Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Aku Akan Balas Semuanya


__ADS_3

POV Si Pelakor


‘’Oke, aku nggak akan pernah lupa, Mi. Dengan apa yang udah Mami lakuin ke aku. Mulai detik ini kamu bukan lagi orangtuaku!’’


Aku menyeka air mata dengan kasar, sambil menatap rumah yang pernah kutempati itu. Sungguh banyak sekali kenangan manis di sini. Aku yang dulu bermain bersama papi dan mami diringi canda tawa. Berlari kecil kian ke mari, semuanya teringat olehku.


Namun, kini aku tak lagi dianggap sebagai anak kandungnya. Setega itukah mami padaku? Dia lebih memilih warga sialan itu daripada anak kandungnya? Lalu bagaimana dengan papi, apakah sama sebelas dua belas sama wanita ini?


‘’Kita lihat saja nanti. Sampai kapan Mami bisa kayak gini sama aku.’’


Kuambil koper dan menentengnya. Dengan pelan aku melangkah, ternyata para warga itu masih memperhatikanku. Mereka jadikan aku sebagai tontonan mengasyikkan lagi gratis. Dasar! Memang kalau orang miskin itu tak ada kerjaan. Ya, beginilah kerjanya. Kepo dengan urusan orang lain. Senang di atas penderitaan orang. Aku menoleh ke arah mereka dan menatap tajam.


‘’Rasain tuh. Makanya jangan sombong. Duit aja masih menengadahkan tangan ke orangtua.’’


‘’Nanti jadi gelandangan baru tahu rasa.’’


Telingaku terasa panas mendengar berbagai macam kata yang mampu menusuk hatiku.


‘’Awas aja kalian ya!’’ ancamku sambil menunjuk ke arah para warga dengan telunjuk kiriku.


Tak ingin lagi membuang waktu dengan mereka, aku langsung melangkah dengan langkah gontai. Kali ini perut bagian bawahku kembali terasa sakit.


‘’Sayang, kamu harus bisa bertahan di dalam perut Mama ya. Kamu pasti kuat.’’


Aku mengelus perut. Aku tak tahu harus melangkahkan kaki ke arah mana. Tapi yang jelas, aku harus menjauh dari sini.


Kendaraan berlalu lalang saling menyapa. Orang-orang juga berlalu lalang berjalan kaki di jalan raya, membuat matanya menatap aneh ke arahku. Kubalas dengan tatapan sinis. Napas terasa ngos-ngosan. Entah kenapa kini aku mudah merasa lelah. Atau karena cabang bayi yang ada di perutku ini? Kuseka keringat yang bercucuran.


‘’Kalo begini, cantikku akan segera hilang dibuatnya. Mana panas lagi!’’


Aku mengibaskan tangan, terasa panas tubuh ini. Karena aku tak kuat, kuputuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di tepi jalan yang ada bangkunya di sana. Kuhenyakkan pantat.


Seketika aku teringat sesuatu.


‘’Apa aku telpon Fani aja kali ya?’’ Aku bergegas merogoh saku-saku dan menekan nomor kontaknya.


Berdering..


‘’Ha—hallo, Fan. Kamu bisa bantu aku nggak?’’ kataku dengan tangisan yang mulai pecah.


‘’Kamu kenapa, Chik? Kamu mau minta tolong apa?’’


‘’Aku ingin tinggal sementara di rumahmu. Boleh nggak? Soalnya aku diusir sama Mamiku.’’


‘’Ya Allah! Kok kamu bisa diusir? Ada apa, Chik?’’


‘’Ceritanya panjang. Sekarang aku lagi di jalan, berjalan kaki. Bolehkan aku menumpang di rumah kamu untuk sementara?’’


‘’Boleh banget, Chika. Kamu kan pernah bantu aku juga. Kirimkan alamat kamu ya. Nanti aku akan jemput pakai taxi, oke?’’


Membuat aku tersenyum sinis,’’Makasih ya, Fan. Ya udah nanti aku kirimkan.’’


