
‘’Nelda kenapa sih harus kamu yang bisa mengobati rasa traumaku? Kenapa coba?’’
Aku bangkit dari berbaring dan mengusap rambut dengan kasar. Aku yang selama ini merasa takut untuk dekat dengan wanita, kini sejak mengenal wanita itu seolah rasa takut dan traumaku hilang begitu saja. Dia sudah mampu mengobati rasa traumaku yang menetap selama bertahun-tahun di diriku.
Semakin ke sini, rasa ini semakin mendalam. Rasa kagum berubah dengan rasa cinta seiring berjalannya waktu. Ya, aku sudah lima tahun jadi follower setianya Nelda. Selalu saja hati ini damai tatkala melihat postingannya.
Seketika benda canggihku berdering. Aku mengerjap malas dan meraihnya. Kupandangi layarnya yang ternyata tertera nama Dika di layar benda canggih itu.
‘’Assalamua’laikum, Dik. Tumben lo nelpon gue.’’
‘’Kumsalam. Kan lo biasanya sibuk. Sekarang kan lo libur, jadi makanya gue telpon hari ini.’’
‘’Menjawab salam itu yang bener dong, Dik,’’ komentarku seketika. Terdengar suara tertawanya di seberang sana.
‘’Hem, nggak juga sih. Gue nggak begitu sibuk. Ada yang bisa gue bantu?’’
‘’Nggak. Gue mau ngajak loh nongkrong sambil ngopi di luar.’’
‘’Tumbenan nih ngajak gue. Biasanya kan ngehabisin waktu sama istri tercinta,’’ ledekku.
Dika adalah sahabat lamaku semasa sekolah SMP. Sebelum dia beristri, kami selalu nongkrong menghabiskan waktu di luar hingga petang tiba. Lain sekarang, dia sudah berumah tangga. Jika libur pun bekerja, dia lebih memilih menghabiskan waktu bersama istri dan anaknya.
‘’Ya, begitulah kalo udah jadi Bapak-Bapak. Lo belum pernah ngerasain, makanya belum paham.’’ Aku tertawa lepas mendengar ucapannya.
‘’Gimana nih? Lo pasti bisa kan? Gue langsung otewe nih.’’
‘’Bisa dong. Oke, gue mau siap-siap dulu.’’
‘’Jangan pake lama ya. Nanti lo malah lama lagi. Jangan sampe habis parfum sebotol. Biasanya kalo lelaki jomblo kayak lo itu banyak gaya.’’
‘’Iya iya, Dika. Gue nggak akan lama. Palingan cuman dua jam-an lah ya.’’ Tanpa menyahut ucapanku dia bergegas memutuskan sepihak, membuat aku menggeleng dan tertawa dengan tingkahnya.
‘’Mungkin aku memang lebih baik nongkrong di luar sambil curhat sama Dika. Daripada di rumah rasanya suntuk banget.’’
Ya, aku merasa suntuk tatkala rasa cinta itu mulai datang. Tak melihat photo Nelda saja dalam sehari membuat aku mabuk kepayang dibuatnya.
__ADS_1
Aku bergegas bersiap-siap. Tak berselang lama aku sudah rapi dengan baju kaos bewarna merah maroon dan celana jins, harum wewangian pun tercium. Maklum saja dengan lelaki jomblo ini. Segera kukirimi pesan lewat aplikasi hijau itu, bertanya di mana café yang akan kami datangi. Langsung aku menyambar kunci mobil dan bergegas melangkah ke luar kamar.
‘’Reno, udah rapi aja. Mau ke mana nih?’’ Papa menoleh tatkala aku melewati ruang keluarga, tampak remote televisi yang tengah digenggamnya dan tayang siaran kesukaan papa di sana.
‘’Mau ke luar sama Dika, Pa.’’
‘’Dika? Temen kamu yang waktu SMP itu kan? Kok tumben,’’ kata papa yang menatapku dengan heran. Papa tak salah jika merasa heran, karena sudah lama aku tak menyebut nama Dika di depan papa.
‘’Iya, Pa. Biasanya kan dia sibuk kerja. Apalagi udah jadi Bapak-Bapak. Nah, sekarang itu katanya ngajak aku nongkrong,’’ sahutku sambil terkekeh pelan.
‘’Ah, Papa hampir lupa kalo Dika yang nakal itu udah punya istri.’’ Papa ikut tertawa.
Mungkin teringat sikap Dika yang selalu pulang malam karena bermain di rumahku, sampai maminya menjemput pakai ranting kayu supaya dia pulang ke rumahnya.
‘’Tuh Dika udah punya istri dan anak. Kamunya kapan?’’ Selalu saja papa menanyakan hal yang membuat aku pusing. Tanpa menyahut ucapan dari lelaki separuh baya itu, aku bergegas menyalami tangannya.
‘’Aku pergi dulu, Pa.’’ Bergegas aku melangkah ke luar dari rumah.
