Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab.53 Penghuni Hutan


__ADS_3

Gemuruh langit malam terdengar menggelegar. Ditemani semilir angin dingin yang berhembus kencang dari arah hutan. Menciptakan suasana yang lebih suram dari malam-malam biasanya.


Kabut tipis terlihat menghalangi pandangan. Lampu-lampu yang menyala di sepanjang jalan desa seolah terlihat samar, hingga tak ada satupun warga yang sudi untuk sekedar keluar dari dalam rumah.


Suara burung kedasih terdengar mengalun berulang-ulang. Terbang bebas mengitari atas atap rumah-rumah warga, menebar ketakutan pada setiap insan yang mendengarnya.


Heru dan Jagad masih terus berdzikir di dalam kamar masing-masing. Nawang tertidur diatas pangkuan Handayani yang juga terlihat terus memutar tasbih, mengagungkan doa-doa pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mengharap perlindungan dan keselamatan dari segala hal buruk yang mungkin saja terjadi.


Aryo terlihat begitu gelisah. Ia duduk dekat dengan jendela kaca yang menghadap langsung ke arah hutan. Sesekali ia mengintip keluar melalui celah gorden yang sedikit tersingkap. Bibirnya terus berkomat-kamit melantunkan sholawat dan doa, berharap semua akan baik-baik saja.


Malam semakin larut, jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Listrik tiba-tiba saja padam, membuat seluruh desa berubah menjadi gelap gulita. Menciptakan suasana mencekam yang jauh lebih terasa dari sebelumnya.


Jagad beranjak pergi meninggalkan kamarnya untuk menyalakan genset. Berbekal senter kecil, ia berjalan seorang diri menuju gudang yang terletak di belakang rumah.


"Mas, perlu aku temani?" tanya Heru yang ikut keluar dari kamarnya.


"Ayok!"


Tak menunggu lama, suara gemuruh genset telah terdengar, lampu-lampu yang tadinya padam kini telah kembali terang. Meskipun mereka harus siap mendengarkan suara bising itu hingga aliran listrik hidup kembali.


Nawang terbangun dari tidur lelapnya. Ia hampir saja menangis, beruntung Handayani segera menggendongnya kembali, hingga bayi itu tak melanjutkan tangisnya.


Suara dering telepon terdengar begitu nyaring dari kamar Jagad. Ia segera mempercepat langkahnya untuk melihat siapa yang menelpon semalam ini. Meninggalkan Heru yang sedang mengunci pintu belakang.


Tertera nama 'Guntur' pada ponselnya. Ia pun segera mengangkat telepon dari temannya itu.


"Hallo, assalamu'alaikum!" sapa Guntur.


"Wa'alaikumsalam, Gun. Kenapa malam-malam telepon?" tanya Jagad.


"Nawang gimana, Mas? Nangis ndak? Aku belum bisa balik, sekalian akad minggu depan baru  pulang kesana." Guntur terdengar cukup mengkhawatirkan anak angkatnya.


"Nawang aman ada Ibuk. Langsung akad minggu depan? Cepet banget?" balas Jagad sembari berjalan menyusul ke kamar Guntur. Kamar dimana Nawang dan Handayani berada.

__ADS_1


"Iya, Mas. Wong udah sama-sama siap, gak baik ditunda terlalu lama, hehehehe ... " balas Guntur yang terdengar begitu bahagia.


"Halah bilang aja kalau kamu yang ngotot karena udah gak sabar! Tahu aku isi otakmu itu, hahaha ... " Jagad tak segan-segan untuk menggoda Guntur. Ia alihkan sambungan telepon menjadi panggilan video, terlihat wajah sumringah Guntur yang tengah berada di rumah mendiang kakeknya.


"Hahaha ... ya ndak papa toh, Mas. Aku kan juga masih normal," ucap Guntur diiringi gelak tawa bahagia. "Mana putri cantikku?" lanjutnya.


"Nih, baru aja kebangun gegara denger suara genset. Untung gak nangis," balas Jagad sembari memperlihatkan Nawang yang tengah berada di gendongan Handayani.


"Gimana, jadi nikah?" tanya Handayani.


"Insyaallah minggu depan, Buk. Minta doa restunya, semoga semua berjalan lancar tanpa kendala, nanti Ibuk sama Pakde kesini, ya?" pinta Guntur.


"Insyaallah, kalau tidak ada halangan Ibuk kesana ya, Le. Ibuk akan selalu mendoakan yang terbaik buat kamu dan calon istrimu." Handayani terlihat begitu bahagia, senyumnya merekah mendengar kabar bahagia dari Guntur.


"Makasih njih, Buk. Guntur minta maaf karena harus merepotkan Ibuk untuk merawat Nawang selama Guntur pergi."


"Ndak papa toh, Le. Ibuk malah seneng tiba-tiba dapat cucu secantik ini. Nanti kalau sudah nikah, tinggalnya disini saja. Biar ibuk bisa lihat Nawang tiap hari, nungguin cucu dari Jagad kelamaan!" sindir Handayani pada anak semata wayangnya.


"Lah, aku diam kok ya masih kena!" protes Jagad.


