
Lirih terdengar rintihan pilu Fahmi yang menyayat hati. Terbujur lemah di atas pembaringan, menahan lara di sekujur raga. Jiwanya menjerit begitu hebat, tak kuasa lagi menahan segala rasa sakit yang mendera. Ingin sekali rasanya ia mati, namun Tuhan tak jua mengirimkan malaikat untuk menjemputnya. Hanya tangis penuh keputusasaan, terus terdengar dari suaranya yang semakin parau dan hampir menghilang.
Matanya menatap nanar ke langit-langit kamar, dengan buliran bening yang tak henti mengalir membasahi pipinya yang mengisut. Menahan segala rasa sakit yang teramat menyiksa jiwa dan raga.
Sudah satu bulan lebih Fahmi menahan sakit yang mendera. Berbagai macam cara dan pengobatan telah ia jalani, namun semua seakan sia-sia saja, tak ada satupun penyakit yang bisa terdeteksi oleh pemeriksaan medis. Beberapa kali ia menjalani pengobatan non medis, namun anehnya, rasa sakit itu akan selalu kembali setelah satu malam menghilang. Seakan ingin terus menyiksa hingga penghujung usia.
Beberapa kyai mengatakan bahwa Fahmi memang terkena santet/tenung, namun mereka juga belum tahu jenis santet apa yang menyerangnya dan bagaimana mengatasinya. Satu-satunya cara adalah terus berdoa, memohon pada Sang Maha Kuasa agar segera mengangkat penyakitnya.
Kepalanya berdenyut nyeri tak tertahankan. Rasa sakit bergantian menyerang seluruh bagian tubuhnya tanpa henti. Bagaikan tertusuk dan teriris, namun tak berbekas.
Badannya kurus kering tinggal tulang, karena semenjak sakit ia mulai tak berselera makan. Rambutnya yang semula hitam lebat, kini telah rontok hingga hampir botak.
Guntur dengan telaten mengelap tubuh adik sepupunya itu dengan air yang telah ia bacakan doa-doa. Dengan hati-hati ia menempelkan handuk basah itu dan mengusap kulit pucat Fahmi.
"Sa-sakit, Mas ...," rintih Fahmi yang merasakan sakit tatkala benda basah itu menyentuh kulitnya.
"Tahan sebentar. Mas, akan lebih pelan-pelan lagi," ucap Guntur sembari menahan air matanya agar tak ikut luruh. "Istighfar ...."
"Astagfirullahaladzim ...," lirih Fahmi sembari menangis.
Tok ... Tok ... Tok ....
Terdengar suara pintu kamar terketuk. Guntur segera bangkit untuk membuka pintu yang sengaja ia kunci dari dalam.
Terlihat Trisnya dan Heru telah berdiri di depan pintu. Guntur segera mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Maaf, Mas Fahmi. Aku baru sempat datang," ucap sembari duduk di samping Fahmi.
__ADS_1
Fahmi hanya memandang penuh harap ke arah Trisnya yang mulai memeriksa keadaannya. Gadis itu memejamkan mata sembari menyentuh beberapa bagian tubuh Fahmi yang terasa sakit.
Dalam penglihatan batinnya, Trisnya melihat luka-luka gaib yang bersarang di tubuh Fahmi. Luka sayatan yang masih mengucurkan darah segar, luka tusukan yang yang begitu dalam hingga menembus organ-organ dalam tubuhnya, hingga beberapa bagian tubuhnya yang terlihat seperti tercabik-cabik oleh gigitan gigi tajam.
Mata Trisnya terbelalak lebar setelah menyaksikan itu. "Pantas saja dia sampai seperti ini. Orang kejam mana yang bisa setega ini menyiksa hamba-Mu, Tuhan?" lirih batin Trisnya sembari menatap nanar ke arah Fahmi.
"Bagaimana mungkin kalian tidak bisa menghalau semua ini, Mas?" tanya Trisnya pada Guntur dan Heru sembari melangkahkan kakinya menuju balkon, dan diikuti oleh keduanya.
"Jangankan menghalau, saat serangannya datang pun aku sama sekali tak menyadarinya! Sakit itu selalu tiba-tiba hadir tanpa sebab. Aku sama sekali tak bisa melacak siapa pengirimnya, Dek!" jelas Guntur yang berjalan di samping Trisnya.
"Aku juga sudah beberapa kali meruqyah Mas Fahmi, namun itu hanya akan berhasil untuk satu malam saja. Keesokan paginya dia akan kesakitan lagi, dan hal itu terus berulang," timpal Heru.
"Bagaimana kalian bisa menyadari kehadiran serangan itu, jika kalian hanya fokus pada pelakunya! Santet ini dikirim dari tempat yang sangat jauh, sulit untuk kita lacak," tutur Trisnya.
"Apa yang harus kita lakukan? Ini pertama kalinya aku berurusan langsung dengan yang namanya santet. Biasanya Mas Jagad yang menangani pasien dengan gangguan seperti itu," jelas Heru.
