosor si Guntur ini, Pak! Hajar, Pak! Hahahaha," timpal Jagad sembari tertawa lepas.


Ditengah-tengah keseruan mereka, tiba-tiba angin berhembus begitu kencang. Menerobos masuk melalui celah-celah jendela dan pintu belakang yang tak tertutup rapat.


Jagad melangkahkan kakinya menuju jendela yang masih terbuka. Ia edarkan pandangannya ke sekitar Klinik yang dikelilingi pepohonan jati yang begitu rindang.


"Aneh! Anginnya seperti berputar-putar di sekitar Klinik dan rumah kita aja, Pak!" ucap Jagad.


Aryo juga ikut mendekat kearah Jagad. Malam yang biasanya ramai oleh nyanyian hewan malam, tiba-tiba saja berubah begitu sunyi dan sepi. Tak terdengar suara apapun selain gemerisik dedaunan yang tertiup angin.


"Bapak pulang dulu! Kasihan ibuk sendirian!" pamit Aryo pada Jagad.


"Njih, Pak! Biar Jagad sama teman-teman yang hadapin ini," jawab Jagad.


"Tunggu! Siapa wanita yang kamu bawa, Gun?" tanya Aryo yang hendak melangkahkan kaki keluar.


"Calon istriku, Pakde!" jawab Guntur jujur.


"Dia kuncen pusaka Pakugeni, Pak!" timpal Jagad.


"Energi disini kuat sekali, apa wanitamu juga ada disini?" tanya Aryo pada Jagad.


Tak ada jawaban dari Jagad. Ia hanya memberikan kode pada Aryo dengan senyumannya.


"Wanitamu? Siapa maksudnya?" batin Guntur.


Aryo membalas senyuman Jagad tanpa berkomentar lagi. Ia bergegas keluar dari Klinik dan masuk ke dalam rumah yang terletak tepat di samping Klinik milik Jagad. Ia merasakan ada energi negatif yang begitu kuat mencoba menerobos masuk ke dalam Klinik.


"Gusti, lindungi anak-anakku!" ucap lirih Aryo sebelum akhirnya menutup pintu rumahnya rapat-rapat.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2