Aku bergegas mematikan sambungan teleponnya, lalu menshare lokasi yang aku tempati sekarang. Tak berselang lama, tampak pesan yang kukirim sudah centang dua bewarna biru. Pertanda pesanku sudah dibaca oleh wanita itu.


‘’Aku jalan sekarang ya. Kamu jangan ke mana-mana, Chik.’’


‘’Oke, aku nggak akan ke mana-mana. Jangan lama ya, Fan. Aku capek banget nih.’’


Beberapa menit kemudian, aku yang tengah terayun dalam lamunan. Panggilan wanita itu membuat aku tersadar dari lamunan. Lalu menoleh ke arahnya.


‘’Ya Allah, Chik. Kamu kenapa berantakan kayak gini?’’


Dia tampak kaget memandangi rambutku yang mungkin acak-acakan, apalagi keringat tadi bercucuran di muka. Tentu membuat make-up jadi luntur. Kurang ajar! Ini gara-gara warga sialan itu. Awas aja!


‘’A—aku..’’ Air mataku tumpah begitu saja.

__ADS_1


‘’Ma’af, Chik. Kalo kamu nggak bisa cerita ke aku sekarang, nggak apa-apa. Kita langsung aja pulang ke rumahku. Kamu pasti butuh istirahat kan?’’ Dia merangkulku sejenak lalu melepaskan rangkulannya kembali. Hanya anggukan sebagai jawaban.


**


Tak berselang lama, taxi sudah tiba di depan rumah bewarna cat hijau itu. Aku dan Fani segera turun. Kupandangi rumah itu jauh dari seleraku. Tak semewah rumah yang kutempati. Membuat aku menghela napas gusar.


‘’Ah, Chika. Yang penting kamu ada tempat tinggal untuk sementara.’’


Aku mengingatkan diri sendiri. Ah iya, aku lupa. Ongkos belum kubayar. Si Fani malah diam seribu bahasa, kuyakin dia sedang tak ada duit. Tak apa-apalah, hitung-hitung ini cara aku agar Fani percaya kalau aku adalah wanita baik-baik. Bergegas kurogoh tas yang tengah kusandang. Untung saja masih ada duit sisa belanjaku kemarin.


‘’Nih, ongkosnya.’’ Aku menyodorkan pada sopir taxi yang termenung sedari tadi.


‘’Makasih, Mba.’’ Fani mewakili dengan anggukan kecil yang diberikannya.


‘’Yuk, Chika.’’ Aku mengangguk dan bergegas mengikuti langkah Fani. Mataku celingak-celinguk menatap perumahan di sekitarnya.


‘’Kenapa, Chik?’’ Dia menghentikan langkah lalu menatap ke arahku.


‘’Hem, nggak ada, Fan.’’ Aku menggeleng cepat dan kembali melanjutkan langkah.


***


‘’Ini kamar kamu ya,’’ katanya sambil menunjuk pintu kamar.


Aku mengangguk lemah. Sudah terbayang di benakku, bagaimana isi kamarnya. Kuyakin tak semewah dan tak seindah kamarku. Ah, kenapa sungguh malang nasipku.


‘’Ini semua karena warga sialan itu! Aku akan balas semuanya!’’ geramku dalam hati.


‘’Chik? Kamu nggak apa-apa kan?’’ Ucapan wanita itu mampu menyadarkan lamunanku.


‘’Ah iya. Aku baik-baik saja.’’ Kupasang muka semanis mungkin.


‘’Ya udah, istirahatlah. Aku yakin kamu pasti capek. Soal kedua orangtuaku, biar nanti aku yang bicara ya. Kamu jangan ragu,’’ katanya sambil menepuk lenganku dengan pelan, lalu kakinya melangkah. Namun, seketika terhenti.


‘’Tenang aja. Kamu nggak perlu lagi bersihin kamarnya. Karena kamar itu udah aku bersihkan kemaren,’’ ungkap wanita berambut sebahu itu. Aku hanya mengangguk lalu tersenyum tipis.


‘’Tuh kan. Bener apa yang kubilang.’’


