
Hatiku hancur mendengar tuduhan menantuku, dia menuduh anakku bermain api di luar sana dengan wanita lain hingga di Rahim wanita itu tumbuh benihnya Deno. Daripada hatiku semakin hancur lebih baik aku matikan sambungan sepihak telepon itu. Kuletakkan benda itu dengan kasar ke tempat tidur.
‘’Apa benar itu semua? Atau cuman karangan istrinya?’’ Aku kembali meraih benda canggih itu dan langsung menghubungi nomor kontak seseorang.
Berdering…
Namun, tak kunjung diangkat. Atau memang benaran? Hingga Deno tak mau mengangkat telepon dariku karena dia takut. Ah, tapi aku tahu betul bagaimana anak semata wayangku itu. Dia sangat mencintai istrinya, tak mungkin dia selingkuh di luar sana.
‘’Assalamua’alaikum, Ma!’'
‘’Nggak usah berbasa-basi! Mama tahu kamu berusaha menutupi ini semua dari Mama dan Papa kamu. Kamu selingkuh?!’’ kataku tak menyahut ucapan salamnya.
‘’Ma, Mama tenang dulu ya. Aku bisa jelasin semuanya.’’
‘’Tenang? Bagaimana Mama bisa tenang sementara rumah tanggamu lagi hancur! Kamu selingkuh di luar sana dan selingkuhanmu sedang mengandung anak kamu!’’ Kali ini nada suaraku naik kembali beberapa oktav.
‘’Ini nggak kayak yang Mama pikirkan. Mama tahu kan bagaimana aku? Aku sangat mencintai Nelda. Perjuangan aku untuk mendapatkan dia begitu susah dulunya, Ma. Masa aku akan menyia-nyiakan dia begitu saja.’’ Aku merasa sedikit tenang kali ini. Ya, anakku benar juga.
Perjuangannya mendapatkan Nelda dulu tak mudah, begitu banyak rintangan yang dihadapi oleh putraku itu. Tak mungkin dia begitu mudah menyia-nyiakan wanita yang sangat dicintainya, tak mungkin dia tega berselingkuh di luar sana dengan wanita lain. Tapi, kenapa istrinya mengatakan seperti itu? Kenapa Nelda mengatakan bahwa suaminya telah berselingkuh tanpa sepengetahuannya? Ada apa ini? Kenapa aneh menurutku?
‘’Ma, Nelda itu salah paham. Oke, akan aku ceritakan semuanya ke Mama. Istri dari temen kantorku baru hamil, dia ngasih surprise ke suaminya. Nah, tast pack itu dibawanya ke kantor dan memperlihatkan ke kami semua. Pas mau pulang, dia minta anterin ke aku ke rumahnya. Eh, ternyata tast pack itu ketinggalan di mobilku. Dari sanalah, Nelda menuduh aku selingkuh dan menuduh aku menghamili wanita lain, Ma,’’ jelasnya panjang lebar di seberang sana.
Aku menghela napas berat,’’ Semoga aja yang diceritakan oleh Deno benar adanya,’’ gumamku dalam hati.
‘’Tapi kenapa kamu ngga jelasin ke istrimu? Kenapa Deno?’’
‘’Udah aku jelasin, Ma. Dia tetep aja nggak percaya dengan apa yang aku jelasin.’’
‘’Ya Allah. Kesalahpahaman ini harus segera diselesaikan, Den. Anakmu nanti yang akan jadi korban. Kamu nggak kasihan sama Naisya?’’
Tak kudengar lagi sahutan dari Deno.
‘’Hallo! Deno?’’
Tetap saja tak ada sahutan di seberang sana. Hening! Bergegas kupandangi benda canggih itu. Benar saja, ternyata sudah terputus sambungan teleponnya.
__ADS_1
Seketika benda canggih yang kugenggam berdering, pertanda pesan masuk.
‘’Ma’af, Ma. Jaringan aku kurang bersahabat, jadinya mati sendiri. Aku mau mampir ke rumah, tapi aku masih sibuk di kantor.’’
‘’Aku kira dia sendiri yang mematikan sambungan telepon,’’ lirihku yang menghela napas panjang.
Seketika aku terbayang penjelasan Deno. Apa iya ini hanya kesalahpahaman saja? Kalau begitu, aku harus bisa mengembalikan kepercayaan Nelda lagi dan aku harus mendamaikan mereka berdua. Aku tak mau mereka berpisah hanya karena kesalahpahaman yang terjadi.
Aku mondar-mandir di kamar, memikirkan bagaimana caranya untuk mendamaikan mereka kembali. Tak baik jika berlama-lama mereka seperti ini, tentu akan berimbas pada cucuku. Apalagi aku juga menginginkan cucu laki-laki dari mereka. Jika keadaannya masih seperti ini, tentu keinginanku untuk mendapatkan cucu lelaki tak kan pernah tercapai.
‘’Ah iya, bagaimana kalo aku bikini surprise untuk mereka berdua. Dinner romantis bagus kali ya. Siapa tahu mereka suka.’’
