Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa

Klinik Ghaib : 3 Pendekar Tanah Jawa
Bab72. Keputusan Guntur


__ADS_3

Denting suara pusaka yang saling beradu, gelegar langit malam hingga kilatan cahaya petir yang menyambar-nyambar, menciptakan suasana yang begitu mencekam. Trisnya terus melemparkan serangan ke arah Bagas tanpa henti.


Trisnya berlari secepat kilat, lalu mendaratkan tendangannya tepat di kepala Bagas hingga lelaki itu terlempar cukup keras. Tubuhnya terlihat mulai melemah setelah diserang habis-habisan oleh Trisnya. Sorot mata yang semula begitu gelap, perlahan mulai kembali normal. Wujudnya yang semula mengerikan, perlahan mulai kembali normal seiring dengan energinya yang mulai ikut menghilang. Rupanya Trisnya berhasil melemahkan energi jahat yang ada dalam diri Bagas.


"Brengsek?!" umpat Bagas sembari berusaha bangkit.


Belum sempat lelaki itu berdiri tegak, Trisnya kembali melemparkan serangan energi kearahnya hingga ia kembali terjatuh dan tak sadarkan diri.


Trisnya segera mendekat dan memastikan Bagas sudah dalam keadaan pingsan. Saat ia tengah terfokus pada Bagas, tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu menghunus punggungnya dari arah belakang.


"Trisnya menghindar!!" teriak Aryo dari kejauhan.


"Aaaakkkhhhh ...!" Trisnya memekik kesakitan saat merasakan energi dalam sukmanya diserap secara paksa.


Trisnya menoleh, menatap lekat ke arah sosok yang tengah melakukan hal itu padanya.


"Iblis sialan?!" rutuk Trisnya pada Iblis yang tengah bersemayam pada tubuh Guntur.


"Hahaha-" Belum sempat Iblis itu merampungkan  tawa liciknya, sebuah tendangan berhasil melemparnya menjauh dari Trisnya. Pusaka yang sebelumnya ia genggam kini telah terlepas dari genggaman.


"Dek, maaf Mas telat!" Sosok dengan wujud manusia kera raksasa mengangkat tubuh Trisnya yang mulai melemah lalu memeluknya.


Trisnya memeluk erat sosok yang telah menyelamatkannya. Netranya meremang, hatinya begitu bergemuruh. Ia luapkan segala rindunya dengan tangis bahagia tanpa bisa lagi berucap sepatah katapun. Kembalinya Guntur bak suntikan energi yang begitu besar baginya. Energinya seolah kembali pulih seperti sedia kala. Senyumnya merekah, disela deraian air mata.


"Apa Pusaka Pakugeni masih bersamamu?" tanya Guntur.


"Sebagian sudah terserap kedalam pusaka itu!" jawab Trisnya.


Guntur meletakan tubuh Trisnya diatas bahu besarnya. Lalu berlari menerjang makhluk yang berada dalam raga miliknya. Ia berusaha merebut pusaka yang sudah berhasil makhluk itu ambil.


Sialnya, langkah Guntur masih belum bisa mengimbangi kelihaian Iblis itu. Dalam sekejap Iblis itu berhasil memindahkan sukma Pusaka Pakugeni dari Pusaka Penyerap Energi ke dalam Pedang Pakugeni yang berlumur darah Trisnya.


Aryo melempar tombak Naga Emasnya kearah Pusaka yang tengah Iblis itu genggam. Hingga pusaka itu kembali terlepas. Sialnya, pedang itu justru terjatuh dan menancap pada bekas retakan yang sebelumnya telah menutup.


Iblis itu terdengar merapalkan mantra yang cukup panjang. Hingga membuat semua yang berada disana spontan menutup telinga akibat lengkingan energi yang terasa menusuk dari mantra itu. Mereka semua terlempar kembali ke dimensi manusia.


"Tidak! Pintu dari Jagad Lelembut tak boleh terbuka!" teriak Trisnya.


Kepulan asap hitam mulai menguar dari sela-sela retakan tanah. Aura negatif dan berbahaya terasa begitu kuat. Perlahan satu per satu makhluk dari dalam Jagad Lelembut mulai berhasil keluar dan berkumpul di belakang Iblis itu.


