
‘’Nel, apa ada yang kamu sembunyikan dari Mama dan Papa?’’ Pesan dari mama mertua mampu membuatku terperanjat.
Apa mama sudah mulai curiga dengan semua ini? Atau mama sudah tahu problem rumah tanggaku di media sosial yang tengah viral? Tapi bukankah mama tak suka bermain sosial media? Aku tahu betul bagaimana mertuaku itu. Dia punya ponsel android, namun hanya untuk menghubungi anak dan karib-kerabatnya saja. Dia tak pernah tahu-menahu tentang sosial media lainnya, kecuali hanya Wattsapp saja. Tak seperti orang tua zaman now, yang suka berselancar di media sosial dan selalu suka mencari info terkini yang tengah viral.
‘’Aduuh, aku harus jawab apa ini? Apa sekarang waktunya untuk jujur ke orang tuanya Mas Deno?’’
Aku menghela napas dengan pelan, guna menghusir rasa cemas. Keringat dingin mulai bercucuran di mukaku. Dengan gemetaran kuketikkan pesan.
‘’Ma’af sebelumnya, Ma. Bukan maksud aku menyembunyikan sesuatu dari Mama. Ini atas kemauan Mas Deno, dia nggak mau Mama dan Papa banyak pikiran.’’ Dengan gemetaran kukirimkan pesan di aplikasi hijau itu.
Ah, cuman itu saja keringat dingin dan rasa takut sudah menyerangku. Apalagi kalau aku menceritakan semuanya pada mama dan papa. Ya Allah, Nel! Kamu tak bisa terusan menutupi semua ini. Bagaimana pun kamu menyimpan bangkai, baunya akan terkuak juga. Pesan yang kukirimkan sudah centang dua bewarna biru, pertanda sudah dibaca oleh mama mertua. Jantungku semakin berdegup, kali ini lebih kencang.
Benda canggih itu berdering keras, pertanda ada masuk panggilan. Kulihat, ternyata mama mertua?
‘’Ya Allah, tolong bantu aku!’’
‘’Bismillah, Nel! Kamu pasti bisa.’’
‘’Nel, apa maksud pesan yang kamu kirimi ke Mama tadi?’’ Kali ini mama mengawali pembicaraan denganku tanpa salam. Tak biasanya mama begini. Aku menarik napas pelan dan mengembuskannya keluar, agar pikiranku sedikit tenang.
‘’Ma, sebenarnya Mas Deno—‘’ Tenggorokanku terasa tercekat.
‘’Kenapa dengan Deno, Nel? Katakan sama Mama!’’
‘’Mas Deno udah lama nggak tidur di rumah, Ma,’’ lirihku. Aku belum mampu berkata tho the point sama mama mertua. Begitu sulit dan seakan lidahku kelu dibuatnya.
‘’Kenapa, Nel? Apa kalian ada masalah?’’ Suara wanita di seberang sana terdengar naik beberapa oktav.
‘’Ini kesempatan kamu untuk jujur, Nel,’’ monologku dalam hati.
‘’Ma—Mas Deno selingkuh, Ma..’’ Kata-kata yang sulit aku ucapkan, akhirnya keluar dengan spontan dari mulut.
‘’Astaghfirullah!’’
‘’Nggak! Kamu pasti salah, Nel. Deno nggak mungkin selingkuh, Mama tahu dia sangat mencintaimu,’’ sanggah mama mertua seketika.
Ya, itu dulu. Dulu dia memang begitu sangat mencintaiku. Kini? Berbeda lagi, bahkan dia sudah membuat wanita lain hamil. Jika dia sangat mencintaiku tentu tak kan selingkuh di belakangku. Empat tahun lamanya dia bermain dengan wanita lain. Apa tak keterlaluan itu namanya?
__ADS_1
‘’Mama tahu betul seorang Deno. Kalo nggak ada bukti kamu jangan sembarang menuduh saja. Mungkin karena kamu kebanyakan nonton film Indosiar.’’
‘’Ma, memang itu yang terjadi sekarang ini. Aku berkata apa adanya!’’ kesalku kemudian. Nada bicaraku naik kali ini, karena mulai merasa kesal.
‘’Cukup, Nel! Jangan menuduh tanpa bukti! Mama kecewa sama kamu, bisa-bisanya kamu menuduh Deno kayak gini. Atau jangan-jangan kamu udah punya lelaki lain di luar sana. Iya?’’
Membuat hatiku terenyuh mendengar ucapannya, dada terasa ada yang menghimpit dan air mataku berjatuhan seketika.
‘’Ma! Tega Mama menuduh aku kayak gini ya? Aku udah anggap Mama sebagai orang tua kandungku. Ternyata kayak gini kelakuan Mama yang sebenarnya!’’
