Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab33. Mimpi Buruk Guntur


__ADS_3

Pagi hadir membawa secercah cahaya, menerobos di sela-sela rimbunnya dedaunan. Mengusir kabut, menghangatkan setiap makhluk yang masih berselimutkan dinginnya embun.


Anggun membuka tirai jendela kamar, membiarkan sinar terang sang mentari menerobos masuk membangunkan Fahmi yang masih terpejam.


"Bangun, Le. Sudah saatnya sarapan," ucap Anggun membangunkan putranya.


Menyadari kehadiran sang ibu, Fahmi yang masih enggan untuk membuka mata, memilih memeluk tubuh sang ibunda. Memaksanya ikut masuk ke dalam selimut, layaknya seorang anak kecil yang ingin dimanja-manja ibunya.


"Fahmi ... udah, ayo bangun! Ibuk mau ambilin kamu makan dulu," protes Anggun sembari mencoba melepaskan diri dari Fahmi.


"Fahmi masih pengen peluk Ibuk," ujar Fahmi dengan suara bergetar.


"Udah tua, manjanya ngalah-ngalahin anak Tk," balas Anggun sembari menepuk-nepuk bahu Fahmi.


"Ibuk ... ngapain, sih?" tanya Reni yang tiba-tiba masuk ke kamar Fahmi.


"Ini ibukku! Ngapain panggil-panggil," goda Fahmi pada Reni.


"Enak aja, ibuku juga tau, Mas!" balas Reni sembari ikut memeluk ibunya.


Sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, Fahmi dan Reni memang selalu berebut ibu dan ayahnya. Sering kali Reni sampai menangis hanya karena para tetangga memanggil ibunya dengan nama 'Bu Fahmi' bukan 'Bu Reni'.


"Kamu anak hasil nemu, Ren." Fahmi masih terus menerus menggoda adiknya.


"Enak aja, enggak 'kan, Mah?" Reni mencari pembelaan dari sang ibu, sembari berusaha mendorong Fahmi agar melepas pelukannya dari Anggun.


"Kalian semua anak hasil nemu! Jadi, lepaskan saya sekarang," sentak sang ibu yang sudah jengah mendengar pertikaian anak-anaknya yang tak akan pernah selesai.


Fahmi dan Reni merengut mendengar ucapan sang ibunda. Mereka melepas pelukan bersamaan, membiarkan sang ibu pergi begitu saja keluar kamar.


"Mas, sih ... tuh Ibuk marah, 'kan!" gerutu Reni pada sang kakak.


"Hahaha ... " Fahmi tertawa begitu lepas melihat ekspresi cemberut Reni yang selalu dia anggap lucu.


Reni terdiam, rasanya begitu aneh saat mendengar tawa lepas Fahmi setelah sekian lama menghilang tergantikan rintih tangis kesakitan. Netranya menatap nanar ke arah sang kakak, tanpa disadari buliran bening mulai luruh tak terbendung membasahi pipinya.


"Mas ... jangan sakit lagi!" ucap Reni sembari meraih tubuh kurus Fahmi ke dalam pelukannya.


Fahmi memeluk erat tubuh Reni yang bergetar karena isak tangisnya. Netranya ikut meremang, perasaan bahagia begitu menguasai hatinya pagi ini. "Terima kasih Ya Allah, karena masih memberikanku kesempatan untuk sembuh kembali," doa Fahmi dalam batinnya.


***


Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, Fahmi duduk diatas kursi roda di temani sang ayah yang baru pulang setelah semalam pergi mencari Guntur. Mereka menikmati hangatnya suasana pagi di halaman belakang rumah.


Guntur berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Menepuk pelan bahu Fahmi yang masih begitu lemah.


"Mas ...!" sapa Fahmi.

__ADS_1


"Masih ada yang sakit?" tanya Guntur.


"Masih sakit semua, Mas," jawab Fahmi diiringi senyum lepasnya.


"Sabar! Kita obati pelan-pelan, gak usah kemana-mana dulu sampai benar-benar pulih," ujar Guntur.


"Suwun ya, Mas!" (Makasih ya, Mas!) ujar Fahmi sembari menatap lekat pada wajah sayu kakak sepupunya. "Mana Mbak Trisnya?" tanya Fahmi saat melihat Guntur datang seorang diri.


"Nyiapin jamu buat kamu," jawab Guntur sembari merebahkan dirinya di kursi kayu samping Baskoro.


"Tadi Mas Aryo telpon, katanya Jagad udah sadar. Kamu gak nyusul kesana, Gun?" tanya Baskoro.


"Nanti, Lik. Guntur masih ngantuk," ucap Guntur dengan mata yang terpejam.


"Yah, Fahmi juga pengen di kamar aja. Udah capek duduk," keluh Fahmi pada sang ayah.


"Ya sudah, ayo ke kamar!" Baskoro mendorong kursi roda Fahmi masuk meninggalkan Guntur seorang diri di sana.


Reni menatap lekat pada Guntur dari jendela dapur. Entah kenapa, Reni merasakan firasat buruk tentang kakak sepupunya itu. "Astagfirullahaladzim ... mikirin apa toh aku ini? Semoga ndak ada apa-apa sama Mas Gun," batin Reni.


"Nopo to, Ren?" (Kenapa sih, Ren?) tanya Trisnya yang melihat ekspresi was-was Reni.


"Uhm ... ndak papa kok, Mbak!" kilah Reni, ia pun berlalu pergi menjauhi jendela.


Trisnya yang penasaran, ikut mengintip ke arah yang sedari tadi Reni lihat. "Mas Gun?" gumamnya dalam hati.


"Bulik, Paklik ... Trisnya pamit dulu, njih," ucapnya sembari menghampiri Baskoro yang tengah bercengkrama dengan istrinya.