‘’Tapi aku nggak bisa menyiapkannya. Apa aku minta tolong ke Juwita aja kali ya? Dia kan lebih tahu selera anak muda zaman sekarang.’’ Walaupun beberapa hari nan lalu wanita itu sempat membuat aku kesal, tapi begitulah seorang Juwita yang mulutnya asal bicara saja.
Aku bergegas bangkit dan membiarkan benda canggih itu terletak di tempat tidur. Seketika suamiku memasuki kamar, membuat aku menghentikan langkah yang hendak ke luar dari kamar.
‘’Mama? Mau ke mana?’’
‘’Ini Mama mau ke rumah Juwita,’’ sahutku seadanya. Membuat lelaki yang setia menemaniku itu mengernyitkan kening.
‘’Mama mau minta bantuannya, Pa. Untuk menyiapkan acara buat anak dan menantu kita.’’ Aku tersenyum lebar memandangi suamiku yang tengah keheranan itu.
‘’Maksud Mama surprise?’’
Dengan cepat aku mengangguk. Apa aku ceritakan saja sama suamiku tentang kesalahpahaman yang terjadi di keluarga anakku? Ah, tidak! Aku tak mau jika nantinya suami malah kepikiran, apalagi dia baru saja sembuh dan keadaannya belum sepenuhnya stabil.
‘’Iya, Pa. Biar mereka makin romantis. Mama mau menyiapkan dinner untuk mereka berdua. Mama ingin mereka itu langgeng pernikahannya sampe maut memisahkan. Kan Papa tahu sendiri kalo Deno itu sibuk banget, hingga nggak ada lagi waktu buat dia berduaan dengan istrinya,’’ jelasku panjang lebar. Si suami tampak manggut-manggut.
‘’Ide yang bagus. Papa setuju itu. Mereka pasti suka.’’
‘’Tapi hubungan mereka baik-baik saja kan, Ma?’’ Ada gurat kekhawatiran tampak di wajah senjanya itu.
‘’Pa, jangan cemaskan mereka ya. Do’akan saja agar mereka langgeng rumah tangganya. Alhamdulillah, Deno dan Nelda mereka baik-baik dan rukun saja,’’ kataku yang berusaha meyakinkan suamiku itu. Walaupun di pikiranku ada sesuatu yang mengganjal.
‘’Mama mau pergi dulu sebentar ke rumah Juwita. Sarapan Papa ada di meja udah Mama siapkan.’’ Aku menepuk pelan lengan suamiku.
__ADS_1
Dia masih tegak mematung, entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Tanpa menunggu jawaban darinya, aku bergegas melangkah ke luar dari rumah menuju rumah Juwita yang tak begitu jauh dari rumahku. Hanya berjalan kaki saja, cukup waktu kurang delapan menit.
‘’Ibu?’’ Wanita itu seperti orang kaget saja memandangi kedatanganku. Dia tengah menyapu di teras rumahnya. Seketika menghentikan tangannya bekerja.
‘’Assalamua’alaikum, Juwita,’’ sapaku kemudian dengan ramah.
‘’Wa—wa’alaikumussalam. Eh, Ibu Minah? Tumben,’’ katanya.
‘’Emang nggak boleh ya, saya mampir ke rumah kamu?’’ tanyaku sambil terkekeh pelan.
‘’Boleh kok. Saya kaget aja gitu. Biasanya Ibu nggak pernah main ke sini,’’ sahutnya yang ikut tersenyum canggung.
‘’Atau Ibu butuh bantuan saya?’’ imbuh wanita berambut sebahu itu kemudian.
Aku mengangguk cepat,’’Saya mau minta tolong menyiapkan dinner untuk anak dan menantu saya. Kan mereka nggak pernah berduaan. Apalagi Deno selalu sibuk bekerja. Kamu bisa kan? Habisnya saya nggak tahu lagi harus sama siapa minta tolong selain kamu,’’ lirihku. Dia terdiam sangat lama. Apa dia keberatan membantuku?
‘’Kamu bisa bantu saya kan?’’ ulangku kembali karena sejak tadi tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya sebagai jawaban dari ucapanku. Aku rasa dia keberatan atau dia sibuk? Ah, bukannya dia tak bekerja. Karena kemarin habis operasi dan biaya sehari-hari pun dikirimi oleh kedua orang tuanya yang sedang bekerja di luar kota.
‘’Ah, begini saja. Saya bayar deh. Asalkan kamu mau,’’ kataku kemudian yang memandangi wajah wanita itu. Ekspresinya sangat sulit untuk kuterjemahkan. Dia masih mematung sambil memegangi sapu di tangannya.
‘’Bu—bukan saya nggak mau bantu Ibu.’’
‘’Lalu kenapa? Kamu sibuk?’’
‘’Dinner itu nggak akan membuat mereka bahagia, Bu. Terutama Mba Nelda.’’
‘’Apa maksud kamu, Juwita?!’’
Bersambung.
Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya.
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe
__ADS_1