Guntur hanya diam, dia lebih memilih berbalik dan kembali menyusul Fahmi. "Akan aku pastikan rasa sakitmu ini akan kembali pada pengirimnya dengan rasa yang berkali lipat lebih menyiksa, Fahmi," batin Guntur penuh amarah.
Trisnya kembali duduk disamping Fahmi yang masih terpejam, setelah Trisnya bacakan dengan doa penenang sebelumnya. Ia segera membacakan doa-doa untuk memulihkan luka-luka gaib pada tubuh Fahmi.
Terbesit rasa penyesalan di hati Trisnya, karena baru bisa datang, sehingga keadaan Fahmi menjadi separah ini. Awalnya dia mengira kalau Fahmi terkena gangguan dari proyek yang sedang ia kerjakan, itu sebabnya Trisnya menyerahkan sepenuhnya pada Guntur dan Heru, tanpa mengeceknya terlebih dahulu.
Setelah kejadian di Alas Rongko Mayit, Trisnya memang disibukan dengan beberapa kasus dari kota kelahirannya, sehingga dia mau tak mau harus pulang.
"Jam berapa biasanya Mas Fahmi kembali kesakitan?" tanya Trisnya.
"Antara jam 3 sampai jam 4 pagi! Itu kalau kita ruqyah malam. Pagi biasanya dia bisa tertidur, siang selepas dzuhur, dia akan kembali kesakitan sampai malam," jelas Guntur.
__ADS_1
"Nanti malam aku akan coba dampingi sukmanya, agar bisa menghalau dan melacak serangan itu. Tapi aku butuh bantuan Nyi Kinasih dan Mas Jagad. Apa mereka belum kembali?" tanya Trisnya pada Heru.
***
Gemerisik suara gerimis terdengar dari luar gua. Jagad masih dengan setia menjaga Nyi Kinasih yang tengah fokus memulihkan energinya.
Netranya menatap nanar ke arah yqng tak pasti, ingatannya memutar kembali memori lampau. Memori saat ia menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Nyi Kinasih, tepat di dalam gua gelap nan lembab ini.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nyi Kinasih yang tiba-tiba muncul mengejutkan Jagad.
"Bukan apa-apa! Hanya sedikit kenangan saat istriku yang kejam akhirnya muncul dan menemaniku untuk terakhir kalinya ...," ucap Jagad sembari memandang lekat pada wajah ayu Nyi Kinasih.
Nyi Kinasih menatap sendu ke arah Jagad sembari membalas ucapannya, "Maafkan aku! Bahkan di kehidupan kali ini, aku juga terlambat mengenalmu, Mas. Hik ...." Nyi Kinasih memeluk Jagad dengan begitu erat sambil terisak. Ia tumpahkan segala rasa rindu yang telah lama membelenggu hatinya, di penghujung senja.
Jagad rasakan desiran aneh yang menjalar dalam aliran darahnya. Seakan ikut terbuai dalam peluk hangat sang kekasih, membuatnya terlena hingga sejenak lupa akan perbedaan di antara mereka, yang tak akan pernah bisa disatukan.
"Ya Allah, jika memang reinkarnasi itu tak ada. Lalu, mengapa aku bisa dengan jelas mengingat kehidupan yang rasanya pernah aku jalani sebelumnya? Kenapa rasa ini masih begitu nyata? Rasa cinta, rindu, sakit dan kekecewaan ini masih begitu menyatu dengan jiwaku ... jika memang, kenangan itu bukanlah milikku, jika memang itu hanyalah salah satu tipu daya iblis untuk menyesatkan aku. Kumohon, ya Allah. Tenangkan hatiku, buang jauh rasa cinta juga rindu yang begitu membelenggu hati ini. Wahai Dzat yang Maha membolak-balikan hati, jangan biarkan hamba-Mu ini terjerat pada cinta yang salah. Jangan biarkan hamba-MU ini melawan ketetapan-Mu." Untaian doa yang begitu panjang Jagad agungkan pada sang Maha pemilik hati, Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dari dalam hatinya.
Disaat kedua insan yang tengah melabuhkan rindu itu menikmati syahdunya suasana gerimis senja, seekor kenari emas tiba-tiba datang dan hinggap di dekat Nyi Kinasih.
Nyi Kinasih segera melepaskan pelukannya, lalu beralih menghampiri sang kenari emas.
"Trisnya butuh bantuan kalian!" ucap kenari emas itu singkat, lalu pergi begitu saja meninggalkan Jagad dan Nyi Kinasih di dalam gua itu.
"Kembalilah ..., suamiku!" Nyi Kinasih segera berbalik membelakangi Jagad, setelah mengucapkan itu. Tampak wajahnya memerah karena malu, ia tak ingin Jagad melihatnya.
"Baiklah! Jaga dirimu ...," terdengar jawaban dari mulut Jagad dengan suara yang teramat sangat indah di telinga Nyi Kinasih.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Nyi Kinasih berbalik badan. Tak ia temukan lagi sosok Jagad disana. Ada sedikit rasa kehilangan di hatinya, namun segera ia tepis jauh-jauh rasa itu. Ia segera mempersiapkan dirinya dan segera menyusul ke tempat Trisnya berada.
Bersambung ....