Kuhampiri si roda empat yang terletak di garasi, lalu menghidupkan mesinnya. Ia pun melaju membelah jalanan raya. Lampu merah pun menyala. Sambil menunggu lampu hijau hidup aku sibuk mendengarkan lagu ‘’Apa Kabar Sayang’’, namun seketika mataku tertuju pada seorang anak kecil yang berpakaian lusuh berdiri di samping mobilku. Bergegas kuturunkan kaca mobil. Dia tampak menyodorkan kaleng kecilnya. Aku langsung mengambil uang kertas di dalam dompet.
Aku menyodorkan uang kertas ratusan beberapa lembar. Tampak matanya berkaca-kaca, dia mematung dan tak mengambil uang yang kusodorkan.
‘’Dek? Diambil ya.’’
‘’I—iya, Kak. Makasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan Kakak,’’ katanya lirih merapalkan do’a.
Aku mengangguk dan meng-aamiinkan dalam hati. Lama sekali aku menatap anak kecil yang berpakaian lusuh itu. Kehidupannya sungguh memprihatinkan. Ke mana kedua orangtuanya? Apa kedua orangtuanya sudah meninggal dunia? Atau orangtuanya juga berjalan-jalan di lampu merah seperti anak kecil ini? Ah, aku tak bisa menerka saja apa yang belum kuketahui sama sekali. Tapi yang pasti anak kecil itu butuh uang untuk sesuap nasi.
Tugasku adalah memberinya uang dengan ikhlas. Di dalam rezekiku juga terdapat rezeki orang lain. Juga berbagi tak kan membuat aku miskin, bahkan Allah akan menambahnya. Sebagai contoh aku bertemu lelaki yang kekurangan fisik di jalan raya, tanpa berpikir aku langsung memberikan uang kertas sebanyak lima lembar. Keesokannya rezeki pun datang. Barang-barang di marketku laris manis. Sungguh luarbiasa bukan?
***
Mobilku sudah memasuki pekarangan café mewah. Segera kuparkirkan dan melangkah memasuki café.
‘’Hei, Reno! Gue di sini,’’ sapa lelaki yang tak asing lagi wajahnya olehku. Aku menoleh dan bergegas menghampirinya.
__ADS_1
‘’Dika? Lo udah lama?’’ Kami beradu tos.
‘’Udah tiga jam gue di sini. Lo lama banget dah. Payah kalo ketemuan sama si jomblo ini,’’ sungut Dika yang membuat aku tertawa lepas.
‘’Lebay deh lo. Nggak mungkin seorang Dika nungguin orang selama tiga jam,’’ sahutku sambil menoel kepalanya dan menghenyak di kursi sebelah lelaki itu.
Sudah sejam kami mengobrol diiringi canda tawa mulai dari bercerita masa-masa lalu hingga bercerita soal kerja di kantor dan market yang kupunya. Dia tampak menyesap kopi yang tersisa lalu beralih menatapku.
‘’Reno, lo kapan nih? Masa kalah sama gue. Gue aja udah punya anak dua. Otewe tiga anak,’’ ujarnya sambil tertawa. Ini anak dari dulu tak ada yang berubah.
‘’Gue nggak tahu, Dik,’’ sahutku lemah dan menatap kosong gelas yang masih menyisakan kopi di sana.
‘’Lo masih trauma setelah ditinggal Jesica?’’ selidiknya. Aku menunduk seketika.
‘’Kalo rasa trauma itu udah mulai hilang. Cuman sekarang gue suka sama istri orang kayaknya,’’ ungkapku tanpa menatap matanya. Tampak matanya membulat menatapku.
‘’Lo—lo beneran?’’ Aku menyahut dengan anggukan.
‘’Aduh, parah banget lo Ren. Kenapa harus istri orang yang lo sukai. Wanita lain banyak tuh yang belum punya laki. Kenapa coba?’’
‘’Dengerin gue dulu, Dik. Dia itu udah diselingkuhin sama lakinya selama empat tahun. Tapi dia belum cerai sama lakinya itu—‘’
‘’Dan lo menunggu dia cerai dari lakinya?’’ Membuat aku terdiam membisu.
Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Aku pasti disalahkan oleh Dika karena menunggu cerai wanita itu. Sebenarnya pantang bagiku mendekati wanita yang telah bersuami. Tapi ini posisinya berbeda, Nelda tak mungkin balikan dengan suaminya. Sudah jelas apa yang dikatakan wanita itu lewat livenya seminggu nan lalu.
Aku hanya ingin membahagiakan Nelda, aku ingin menyembuhkan luka di hatinya. Walaupun dia sudah punya anak. Aku tak pernah memandang status, yang penting dia mau berjuang bersamaku.
‘’Gue nggak tahu, Dik. Tapi yang jelas gue ingin menyembuhkan lukanya.’’
‘’Loh beneran udah gila kali, Reno.’’
‘’Gue memang gila karena Nelda.’’
Bersambung.
__ADS_1