
Semburat sinar jingga telah terlihat dari ufuk timur. Terdengar riuh burung-burung yang berkicau ria menyambut terbitnya sang mentari pagi. Mengusir gelap dan dinginnya malam yang mulai menghilang.
Pagi-pagi sekali, seorang pemuda berjalan sempoyongan dari arah hutan. Dengan kaos dan celana yang sudah berlumur darah. Tanpa alas kaki ia terus berjalan menuju Klinik yang masih terlihat sepi.
Dengan sisa-sisa kesadaran yang ia miliki, ia sibak rerumputan dan dahan pepohonan yang menghalangi langkah kakinya. Sesekali netranya menatap ke langit yang temaram, tertutup rimbunnya pepohonan yang menjulang tinggi. Hatinya terus merintih, mengagungkan doa agar Tuhan menyelamatkannya kali ini. Sebelum akhirnya semua terlihat samar dan perlahan berubah gelap sepenuhnya. Ia jatuh tersungkur tak sadarkan diri tanpa seorangpun melihatnya.
Terdengar tangisan cukup keras dari Nawang yang tengah berada dalam gendongan Heru. Ada yang aneh dari bayi mungil itu, tangan dan tatapan matanya terus mengarah ke arah hutan. Seolah ingin menunjukan sesuatu, ia terus meronta dan menjerit tanpa henti. Semakin Heru melangkah mendekati hutan yang berada di samping Klinik, tangis Nawang semakin memudar.
"Kamu ngajak om ke hutan, mau cari apa, Cantik? Bapakmu lagi ngelamar ibu buat kamu, bukan di hutan sana!" tanya Heru pada Nawang yang terus saja meronta dan mengarahkan tangannya ke arah hutan.
"Nopo toh, Her?" (Kenapa sih, Her?) tanya Aryo yang melihat Heru kepayahan menenangkan Nawang.
"Niki loh, Pakde. Nawang nangis terus sambil nunjuk ke arah hutan. Aku bawa masuk malah makin kejer, tapi kalau ku ajak mendekat ke hutan dia lumayan tenang," jelas Heru.
Jagad menghampiri mereka ke halaman samping Klinik dengan membawa sebotol susu untuk Nawang.
"Biar aku cek kesana. Barangkali ada sesuatu yang pengen Nawang tunjukan," ujar Jagad. Ia segera berjalan menuju hutan dengan membawa parang untuk menebas dahan dan dedaunan yang menghalangi jalannya.
Hutan masih terlihat begitu gelap, lantaran cahaya sang mentari yang terhalang rimbunnya pepohonan. Jagad edarkan pandangannya ke segala arah, seiring langkahnya yang semakin jauh masuk ke dalam hutan.
"Bau darah," gumamnya.
Ia mencoba terus mengikuti instingnya. Mencari-cari sumber bebauan itu berasal. Hingga langkahnya terhentikan oleh sosok pemuda yang tengah tergeletak bersimbah darah di hadapannya. Darah segar masih mengalir dari luka sayat tak beraturan di lehernya.
Segera ia cek kondisi pemuda itu. "Alhamdulillah, masih hidup!" ucapnya.
Tanpa menunggu lama, Jagad angkat pemuda itu keluar dari dalam hutan. Membawanya menuju Klinik agar segera mendapat pertolongan.
"Loh! Siapa, Mas?" tanya Heru tatkala Jagad kembali.
"Gak tau, sepertinya bukan orang sini!" jawab Jagad sembari berlalu.
__ADS_1
"Pakde, tolong bawa Nawang dulu. Aku mau bantuin Mas Jagad," pinta Heru sembari menyerahkan Nawang pada Aryo.
"Iya sini!"
Setelah kembalinya Jagad dengan pemuda yang dibawanya, tangis Nawang pun berhenti. Ia meminum susunya dengan begitu cepat dan hingga tandas tak tersisa.
"Wah ... cepet banget habisnya? Habis olah raga sama Om Heru, capek ya?" timang Aryo pada Nawang yang perlahan mulai menutup mata dan tertidur dalam gendongannya.
Aryo membawa kembali masuk anak itu, lalu menidurkannya di dalam kamar Guntur. Entah kenapa, anak itu hanya akan tertidur pulas di kamar ayah angkatnya. Ia sama sekali tak mau tidur di tempat lain selama Guntur tak berada di dekatnya.
Aryo meninggalkan Nawang tidur seorang diri di dalam kamar dan segera menyusul Jagad ke ruang pemeriksaan. Dengan langkah sedikit berjingkat, agar tak mengganggu tidur bayi mungil itu.
