Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Siapa Dia Sebenarnya?


__ADS_3

‘’Ma—maksud kamu?’’


‘’Aku udah tahu semuanya masalah rumah tangga kamu yang viral itu,’’ sahutnya tanpa memandangiku. Membuatku kaget.


‘’Jadi kamu salah satu followersku?’’


‘’Iya, bahkan udah lama.’’ rasanya tak percaya, jika di hadapanku ini adalah salah satu followersku. Bagaimana aku bisa percaya lelaki berpenampilan seperti orang kantoran jadi followersku.


‘’Kamu nggak percaya? Perlu bukti?’’ tanya lelaki itu yang meletakkan piring yang sudah diisinya dengan nasi Padang. Lantas merogoh saku-sakunya dan mengotak-ngatik benda pipih yang digenggamnya.


‘’Nah, ini ig kamu kan?’’ dia menyodorkan benda pipihnya.


Dengan ragu aku mengambilnya. Tentu saja aku kaget memandangi foto profil instagram siapa yang muncul. Di sana, tertulis ‘’mengikuti’’.


‘’Bagaimana kamu masih nggak percaya?’’


‘’Ya, aku percaya kok.’’ aku mengembalikan benda pipih milik lelaki itu. Dan aku terayun dalam lamunanku.


‘’Makan dulu ya. Aku udah siapin nih,’’ katanya sembari meraih piring yang berisi makanan. Aku menggeleng lemah.


‘’Aku nggak ada selera,’’ ucapku pelan, tatapanku kosong menatap jendela.


‘’Nel, kamu sayang sama anakmu kan?’’


‘’Tanyamu nggak masuk akal deh! Tentu saja aku menyayangi anakku!’’ sahutku ketus.


‘’Nah, iya. Makanya kamu harus makan demi anakmu. Ntar kamu malah tambah sakit loh,’’ ucapnya pelan. Dalam hati aku membenarkan ucapannya.


Padahal aku sudah berkata ketus padanya, eh dia masih bersikap sabar. Ada apa sebenarnya? Siapa dia sebenarnya?


‘’Aku kan udah beliin. Masa mau dibuang begitu saja. Mubazir loh,’’ imbuhnya kemudian. Dia tahu senjata untuk melemahkanku. Ya, perkara makanan aku paling tak suka jika makanan itu terbuang sia-sia, apalagi jika dibeli.


Aku menghela napas pelan,’’Iya, iya. Aku makan deh.’’


Lelaki itu tampak tersenyum dan menyodorkan makanan kepadaku.


‘’Makasih ya, kamu begitu baik kepadaku. Padahal kita bukan siapa-siapa.’’ aku meraih piring yang berisi nasi Padang itu.


Tampak ada rendang, daun ubi, dan tempe di dalamnya. Dari sini aku bisa tahu, kalau lelaki ini memang followersku di instagram. Karena dia begitu tahu sekali makanan favoritku. Ya, memang aku selalu posting apa makanan yang kusukai dan apa pula makanan yang tidak kusukai.


‘’Sama-sama, Nel. Kita sesama umat muslim, kan sudah seharusnya saling membantu dalam kebaikan. Bukan begitu?’’

__ADS_1


Dalam hati aku juga membenarkan ucapannya, tetapi bukankah jika tak ada niat di balik itu lelaki tak kan mudah rasanya untuk membantu wanita lain. Terkadang ada udang di balik bakwan.


Aku hanya mengangguk saja.


‘’Sebenarnya aku nggak mau kenalan dengan namanya lelaki,’’ batinku yang masih menatap piring yang berisi nasi, masih dalam genggaman tanganku.


‘’Nel?’’


‘’Ah, iya?’’ panggilannya mampu membuyarkan lamunanku.


‘’Jangan ditatap begitu dong nasinya. Ayo dimakan!’’ mata elangnya tertuju pada piring yang tengah kupegang. Entah kenapa aku begitu malas makan dan tak ada selera. Apalagi begitu banyak beban dalam pikiranku.


‘’Atau mau aku suapin?’’


Mataku membulat,’’Kamu jangan bicara begitu!’’ ketusku.


‘’Ya udah, makanya makan tuh nasi.’’


Dengan terpaksa aku menyuapnya. Dia masih menghenyak di sofa yang dekat denganku.


‘’Ma’af, Ren. Kamu pulang aja dulu ya? Kamu kan belum istirahat dan juga takutnya ada fitnah nanti,’’ kataku pelan sembari menyuap nasi ke mulutku.


Dia tampak mengerjap pelan,’’Iya, Nel. Aku juga mau istirahat tapi di sekitar sini aja.’’


‘’Aku istirahat di dekat hotel sekitar sini aja. Nanti jika kamu butuh aku, kamu bisa menghubungi aku.’’


‘’Ya Allah. Aku ini istri orang loh, Ren. Kamu tahu kan?’’ nada suaraku terdengar tinggi. Ya, aku takut nanti jadi fitnah. Biar bagaimana pun statusku masih sebagai istrinya mas Deno.


‘’Iya, aku tahu itu.’’


‘’Tapi, apakah kamu masih mau bertahan dengan lelaki yang berani mengkhianati kamu? Kamu berhak bahagia loh, Nel,’’ tegasnya kemudian. Yang membuat lidahku kelu.


