Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Karena Aku Berhutang Nyawa


__ADS_3

POV Fani


‘’Kamu itu nggak ada tempat tinggal, Chik. Aku takut kamu kenapa-napa di jalan. Kamu itu udah baik banget sama aku. Masa aku akan membiarkan kamu begitu saja.’’


Aku menatap sendu pada wanita yang bernama Chika itu. Sungguh menyedihkan sekali nasipnya, diusir oleh orangtua. Aku tak tahu apa penyebab dia diusir, aku ingin menanyakan hal itu. Namun, sepertinya waktunya belum tepat bagiku untuk bertanya apa penyebab dia diusir dari rumah.


Jujur saja, aku sangat prihatin dengan kondisi wanita ini. Makanya aku menawarkannya untuk menginap di rumahku sementara. Apalagi dia sudah berbaik hati membantu biaya administrasi papaku, jika tak ada dia yang membayar. Aku tak tahu apakah papa bisa diselamatkan atau tidak. Aku dan keluarga sudah berhutang nyawa pada wanita itu.


Tadi aku kaget memandangi dia yang menghampiriku sambil menenteng koper. Ternyata dia mau pergi dari rumahku karena tak tahan dengan perlakuan mama. Seketika teringat olehku, mama yang menyuruh dia mencuci piring yang bertumpukan. Padahal Chika di rumahnya tak pernah mencuci piring satu buah pun, apalagi akan mencuci piring sebanyak itu.


Pekerjaan rumah pun dikerjakan oleh asisten rumah tangganya, aku tahu bagaimana wanita yang bernama Chika. Dia itu kaya raya, tentu bisa saja menggaji asisten untuk bekerja setiap hari di rumah mewahnya. Lah, di sini mama malah menyuruh Chika untuk membantu pekerjaan rumah.


Kurasa begitu berat dan sangat terpaksa bagi seorang Chika. Dia bahkan seperti tertekan ekspresinya ketika bercerita denganku. Aku kasihan sekali, makanya aku memutuskan untuk membawa kembali wanita itu ke rumah, untuk tinggal bersamaku. Ya, walaupun nantinya akan timbul berdebatan antara aku dan mama. Seperti yang dikatakan oleh Chika tadi, kalau mamaku tak menyukai kehadirannya di rumahku.


Aku pun sebenarnya berpikiran yang sama, terlihat dari cara mama memperlakukan wanita itu. Lain halnya dengan Nelda, dulu dia sering bermain ke rumah. Bahkan menginap di sini. Tapi, mama tak pernah memperlakukan Nelda dengan kasar dan malah mama tak membolehkan wanita itu untuk sekadar membantunya beberes rumah. Eh, kini kok begitu berbeda perlakuannya pada Chika? Aku heran. Apa ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh wanitaku itu?


‘’Ta—tapi…’’


‘’Hussh, kamu nggak boleh menolak tawaranku.’’


Aku bergegas menarik tangannya untuk melangkah menuju tepi jalan yang sangat dekat dengan rumah sakit. Akhirnya taxi itu muncul, kulambaikan tangan ke arahnya.


‘’Naiklah, Chik,’’ ajakku karena dia tak kunjung menaiki taxi, sedangkan aku sudah berada di dalam. Dia mengangguk ragu lantas duduk di sampingku.


‘’Ke komplek Pertiwi ya, Pak.’’


‘’Oke, Mba,’’ sahut lelaki itu yang menoleh sejenak lalu fokus mengemudi.


Di perjalanan tiada obrolan yang tercipta antara aku dan Chika. Kami hanya larut dalam pikiran masing-masing. Sekilas kupandangi wajah wanita yang tengah duduk di sampingku ini, dia seperti punya beban pikiran yang banyak.


Ya, mungkin dia kepikiran dengan orangtuanya yang mengusir dari rumah begitu saja dan ditambah lagi tuduhan Nelda yang dilemparkan pada wanita itu. Ah, kalau aku jadi Chika mungkin aku akan memilih bunuh diri saja, karena tak sanggup memikul beban sebesar itu.

__ADS_1


‘’Kasihan sekali kamu, Chik,’’ gumamku dalam hati sambil menatap sendu ke arahnya. Tak berselang lama, kami sudah tiba di depan rumah.