Jagad obati luka-luka di sekujur tubuh sang pemuda, dibantu oleh Heru. Aryo melirik sekilas ke arah luka robekan di beberapa bagian yang tengah dijahit oleh Jagad.
"Seperti cakaran binatang?" tanya Heran Aryo pada Jagad.
"Iya, Pak. Tapi kenapa bisa sebesar dan sedalam ini? Sepertinya bukan akibat sembarang binatang!" Jagad terus fokus menutup luka-luka itu.
"Perasaan bapak ndak enak, Le. Semoga saja tidak akan ada hal buruk yang berasal dari hutan sana!" ujar Aryo.
"Iya ... oh ya, Nawang tidur. Bapak mau ke sawah dulu, ya?" pamit Aryo.
"Njih, Pak. Jangan siang-siang baliknya, panas!"
***
Hingga siang menjelang, pemuda yang belum diketahui identitasnya itu masih juga terpejam. Terlihat dua petugas dari kepolisian yang Jagad hubungi telah datang memeriksa ke tempat ditemukannya pemuda itu.
Pihak kepolisian segera memindahkan pemuda itu menuju Rumah Sakit besar tak jauh dari sana. Untuk dilakukan pemeriksaan lebih jauh.
Beberapa warga dan perangkat desa juga ikut memenuhi pelataran Klinik Jagad. Mereka saling berbisik dan menerka bebas, tentang apa yang terjadi di dalam hutan sana.
__ADS_1
Suasana terik kala siang itu terasa berbeda. Hembusan angin yang berhembus dari arah hutan, membawa aura gelap yang sulit untuk dijelaskan. Aroma anyir darah begitu terasa oleh Jagad, membuatnya semakin penasaran akan hal apa yang tengah terjadi di dalam hutan.
Sepeninggal pemuda itu, Jagad kembali memeriksa ruang tempat ia melakukan pengobatan tadi. Ia rasakan aura berbeda dari sebelumnya.
Jagad edarkan pandangannya menelisik hingga ke sudut-sudut ruang. Hingga terlihatlah sosok yang tengah meringkuk tengah menangis terisak di salah satu sudut kamar.
"Ngapain kamu disini?" tanya Jagad pada sosok yang ia lihat.
Sosok itu mengangkat wajah pucatnya, menatap nanar ke arah Jagad yang masih berada di bibir pintu.
"Tolong!" ucapnya lirih.
Jagad sedikit terheran melihat sosok di depannya. Ia begitu mirip dengan sang pemuda yang telah dibawa pergi beberapa saat yang lalu.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa keluar dari hutan dengan kondisi seperti itu?" tanya Jagad sembari berjalan mendekat.
"Tolong ... teman-teman saya masih disana. Tolong mereka!" ucap pemuda itu sebelum akhirnya menghilang sembari meringis kesakitan memegangi dadanya.
Jagad segera keluar menuju ruang kerjanya. Memeriksa pasien-pasien yang datang ke Klinik untuk berobat, hingga sore menjelang.
Angin dingin berhembus pelan dari arah hutan. Mengantar senja yang datang mengusir siang. Menyuguhkan sinar semburat cahaya terang dari ufuk barat. Dan perlahan, langit mulai sepenuhnya memerah menyelimuti hari yang kian temaram.
Nawang kembali menangis histeris dalam gendongan Handayani. Tatapannya terus terarah ke dalam gelapnya hutan. Hingga membuat Handayani tak henti-hentinya berdzikir dan melantunkan doa-doa untuk menenangkannya.
Jagad dan Heru saling menatap, tatkala kabut tipis mulai terlihat mengelilingi kawasan hutan. Mereka berdua sama-sama merasakan adanya energi yang begitu besar tengah mencoba keluar dari tempat itu.
"Apa sebelumnya pernah terjadi hal-hal aneh di kampung ini, Mas?" tanya Heru.
"Entahlah, Bapak tak pernah bercerita soal hutan itu. Hanya saja sejak kecil sudah ada aturan tak tertulis yang melarang siapapun masuk terlalu dalam kesana," jawab Jagad.
Mereka berdua terus memperhatikan keadaan hutan dari halaman samping Klinik. Hingga sebuah suara mengejutkan mereka dari arah belakang.
__ADS_1
"Semua, masuk ke rumah! Jangan sampai ada yang keluar." Aryo terlihat begitu panik, ia menarik dan memaksa kedua anak lelakinya untuk segera masuk. "Tutup pintu dan jendela rapat-rapat!" titahnya.
Bersambung ....