
Dibawah langit gelap berhias kilatan cahaya petir, beriramakan suara gemuruhnya yang terus terdengar. Guntur terkulai lemah beralaskan tanah hitam kering kerontang. Yang membentang luas tanpa ada satupun tanda-tanda kehidupan.
Angin menerpa bebas tubuh lemahnya membawa hawa dingin yang begitu menyiksa. Entah berapa lama ia berada di tempat ini. Waktu seolah berhenti di tempat ini, tak ada siang ataupun malam.
Sudah lelah ia mengitari tempat tak berujung ini. Mencari-cari jalan keluar yang bisa membawanya kembali pulang dan berkumpul lagi bersama keluarga juga teman-temannya.
Bayang-bayang Trisnya dan Nawang terus saja hadir. Hingga membuatnya tak mampu lagi menahan belenggu rindu yang teramat sangat. Ia menangis terisak seorang diri, menahan sakit dari luka-luka yang didera juga luka akibat rindu yang melanda.
Dalam keputusasaannya, Guntur mencoba mengucap mantra leluhurnya, yang belum pernah sama sekali ia rapalkan. Bahkan mendiang kakeknya pun belum pernah menggunakan mantra itu. Karena mantra itu hanya boleh diucap di saat-saat paling genting dan sudah tak ada jalan lain lagi.
"Getih ireng balung wesi
Agawa sumebyak
Wewangen sekar melatiĀ
Patih Drupala kula nimbali
Rawuh dumugi agawa pitulung
Sajroning jagad ingkang kulo nembahi"
Setelah mantra terucap dengan begitu lantang, tubuh Guntur kembali terkulai lemah. Energi yang ia keluarkan untuk mengucap mantra itu sangatlah besar, hingga membuatnya tak sanggup lagi untuk sekedar membuka mata.
Disaat ia masih terpejam, Suara desisan menyerupai suara ular semakin terdengar mendekat ke arahnya.
"Si-siapa kau?" ucap Guntur lirih.
"Sssttt ... diamlah! Atau mereka akan segera menemukanmu." Makhluk dengan wujud ular naga itu terus mendekat ke arah Guntur.
Guntur merangkak menjauh dari makhluk itu, wajahnya seolah panik dan tak siap jika harus menghadapinya.
"Tenanglah, aku mengenal mantra itu. Aku yakin, kau pasti adalah keturunan Patih Gendeng itu!" ucap ular itu menenangkan Guntur.
"Patih Gendeng?" Guntur masih terlihat bingung dengan ucapan makhluk di depannya.
"Ayo keluar dari sini, aku sudah lama tidak bertemu dengan Patih Gendeng itu. Naiklah ke atas tubuhku, mereka tak akan melihatmu selama kau bersamaku!" titah makhluk itu.
Guntur yang sudah sangat lelah dan hampir menyerah, memilih untuk mengikuti perintah. Ia naik ke atas tubuh makhluk itu dengan menelungkupkan tubuhnya diatas mustika hitam yang menempel tepat di atas kepala Naga. Dan ikut melesat pergi makhluk itu ke tempat antah berantah yang sama sekali belum pernah Guntur lihat sebelumnya.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu sampai terdampar di tempat ini?" tanya Ular Naga.
"Entahlah, aku hanya berusaha berlari dari kejaran mereka. Namun, aku malah jatuh terjerembab ke tempat ini. Sebenarnya tempat apa ini? Apa ini masih berada dalam wilayah Jagad lelembut? " tanya Guntur.
"Ini adalah tempat paling dasar di alam ini, tetaplah merunduk dan berpegang erat pada sisik di tubuhku. Aku akan membawamu ke tempatku berada," ujar Ular Naga itu.
"Tunggu! Kemana kau akan membawaku?" tanya Guntur.
"Sudah, turuti saja apa kataku!" balas sang Naga.
Makhluk itu melesat secepat kilat menembus pusaran angin yang membentuk sebuah lubang hitam menuju ke tempat yang paling dekat dengan alam manusia.
Ular Naga itu melewati kumpulan iblis yang tengah berlalu lalang tanpa sedikitpun rasa takut. Ia terus terbang melesat pergi menjauh dari kawasan istana. Istana batu yang berhiaskan kabut hitam tipis hingga menciptakan suasana temaram di sekelilingnya.
"Tunggu?! Darimana kau Naga?" tanya salah satu penghuni istana saat melihat sang Naga muncul dari dalam istana.
"Hahaha ... aku hanya sedang mencari informasi tentang kapan gerbang akan benar-benar terbuka. Apa aku melanggar aturan?" balas Naga itu pada makhluk yang menghentikannya.
Makhluk itu mulai mendekat dan mengendus tubuh Naga. Sontak hal itu membuat tubuh Guntur sedikit bergetar. Detak jantungnya menderu bak genderang perang. Takut jika makhluk itu berhasil menangkap dan mengurungnya kembali dalam kerangkeng api yang ada di dalam istana. Perlahan tangan makhluk itu mulai mendekat ke arah Guntur yang semakin dibuat ketakutan.
Naga yang menyadari, segera menangkis tangan makhluk itu dengan ekornya yang setajam pedang sembari berucap, "Apa yang akan kau perbuat pada tubuhku? Kau ingin mengambil mustika milikku?"
"Alhamdulillah, slamet!" ucap Guntur lega.
