Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Menemukan Test Pack


__ADS_3

POV Maminya Chika


****


‘’Neneng!’’


‘’Iya, Bu?’’ Seperti biasanya jika aku memanggil, dia pasti akan tergopoh-gopoh berjalan mendekatiku.


‘’Kamu periksa kamar yang biasa ditempati Chika dan semua kamar. Kecuali kamar saya,’’ perintahku.


‘’Kalau kamu menemukan sesuatu. Segera lapor ke saya,’’ lanjutku.


‘’Baik, Bu,’’ sahut Neneng dengan sopan dan menunduk. Wanita itu kembali melangkah untuk menjalankan tugas yang kuberi.


‘’Sebentar, Neneng!’’ Membuat ART itu menghentikan langkahnya lalu menoleh.


‘’Kamu periksa semuanya. Jangan ada yang ketinggalan. Kamu paham?’’


‘’Paham, Bu.’’


‘’Baiklah. Kerjakan tugasmu sekarang juga, Neng.’’ Dia kembali menyahut dengan anggukan dan menghilang dari pandanganku seketika.


Ya, aku sengaja memerintahkan asistenku itu untuk memeriksa semua ruang kamar tempat tidur, kecuali kamarku. Karena selama aku tak berada di kampung, tentu kamarku dikunci. Dan kamar yang lain, tentu pernah dipakai oleh lelaki biadab itu. Pun juga aku tengah mencurigai terjadi sesuatu pada anak semata wayangku itu.


Kusesap kopi yang masih hangat. Kopi ini lumayan bisa menghilangkan rasa sakit kepalaku.


‘’Itu karena kamu, Pi. Punya anak dimanjakan banget. Sekarang apa akibatnya?’’ Aku meletakkan kembali cangkir yang maasih tersisa kopi. Seketika benda canggihku berdering.


Kulihat di layar benda itu


‘’Papi?’’ Keningku mengernyit dibuatnya.


Aku tak tahu harus bicara apa ke suamiku itu. Makanya sedari kemarin aku tak mengabarinya kalau aku sudah tiba di kampung halaman. Tapi kalau aku tak mengatakan yang sebenarnya, dia tak kan tahu bagaimana kelakuan Chika yang sesungguhnya. Kuhela napas dengan pelan.


‘’Hallo, Pi.’’


‘’Mami udah sampe di kampung kan? Kenapa Mami nggak ngabarin Papi?’’ Aku sudah menebak apa yang akan ditanyakannya terlebih dahulu padaku.


‘’Mami lelah dengan kelakuan anak kamu, Pi,’’ kataku dengan suara bergetar. Dada terasa sesak.


‘’Ma—maksud Mami bagaimana? Jangan buat Papi cemas kayak gini dong.’’


‘’Semua warga kampung kita udah tahu kelakuan anakmu. Dia mencoreng muka Mami. Di mana akan Mami sembunyikan muka ini. Mami maluu banget, Pi.’’


‘’Mi, tenang dulu. Apa sebenarnya terjadi pada Chika? Mami jelaskan dulu biar Papi mengerti.’’


‘’Chika membawa lelaki menginap di rumah secara diam-diam. Pada akhirnya diketahui juga oleh tetangga kita,’’ kataku yang berusaha bicara dalam keadaan tenggorokan tercekat.


‘’Ma—Mami Chika nggak mungkin kayak gitu,’’ sanggah suamiku.


‘’Jangan membela yang salah, Mas Setia. Aku nggak pernah mengajarkan Chika kayak gitu. Aku kecewa sama kamu. Karena kamu yang selalau memanjakan dia. Dia jadi wanita ****** kayak gini. Belum menikah tapi sudah berani membawa lelaki meninap ke rumah. Pikir dong, kamu pikir pake otak!’’ Semua rasa kesal dan amarah kuluapkan pada suamiku.


