Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Viralkan!


__ADS_3

‘’Semoga hari ini semua rencanaku berjalan dengan lancar.’’ aku tersenyum sinis, kupandangi benda melingkar di tanganku, masih menunjukkan pukul 10.00.


Kembali kufokus menyetir sesekali melirik ke lelaki pengkhianat di sampingku. Dia lebih banyak diam sedari tadi, mungkin khawatir jika aku mengetahui semua pengkhianatannya padaku. Aku bukan istri bodoh! Dan aku bukan wanita untuk dikhianati.


‘’Nel, kita ke mana sih? Kita pulang aja yuk! Naisya pasti nyariin,’’ lirihnya, aku menoleh sejenak dan menatap kedua mata elangnya. Tampak ada sesuatu yang tengah disembunyikannya di sana.


‘’Aku yakin ini tentang pengkhianatannya, dia takut akan terbongkar atau—’’


‘’Entahlah!’’ batinku.


‘’Kok kamu cemas begitu, Mas? Lucu deh, kamu kira aku akan bawa kamu ke penjara gitu?’’ aku terkekeh memandangi ekspresi wajah mas Deno.


‘’Bu—bukan begitu, Nel,’’ kilahnya terbata.


Aku kembali menoleh,’’Lalu?’’


‘’Kasihan Naisya jika kita tinggal lama.’’ Dia bicara denganku tapi pandangannya ke depan.


Ahh! Dasar lelaki!


Aku menghembuskan napas pelan dan menggelengkan kepala,’’Ya Allah, Mas, Mas! Kan ada bibi Sum yang jagain.’’ Tak habis pikir dengan kelakuan anehnya mas Deno.


Dia hanya terdiam saja. Aku kembali fokus menyetir dan tak berselang lama sudah tiba di depan café yang lumayan mewah. Segera kuparkirkan mobil dan mematikan mesinnya.


‘’Mas, yuk turun!’’ ajakku. Matanya menatapku heran.


‘’Kenapa nggak pulang aja sih?’’ sungutnya kemudian.


‘’Aku mau berduaan dulu sama kamu, Mas. Sesekali bolehlah kita nongkrong di café, kapan lagi coba?’’


‘’Kamu keberatan, Mas?’’ aku menatapnya dengan tatapan tak suka, dia masih bergeming. Padahal mobil sudah kuparkirkan dan saatnya turun.


‘’E—enggak, bukan begitu,’’ kilahnya terbata.


‘’Ya udah deh!’’ Dia tampak menghembuskan napas berat, lalu bergegas membuka pintu mobil dan melangkah keluar, begitupun denganku.


‘’Kamu tunggu di sini dulu ya, Mas! Aku mau ke toilet.’’ Lelaki itu tampak mengangguk, aku bergegas melangkah menuju toilet. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


‘’Aman!’’


Aku bergegas merogoh tas kecil yang tengah kusandang lantas meraih benda pipih, untung saja kartuku sudah kuganti dengan kartu rahasia itu.


‘’Mbak, aku dan Mas Deno sekarang udah di café Bunga Melati nih.’’ tanpa pikir lagi aku segera mengetikkan pesan lantas mengirimkannya. Tampak sudah centang dua dan kulihat ternyata dia sedang online.


Si P sedang mengetik..


‘’Ya, kebetulan aku dekat dari sana, aku langsung aja nanti ke sana ya,’’ balasnya kemudian.


‘’Ya udah aku tunggu, Mba.’’ kembali kumasukkan benda pipih ke dalam tas kecilku. Aku tersenyum sinis.


‘’Mas, Mas! Kalo sama aku jangan main-main kamu!’’


‘’Lelaki kayak kamu nggak pantes diperjuangkan lagi!’’


