
Aku terperanjat kaget dan dada terasa sesak,’’Ya Allah! Apa dia nggak sadar kalo dia yang memulai duluan?’’ Ah, lebih aman jikalau kumatikan saja ponsel ini. Aku bergegas menekan tombol off.
‘’Bu?’’
‘’Ah, iya, Sus,’’ sahutku yang menoleh, ternyata suster itu masih berdiri mematung di sana. Mungkin dia terheran dengan ekspresiku tatkala membaca pesan yang dikirimi oleh wanita murahan itu.
‘’Ibu baik-baik saja?’’
‘’Saya baik-baik saja kok, Sus.’’ tanganku masih memegangi ponsel dan bergegas meletakkannya. Suster itu kedua matanya masih fokus memandangiku.
‘’Alhamdulillah.’’
‘’Tapi ma’af sebelumnya nih, Bu. Kalo nggak ada keperluan penting, jangan pegang handphone dulu,’’ sarannya kemudian. Dalam hati aku membenarkan saran dari suster, aku hanya mengangguk.
‘’Ya udah, makanlah dulu, Bu! Nanti jika Ibu butuh apa-apa, pencet saja bel itu.’’ dia menunjuk ke dinding tampak tombol bel disediakan di sana.
‘’Iya, Sus. Makasih,’’ kataku.
‘’Sama-sama, kalo begitu saya tinggal dulu.’’ aku hanya membalas dengan anggukan lagi. Suster cantik itu melangkah ke luar dan menutupi pintu kembali.
Bagaimana bisa aku akan makan malam dengan pikiran yang melayang ke mana-mana, apalagi kepalaku terasa pusing kembali. Perlahan aku duduk dan menatap benda yang melingkar di dinding itu. Ternyata sudah menunjukkan pukul 21.00. Seketika terdengar bunyi ketukan pintu.
‘’Assalamua’alaikum, Nel!’’ alangkah kagetnya aku tatkala melihat siapa yang datang.
‘’Wa—wa’alaikumussalam, Mama?’’
Tampak wajah senjanya menyimpan kekhwatiran di sana.
Semoga saja mama tak tahu soal live-ku di instagram kemarin. Ya, setahuku mama memang tak suka bersosial media, tetapi aku cemas jika beliau tahu dari tetangga atau dari temannya. By the way, dari mana mama tahu ya, bahwa aku di rawat di rumah sakit karena kecelakaan. Apa dari bibi? Ah, tak mungkin bibi menghubungi mertuaku itu.
Atau pihak rumah sakit yang menelpon? Kalau pihak rumah sakit yang menelpon, dari mana dapat nomornya? Bukankah ponselku dipegang oleh lelaki yang menyelamatkanku itu. Lalu dari mana mama dapat kabar mengenai kecelakaanku? Ah, sudahlah. Sekarang aku tak boleh banyak pikiran dulu. Eh, tapi sungguh mengganjal di pikiranku.
Sebesar apapun masalahku dengan papa anakku itu, aku tak kan melibatkannya ke mertua, apalagi beliau selama ini sudah baik sekali sama aku. Jika aku bermasalah dengan mas Deno, aku akan membencinya saja, aku akan marah sama mas Deno saja. Prinsipku itu, jika punya masalah dengan seseorang, orang lain jangan dibawa.
‘’Kok kamu bisa kecelakaan, Nel?’’ beliau bergegas menghenyak di sofa dan meletakkan sesuatu yang ditentengnya, entah apa isinya. Sedikit membuat aku merasa lega. Kalau seandainya mama tahu pasti bukan itu yang beliau tanyakan.
Aku harus jawab apa? Kucoba menenangkan pikiran dengan cara menghela napas pelan.
__ADS_1
‘’Ya Allah, bantulah aku.’’
‘’Nel?’’ panggilnya yang membuat membuyarkan lamunanku.
‘’Ah, iya, Ma.’’
‘’Kamu kenapa bisa kecelakaan begini? Kenapa nggak Deno yang menyetir?’’ tanya mama masih menelusuri wajahku.
Aku hanya menunduk. Lidahku begitu kelu dan aku tak tahu harus jawab apa ke mama? Apa aku harus jujur? Tapi, aku takut nanti malah kambuh penyakit mama karena kepikiran masalah rumah tanggaku dan anaknya. Mama sakit asam lambung kronis, jika stress atau banyak pikiran akan membuat pengeluaran asam lambung berlebih. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara otak dan system pencernaan melalui system saraf pusat. Hubungan ini yang menyebabkan kondisi psikologis seseorang yang terpusat di otak akan berpengaruh secara langsung ke system pencernaan, salah satunya yaitu lambung.
Sudah dua kali mama menjalankan operasi asam lambungnya dan kini tahap pemulihan. Makanya aku tak mau jika mama tahu mengenai masalah yang menimpa rumah tanggaku, aku tak mau penyakit mertuaku itu kambuh dan berakibat fatal nantinya. Apalagi asam lambung itu susah untuk sembuh. Tapi aku harus jawab apa? Ya Allah!
Aku mengerang kesakitan dan memegangi kepalaku.
Membuat mertuaku itu kaget,’’Kamu istirahat aja, Nel,’’ ucapnya membantuku untuk berbaring. Membuat aku sedikit lega, karena aktingku berhasil.