"Hahahha ... iya Buk. Waktu itu aku sudah bahas sama Pakde untuk masalah rumah. Rencananya Guntur akan bangun rumah disamping rumah Ibuk nanti," jelas Guntur.


"Loh, kata bapak tanahnya dijual?" tanya Handayani sembari melirik tajam ke arah Aryo.


"Iya ... yang beli Guntur, Buk!" ucap Aryo diiringi senyum simpulnya.


"Owalah, ya sudah. Seneng ibuk dengernya."


Ditengah keseruan obrolan mereka, tiba-tiba saja terdengar suara auman samar dari arah hutan. Diikuti hembusan angin yang cukup kencang hingga membuat beberapa pohon di sekitar desa tumbang. Hewan-hewan malam terbang berhamburan, seolah ketakutan oleh sesuatu yang tengah berada di dalam hutan sana.


"Kenapa, Mas?" tanya Heru yang melihat ekspresi takut Handayani dan Jagad.


Belum sempat menjawab, tiba-tiba saja Nawang menangis histeris. Hingga membuat seisi rumah kembali panik. Heru segera menggantikan Handayani untuk menenangkan bayi mungil itu. Dengan membawa sarung yang sering Guntur gunakan untuk beribadah, Heru balutkan ke tubuh Nawang sembari menimang-nimang agar tangisnya segera terhenti. Untaian doa terdengar mengalun merdu dari bibirnya, dan ajaibnya Nawang benar-benar terdiam.

__ADS_1


Guntur terlihat begitu panik, Jagad pun akhirnya menceritakan perihal apa yang tengah terjadi di desanya.


"Apa aku kembali malam ini juga?" tanya Guntur.


"Jangan aneh-aneh. Masalah disini biar kita yang urus. Kamu bantu doa dari sana saja, Gun!" tolak Jagad.


"Ya sudah, kalau ada apa-apa langsung kabari, Mas."


"Iya!" Jagad segera mengakhiri panggilan videonya dengan Guntur. Ia bergegas menuju ruang pusaka bersama Aryo.


"Pak, sebenarnya ada apa di hutan sana?" tanya Jagad yang penasaran.


"Kata simbahmu, ditengah hutan sana ada satu tempat yang merupakan gerbang antar dua dimensi. Gerbang itu tak pernah tertutup sempurna, hingga orang jaman dulu melarang siapapun masuk terlalu dalam ke tengah hutan. Katanya dulu pernah terjadi teror besar-besaran akibat salah satu iblis berhasil keluar dari hutan itu bersama seorang manusia yang sengaja membangkitkannya. Banyak manusia yang tiba-tiba bertingkah aneh dan masuk kedalam hutan. Kabarnya setelah itu mereka tak pernah kembali. Saat beberapa pendekar dan kyai dikirim untuk mencari kesana, mereka hanya menemukan sisa-sisa genangan darah dan tulang belulang mereka. Beberapa bagian tubuh yang masih tersisa, membuat orang-orang yang berada disana bergidik ngeri. Lantaran bentuk lukanya yang seolah terkoyak oleh binatang yang sangat dan buas. Mereka bahkan menemukan begitu banyak bulu-bulu hitam tajam berserakan di lokasi ditemukannya tulang belulang para warga yang jadi korban," jelas Aryo.


"Kenapa itu bisa terulang sekarang?" Jagad terlihat begitu penasaran dengan sesuatu yang ada di dalam hutan itu.


"Kita coba cari tahu, biar Heru yang menjaga Ibuk dan Nawang disini!" ajak Aryo pada Jagad.


Suasana malam semakin terasa mencekam. Gemuruh langit juga semakin menggema. Bak genderang perang yang tertabuh riuh. Menyeruakkan ketakutan bagi setiap makhluk yang mendengarkannya.


Heru mengintip keluar dari celah gorden jendela. Matanya membelalak lebar, tatkala melihat begitu banyak dedemit melayang-layang keluar dari hutan, menuju perkampungan warga. Seolah terusir oleh sesuatu yang jauh lebih kuat dan menakutkan di dalam sana.


Nawang ikut menatap tajam keluar jendela sejenak. Bayi mungil itu seolah tahu tentang sesuatu. Tangisnya terhenti, berganti tatapan penuh arti pada Heru yang tengah menggendongnya.


Terlihat kabut tebal mulai mengitari Klinik. Semakin lama semakin tak lagi terdengar suara-suara rancau dari entitas tak terlihat yang berlalu lalang. Seolah menjadi perisai, hingga mencekamnya malam tak lagi terasa di dalam rumah Jagad.


Nawang tertawa terbahak-bahak. Netranya kembali tertuju keluar jendela yang hanya menampilkan gelap.


Seketika tanah bergetar cukup kuat. Heru membawa lagi Nawang ke dalam kamar dan bersembunyi di bawah nakas di kamar Guntur. Handayani dengan panik menyusul suami dan anaknya ke ruang pusaka.


Terlihat Aryo dan Jagad tengah duduk bersila dengan pusaka yang menempel tepat di dada mereka. Handayani tahu, mereka pasti tengah melakukan Ragasukma.


"Gusti ... lindungi anak dan suamiku," doanya terdengar begitu lirih sembari menutup kembali pintu kamar tempat suami dan anaknya berada.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2