Tanpa berpikir lagi, bergegas kumelangkahkan kaki menuju tempat parkiran. Syukurlah, lelaki itu masih bergeming menungguku di sana. Lelaki yang menemaniku selama 9 tahun, susah senang bersama. Aku menemaninya sedari nol, tak pernah aku mengeluh tatkala dia belum punya apa-apa bahkan aku membujuk papa untuk memberikan pekerjaan kepadanya dan aku hidup apa adanya, tak banyak pintaku kepadanya, tak seperti wanita di luar sana, minta uang untuk shopping dan segala macam, jika tak dikasih pasti marah tak jelas dan berujung cerai. Aku bukan tipe wanita seperti itu.

__ADS_1


Seharusnya dia beruntung punya istri sepertiku dan seharusnya dia bersyukur, ini bukannya bersyukur malah berani mengkhianatiku, menodai pernikahan suci. Aku tak habis pikir dengan kelakuannya, semudah itu dia berpaling dariku, semudah itu dia mengingkari perjanjiannya dengan Allah. Dikiranya pernikahan itu sebuah permainankah? Sampai tega dan berani dia berbuat seperti ini. Bagaimana nanti jika mertuaku itu tahu mengenai perselingkuhannya ini? Kutakut nanti jika penyakit mertuaku itu kambuh karena kelakuan anaknya yang tak senonoh. Ahh! Untuk sekarang, aku harus berusaha menutupi itu semua dari kedua mertuaku itu.


Aku masih punya hati dan lagian kedua mertuaku begitu baik memperlakukanku layaknya seperti anaknya sendiri. Cepat atau lambat mereka akan tahu, tetapi sekarang bukan waktu yang tepat. Aku akan berusaha untuk menutupi itu semua.


‘’Kok kamu lama banget, Nel?’’ wajahnya tampak kesal karena aku di toilet cukup lama.


‘’Antrian, Mas. Lagian aku kebelet,’’ sungutku.


‘’Jangan gitu dong, Mas. Masa nungguin istri aja mengeluh? Tuh, lihat pasangan itu mereka romantis banget walaupun udah tua!’’ tunjukku kepada dua orang kekasih halal itu, walaupun wajah mereka sudah tampak senja, namun mereka masih romantis. Layaknya seperti kekasih halal yang baru saja menikah.


‘’Dulu aku punya impian seperti itu, impianku punya pasangan romantis dan setia walaupun nanti usia udah tua. Tapi itu semua hanya harapan yang nggak akan pernah menjadi nyata, atau—’’ aku menghela napas berat.


Dia juga ikut memandangi kedua insan itu,’’Habisnya kamu lama banget,’’ ucapnya mulai lembut nada bicaranya.


‘’Kamu ingin kita seperti itu juga ya?’’ dia menatapku, aku memalingkan muka. Dadaku terasa sesak dan tak bisa lagi menahan air mataku.


‘’Lah, kok kamu malah menangis, Sayang?’’ lelaki itu tangan kekarnya terangkat, menyeka air mataku.


Kubiarkan saja walau terasa jijik olehku, mungkin ini terakhir kali dia menyentuhku. Semua kenangan bersama mas Deno menari di benakku, sungguh terasa sakit hati ini bak ditusuk ribuan belati. Tanpa sadar, tanganku ikut memegang jemarinya dengan deraian air mata.


‘’Nel, kamu nggak boleh kayak gini. Lelaki di depan kamu sudah berani mengkhianati kamu. Kamu nggak pantas hidup sama lelaki brengsek seperti dia. Ingat Nel dengan rencana kamu!’’ aku mengingatkan diri sendiri. Dengan cepat kuseka air mata.


‘’A—aku nggak apa-apa, Mas.’’


‘’Nggak apa-apa gimana? Kamu sakit, Sayang? Kita pulang aja atau kita ke rumah sakit?’’ Aku begitu muak dengan ucapannya. Dia tampak panik, entah ini sandiwaranya atau bagaimana.


‘’Nggak, Mas. Aku hanya ingat kedua orang tuaku,’’ kilahku cepat.


