
Suara deru kendaraan yang Aryo kendarai memecah keheningan malam. Ia lajukan kendaraan legendnya itu menembus gelap dan sunyinya jalan yang kanan kirinya merupakan hutan belantara.
"Pak, apa Handayani gak apa-apa Jagad ikut kita?" tanya Aryo pada sang ayah.
"Ya, aslinya ndak boleh. Tapi karena bapak sama Jagad maksa, akhirnya boleh juga," jelas mbah Kromo.
"Aku cuma khawatir pak, dia sekarang sendirian gak ada yang jaga," lanjut Aryo.
"Insyaallah aman pakdhe! Udah ada yang jagain kok," timpal Jagad.
"Maksudnya?" ucap Aryo meminta penjelasan lebih lanjut dari Jagad.
"Aku ninggalin sesuatu yang insyaallah bisa jagain ibuk dirumah," lanjut Jagad.
"Kamu sudah berani berkomunikasi dengan mereka?" tanya mbah Kromo.
"Masih rada takut sih mbah, tapi alhamdullillah sudah mulai terbiasa dengan kehadiran mereka. Mereka juga gak pernah aneh-aneh, cuma jagain sama ngikutin aku aja," jelas Jagad.
Perjalanan menuju rumah mbah Kromo memang cukup jauh. Kampungnya terletak jauh di dalam hutan. Beruntungnya, sudah ada jalur utama yang bisa dilalui kendaraan roda 4, meskipun hanya berupa bebatuan yang ditata.
Gregggg....
Mobil berhenti tepat di depan rumah kayu dengan halaman yang begitu luas. Tampak pohon yang begitu besar berdiri kokoh di samping rumah itu.
"Loh, mbah! Rumah mbah buyut sudah gak ada?" tanya Jagad.
"Iya, sudah dibongkar. Sudah ndak ada yang nempatin daripada kosong mendingan dijual aja toh, lumayan laku mahal," jelas mbah Kromo.
"Kamu masih ingat rumah ayahmu?" tanya Aryo.
"Hehehe, udah lupa pakdhe. Jagad cuma ingat rumah mbah buyut yang ada rumah pohonnya," ujar Jagad.
Jagad memang sudah lama tak berkunjung ke kampung. Terakhir kali ia datang, ia masih berusia 8 tahun, dan itupun hanya ke rumah mendiang mbah buyut dan kakeknya. Ia jarang sekali mengunjungi rumah ayahnya, karena memang rumahnya kala itu dikontrakan kepada orang lain.
Suasana sunyi dan sepi menyambut kedatangan Jagad. Ia berjalan mendekati rumah pohon yang ternyata masih dalam keadaan yang sama seperti saat terakhir Jagad kunjungi beberapa tahun yang lalu.
"Heh, mau ngapain kamu? Udah malem, ayo masuk makan terus tidur!" ajak Aryo pada Jagad.
"Weh, Jagad! Ya Allah, gantenge!" sapa mbah Warsi, istri mbah Kromo sembari memeluk tubuh Jagad. "Gedenya persis ya sama Yudha," imbuhnya.
Mendengar perkataan simbahnya itu, hati Jagad sedikit tersentil. Ia kembali teringat akan sosok ayahnya, yang rela berkorban nyawa demi melindunginya. Netranya meremang dalam pelukan mbah Warsi.
"Mbok, jangan bahan Yudha lagi toh! Kasian Jagad, malah jadi sedih gitu!" ucap Aryo.
"Gak apa-apa pakdhe, Jagad udah ikhlas kok. Hanya saja, Jagad masih suka kangen sama ayah," jelas Jagad saat mbah Warsi melepas pelukannya.
"Maafkan mbah ya le! sudah jangan dipikirin lagi, ayo maem! Mbah tadi sudah masak banyak," ajak mbah Warsi sembari menuntun tangan Jagad ke meja makan.
"Lah Aryo gak dituntun juga mbok?" goda Aryo.
"Makane nikah, wes tuek kok isih minta dituntun simbok!" balas mbah Warsi meledek Aryo.