Aku bergegas turun, sedangkan wanita itu masih bergeming di dalam taxi. Aku yakin dia pasti merasa enggan dan tertekan untuk balik lagi ke rumahku. Bergegas kuberikan ongkos pada sopir.


‘’Makasih, Mba,’’ ujarnya sambil tersenyum ramah. Aku hanya membalas dengan anggukan.


‘’Chika? Kita udah sampe nih.’’ Sengaja kubesarkan volume suara.


‘’Hem. Ah iya. Udah sampe ya, Fan.’’


Membuat lelaki yang di depan menggeleng pelan memandangi Chika. Wanita itu bergegas turun, seketika taxi hilang dari pandangan kami.


‘’Fan, kamu yakin?’’


Wajah Chika tampak ragu menatapku. Kuberikan senyum penguat untuknya lalu menggandeng tangannya.


‘’Yakin banget.’’ Aku mengangguk yakin dan membawanya melangkah untuk memasuki rumah.


‘’Kamu? Katanya mau pergi dari sini. Kok malah kembali ke sini lagi? Takut jadi gembel ya,’’ ketus mama sambil melipat tangan di dada.


‘’Aku yang bawa Chika ke sini, Ma,’’ kataku to the point. Membuat mama terkesiap, matanya begitu tajam menatapku.


‘’Apa? Kamu yang bawa dia ke sini? Apa untungnya sama kamu? Emang dia mau membantu kamu?’’ Nada suara mama sungguh meninggi.


‘’Ma, kalo bukan karena dia Papa nggak akan bisa dirawat sampe sekarang.’’


‘’Apa maksud kamu, Fan?’’ selidik mama.


Entah kenapa tatapan mama yang menjurus pada Chika seperti tatapan benci. Apa aku salah kira? Atau memang benar apa yang tengah kulihat sekarang? Ada apa ini?


‘’Chika yang udah bayar semua biaya administrasi Papa,’’ kataku lirih dan tak menatapnya lagi.

__ADS_1


Entah kenapa membuat aku kesal saja, perlakuan mama sungguh sudah keterlaluan pada Chika.


‘’Oke, Mama akan membayar semuanya.’’ Tak kukira itu jawaban dari wanita yang telah melahirkanku itu.


Kukira mama akan luluh dan merasa kalau keluargaku sudah berhutang nyawa pada Chika, ternyata tidak. Sangat jauh di luar ekspetasiku.


Aku menggeleng cepat,’’Ma, sebanyak itu kita nggak akan mampu untuk membayarnya. Nah, makanya sebagai balasannya Chika tinggal sementara di rumah kita. Tolonglah, Ma. Jangan bersikap aneh-aneh sama dia,’’ kataku dengan ketus. Entah kenapa darahku seketika mendidih dibuatnya.


‘’Nggak, Fani! Mama sendiri yang akan membayar!’’


Membuat aku terkesiap dengan suara mama yang menggelegar sambil menunjukku.


‘’Jadi maksud Mama, Mama nggak mengizinkan Chika untuk tinggal di sini? Iya?’’


‘’Mama bukan orang yang aku kenal dulu. Jauh berbeda dengan sekarang. Nggak ada rasa prikemanusiaannya.’’


Seketika pipi mama mendarat di pipiku. Membuat aku terperanjat kaget dan memegangi pipi yang terasa perih. Tapi hatiku lebih perih rasanya daripada pipi. Baru kali ini mamaku berani menampar anak semata wayangnya sendiri. Cuman karena aku membawa kembali Chika ke sini, mama tega menamparku?


‘’Ma!’’ teriakku dengan deraian air mata.


‘’Ma—ma’afkan Mama..’’ katanya dengan nada bergetar dan memandangi tangannya yang digunakan untuk menamparku.


Seketika buliran air mata menetes di pipinya. Aku tak habis pikir dengan kelakuan mama. Dia menamparku, kini dia meminta ma’af padaku. Apa yang terjadi sama mamaku ini?


‘’Cukup!’’ teriak Chika yang membuat mama terdiam.


‘’Ma’af, Fan. Gara-gara aku kamu jadi kena tampar sama Mama kamu. Kalian jadi berantem,’’ lirih wanita itu.


‘’Aku harus pergi dari sini. Aku nggak mau jadi bahan masalah buat kalian berdua.’’ Dia bergegas berlari ke luar sambil menenteng koper. Aku langsung mengejarnya.


‘’Chika!’’

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2