‘’Ma’afkan aku. Bukan maksudku untuk membuat kamu kepikiran kayak gini,’’ lirihnya yang memandangi aku tengah memegangi kepala.


‘’Habiskanlah makananmu. Setelah itu istirahat ya!’’ pintanya kemudian yang beranjak dari duduknya.


‘’Aku juga mau istirahat,’’ imbuhnya yang kemudian melangkah menuju pintu.


‘’Ren!’’ panggilku kemudian, membuat dia menghentikan langkahnya dan menoleh kepadaku.


‘’Ya, Nel?’’

__ADS_1


‘’Pulanglah ke rumahmu. Aku nggak mau nanti malah dituduh pelakor sama istrimu,’’ kataku mencoba mengeluarkan apa yang mengganjal di pikiranku. Bukannya menjawab, dia malah tertawa kecil.


‘’Kok kamu ketawa?’’ tanyaku dengan nada kesal.


‘’Ya, gimana aku nggak ketawa coba. Aku nggak punya istri, Nel,’’ jelasnya.


Masa iya seusia dia belum punya istri? Yang benar saja. Atau dia berbohong kepadaku? Kupandangi raut muka dan sorot matanya, tak ada kebohongan di sana. Entahlah, entah dia yang pandai menutupi atau memang sebenarnya dia belum punya istri. Ya, terkadang lelaki suka menutupi statusnya agar bisa berkenalan dengan wanita lain. Jarang lelaki yang mau membuka statusnya, kecuali yang benaran setia sampai maut memisahkan.


Belum sempat aku bicara, dia kembali melanjutkan langkahnya.


‘’Oh iya, kalo kamu butuh bantuan. Langsung aja hubungi aku. Nomor aku udah disimpen di hanphone kamu,’’ katanya yang menoleh sebentar, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Membuat aku mengernyitkan kening.


Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia begitu peduli kepadaku? Aku menatap nasi yang sedari tadi kuacuhkan. Biasanya aku suka sekali yang namanya nasi Padang, lain dengan sekarang. Selera makanku lenyap begitu saja. Tetapi aku harus memaksakan makan agar tulangku kuat dan bertenaga. Aku tak mau berlama-lama menginap di sini. Putriku butuh aku di sampingnya.


‘’Semangat dong, Nel. Naisya butuh kamu!’’ gumamku menyemangati diri sendiri.


Kupaksakan menyuap nasi beberapa suap lagi. Dan kuteguk air putih. Ini sudah cukup, tak baik juga aku memaksakan diri untuk makan. Apalagi perutku mulai terasa mual. Aku meletakkan kembali piring yang masih tersisa nasi. Seketika ingatanku berputar kembali, teringat olehku lelaki yang telah membantuku itu. Katanya dia yang telah menyelamatkan dan membawaku ke rumah sakit, hingga makan malam pun dia yang membelikan ke luar? Siapa dia sebenarnya?


Ahh! Kepalaku terasa pusing kembali. Sudahlah! Aku tak perlu memikirkan hal itu. Yang penting sekarang utamakan dulu kesembuhanmu, Nel. Mataku tertuju kepada benda pipih yang tergeletak sedari tadi di tempat tidur. Sejak aku mendapat pesan ancaman dari si pelakor itu membuat aku tak mau membuka benda itu, aku merasa enggan untuk memainkannya.


Aku kembali merebahkan tubuh dengan pelan. Seketika mataku tertuju ke arah luar, tampak dari gorden tembus pandang itu. Seperti ada seseorang yang tengah memata-mataiku. Siapa dia? Ya Allah, jagalah aku dengan penjagaan-Mu. Rasa takut tiba-tiba saja menghantuiku. Bagaimana kalau orang suruhan si pelakor itu datang menerorku? Atau orang suruhan mas Deno. Karena aku sudah mempermalukannya di sosmedku. Bayangannya tampak muncul lagi di gorden tembus pandang itu.


‘’Ya Allah! Apa aku minta tolong sama Reno aja kali, ya?’’ tanpa berpikir lagi aku bergegas meraih benda pipih itu dan mataku sesekali masih memantau sosok bayangan seseorang yang selalu mengintipku di balik sana. Kata Reno, nomornya sudah disave di ponselku ini. Bergegas kucek dengan menekan nama ‘’Reno’’


‘’Nah ini dia.’’


‘’Ren, a—aku mau minta tolong. Aku takut, kayaknya ada orang suruhan Mas Deno deh. Dia selalu ngintip aku nampak dari dalam,’’ ucapku lirih yang tak mengucapkan salam karena saking ketakutannya aku. Apalagi aku tak bisa apa-apa, dengan keadaanku seperti ini yang bergelayut manja alat medis di tanganku dan kepalaku yang masih diperban.


‘’Ya udah, kamu tenang dulu ya. Tarik napas pelan dan buang.’’


Aku pun menarik napas pelan dan membuangnya.


‘’Aku akan ke sana sekarang juga. Kamu nggak usah khawatir ya, Nel?’’


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Oh ya, ada yang nungguin aku update nggak? Aku berharap sih ada yang nungguin lanjutan cerita ini. Heheh.


See you next time! ❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2