‘’Ma’afkan aku, Ma. Aku nggak mau Mama nanti malah kepikiran dan kambuh lagi penyakit Mama.’’ aku membatin.
‘’Kalo gitu Mama telpon Deno dulu, ya?’’ dia bergegas merogoh tasnya.
‘’Kenapa? Biar ada yang jagain kamu loh. Mama nggak bisa lama di sini. Kan kamu tahu kalo Papamu itu lagi sakit juga,’’ mama tampak menghela napas pelan. Ya, papa mertuaku itu juga sudah lama sakit dan sering berobat bolak-balik ke rumah sakit.
‘’Mas Deno tadi katanya lembur di kantor, Ma,’’ ucapku lirih yang berusaha menutupi semuanya dari mertuaku.
‘’Lembur?’’ ulang wanita paruh baya itu.
Aku hanya mengangguk pelan sembari memijit kening yang mulai terasa pusing.
‘’Kok bisa-bisanya dia memilih kerjanya ketimbang kamu. Heran deh!’’
‘’Tunggu! Bukannya sekarang hari Minggu?’’ selidik mamaku. Astaghfirullah! Aku lupa kalau sekarang adalah hari Minggu, hari liburnya mas Deno bekerja di kantor.
‘’I—iya, Ma. Memang biasanya beliau libur, tapi untuk kali ini beliau harus masuk kerja. Karena katanya ada masalah kantor yang harus diselesaikannya,’’ kilahku yang berusaha sejak tadi mencari berbagai macam alasan, membuat keringat dingin bercucuran di muka.
‘’Masalah apa, Nel?’’ tanya mama dengan penuh selidik.
‘’Mama nggak usah khawatir. Kan Mas Deno sudah ahli dalam bidang perkantoran. Hanya masalah biasa aja kok, Ma.’’
__ADS_1
‘’Aku nggak apa-apa kok sendirian di sini,’’ tambahku dengan lirih sembari memegangi jemari yang sudah mulai kelihatan keriput itu. Mama tampak menghela napas pelan.
‘’Ya sudahlah, kalo begitu katamu,’’ sahutnya kemudian yang membuat aku sedikit merasa lega. Perlahan aku bangkit, ternyata tubuhku masih terasa sakit.
‘’Kamu makan dulu ya? Biar Mama suapin,’’ titahnya seketika meraih nampan yang dibawa suster tadi.
Ya, kedua mertuaku memperlakukan aku dengan baik. Dan memang beliau adalah orang-orang baik, tetapi putranya kenapa tukang selingkuh begitu? Aku tak habis pikir, padahal mama sering bercerita kalau anak semata wayangnya itu selalu diberi siraman rohani atau nasihat agama. Tetapi kenapa dia bisa melenceng?
Aku mengangguk pelan. Tak ada pilihan lain, selain mama yang menyuapiku. Apalagi tangan kananku ini tengah terpasang infus dengan indah. Aku merapalkan do’a sebelum makan dengan lirih, membuat mama tersenyum. Dan senyuman mama seharusnya menjadi penguat bagiku, tapi entah kenapa malah membuat hatiku teriris. Dengan penuh kasih sayang mama menyuapi bubur ke mulutku.
Seketika terbayang olehku ibu kandungku yang selalu menyuapiku ketika aku sedang sakit dengan candaan kecil yang beliau berikan tetapi mampu membuat hatiku bahagia, kini semua hanya tinggal kenangan saja. Beliau sudah berbeda alam denganku. Ayah lebih dulu menghadap sang ilahi, setelah itu baru ibu menyusul. Aku begitu rindu dengan mereka tetapi, hanya do’a disetiap sujudku yang bisa kulangitkan untuk kedua orang tuaku di alam sana. Mungkin dengan do’a itu bisa menyampaikan bukti kerinduanku dan menjadi pahala untuk keduanya. Aku berharap kepada Allah agar diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya.
‘’Kok kamu malah melamun, Nel?’’ ternyata mama memperhatikanku sedari tadi. Bahkan bubur yang akan disuapi oleh mama ke aku, masih di tangan mama. Aku hanya terdiam saja.
‘’Ayo dong makan lagi!’’ seketika mama kembali menyuapiku. Walaupun buburnya terasa tak enak olehku, aku tetap memaksakan untuk menyantapnya. Mungkin karena aku yang tak selera makan.
‘’Ma, makasih banyak ya. Udah baik banget sama aku,’’ ucapku lirih.
‘’Nel, kamu apaan sih. Pake makasih segala sama Mama, hem ada apa?’’
‘’Kamu itu sudah Mama anggap anak kandung Mama sendiri, bukan sebagai menantu,’’ tambahnya sembari tersenyum. Yang membuat aku makin terenyuh dibuatnya.
Aku menghela napas pelan, memaksakan untuk sedikit tersenyum. Walaupun itu hanya senyuman palsu.
‘’Dan Mama berharap rumah tanggamu dengan Deno akan selalu baik-baik saja, kalian tetap bersama hingga maut memisahkan. Itu yang Mama dan Papa harapkan.’’
Bersambung.
Bagaimanakah kisah selanjutnya?
Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Oh ya, ada yang nungguin aku update nggak? Kemarin kan aku enggak update karena kegiatan full banget. Aku berharap sih ada yang nungguin lanjutan cerita ini. Heheh.
See you next time! ❤
Instagram: n_nikhe
__ADS_1