Mataku setika disambut oleh pemandangan yang membuat aku mengeluh. Bagaimana tidak, kamarnya berbanding terbalik dengan kamarku di rumah. Kembali kututup pintu lalu meletakkan koper dan tas branded yang sedari tadi kusandang. Tapi, setidaknya bisa untuk jadi tempat istirahat sementara olehku. Daripada aku jadi gelandangan di luar sana.


‘’Ihh! Amit-amit deh,’’ gumamku yang bergidik ngeri membayangkan sesuatu yang membuat aku ilfeel.


Kuhenyakkan bokong di kasur. Lalu kuusap benda berbusa itu. Ternyata tak seempuk kasurku. Aku menghela napas panjang. Tiba-tiba perut bagian bawah kembali terasa nyeri. Aku mengusapnya dengan pelan.


‘’Ah iya. Mama baru teringat sama Papa kamu. Yang sabar ya. Mama akan cari cara agar kita bisa tinggal bareng sama Papa kamu,’’ kataku lirih sambil mengusap perut.


Entah kenapa sejak tadi aku malah tak kepikiran mas Deno. Mungkin saking sock dengan apa yang telah terjadi. Aku lebih mementingkan diriku sendiri. Tak terpikir lagi bagaimana dan di mana suamiku. Untung saja dia masih di rumah sakit, jadi aku tak repot-repot mencari tempat tinggal untuknya.


Apalagi fasilitas dari mami sudah diambilnya kembali. Ah, diriku saja tak mampu aku untuk mengurusnya. Apalagi mengurus mas Deno.


Tapi, sekarang aku pengen istirahat dulu. Untung saja kamar ini sudah bersih dan rapi. Ya, walaupun bentuknya membuat moodku jadi berantakan. Setidaknya aku bisa meregang tubuh terlebih dahulu. Kucoba mencium seprei tempat tidurnya. Mana tahu ada bau menyengat terselip di sana.


‘’Hem! Lumayan sih.’’ Aku bergegas membaringkan tubuh karena merasa aman untuk kutiduri.


***


Aku menggeliat dan menguap berkali-kali. Kubuka mata dengan paksa. Seketika perutku berbunyi dan terasa pedih. Sejak aku mengandung, bawaannya pengen makan setiap waktu.


‘’Biasanya kan aku mesen lewat gofood. Apa aku pesen aja kali ya?’’ Aku bergegas duduk dan mengusap bola mata.


Kucek dompet di tas kesayanganku. Membuat aku menghela napas panjang. Hanya ada enam lembar uang ratusan. Mana cukup untuk kebutuhanku sehari-hari. Kembali kurapikan dompet itu ke dalam tas. Ah ya, aku minta saja sama Fani kali ya? Aku langsung membuka pintu kamar.


‘’Ta—Tante?’’ Membuat aku terkesiap memandangi wanita yang tengah berdiri mematung di depan kamar yang kutempati sekarang.


‘’Bikin kaget aja nih orang tua.’’

__ADS_1


Aku merubah mukaku, yang tadi kaget. Kini tersenyum manis memandangi wanita bersanggul besar itu. Aku langsung menyalaminya.


‘’A—aku Chika, temen—‘’


‘’Tante udah tahu kok,’’ potongnya yang membuat aku membulatkan mata.


Seperti ada aura lain di diri wanita ini. Dia juga berlagak sok ratu menurutku. Ah, kekayaan orangtuaku sepuluh kali lipat darimu, tante.


‘’Tante senang kok kamu tinggal di sini. Tapi, kamu nggak keberatan kan bantu-bantu Tante di sini?’’ Membuat mataku membulat.


‘’Parah banget nih orang. Dia mau jadiin aku sebagai pembantunya? Ogah!’’


‘’A—apa?’’ Tak mampu lagi aku menahan kesabaran hingga aku membentak wanita itu.


Chika! Tenang, anggap saja ini semacam latihan untukmu. Kamu tak mau kan tinggal di jalanan? Aku menggeleng secepatnya.