Dari kejauhan terlihat sosok Ular Naga dan Patih Drupala sudah bersiap membantu Guntur dan yang lain. Ular Naga itu melesat secepat kilat dan berhasil menghempas raga Guntur yang masih dikuasai oleh Iblis. Sehingga raga Guntur terlempar cukup jauh. Bersamaan dengan itu, Patih Drupala yang tengah bertengger diatas tubuh Ular Naga segera menyaut Pedang Pakugeni yang menancap di tanah.

__ADS_1


Akibat serangan mendadak dari Ular Naga, mantra yang sebelumnya Iblis itu rapalkan terhenti. Retakan yang semula terbuka, juga mulai menutup kembali. Tinggalah memikirkan bagaimana cara menyerap kembali para Iblis yang berhasil keluar.


Pertarungan kembali tak terelakan. Trisnya yang masih dalam keadaan lemah, memilih untuk memulihkan energinya terlebih dahulu sembari menunggu giliran untuk menggunakan pedang Pusaka Pakugeni.


Dari kejauhan terlihat sukma Jagad yang datang menyusul bersama Nyi Kinasih. Jagad melesat cepat sembari merubah wujudnya menjadi buto yang begitu menyeramkan dan menyusul Guntur ke medan pertempuran.


Nyi Kinasih melesat pergi ke arah Trisnya. Untuk membantu memulihkan energinya agar seimbang dengan kuatnya energi Pusaka Pakugeni.


"Diamlah, biar aku saja yang pulihkan!" ucap Nyi Kinasih pada Trisnya yang sudah terlihat begitu pucat.


"Baik Nyi!" balas Trisnya.


Guntur, Aryo dan Jagad masih terus berupaya melumpuhkan pasukan Iblis dari jagad Lelembut. Dibantu oleh Patih Drupala dan juga Ular Naga.


Pasukan Iblis itu seolah tak mengenal rasa lelah. Energi mereka sangatlah kuat, hingga membuat pihak lawan kewalahan. Hanya Iblis yang bersemayam pada raga Guntur yang terlihat paling lemah. Mungkin karena ia sudah cukup lama berada di alam manusia.


Jagad dan kawan-kawannya sedari tadi hanya melayangkan serangan-serangan yang tak berarti ke arah Iblis yang menggunakan tubuh Guntur. Mereka tak ingin raga Guntur terluka parah. Itu akan sangat berbahaya untuk sukma Guntur sendiri.


Namun, sepertinya hal itu mulai disadari oleh para iblis itu. Mereka berbondong-bondong masuk ke dalam raga Guntur dan menyatukan energi di dalamnya.


"Ba-bagaimana ini?" tanya Aryo yang mulai panik.


"Itu bisa membahayakan ragamu, Gun!" tegas Jagad.


"Dengan pasukan sebanyak itu, mereka sudah mampu membuat bencana di atas muka bumi ini. Aku tak peduli lagi dengan ragaku. Jika memang aku harus mati aku tak akan menyesalinya, asal kita berhasil mengembalikan mereka ke tempat mereka berasal!" tegas Guntur. Ia segera melesat menerjang ke arah raganya yang sudah dikuasai oleh para pasukan Iblis.


"Guntur, jangan!!" teriak Jagad dan yang lain bersamaan.


"Patih Drupala, mari kita selesaikan hari ini juga!" Guntur berteriak memberi instruksi pada leluhurnya itu.


"Kau yakin tak akan menyesalinya, Bocah?" tanya Patih Drupala.


Guntur hanya menatap Patih Drupala sembari mengangguk.


"Bocah gendeng! Ora sayang nyawa," gerutu Ular Naga sembari ikut melesat pergi mengikuti Patih Drupala dan Guntur.


Jagad pun tak lagi memiliki pilihan lain selain ikut membantu sahabatnya. Ia ikut melesat pergi, menyatukan energi dengan Guntur juga kedua makhluk yang mendampinginya. Hingga menciptakan satu serangan yang begitu kuat ke arah raga Guntur dan para pasukan iblis yang merasuk di dalamnya.


"Arrrrggghhhh ... goblok! Kau akan mati jika raga ini terluka parah!" teriak iblis dalam raga Guntur.


