
‘’Iya, Bibi tenang aja yah. Tapi aku yakin kalo Naisya itu mau bermain sama Dodo,’’ kataku mencoba meyakinkan si bibi, namun dia wajahnya seperti kurang senang dan tak percaya dengan apa yang barusan kukatakan. Entah kenapa, aku pun tak tahu. Wanita itu bergegas melangkah tanpa menyahut ucapanku.
‘’Bi? Sebentar.’’
‘’Ah, iya, Bu?’’ wanita separuh baya itu menghentikan langkahnya dan menoleh seketika.
‘’Bibi harus pandai membujuk Naisya. Aku yakin kok kalo Bibi bisa membujuk Naisya,’’ kataku sambil menatap si bibi yang ekspresinya sulit kuartikan.
‘’Iya, Bu. Akan Bibi coba ya.’’ Dia mengangguk dan bergegas kembali melanjutkan langkahnya memasuki rumah.
Mataku beralih menatap lelaki yang berseragam itu, yang sedari tadi mematung. Seketika benda canggih di saku-sakunya berdering. Namun, dia hanya memandangi layar benda itu tanpa menjawab panggilan tersebut.
‘’Siapa sih yang nelpon Dodo? Kok dia nggak mau mengangkat telpon itu?’’ gumamku dalam hati.
‘’Do, siapa? Kok nggak kamu angkat?’’
‘’A—anu, Bu.’’ Dia gegalapan dan menggaruk kepalanya.
‘’Bicara itu yang jelas dan jangan ngegantung begitu dong. Pacar kamu yang nelpon? Kamu segan sama saya? Biasa aja kali, Do,’’ kataku yang nada suara naik beberapa oktav.
Dia tersenyum canggung. Kenapa lelaki ini? Siapa yang menghubunginya? Apa kekasihnya yang jauh di sana ingin mengobrol dengan Dodo?
‘’Huum, ma’af. Saya angkat dulu kalo gitu, Bu.’’ Dia bergegas melangkah sambil membawa benda canggih itu di tangannya. Sepertinya dia menjauh agar bisa mengangkat telpon dari seseorang itu? Siapa sebenarnya orang itu?
‘’Kenapa aku jadi penasaran ya?’’
‘’Seperti dia menyembunyikan sesuatu?’’
Ah, tidak! Dodo tak mungkin menyembunyikan sesuatu dariku. Mungkin dia segan saja bicara di depan aku, apalagi jika yang menelpon itu adalah kekasihnya. Jadi, mana bisa dia menjawab telepon dari kekasihnya di depan majikannya sendiri. Ah, seharusnya aku mengerti. Karena aku juga pernah muda. Aku juga pernah merasakan cinta jarak jauh seperti Dodo. Kehadiran bibi dan Naisya mampu menyadarkan lamunanku.
‘’Bi, Adik mau mainnya sama Om Reno. Nggak ngebosenin,’’ rengeknya seketika.
‘’Sama Om Dodo aja dulu ya. Adik pasti seneng. Om itu baik banget loh,’’ bujuk wanita separuh baya itu.
‘’Nggak, Bi. Jangan paksa Adik,’’ kesalnya kemudian.
‘’Sayang, Adik mainnya sama Om Dodo dulu. Om Reno lagi sibuk banget hari ini. Dia lagi kerja,’’ kataku kemudian yang mendekati putriku dan mensejajarkan tinggiku dengannya.
‘’Wah, Adik udah siap nih mau main sama Om?’’ Seketika lelaki itu sudah berada di sampingku. Entah sejak kapan dia menampakkan batang hidungnya di sini. Mataku kembali menatap Naisya, dia malah tampak cemberut.
‘’Kok cemberut sih? Adik ntar jelek loh. Senyum dong. Mana senyumnya?’’ katanya lagi.
__ADS_1
‘’Biarin Adik jelek!’’ kesalnya yang membuat aku dan bibi tersenyum lebar.
‘’Ya udah. Kalo gitu Om mau beli es krim cokelat. Adik mau nggak?’’ Membuat aku terkesiap. Dari mana lelaki itu tahu kalau anakku suka sekali dengan es krim cokelat. Seketika membuat wajah Naisya berubah. Dia yang tadi cemberut, kini wajahnya ceria.
‘’Mau mau, Om.’’
‘’Oke. Tapi kita makan es krimnya sambil main di post. Adik mau kan?’’ Naisya tampak mengangguk. Lelaki itu menarik tangan anakku dengan pelan.
‘’Adik mau main dulu ya, Ma.’’
‘’Iya, Sayang. Jangan nakal ya,’’ sahutku yang membelai rambutnya. Dia menyahut dengan anggukan.
‘’Ya udah, saya bawa dulu Naisya, Bu.’’
‘’Iya, Do. Jaga Naisya baik-baik ya. Dan kalo kamu mau bawa dia beli es krim, di warung terdekat aja,’’ saranku kemudian yang membuat lelaki itu menoleh.
‘’Iya, Bu.’’ Dia bergegas membawa Naisya.