‘’Ma’af, Tante. Maksud aku—‘’


‘’Ma? Mama yang benar ajalah. Masa iya nyuruh Chika bantu-bantu pekerjaan rumah. Gimana sih Mama ini?’’ Wanita berambut sebahu itu menghampiri kami. Wajahnya terlihat kesal.


‘’Emang Mama salah? Anggap aja itu bentuk latihan untuk Chika. Biar jadi terbiasa nanti ketika berumah tangga. Lagian Chika nggak keberatan kok,’’ katanya dengan enteng sambil melipat tangan di dada lalu beralih menatapku.


Huft! Ingin aku menyumpel mulut wanita bersanggul besar ini. Mas Deno saja tak pernah kubantu mengerjakan pekerjaan rumahku. Malah dia sendiri yang beberes rumah hingga membersihkan toilet.


‘’Mama kamu benar, Fan. A—aku nggak keberatan kok. Biar aku bantu membereskan rumahmu.’’ Astaga! Ini mulut tak bisa diajak kompromi. Kenapa kata-kata ini yang keluar dari mulut?


‘’Tuh kan. Wanita bersanggul besar itu tersenyum.’’


‘’Kamu yakin, Chik?’’ Aku mengangguk cepat.


‘’Sebagai bentuk terima kasihku. Karena kalian udah mengizinkanku tinggal di sini.’’ Aku menatap wanita berambut sebahu itu lalu beralih menatap mamanya.


‘’Fan, kamu istirahat ya, Nak. Pasti capek kan karena semalam nggak tidur,’’ ujar wanita itu pada anaknya.


‘’Hem, iya, Ma.’’ Fani beralih menatapku.


‘’Chik. Kamu kalo mau makan ambil sendirian aja ya. Anggap aja ini rumah kamu. Jangan sungkan-sungkan,’’ kata Fani sambil tersenyum.


‘’Aku mau istirahat dulu. Capek banget aku, Chik.’’


Belum selesai aku menyahut ucapannya, wanita berambut sebahu itu bergegas meninggalkanku. Seketika perutku bernyanyi sendu. Duh! Aku mengusap perut. Semoga saja si tante itu tak mendengar nyanyian sendu perutku.


‘’Kamu pasti laper kan? Hayo ngaku.’’


Membuat aku terkesiap, dengan terpaksa aku mengangguk lemah. Mana tahu wanita ini berbesar hati memberikanku makanan enak.


‘’Ayo ikut Tante,’’ titahnya yang membuat aku tersenyum, lalu mengikuti langkahnya.


‘’Lah, ini bukan ke ruang makan. Mau apa nih wanita bersanggul besar?’’


Astaga! Aku malah dibawa menuju wastafel. Apa jangan-jangan dia menyuruhku mencuci piring kotornya? Dia menjadikan aku sebagai pembantunya? Membuat aku bergidik ngeri.


‘’Kamu cuci dulu semua piring. Setelah itu, kamu boleh makan sepuasnya.’’ Dengan entengnya dia berucap seperti itu sambil menunjuk piring kotor yang bertumpukan.


‘’Gila bener nih wanita sanggul besar. Masa iya tangan mulusku rusak gara-gara menyentuh piring kotor sebanyak itu.’’


Apa dia tak bisa merelakan sedikit makanan enaknya untuk pengganjal perutku, apalagi aku tengah berbadan dua. Seketika perutku kembali bernyanyi sendu.


‘’Tuh kan. Kamu pasti laper banget. Buruan cuci piringnya, Chika.’’


‘’Di dunia ini apapun harus pakai usaha. Jadi kamu kalo pengen makan ya kamu harus berusaha juga dong. Berusaha membantu Tante mencuci piring contohnya,’’ ujarnya yang membuat gendang telingaku sakit.


Dengan malas aku mendekati wastafel itu. Kupandangi piring kotor nan menjijikkan. Membuat perutku terasa diaduk-aduk. Kututup mulut dengan telapak tangan.


‘’Ingat, di dunia ini nggak ada yang gratis,’’ bisiknya di telingaku yang membuat aku terperanjat.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2