Ya, memang di satu sisi aku teringat sama mama dan papa, mama meninggal dunia ketika aku sudah menikah dengan mas Deno. Dan setengah tahun kemudian, papa pun menyusul mama. Jujur aku merindukan mereka, di satu sisi hatiku juga remuk redam karena ulah suamiku yang tega mengkhianatiku. Allah! Apa salahku? Padahal aku selalu memperlakukannya dengan baik dan aku selalu menjaga diriku ketika suami tak berada di rumah.


Mas Deno menghela napas lega,’’Syukurlah, kukira kamu sakit. Kita kirim do’a aja buat beliau ya. Kamu jangan sedih gitu dong.’’ Dia mengusap pipiku lantas menatap kedua netraku lebih dalam. Aku membalas tatapannya, entah kenapa aku membiarkannya saja tak seperti sebelumnya. Mungkin ini kenangan kami yang terakhir.


‘’Ke—kenapa kamu bilang seperti itu, Sayang?’’


‘’Kamu adalah wanita yang paling baik, istriku yang sholehah dan ibu yang baik untuk anak-anak kita.’’


Seketika aku teringat perjanjianku dengan wanita itu, aku bergegas menyeka air mata.


‘’Mas, yuk kita masuk!’’ ajakku yang bergegas melangkah memasuki café, dia tampak terheran dengan sikapku. Tetapi aku tak perduli.


Oh iya, aku lupa. Kurasa bedak dan make up-ku berlemotan karena habis menangis. Aku menghentikan langkah dan merogoh tasku. Kuraih cermin dan menatap wajahku. Alhamdulillah! Aman dan masih kelihatan cantik. Aku tak banyak perawatan wajah, kuncinya hanya mencuci muka sebelum tidur dan rajin berwudhu’ itu saja.


Dia menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Aku melanjutkan langkah kembali untuk memasuki café dan mengedarkan pandanganku ke seluruh meja yang ditempati pengunjung.


‘’Mungkin itu, bukan? Soalnya aku pernah mengecek photo profil WA-nya.’’


‘’Ya, nggak salah lagi.’’


Kali ini aku sengaja menggandeng lelaki yang di sampingku, aku tersenyum menatapnya. Dia terheran dan hanya membalas dengan senyuman tipis. Tak banyak pikir lagi, aku bergegas melangkah menuju tempat wanita yang berpakaian kain kurang bahan itu. Walaupun kakiku terasa berat untuk melangkah.


Seketika si pelakor itu matanya tertuju kepadaku, dia kaget bukan kepalang. Kaget dengan kehadiranku, kenapa aku bisa ke sini. Sedangkan dia berjanji hanya dengan sepupunya mas Deno, bukan denganku. Dia tak tahu, jika aku menyamar sebagai sepupunya mas Deno untuk menjalankan semua rencanaku ini. Begitupun dengan lelaki yang kugenggam erat tangannya, mukanya memerah dan terperanjat kaget.


‘’A—apa maksud kamu, Nel. Ka—kalian saling kenal?’’ ucapnya seketika terbata, mukanya memerah dan menatap tak percaya dengan apa yang telah kulakukan.


Dia mengacak rambutnya frustasi. Sedangkan si pelakor itu tampak tersenyum menang menyunggingkan bibirnya. Walau awalnya dia terheran dan kaget dengan kehadiranku, tetapi entah kenapa setelah itu dia malah tersenyum.

__ADS_1


‘’Hei, Mbak! Ini lelaki yang kamu inginkan, bukan? Eh, suamiku maksudnya! Secara kan dia masih suamiku. Ambil-lah, aku nggak butuh lelaki kayak dia!’’ tunjukku dengan tangan kiri tanpa banyak drama lagi karena aku sungguh muak dengan sandiwara suamiku selama ini.


Sontak membuat mas Deno kaget matanya membulat.


Oh iya, aku lupa. Aku bergegas mengeluarkan benda pipihku. Dan menukar posisi berdiri, aku sengaja live di instagram yang lumayan banyak jumlah followersnya.