__ADS_1
Aryo memang belum memiliki pasangan. Di usianya yang sudah lebih dari 40 tahun, Aryo masih enggan mengakhiri masa lajangnya. Entah apa yang membuatnya betah menjadi perjaka tua, kedua orang tuanya pun sudah jengah menyuruhnya menikah.
Jagad hanya tersenyum menanggapi perdebatan antara ibu dan anak itu.
"Nanti, kamu kalau udah gede nikah ya le! Jangan kaya pakdhemu itu, jadi perjaka tua," ucap mbah Warsi pada Jagad.
Jagad hanya terdiam, teringat kembali ingatan masa lampau ketika ia menikah dengan Kinasih, istrinya. Begitu banyak kenangan indah yang terngiang dikepalanya, hingga pada akhirnya sebuah kenangan menyakitkan ikut terbersit dalam ingatannya.
Ingatan ketika Kinasih harus pergi meninggalkannya juga buah hatinya yang baru saja terlahir. Ingatan ketika sang istri tercinta, harus merelakan separuh sukmanya terserap kedalam pusaka Pakugeni setelah gagal mengemban tugasnya. Dan ingatan ketika, ia harus menelan pahitnya kesepian dan kerinduan tanpa kehadiran belahan jiwanya yang telah pergi. Hingga akhirnya ia menutup mata dipangkuan Kinasih yang kala itu telah menjadi jin penjaga pusaka Pakugeni. Itulah pertama dan terakhir kalinya Joko Manggala bertemu dengan sang istri setelah Kinasih meninggal dan sukmanya terserap ke dalam pusaka.
Seusai ritual makan malam selesai, Jagad segera masuk ke kamar yang telah Aryo siapkan untuknya. Kamarnya terletak paling ujung, berdampingan dengan pohon beringin besar samping rumah. Terlihat jelas rumah pohon yang bertengger diatas pohon beringin itu dari jendela kamar Jagad.
Krieeetttt....
Terdengar suara jendela yang terbuka ketika Jagad tengah khusyuk dengan sholatnya.
Brakkk....
Jendela itu terbuka dan menutup dengan sendirinya.
Jagad terus melanjutkan sholatnya tanpa mempedulikan suara-suara itu. Entah apa yang terjadi pada dirinya, semenjak kecelakaan itu Jagad seperti kehilangan 80% rasa takutnya. Ia seperti terbiasa berdampingan dengan hal-hal yang berhubungan dengan alam ghaib dan seisinya.
Selesai sholat, Jagad segera beranjak menghampiri jendela yang telah terbuka itu. Dinginnya hembusan angin malam terasa begitu menusuk tulang. Jagad pandangi gelapnya kebun samping rumah mbah Kromo, netranya seperti mencari-cari sesuatu.
"Kau kembali?" sebuah suara terdengar begitu pelan terbawa bersama hembusan angin.
"Kalian masih disini?" jawab Jagad sembari menatap ke arah rumah pohon.
Tanpa basa-basi Jagad langkahkan kakinya hendak keluar rumah.
Brakkk....
Terlihat sosok Ki Beruk Klawu menutup jendela keras-keras. Puluhan lelembut juga menghadang didepan pintu kamar Jagad.
"A..., ada apa? Aku hanya ingin bermain dengan teman masa kecilku," ujar Jagad sedikit menahan gugup.
"Mereka tidaklah sebaik yang kamu kira Jagad," ujar salah satu mahluk didepannya.
"Tidak, mereka baik! Mereka tak pernah sekalipun berbuat jahat. Aku sudah sering bermain dengan mereka, gak mungkin mereka jahat," protes Jagad.
"Kalau begitu, biarkan aku ikut menjagamu!" usul Ki Beruk Klawu.
"Ta..., tapi?" Jagad sedikit ragu.
"Iya atau tidak sama sekali?" ancam Ki Beruk Klawu.
"Ahh, baiklah!" Jagad pun pasrah dengan keputusan para penjaganya itu.