Dada terasak, buliran air mata pun menetes. Namun, secepatnya aku menyeka. Tak ada lagi sahutan dari seberang sana. Kuputuskan sambungan sepihak lalu meletakkan benda canggih itu di sofa. Aku memijit kepala yang terasa nyut-nyutan.


Tak pernah aku berdebat ataupun berkelahi dengan suamiku itu. Ya, baru kali ini. Aku sangat kecewa pada mas Setia. Dia selalu saja memanjakan Chika, tak pernah memberi nasihat apapun pada wanita itu. Papanya memberikan kehidupan bebas bagi dia. Sekarang bagaimana?


‘’Bu? Saya menemukan ini.’’ Aku langsung menoleh.


Aku sungguh terkesiap dibuatnya. Neneng memperlihatkan benda yang tak asing lagi bagiku. Ya, test pack dan obat penguat untuk lelaki.


‘’Di—di mana kamu temukan?’’


‘’Test pack ini di kamar Non Chika, Bu. Sedangkan obat ini di kamar tamu.’’ Rasa sesak di dada kian membuncah. Aku berusaha mengatur napasku.


‘’Bawa ke sini,’’ titahku pada ART.


Dia melangkah mendekatiku dan menyodorkan benda yang membuat darahku mendidih sekaligus membuat dada terasa sesak. Kuperiksa test pack itu, tampak bergaris dua di tengahnya. Membuat hatiku hancur sekatika.


Jadi benar kecurigaanku, kalau Chika tengah mengandung di luar nikah? Makanya para warga menggerebek dan memaksa mereka untuk menikah di balai adat? Sunggguh keterlaluan kamu, Chika! Bisa-bisanya kamu jadi wanita murahan.

__ADS_1


‘’Chika, kenapa kamu melakukan ini semua? Mami nggak pernah ngajarin kamu seperti ini,’’ gumamku dalam hati.


‘’Apa karena rasa cinta, membuat kamu gelap mata.’’


Aku menggeleng mengamati benda yang bernama test pack itu. Entah apa yang ada di pikirannya hingga wanita itu melakukan hal yang tak senonoh. Kupandangi juga obat penguat untuk lelaki. Aku yakin kekasih gelap Chika yang punya ini. Kalau suamiku tak pernah memakai obat ini, karena dia tak perlu memakai obat yang begituan. Suamiku yang bernama mas Setia itu memang tak perlu diragukan lagi kekuatannya dalam bercinta.


‘’Awas kamu, Deno! Kamu belum tahu siapa saya yang sebenarnya,’’ ancamku sambil mengepalkan tangan.


‘’Isikan ke dalam plastik keduanya. Saya sangat butuh barang itu,’’ perintahku pada Neneng yang sedari tadi mematung.


‘’Nanti berikan pada Jodi ataupun Angga,’’ lanjutku.


‘’Baik, Bu.’’ Dia pun menghilang dari pandanganku. Aku menghela napas panjang dan mengusap muka dengan kasar.


‘’Kalau saja aku memaksa Chika untuk ikut bersamaku ke luarkota, pasti semua ini nggak akan terjadi.’’


‘’Pantas saja dia menolak ketika aku ingin membawanya ke luar kota. Ah, aku udah terlambat.’’


***


‘’Bu, kita jadi pergi kan?’’ Kedua lelaki asistenku itu menghampiri aku yang tengah menyantap burger di ruang makan.


‘’Kamu nggak lihat saya sedang apa?’’ ketusku menatap tajam ke arah mereka.


‘’Ma—ma’af, Bu.’’


‘’Nanti akan saya panggil lagi. Yang penting kalian udah menyiapkan semuanya. Sesuai rencana kita,’’ kataku dengan nada rendah.


‘’Baik, Bu.’’ Kali ini Jodi yang bersuara. Mereka pun meninggalkanku.


‘’Ini minumannya, Bu.’’ Neneng datang membawa segelas jus buah naga untukku.