‘’Assalamua’alaikum semua! Bagaimana pendapat kalian jika diselingkuhi selama empat tahun tanpa sepengetahuan, dia bersikap romantis yang ternyata hanya sebagai penutup kesalahannya saja.’’ Aku melambaikan tangan ke camera yang tengah live.


Banyak tanggapan dari mereka.


‘’Wa’alaikumussalam! Ditinggalin aja, Mba. Lelaki banyak yang lain, nggak dia saja.’’


‘’Dikasih racun tikus, Mba.’’


‘’Kalo aku minta cerai saja.’’


‘’Kasih kesempatan dulu, Mba. Siapa tahu dia bertaubat, susah kalo ngepabakin anak ke lelaki lain. Sejahat apapun Bapak kandungnya, ia akan tetap sayang sama anaknya.’’


‘’Kalo aku minta cerai saja, Mba.’’


‘’Eh, btw itu suaminya, Mba? Yang sebelahnya siapa?’’


‘’Jangan-jangan pelakor lagi.’’ Di akhirinya dengan emot tertawa.


‘’Kalo iya, serahkan aja ke pelakor suaminya. Dia nggak pantas untuk dipertahankan.’’


Begitu banyak komentar dan tanggapan followersku, tampak kedua pasangan haram itu mukanya memerah dan kuyakin malunya sampai ke ubun-ubun. Tak banyak bicara lagi.


‘’Makasih semuanya atas saran dan tanggapannya, perkenalkan ini suamiku. Eh, otewe mantan suami. Dan di sampingku ini—’’ tunjukku, membuat dia berusaha menghindar dari camera namun aku terus saja memutar posisi tubuh dan cameraku.


‘’Ini wanita yang berhasil merebut hati suamiku—’’


‘’Cukuuup, Nel!’’ bentak lelaki pengkhianat itu, mukanya memerah dan berusaha merebut benda pipih dari tanganku, namun aku berusaha menghindar.


Para pengunjung café tampak terpenganga dan beberapa puluhan camera menyorot kami, aku tak perduli dengan itu semua. Biar semua orang tahu kalau lelaki yang selama ini dipuji habis-habisan oleh followersku itu ternyata seorang pengkhianat dan suka bermain dengan wanita lain di belakangku.


‘’Dasar lelaki bodoh! Dia lebih memilih wanita berpakaian kurang bahan itu daripada istrinya yang cantik dan sholehah!’’


‘’Rasain tuh! Lelaki kayak dia harus diviralkan, kapan perlu sejagad rayanya tahu kalo dia tukang selingkuh dan perebut suami orang!’’


‘’Cantik enggak, hanya pakaiannya saja yang sexy.’’


‘’Aku ikut support kamu, Mba. Lelaki macam dia nggak pantas untuk dipertahankan!’’


‘’Mba, ma’af sebenarnya. Kalo menurut saya, baiknya diselesaikan dulu secara kekeluargaan dan nggak baik mengumbarnya di sosmed. Ya, saya tahu kalo Mba itu adalah Penulis dan Publig Figure,’’ kata seseakun, yang membuatku kesal. Kekeluargaan katanya? Sudah empat tahun dia bermain di belakangku? Apa masih pantas diselesaikan secara kekeluargaan? Apa pantas diberi ma’af?


Ya, aku tahu jika ini solusi yang kurang tepat. Tapi, rasa sakit hatiku yang begitu besar membuat aku tak bisa lagi menahan semuanya. Dan aku tak mau followersku terusan memuji lelaki pengkhianat itu, makanya aku sengaja live di akun instagramku.


‘’Viralkan!’’


Begitu banyak hinaan yang ke luar dari mulut para pengunjung untuk kedua kekasih haram itu dan banyak juga yang mensupportku. Wanita pelakor itu ternyata bisa menangis juga. Cuih! Air mata buaya!


Bersambung…


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.

__ADS_1


See you next time! ❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2