Ia berjalan keluar rumah dengan mengendap-endap. Karena, jika sampai mbah Kromo dan yang lain tahu, sudah pasti ia tak akan diijinkan. Apalagi mengingat ini sudah diatas jam 9 malam.
Ia menaiki tangga kayu yang telah usang dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Kraakkkk....
Brugghh....
Sialnya, batang kayu yang Jagad injak begitu rapuh. Ia jatuh tersungkur karena tak sempat berpegangan pada ranting pohon diatasnya.
"Jagad, Ya Allah Gusti! Awakmu napa menyang kene? Iki wes bengi, ngger!" teriak mbah Warsi sembari berlari kearah Jagad tergeletak kesakitan memegangi lututnya.
"Hayoh, penak toh? Wong udah malam suruh tidur kok, malah ngelayap mrene!" timpal Aryo yang juga berlari menghampiri Jagad.
Terlihat mbah Kromo hanya melihat dari bibir pintu sembari tertawa melihat Jagad.
Aryo segera memapah Jagad masuk ke dalam rumah. Lutut kanannya tampak memerah dan sedikit bengkak, hingga membuat Jagad terus meringis kesakitan.
"Sudah, sekarang kamu tidur! Gak usah kelayapan keluar rumah, bahaya!" tegas Aryo pada Jagad.
"I..., iya pakdhe!" jawab Jagad sembari menahan malu.
Jagad akhirnya memilih untuk segera tidur agar tak terlalu merasakan sakit.
Ditengah keheningan malam, Jagad tampak tertidur dengan begitu gelisah. Peluhnya mengalir deras membasahi kening dan lehernya.
***
Hamparan savana luas tak terbatas menyambut penglihatan Jagad. Ia berjalan perlahan menuju ke sebuah cermin besar yang berada di tengah-tengah luasnya savana.
Ia pandangi bayangan di dalam cermin yang memantulkan bayangan seorang lelaki dewasa lengkap dengan pusakanya. Tak ada sepatah katapun terucap dari Jagad ataupun lelaki dalam cermin itu. Mereka hanya saling melempar senyuman dan anggukan kepala.
Perlahan tangan Jagad mulai menyentuh permukaan kaca. Ia tempelkan telapak tangannya, dan diikuti oleh sosok lelaki dalam cermin.
Tubuh Jagad nampak bergetar hebat, urat-urat nadinya menyembul menghiasi kulit kuning langsatnya. Ingatan Jagad mulai berputar-putar. Layaknya memori yang secara tak masuk akal tertransfer ke dalam diri Jagad. Jagad mulai menghafal dan mengingat setiap ajian, mantra dan juga pusaka miliknya di kehidupan lampau. Jiwanya seakan menyatu dengan bayangan Ki Joko Manggala yang berada didalam cermin.
Krakkkk....
Kaca didepan Jagad hancur berkeping-keping. Jagad terpental cukup jauh bersama serpihan-serpihan kaca itu. Gelap! Jagad merasakan semua berubah menjadi gelap.
Mata Jagad terbuka lebar, ia spontan duduk dari tidurnya dengan nafas yang tak beraturan. Ia ambil handuk kecil disamping ranjangnya, ia usap wajah dan lehernya yang telah basah akibat keringat.
"Mimpi apa itu? Aneh sekali!" gumam Jagad sembari mencoba mengingat-ingat mimpinya tadi.
Terlihat jendela kamarnya kembali terbuka. Angin malam menerobos masuk begitu saja hingga membuatnya sedikit kedinginan.
Sosok perempuan berambut panjang menyeramkan tiba-tiba menampakan diri dihadapan Jagad yang hendak menutup jendelanya.
"Aaaakkkhhh...," teriak Jagad spontan.
"Khe..., khe..., khe..., kamu datang lagi bocah,"
Sebuah cekikan memaksa Jagad untuk terseret mundur.
"To..., tol..., long!" rintih Jagad sembari mencoba melepaskan cekikan mahluk itu.
__ADS_1
Bersambung....