Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab45. Anak Yang Tak Diinginkan


__ADS_3

Malam semakin larut, Guntur seorang diri menemani bayi merah dalam gendongannya yang masih jua terjaga. Ia meminumkan Asi dalam botol, yang telah Reni siapkan sembari terus menimang dan menenangkan bayi mungil yang masih sesekali terisak itu.


Hembusan angin lembut, menerobos masuk dari celah-celah jendela yang tiba-tiba saja terbuka. Guntur melihat, kepulan asap yang perlahan menghampirinya. Asap itu berputar-putar, lalu merubah wujudnya menyerupai sosok Indah-ibu sang bayi.


"Biarkan aku melihatnya untuk terakhir kali," ucap sosok itu begitu lirih.


Guntur masih tak bergeming, seolah tak peduli pada sosok di hadapannya. Ia masih terus menimang dan mencoba menidurkan bayi itu.


Sosok itu tak mendekat sedikitpun, seolah menunggu persetujuan dari Guntur. Ia hanya menatap nanar ke arah bayi merah yang ingin sekali ia rengkuh.


Bayi dalam gendongan Guntur semakin terlihat gelisah, tangisnya semakin menjadi. Hingga membuat Guntur kewalahan menenangkannya.


"Mendekatlah! Mungkin dia sangat ingin bertemu dengan ibunya," ucap Guntur tanpa memandang ke arah sosok itu.


Guntur tidurkan bayi itu di atas ranjang, membiarkan sosok itu membelai lembut kulit merahnya, meski pada kenyataannya ia sama sekali tak dapat menyentuh bayinya lagi.


Perlahan bayi mungil itu mulai tenang, seolah merasakan sentuhan lembut dari ibunya. Sesekali bibir mungilnya tersenyum, seiring matanya yang mulai menutup.


"Pergilah dengan tenang, dia akan baik-baik saja," ucap Guntur seraya merebahkan dirinya di samping bayi yang sudah mulai terlelap.


"Aku akan pergi setelah dia benar-benar tertidur pulas. Terima kasih telah menjaganya, aku titipkan anakku padamu," balas wanita itu.


Guntur hanya diam, tak tahu harus menjawab apa. Hatinya begitu teriris melihat betapa malang bayi di sampingnya. Susah payah ia menahan air matanya agar tak ikut luruh, hingga akhirnya ia memutuskan untuk ikut terpejam.


Sosok perempuan itu menoleh ke arah pintu, tatkala menyadari kehadiran Jagad yang mengintip dari sela pintu. Ia hadirkan senyum lembutnya sembari mengangguk pelan ke arah Jagad dan perlahan menghilang.


Suara derap langkah Jagad disadari oleh Guntur yang memang belum tertidur. Ia beranjak duduk dengan begitu pelan agar tak membangunkan bayi di sampingnya.

__ADS_1


"Besok kita takziah kesana, sekalian antarkan bayi ini kepada keluarganya," bisik Jagad pada Guntur.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un ... bagaimana jika keluarganya menolak untuk merawatnya, Mas?" tanya Guntur sembari mencoba turun dari ranjang.


"Kita akan pikirkan nanti! Kamu mau kemana, Gun?" tanya Jagad saat Guntur hendak keluar kamar.


"Jagain bentar, aku lapar mau makan dulu," ucap Guntur setengah berbisik. Ia berjalan begitu pelan meninggalkan bayi itu bersama Jagad.


Berbeda dengan Guntur yang begitu telaten dan luwes dalam menjaga bayi, Jagad terlihat begitu kaku dan tak tahu harus berbuat apa. Ia memilih duduk di samping bayi mungil itu sembari sesekali mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir nyamuk yang sebenarnya juga tak ada.


Cukup lama Guntur meninggalkan bayi itu bersama Jagad, hingga terdengar tangisan melengking dari arah kamar. Terlihat Jagad yang tengah bersusah payah menghibur dan menyanyikan lagu-lagu anak sebisanya, agar bayi itu tenang. Namun, bukannya diam bayi itu malah semakin kejer di buatnya.


Heru dan Guntur datang bersamaan menghampiri Jagad yang sudah kehabisan akal untuk menenangkan bayi itu.


"Dia pup, Mas. Mana bisa diem kalau gak di ganti pampersnya," ucap Guntur dengan nada jengkel pada Jagad.


"Mana aku tahu," jawab Jagad datar.


"Lah, aku kan gak pernah ngurusin bayi kaya kalian. Nah kalau kamu kan sering bantuin ibuk menangani orang lahiran, Guntur juga dokter anak tiap hari yang di urusin bayi. Nah, aku tiap hari pasiennya orang pilek sama masuk angin. Mana paham aku sama bayi," protes Jagad.