Membuat hatiku lega seketika. Semoga saja anakku nyaman dan senang bermain sama security rumah pribadiku itu. Sepertinya lelaki itu juga senang sama anak-anak.
‘’Aku nggak nyesel menerima Dodo bekerja di sini. Dia bisa bikin anakku seneng,’’ gumamku dalam hati yang menatap punggung mereka. Seketika hilang dari pandanganku.
‘’Bu?’’ panggil wanita separuh baya yang sejak tadi mematung di sampingku. Aku menoleh.
Aku tersenyum lebar,’’ Yakinlah, Bi. Aku yakin dan percaya. Lagian Dodo itu orangnya baik banget dan kayaknya Naisya juga seneng sama dia. Daripada Reno atau lelaki pengkhianat itu ke sini. Aku nggak mau ah, Bi. Lebih baik security sendiri kan, Bi?’’ kataku panjang lebar dan memandangi wajah bibi yang ekspresinya sangat sulit untuk kuterjemahkan.
‘’Kenapa? Bibi nggak suka ya sama Dodo? Bukannya kemaren Bibi akur-akur aja sama dia?’’ selidikku sambil terkekeh pelan. Si bibi malah manyun bibirnya. Membuat aku makin terkekeh.
‘’Lah, Ibu. Bibi ini serius loh. Dia itu kayak menyembunyikan sesuatu dari kita. Makanya Bibi males aja ngelihat lelaki itu.’’
‘’Bibi nggak biasanya males sama orang lain kalo nggak ada alasan yang jelas. Dan biasanya tebakan Bibi selalu benar. Apa lelaki itu benaran menyembunyikan sesuatu dariku?’’ monologku dalam hati.
Ah, mungkin hanya perasaan si bibi saja kali. Orang sesopan dan sebaik Dodo tak mungkin tega menyembunyikan sesuatu. Ya, sekarang aku harus berpikiran positive. Tak baik jika berprasangka buruk pada orang lain tanpa ada bukti yang kuat.
‘’Jangan khawatir gitu dong, Bi. Bismillah, semoga Naisya baik-baik saja.’’ Aku menepuk lengan bibi dengan pelan hingga membuat dia sedikit kaget.
‘’Humm, kalo Bibi khawatir sama Naisya, Bibi boleh deh ngawasin mereka dari jarak jauh. Lagian kan kerja Bibi udah beres semua,’’ saranku yang membuat wanita separuh baya itu menatapku, lalu senyuman terbit di bibirnya.
‘’Ide bagus tuh, Bu. Ya udah, Ibu sarapan dulu sana. Biar Bibi yang ngawasin Naisya,’’ sahutnya dengan semringah.
Aku mengangguk, wanita yang kuanggap sebagai orang tuaku itu bergegas melangkah. Sedangkan aku memutuskan untuk memasuki rumah. Aku ingin sarapan dulu sejenak, perutku sedari tadi demo minta diisi.
__ADS_1
***
Kupandangi ruang makan, telah tertata indah hidangan yang mengundang lapar. Aku menghenyak di kursi seketika dan mataku tertuju pada kursi sebelah yang kosong.
‘’Biasanya yang duduk di samping aku adalah suamiku. Tapi sekarang—‘’
‘’Astaghfirullah! Nel, ngapain kamu mikirin lelaki yang udah tega mengkhianati kamu? Jangan merasa sepi. Lebih baik kamu sendiri, daripada berdua selalu dikhianati.’’
Aku mengusap muka dengan kasar dan berulang kali mengingatkan diri sendiri. Kutarik napas dengan pelan, lalu menghembuskannya kembali.
‘’Oke, sekarang aku lebih baik sarapan dulu.’’
Bergegas kuambil piring dan menambuhkan nasi, lalu kulengkapi dengan sambal rendang favoritku, buatan si bibi.
Baru dua suap nasi yang aku santap, seketika wajah mama Minah menari di benakku.
‘’Mama? Kenapa aku tiba-tiba kepikiran Mama ya? Kenapa tiba-tiba wajah beliau terbayang olehku?’’ Aku menghentikan suapku seketika. Rasanya hatiku tak enak. Ada apa ini?
‘’Ya Allah, semoga Mama baik-baik aja di sana.’’
Entah kenapa hati aku jadi tak enak dan selera makanku jadi hilang begitu saja. Bunyi telepon rumah membuat aku terkesiap. Bergegas aku melangkah ke ruang keluarga.
‘’Assalamua’alaikum, Mba Nelda.’’
‘’Wa—wa’alaikumussalam. Ma’af ini siapa?’’
‘’Ini saya Juwita, tetangganya Bu Minah. Aku mau ngasih kabar kalo mertua Mba—‘’
‘’Kenapa dengan mertua aku?!’’
‘’Beliau masuk rumah sakit.’’
‘’Astaghfirullah! Ya Allah, Mama!’’ Aku terperanjat dan membungkam mulut seketika dengan deraian air mata.
‘’Apa ini ada hubungannya sama rumah tangga aku dan Mas Deno?’’
Bersambung..
Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya.
See you next time!❤
__ADS_1
Instagram: n_nikhe