Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Setiap Perbuatan Pasti Ada Balasan


__ADS_3

‘’Nggak seperti yang ada di benakmu itu. Kamu yang ternyata berhati busuk, Nelda. Buktinya kamu memfitnah Chika sampe namanya buruk di sosial media.’’


Aku membungkam mulut saking terperanjatnya sambil menggeleng. Seorang Fani tak pernah berkata sekasar ini padaku. Jangankan untuk berkata kasar, menyakiti hatiku saja dia tak pernah. Begitulah dia semasa sekolah denganku. Kini dia berubah total. Dia lebih berpihak pada wanita murahan. Apa karena wanita murahan itu membiayai semua biaya rumah sakit papanya? Membuat Fani lebih berpihak pada si pelakor dibandingkan aku? Tidak, aku tahu betul bagaimana seorang Fani yang kukenal selama ini.


‘’Jadi karena dia membiayai rumah sakit Om, kamu jadi berpihak padanya? Fan, kenapa kamu nggak bilang sama aku? Kalo kamu bilang sama aku, aku pasti bantu kamu kok untuk membayar semua biaya administrasi Om. Ngapain kamu harus minta bantuan pada si pelakor itu.’’


‘’Cukup, Nelda! Jangan kamu ngerendahin Chika lagi!’’ Suaranya makin menggelegar sambil menunjukku dengan telunjuk kirinya.


Membuat para pembeli di market memandang ke arah kami. Namun, aku tak peduli. Aku akan cari tahu, apa sebenarnya yang membuat Fani berubah total. Atau wanita murahan itu mempengaruhi Fani?


‘’Ah, iya. Video itu,’’ gumamku dalam hati.


Dan bergegas merogoh tasku, kuraih ponsel dan mencari video yang dikirimkan oleh orang suruhanku. Aku langsung mengirimnya pada Fani. Semoga saja dengan adanya bukti ini, dia lebih mempercayaiku dibandingkan si pelakor itu. Seketika benda canggih di tasnya berbunyi. Matanya beralih menatap tas yang tengah disandangnya.


‘’Kamu lihat aja video yang aku kirim,’’ ketusku yang sudah mulai habis kesabaranku.


‘’Aku nggak ada waktu!’’ sahutnya yang tak kalah ketus sambil menghentakkan kaki.


Membuat aku menggeleng habis dengan sifatnya yang berubah drastis. Aku kembali menarik napas dengan pelan lalu menghembuskannya.


‘’Kamu harus melihat isi video itu. Supaya kamu bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.’’


Aku bergegas meninggalkannya, kulanjutkan memilih barang belanjaan yang sempat terhenti.


‘’Ya Allah!’’ Aku menggeleng sambil mengelus dada yang sungguh terasa sesak.


Kenapa ujian begitu banyak menimpa hidupku? Mulai dari suami yang berselingkuh, mertua yang tak percaya kalau aku mengatakan anaknya berselingkuh dan kini sahabatku Fani sudah jauh berubah padaku, hingga dia menuduhku sesuatu yang tak pernah kulakukan. Seharusnya dia berada di pihakku, seharusnya dia menyediakan pundaknya untuk sandaran bagiku. Bukan malah seperti ini.


‘’Tante? Tante Maminya Chika kan?’’ Aku langsung mengintip.


Wanita yang bergaya ala anak muda kekinian. Tapi, sepertinya umur wanita itu sudah menginjak empat puluh lebihan. Apa dia sudah tahu bagaimana perilaku anaknya itu? Ah, semoga saja dia sudah mengetahui kebusukan yang disimpan oleh anaknya.

__ADS_1


‘’Maminya si pelakor?’’ gumamku sambil memandangi Fani yang tengah menghampiri wanita bergaya ala anak muda kekinian, namun umurnya sudah tak muda lagi.


‘’Ma—ma’af, Tan. Aku Fani temannya Chika. Ma’af banget. Kalo aku ikut campur.’’


‘’Aku mau bilang. Kalo Chika sebenarnya—‘’


‘’Tante tahu apa yang akan kamu bilang ke Tante. Kamu belum kenal siapa anak Tante yang sebenarnya.’’


‘’Berapa lama kamu kenal sama anak Tante?’’ Membuat Fani terdiam seketika. Aku terus memasang pendengaran dengan sebaik-baiknya.


‘’Nggak lama kan? Nah, makanya jangan sok berkata kalau Chika itu wanita baik.’’


Dari sini aku dapat mengambil kesimpulan, kalau wanita itu sudah mengetahui bagaimana perilaku anaknya selama ini. Wanita murahan, penggoda suami orang dan perebut suamiku.


Sedangkan maminya Chika saja sudah berkata seperti itu. Masih saja kamu tak percaya, Fani? Dia terdiam terpaku. Wanita itu bergegas kembali melangkah. Sedangkan kedua lelaki yang berpakaian serba hitam itu mengambil air aqua. Aku yakin itu adalah asistennya.