Tak mau lagi menjawab ucapan makhluk itu, Guntur kembali lemparkan serangan ke arah raganya.

__ADS_1


"Dek, cepat serap kembali mereka!" titahnya pada sang istri.


"Ndak, Mas. Ragamu akan ikut musnah jika terserap kesana!" Trisnya menolak tegas permintaan Guntur.


"Kalaupun aku harus mati, aku tak masalah, Dek. Asal kamu dan Nawang bisa hidup di dunia yang nyaman dan aman dari bencana yang mereka timbulkan. Kumohon Trisnya ... turuti saja permintaanku kali ini. Jangan jadikan aku penghalang untuk melaksanakan tugasmu!" balas Guntur sembari terus mempertahankan serangannya.


"Tapi, Mas ...?" Trisnya masih terlihat enggan.


"Aku sudah tak tahan lagi, kumohon cepatlah. Jika kali ini kita gagal, maka alam kita akan mereka hancurkan. Cepat?!" tegas Guntur sekali lagi.


Dengan deraian air mata, juga isak tangis yang seolah tiada jeda. Trisnya mulai berlari sembari merapal mantra. Ia angkat tinggi-tinggi pedang yang telah berhiaskan aliran darahnya, lalu ia hunuskan dalam-dalam ke dasar bumi. Hingga menyerap para pasukan Iblis menuju ke Jagad Lelembut dan membawa serta raga Guntur.


Perlahan, sukma Guntur mulai terlepas dari sosok Ki Beruk Klawu. Bayangan itu mulai mendekat kearah Trisnya. Ia genggam erat tangan Trisnya yang bergetar hebat.


"Mas ... kenapa harus seperti ini?" tanya Trisnya kepada sosok yang menghampirinya.


"Maafkan Mas, Dek! Sepertinya memang Tuhan hanya mengijinkan Mas menjagamu cukup sampai disini. Tolong jaga Nawang, dan carilah kebahagiaanmu selepas kepergianku. Ikhlaskan kepergianku, Sayang!" balas Guntur dengan senyum teduhnya. Dan perlahan bayangan itu mulai memudar.


Trisnya menggeleng, air matanya mengalir begitu deras. Hatinya terasa begitu sakit mendengar kata-kata itu dari suaminya.


Semua orang yang ada disana tak kuasa lagi menahan tangis. Mereka begitu terpukul dengan keputusan sembrono Guntur.


Para makhluk itu sudah sepenuhnya terserap ke dalam Jagad Lelembut. Menyisakan sedikit celah yang belum jua menutup karena Trisnya yang masih enggan menarik pusakanya.


Ular Naga melesat masuk ke alam itu bersama Patih Drupala, melalui celah yang ada.


"Beri aku waktu 3 hari. Jika Tuhan masih menakdirkan dia hidup, maka aku akan kembali dengan membawa raganya. Namun, jika aku tak kembali maka ikhlaskan kepergiannya!" teriak Ular Naga sembari melesat pergi.


Nyi Kinasih segera melesat menarik pusaka Pakugeni dengan sisa-sisa energinya.


"Jangan!" teriak Trisnya.


"Rasa cintamu yang terlalu dalam, membuatmu selemah ini Trisnya. Itu sebabnya pusaka ini tak ingin selaras denganmu!" ujar Nyi Kinasih.


Aryo dan Jagad tak bisa berbuat banyak. Mereka seolah tak mampu lagi untuk sekedar menghibur ataupun menenangkan Trisnya. Mereka juga larut dalam kesedihan akan kepergian Guntur. Yang entah akan kembali atau tidak.


Perlahan, tubuh Nyi Kinasih juga semakin samar. Ada setitik cahaya putih yang begitu terang, terlihat keluar dan memisahkan diri dari dalam dirinya.


Roh yang selama ini terikat dengan Pusaka itu mulai terbebas. Cahaya itu mendekat kearah Jagad seolah memberi salam perpisahan. Membuat Jagad semakin tak kuasa menahan tangisnya. Hatinya begitu sakit, harus kembali terpisah dengan wanitanya. Ditambah harus kehilangan sahabat baiknya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2