‘’Makasih, Neng,’’ kataku yang masih fokus menikmati burger. Tak berselang lama aku sudah selesai sarapan.


‘’Jodi! Angga!’’


Kedua lelaki itu langsung menghampiriku.


‘’Neneng! Ke sini sebentar.’’


‘’Hem, iya, Bu?’’


‘’Saya mau keluar. Ada hal penting yang harus saya urus. Kamu jaga rumah. Karena Jodi dan Angga akan ikut bersama saya. Jangan lupa, sediakan makan siang seperti biasanya,’’ titahku dengan tegas.


‘’Baik, Bu.’’


Seperti biasa Neneng akan menurut saja apa yang aku perintahkan. Aku langsung memberi kode pada kedua lelaki itu untuk melangkah ke luar dari rumah.


‘’Silahkan, Bu.’’


Lelaki yang berpakaian hitam itu membukakan pintu mobil untukku, Jodi. Aku segera menaiki si roda empat. Mobil pun melaju membelah jalan raya.


***


Hanya 15 menit aku dan dua orang asisten pribadiku sudah memasuki lobi rumah sakit. Kami langsung melangkah ke ruang rawat lelaki biadab itu. Ternyata dia tengah bermain ponselnya. Apa dia menghubungi Chika?


‘’Deno?’’ Membuat matanya melotot dan tangannya terhenti mengusap layar benda canggih itu.


‘’Tante?’’


‘’Hem, maksudku..Mami,’’ katanya dengan cepat. Aku langsung duduk di brankar.


‘’Gimana? Kamu udah baikan? Udah boleh pulang kan?’’ Kutepuk lengannya dengan keras.


‘’Udah mendingan kok, Mi. Dokter pun udah memberi izin untuk pulang,’’ sahutnya tanpa menatapku.


‘’Alhamdulillah kalo begitu. Sesuai janji Mami kemaren, kamu ikut sama Mami.’’


‘’Ta—tapi, Mi..’’

__ADS_1


Aku menghela napas pelan. Apa lelaki ini mencurigaiku? Ekspresinya tak bisa kuterjemahkan. Entah apa yang ada di pikirannya itu. Aku harus terus bersabar. Ya, yang bisa kulakukan kini adalah bersabar dan banyak bersabar. Aku menaikkan kedua alisku sambil memandang lelaki yang bernama Deno itu.


‘’Ci—Cika kok ngga bisa dihubungi yah, Mi? Apa dia baik-baik saja?’’


‘’Saya nggak tahu keberadaan Chika di mana. Biar dia tahu bagaimana rasa hidup di dunia ini. Dia harus menanggung akibat dari perbuatannya. Begitupun dengan kamu, Deno,’’ monologku dalam hati.


Kupasang muka dengan baik. Seolah tak terjadi apa-apa.


‘’Dia udah duluan ke luar kota sama ART Mami. Dia yang nyuruh Mami untuk menjemput kamu ke sini. Jadi kamu nggak usah khawatir, Deno. Chika baik-baik saja kok,’’ kataku mencoba untuk meyakinkannya.


‘’Kalo gitu kita berangkat sekarang.’’


‘’Jodi, Angga! Kalian bantu Deno,’’ perintahku pada kedua asistenku yang sejak tadi mematung di ambang pintu.


‘’Nggak usah, Mi. Keadaanku udah membaik. Jadi aku bisa sendiri,’’ tolaknya yang bergegas bangkit.


***


Akhirnya aku bisa membawa lelaki ini. Walaupun tadi dia sempat tak mau dan beralasan banyak padaku. Aku memandangi lelaki itu dengan tersenyum sinis, dia duduk di belakang bersama dengan Angga.


Sedangkan aku duduk di depan, di sebelah Jodi yang tengah menyetir. Kuperhatikan asistenku tengah bersiap-siap untuk melakukan sesuatu. Tangannya dengan sigap menutup mulut Deno pakai sapu tangan yang tentunya diberi resep. Hingga membuat lelaki biadab itu pingsan seketika.