"Loh, kenapa buru-buru. Kamu gak capek, Nduk?" tanya Anggun.


"Maaf bulik, Trisnya masih ada beberapa pekerjaan. Nanti kalau senggang, Trisnya main lagi kesini," ujar Trisnya.


"Ya sudah, biar diantar Guntur ya!" ucap Baskoro.


"Ndak usah, Lik. Trisnya kan bawa motor sendiri. Lagian kasihan juga Mas Gun," tolak Trisnya. Dia tak tega jika harus membangunkan Guntur yang terlihat begitu kelelahan.


"Ya sudah, hati-hati kalau begitu. Sering-sering main kesini, ya!" ucap Anggun.


"Njih, Bulik. Assalamu'alaikum," pamit Trisnya.


"Wa'alaikumsalam."


Trisnya segera berlalu pergi meninggalkan rumah mewah milik keluarga Guntur. Melanjutkan lelaku untuk membantu orang-orang yang membutuhkan bantuannya.


Guntur masih berada di halaman belakang seorang diri. Peluh mengalir deras membasahi wajahnya yang terlihat gelisah. 


Dalam mimpinya, ia melihat dirinya dalam wujud yang berbeda. Aura jahat terpancar jelas dari sorot matanya yang begitu tajam. Dengan bengis ia menyerang seseorang yang sangat ia kenal.

__ADS_1


Seseorang itu adalah, Heru. Heru terkapar lemah bersimbah darah di hadapan Guntur yang sudah bersiap menghunuskan sebilah keris ke arahnya.


Tepat setelah Guntur mengayunkan kerisnya, Trisnya berdiri menghadang dihadapan Guntur. Sehingga keris itu mendarat tepat di dada Trisnya, menghunus dalam menembus hingga ke organ-organ di dalamnya.


Trisnya jatuh terduduk dengan darah segar keluar dari mulut dan hidungnya. Buliran bening mengalir deras dari pelupuk netranya yang telah sembab dan memerah.


Entah setan apa yang sedang merasuki Guntur, hingga membuatnya dengan keji mencabut keris itu dari dada Trisnya. Membuatnya terkapar lemah bersimbah darah hingga menutup mata.


"Tidak ... Trisnya ... Trisnya ... maafkan, Mas. Tidak ...!" rancau Guntur dalam tidurnya.


"Mas! Bangun, Mas. Hei ...." Reni berusaha membangunkan Guntur yang masih jua meracau tak jelas.


"Trisnya ...!" teriak Guntur sembari membelalakan matanya lebar-lebar. Nafasnya terengah-engah seperti habis di kejar sesuatu.


"Istigfar, Mas. Ini minum dulu," ucap Reni sembari memberikan secangkir kopi buatannya untuk Guntur.


Guntur segera bangkit dari tidurnya. Ia duduk bersandar sembari mencoba mengatur nafasnya kembali.


"Astagfirullahaladzim ...." Guntur mengambil secangkir kopi dari tangan Reni. Ia seruput kopi yang terlihat sudah tak panas itu perlahan hingga habis tak tersisa.


"Mimpi apa to, Mas?" tanya Reni.


"Gak ... bukan apa-apa kok. Cuma karena kecapekan aja kali. Jadi mimpinya rada aneh," kilah Guntur.


"Mas, semalam dari mana?" tanya Reni.


"Uhm ... cuma nyari angin!" Guntur berusaha menghindar dari tatapan tajam Reni yang terlihat curiga.


"Ngapusi!" (Bohong!) ucap Reni. "Kenapa firasatku buruk banget tiap lihat kamu, Mas? Jujur aja lah sama Reni, gak tenang nih aku!" Reni terus membujuk Guntur agar mau berbicara jujur padanya.


"Ngeyel banget sih," protes Guntur.


"Akan ada sesuatu yang lebih buruk dari kejadian Mas Fahmi. Aku gak tau perasaan ini benar atau tidak, tapi aku harap Mas Gun lebih berhati-hati lagi. Karena kali ini firasatku hanya tertuju pada Mas Gun dan Mbak Trisnya," jelas Reni tanpa melihat ke arah Guntur.


"Ren-" Guntur mencoba melihat keseriusan dari ekspresi wajah Reni.


"Aku serius, Mas. Sama seperti puluhan tahun lalu, saat pertama kali Mas Gun dibawa Simbah ke rumah ini. Aku merasakan bahaya yang sama besarnya akan menimpamu, Mas." Reni menatap tajam ke arah Guntur yang masih terdiam.


"A-aku kembali ke tempat itu, Ren. Aku khilaf, aku kembali melakukan ritual untuk memanggil makhluk terkutuk itu," jelas Guntur dengan perasaan yang mulai tak bersahabat.


"Gila kamu, Mas! Memanggil makhluk itu sama saja menyerahkan diri. Sudah berapa kali kamu hampir mati karena ragamu di incar oleh makhluk itu, hah?" rutuk Reni yang terlihat begitu marah.


"Aku butuh dia untuk menemukan siapa dalang dari segala penderitaan Fahmi, Ren! Aku sadar, aku salah. Ritual itu juga gagal, harusnya makhluk itu belum bangkit," kilah Guntur.


"Nggak, Mas. Dia sudah ada di sekitarmu. Dia sedang mengawasimu dari suatu tempat, sewaktu-waktu dia bisa saja mempengaruhi dan menguasai ragamu sepenuhnya. Berhati-hatilah dengan emosimu, Mas. Kendalikan hatimu, kumohon," ucap Reni, "jangan ada lagi dendam. Mas juga tahu, dendam yang begitu kuat hanya akan mengundang energi jahat mendekatimu lagi. Kumohon, demi keluarga kita, dan demi Mbak Trisnya juga."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2