"Dokter lain paham kok, kamunya aja yang dasarnya kaku. Dari kecil mana mau kamu deketan sama bayi? Yang ada kamu lari tiap disuruh gendong," timpal Handayani yang ikut menyusul mereka.


"Nah loh, ibuk loh yang ngomong. Dasar emang manusia kutub, pantesan awet jomblo, hahaha ...." goda Guntur.


"Mending jomblo, daripada pacaran lama tapi gak nikah-nikah," balas Jagad sembari berlalu meninggalkan Guntur dan yang lain.


Heru berusaha menahan tawa, tatkala melihat ekspresi kesal Guntur karena celotehnya mampu di balas oleh Jagad. Guntur kembali menggendong dan menimang bayi itu, sembari meminumkan susu yang telah Handayani siapkan.

__ADS_1


"Duh ... vibesnya bapak idaman banget," goda Reni dari balik pintu.


"Kamu pikir yang sering gendongin kamu pas masih bayi siapa, hah? Bapakmu aja tiap hari sibuk, apalagi Fahmi yang manjanya minta ampun sama ibumu. Aku yang ngurusin kamu, Ren ... makanya jangan kurang ajar kamu, bisa durhaka," balas Guntur.


Reni mengambil ponsel dari sakunya, ia rekam tingkah lucu Guntur saat mencoba menghibur bayi digendongannya. Ia abadikan momen indah itu, lalu ia kirimkan ke nomor Trisnya.


[ Suami idaman sekali, bukan? Gak takut di ambil orang, nih? ]


Mereka terlihat begitu bahagia, akan kehadiran bayi mungil itu. Hingga membuat mereka sejenak melupakan kesedihan atas apa yang menimpa ibu sang bayi


Keesokan paginya, mereka memutuskan untuk pergi kerumah Agung. Melayat sekaligus mengantarkan sang bayi pada keluarganya. Suara isak tangis terdengar begitu menyayat hati dari dalam rumah, menyambut kedatangan keluarga Jagad yang baru saja sampai. Membawa bayi mungil yang tengah terlelap di gendongan Guntur.


Belum jua Guntur sempat menginjakan kaki di pelataran rumah, sudah terdengar suara keras dari dalam. Agung beserta keluarganya dengan kejam menolak kehadiran bayi yang Guntur bawa.


"Bawa pergi dari sini, saya tidak peduli mau kalian apakan anak sialan itu?!" ucap seorang lelaki paruh baya yang berjalan di samping Agung.


"Baru lahir saja sudah membuat ibunya mati, apalagi kelak jika dia tumbuh besar. Saya tak mau anak terkutuk itu berada di keluarga saya! Bawa pergi dari sini?!" imbuh salah seorang lagi.


Agung sama sekali tak bergeming, bahkan melirik anaknya pun tidak. Bagaimana mungkin sebuah mitos yang belum terbukti kebenarannya, begitu mereka percaya hingga dengan tega mengusir dan tak mengakui bayi mungil yang tak berdosa.


Hampir semua orang yang berada di tempat itu menangis tersedu-sedu. Menyaksikan betapa malang nasib bayi mungil yang tak berdosa itu. Ingin sekali mereka membantu, namun mereka juga takut jika apa yang dikatakan keluarga Agung benar-benar terjadi.


"Tak ada manusia yang terlahir dengan membawa kesialan, setiap manusia itu terlahir suci. Istigfar, Pak ... apa kalian gak takut sama murka Gunti Allah karena memperlakukan bayi tak berdosa ini dengan begitu kejam?!" ucap Aryo yang sedikit terpancing emosi.


"Pergi kalian dari sini, bawa jauh-jauh anak itu. Jangan pernah antarkan dia kemari lagi, karena keluarga kami sama sekali tak mau menerimanya," ucap salah seorang lelaki paruh baya yang begitu mirip dengan Indah.


Guntur benar-benar tak habis pikir dengan pola pikir orang-orang itu, yang menurutnya terlalu berlebihan. Kebenaran tentang 'bahu laweyan' memang masih selalu menjadi perdebatan, benar atau tidaknya tentang kutukan itu, tidak sepantasnya mereka memperlakukan bayi yang tak berdosa ini dengan begitu kejam.

__ADS_1


"Setiap manusia memiliki garis takdir sendiri-sendiri, terlepas dari apa yang mereka katakan. Jika kelahiranmu saja membawa energi yang begitu besar, kelak kau juga akan membawa perubahan besar untuk orang-orang disekitarmu. Aku akan membantu mengarahkanmu ke arah yang positif. Semoga kau mampu bertahan menghadapi terjalnya hidupmu nanti, Nak!" bisik Guntur pada bayi mungil itu, sembari melangkahkan kaki membawa pergi anak itu menjauh dari keluarganya yang begitu kejam dan tak berperasaan.


Bersambung ....


__ADS_2