‘’Bagus kerja kamu,’’ pujiku pada Angga, dia hanya menyunggingkan bibir.


‘’Waktu kita nggak banyak, Jodi. Kamu jangan main-main,’’ tegasku pada lelaki yang tengah menyetir.


Dia pun segera melajukan si roda empat. Hingga akhirnya kami tiba di depan rumah tua. Seperti biasa, Jodi membukakan pintu untukku. Aku melangkah ke luar.


‘’Jodi, bantu Angga untuk membawa lelaki itu.’’


‘’Baik, Bu.’’ Dia bergegas membukakan pintu mobil untuk Angga.


Seketika lelaki itu mengangkat tubuh Deno. Ya, tenaga Angga memang tak bisa diragukan lagi. Itu yang membuat aku salut pada lelaki yang bernama Angga. Kemampuan yang lain juga dimilikinya, contohnya ilmu bela diri. Angga memopong tubuh Deno memasuki rumah tua yang tak ada penghuninya. Sedangkan Jodi tengah mengambil sesuatu di mobil, sesuai apa yang kuperintahkan sebelumnya.


‘’Semoga aja rencanaku semuanya berhasil,’’ gumamku sambil melipat kedua tangan di dada. Kuberi kode pada Jodi agar dia mengikuti langkahku untuk memasuki rumah tua.


Tampak lelaki itu sudah diikat oleh Angga dalam keadaan tidak sadar. Aku tersenyum sinis memandangi lelaki yang tengah diikat itu.


‘’Apa ikatnya kuat?’’


‘’Kuat, Bu.’’


‘’Baguslah. Apa kamu udah menyiapkan seember air?’’ tanyaku yang menatap Angga.


‘’Udah, Bu. Sebentar.’’ Lelaki itu bergegas melangkah.


‘’Ini, Bu.’’


Bergegas kuambil ember yang berisi air. Langsung saja kusiramkan pada kepala lelaki biadab itu. Dia langsung terbangun, menatapku dengan ekspresi kaget bukan main. Aku tersenyum licik.


‘’A—apa yang Mami lakukan padaku? Kenapa Mami melakukan ini semua?’’


Jodi yang tahu apa yang aku mau, seketika melemparkan plastik padaku. Bergegas kusambut dan mengeluarkan apa isinya. Membuat matanya melotot.


‘’Ini punya kamu kan?’’ Aku memperlihatkan obat penguat itu di depan matanya, begitu dekat. Memang kusengajakan.


‘’Ma—Mami..’’


‘’Jangan bilang kamu akan mengelak? Kamu udah mempengaruhi anakku. Kamu udah merusak dia. Kamu itu ngga pantas hidup!’’ teriakku.


Kuberi kode, seketika Angga melayangkan tinjunya pada muka si lelaki biadab. Tiga kali tinju yang didapatkan oleh lelaki itu. Aku tersenyum puas.


‘’Arrghh!’’ Darah segar mengalir di hidungnya. Namun, aku tak kan merasa iba. Karena lelaki ini pantas mendapatkan pelajaran.


‘’To—tolong jangan aniaya aku kayak gini. Aku nggak salah apa-apa,’’ katanya dengan terbata dan lirih. Deno tampak menahan rasa sakit.


‘’Nggak salah apa-apa? Dasar lelaki biadab! Kamu membuat anakku hamil. Kamu mempengaruhinya. Gara-gara kamu, aku jadi kehilangan anakku. Masih aja kamu mengelak? Hah?’’


Kesabaranku kali ini sungguh habis. Hingga membuat aku melayangkan tendangan pada lelaki yang diikat dengan tali itu.

__ADS_1


‘’Bu, jangan kotori kaki Ibu. Biarkan kami saja yang bekerja.’’


Bersambung.


__ADS_2