‘’Satu lagi. Tante udah mengusir temanmu itu. Jangan sampe kamu membawanya ke rumah kamu. Biarkan dia merasakan bagaimana kerasnya hidup di luar sana. Dan supaya dia tahu setiap perbuatan ada balasannya.’’ Dia kembali menoleh dan menghampiri Fani yang tengah mematung.


‘’Balasan dari Allah pasti datang cepat atau lambat. Ya, sekarang adalah saatnya kamu mendapatkan itu semua wanita murahan,’’ geramku.


Itu pantas didapatkan oleh seorang pelakor. Biar dia merasakan bagaimana rasanya hidup, biar dia tahu bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya cepat atau lambat. Aku menggeleng cepat. Lalu bergegas memilih barang yang belum aku temui. Biar saja Fani merenung terlebih dahulu atas apa yang dikatakan oleh maminya wanita itu. Ketika aku memilih bedak, seketika wajah mas Deno kembali membayang di pikiranku.


‘’Astaghfirullah ‘al adziim. Kenapa aku selalu saja teringat oleh lelaki itu,’’ gumamku sambil menghela napas.


Kucoba untuk menepis semua bayangannya. Namun, malah tak bisa. Malah dia makin membayang di benakku. Ada apa ini Ya Allah? Tidak, lelaki itu tak pantas untuk aku pikirkan. Dia tak pantas untuk aku cemasi.


Aku memandangi keranjang yang berisi belanjaanku. Ternyata sudah penuh. Aku malah tak sadar. Seketika wanita itu berlutut di kakiku.


‘’Fa—Fani?’’ Wanita itu menangis kencang hingga membuat para pembeli memandang ke arah kami.


‘’Ma—ma’afkan aku..’’ katanya di balik isakan tangis.

__ADS_1


‘’Hei, Fan. Malu kalo dilihat orang. Kamu jangan kayak gini.’’ Aku berusaha untuk membantunya bangkit.


‘’Aku nggak peduli, Nel. Sekarang aku cuma ingin kamu mema’afkan semua kesalahanku.’’


‘’Aku udah berprasangka buruk padamu. Dan aku—‘’ Bahunya berguncang.


Aku jadi tak tega. Membuat aku teringat beberapa tahun nan lalu, ketika Fani diputuskan sama pacarnya. Dia mengadu padaku sambil menangis, hingga aku memberikan pundakku padanya untuk bersandar. Ya, aku rindu kenangan itu.


‘’Fan, aku udah mema’afkan kamu kok,’’ lirihku sambil menatap sendu ke arahnya.


‘’Be—benaran kan, Nel?’’ Wajahnya seketika berubah lalu menyeka buliran air matanya yang menetes.


Aku langsung mengangguk,’’ Aku sebenarnya nggak marah sama kamu. Cuman kesal aja kok. Kamu pasti tahu kan, kalo aku ini nggak bisa marah. Apalagi ke kamu,’’ kataku sambil menunjukkan seulas senyuman.


Dia langsung menghambur ke pelukanku. Pelukan hangat yang selama ini kurindukan dari seorang sahabat. Kini kembali kurasakan. Alhamdulillah Ya Allah.


‘’Hati kamu baik banget, Nelda. Tapi, kamu mau kan kalo kita bersahabat lagi. Kayak dulu.’’ Aku melepas pelukan dengan pelan, lalu memperbaiki rambutnya.


‘’Fan, kamu itu tetap sahabat aku. Sampai kapan pun itu,’’ jelasku sambil melukiskan senyuman kembali. Kedua netra Fani tampak berkaca-kaca.


‘’Hati kamu terbuat dari apa sih, Nel? Aku udah jahatin kamu selama ini. Tapi, kamu tetep aja baik sama aku.’’ Aku meletakkan telunjuk di bibirnya.


‘’Hussh. Kamu cuman nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Fan.’’


‘’Ma’afkan aku sekali lagi. Seharusnya aku selalu ada untuk kamu. Apalagi di saat hati kamu hancur. Bukan malah—‘’


‘’Aku mengerti kok. Kita ngobrolnya di rumah aja, gimana? Nanti aku akan telpon Tante kok. Aku bilang, kalo kamu di tempat aku,’’ kataku dengan cepat. Ya, karena sejak tadi mata orang-orang selalu tertuju pada kami.


Sepertinya kami jadi tontonan sementara buat para pembeli. Akan lebih baik mengobrolnya dilanjutkan di rumahku. Apalagi kami sudah lama tak saling bercerita, Fani sudah lama tak main ke rumah. Ya, sejak aku berumah tangga.


‘’Jangankan untuk ngobrol. Mau nginap sekali pun di rumah kamu, aku mau-mau aja.’’

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2