Ular Naga itu kembali melesat semakin jauh menuju puncak bukit. Ia memasuki sebuah gua sempit dan gelap, lalu ia turunkan dengan kasar tubuh Guntur yang sudah tak berdaya.
"Akkhhh ...!" pekik Guntur tatkala tubuhnya membentur bebatuan.
"Lemah!" ejek Naga sembari berlalu meninggalkan Guntur. Perlahan, wujudnya mulai berubah menjadi sosok menyerupai seorang kakek tua. Makhluk itu mengambil beberapa ramuan untuk ia berikan pada Guntur. Lelaki tua itu menggosokan cairan hitam dengan bebauan yang begitu menyengat, keseluruh tubuh Guntur.
Guntur merasakan sensasi hangat yang mengalir bersama desiran darah. Bersamaan dengan energi yang semakin menguat lebih dari sebelumnya.
"Ramuan apa ini?" tanya Guntur sembari menatap satu persatu anggota tubuhnya yang sudah kembali bugar.
"Kau tak perlu tahu. Sekarang pikirkan bagaimana caramu untuk keluar dari tempat ini. Aku hanya mampu menyembunyikanmu dari mereka, tapi aku tak mampu jika harus mengeluarkan kamu dari alam ini," jelas kakek tua itu.
"Ijinkan aku menenangkan diri sebentar, agar bisa memikirkan jalan keluarnya!" Guntur beranjak pergi menuju ke sebuah tumpukan batu yang berada di sudut gua. Ia memilih untuk bermeditasi sembari menenangkan hati juga pikirannya, agar bisa mengambil keputusan yang tepat.
Kakek tua itu hanya mengangguk dan memilih kembali ke wujud aslinya. Ia melingkarkan tubuhnya mengelilingi gua itu agar tak ada makhluk lain yang ikut masuk dan mengganggu konsentrasi Guntur.
__ADS_1
***
Di alam manusia, terlihat Trisnya telah berhasil menarik sukma pusaka Pakugeni dari sarangnya. Ia tengah berlatih untuk menguasai kekuatan yang begitu besar dari pedang itu. Di dampingi oleh Aryo dan juga Nyi Kinasih. Di sebuah pendopo bekas padepokan Aryo dulu.
"Setelah kau berhasil mengendalikan pusaka ini, kau harus bersiap melepasku, Trisnya!" ucap Nyi Kinasih pada Trisnya yang tengah berusaha mengendalikan energi pedang itu.
"Apa? Kenapa, Nyi?" Trisnya terlihat begitu terkejut.
"Karena tugasku adalah menjaganya sampai dia berada di tangan kuncen selanjutnya! Persiapkan dirimu, Trisnya." Nyi Kinasih mengusap lembut pipi Trisnya yang mulai basah akibat air matanya yang mengalir deras.
Tanpa mereka sadari, Jagad telah berdiri tepat di belakang mereka. Ia terdiam membisu mendengar kenyataan bahwa ia akan kembali dipisahkan dari kekasihnya oleh takdir yang begitu kejam.
"Kenapa cuma diam disitu, Le? Mana makanannya?" tegur Aryo yang tengah berjalan ke arah Trisnya.
Sontak Trisnya dan Nyi Kinasih segera menoleh ke arah Jagad yang masih mematung.
"Ini!" ucap Jagad sembari mengangkat 2 rantang makanan yang dimasak oleh ibunya.
"Gimana keadaan suamiku, Mas?" tanya Trisnya pada Jagad.
"Nah itu, aku dapat kabar dari Reni kalau dia sudah sadar tadi malam. Dia gak berani langsung hubungi kamu takut ganggu latihan. Selesai latihan kita kesana!" ucap Jagad.
"Alhamdulillah!" ucap Trisnya seraya mengusap pipinya yang kembali basah oleh air mata.
Seusai latihan Trisnya segera bersiap untuk berangkat mengunjungi sang suami ke Rumah Sakit bersama Jagad. Sejak kepulangannya dari pertapaan seminggu yang lalu, ia memang belum sempat pulang ke rumah Baskoro dikarenakan dia masih harus memulihkan energinya juga berlatih mengendalikan diri. Agar kekuatan pusaka yang tertanam dalam sukmanya tidak berbalik mengendalikannya.
Baru saja mereka hendak berangkat, terlihat mobil Guntur berhenti tepat di pelataran rumah. Menampilkan sosok yang tengah tersenyum manis ke arah Trisnya dari dalam mobil.
"Mas?" teriak Trisnya dengan mata berbinar dan senyum yang merekah.
Guntur keluar dari dalam mobil dan segera memeluk erat tubuh Trisnya. Sembari memberikan kecupan hangat yang begitu lama pada kening sang istri.
Disaat Trisnya larut dalam suasana haru, Jagad justru merasakan hal yang sangat berbeda. Samar ia melihat Guntur menyunggingkan senyuman licik tatkala Trisnya hanyut dalam dekapannya. Namun hanya sekejap, lelaki itu langsung berubah manis saat Trisnya melepaskan pelukan.
"Mas!" sapa Guntur sembari melempar senyum ramah dan mengangguk ke arah Jagad yang masih duduk santai di atas motor.
"Diancok?! Kamu bukan Guntur! Lepaskan Trisnya?!" Jagad reflek menarik tangan Trisnya agar menjauh dari Guntur.
"Apa maksudmu, Mas?" protes Guntur yang terlihat sangat marah.
__ADS_1
Bersambung ....