‘’Asalkan Mama tahu, anak yang Mama banggakan itu udah menghamili selingkuhannya. Untung aku bukan istri di luar sana yang berani membunuh suami dan si pelakor. Karena aku masih punya hati!’’
Aku meluapkan amarahku. Membuat aku tak sadar bicara dengan suara yang meninggi ke wanita yang masih berstatus sebagai mertuaku itu. Tak ada lagi kudengar suaranya. Hening! Kucoba melirik layar ponsel. Ah, ternyata sudah terputus sambungan teleponnya. Apa mama yang memutuskan telepon sepihak? Apa dia marah padaku?
‘’Tenang, Nel. Yang penting kamu udah berkata yang sejujurnya pada mertuamu itu.’’
Kutarik napas pelan dan menghembuskannya, tiga kali kulakukan. Agar pikiranku tenang dan amarahku reda.
Kenapa malah aku yang dituduh? Aku masih tak percaya dengan tuduhan yang dilemparkan padaku oleh wanita yang melahirkan suamiku itu. Seolah seperti mimpi di siang hari. Mama yang dulunya kukenal baik, pengertian, dan selalu ada untukku.
Kini dia berubah begitu saja? Tak seperti mama yang kukenal dulu. Katanya dia sudah menganggap aku sebagai anak kandungnya, tapi kenyataannya bagaimana? Dia menuduhku punya lelaki lain di luar sana, itu sesuatu yang sangat kubenci. Tak pernah terniat olehku untuk berpindah hati ke lelaki lain atau pun bermain api di luar sana, walaupun aku dikhianati oleh suamiku. Teganya dia membalikkan kelakuan anak semata wayangnya padaku.
‘’Ah, iya, Bi?’’
‘’Ibu kenapa? Dari tadi loh Bibi manggil Ibu,’’ katanya dengan pelan dan bergegas memasuki kamarku.
‘’Humm, ma’af, Bi.’’
‘’Bu, cerita dong sama Bibi. Jangan dipendam sendiri.’’ Dia tampak menghenyak di tempat tidurku.
‘’Mertuaku, Bi…’’
‘’Beliau bertanya padaku, apa aku menyembunyikan sesuatu darinya. Dan aku jawab dengan jujur, walau itu sulit banget rasanya, Bi.’’
‘’Maksudnya, Ibu ceritakan kalo Bapak selingkuh?’’
Aku hanya mampu menyahut dengan anggukan.
__ADS_1
‘’Bu, nggak apa-apa. Daripada Ibu tersiksa terus. Lebih baik beliau tahu secepatnya,’’ sahut bibi Sum. Dalam hati, aku juga membenarkan ucapan bibi.
‘’Iya, Bi. Tapi mertuaku nggak percaya dengan apa yang udah dilakuin sama anaknya. Eh, beliau malah menuduh aku punya lelaki lain di luar sana.’’
‘’Ya Allah, Bu!’’ Wanita separuh baya yang kuanggap sebagai keluargaku itu membungkam mulutnya dengan telapak tangan, saking kagetnya dia.
‘’Tapi, yang penting Ibu sudah mengatakan yang sejujurnya, Bu. Bibi tahu ini adalah berat bagi Ibu. Tapi harus bagaimana lagi, bukankah lebih cepat beliau tahu akan lebih baik. Daripada Ibu tertekan dengan semua ini.’’
‘’Apalagi Ibu disuruh untuk punya anak lagi,’’ imbuhnya kemudian yang menatapku dengan tatapan sendu. Semua ucapan bibi ada benarnya juga. Bibi tahu karena aku cerita padanya, ya hanya beliau tempat aku mencurahkan isi hatiku. Tempat aku berkeluh kesah selama ini.
‘’Kebenaran akan terungkap juga, Bu. Walaupun sekarang Ibu dituduh yang nggak pernah Ibu lakukan. Bibi percaya, suatu saaat nanti mertua Ibu akan menyesal kehilangan menantu sebaik dan sesholehah Ibu.’’
‘’Jangan terlalu dipikirkan ya, Bu. Nanti malah kesehatan Ibu terganggu. Kasihan Naisya kalo Ibu sakit lagi,’’ katanya dengan pelan. Aku mengangguk dan menghapus air mataku dengan kasar. Seketika aku menghambur ke pelukan bibi Sum.
‘’Makasih banyak, Bi. Bibi selalu ada buat aku dan selalu menenangkan aku di saat kayak gini,’’ lirihku yang masih tenggelam di pelukan bibi.
‘’Sama-sama, Bu. Sudah tugas Bibi. Jangan sungkan ya, apa pun yang ingin Ibu ceritakan ke Bibi, ceritakan saja. Bibi siap jadi pendengar Ibu dan Bibi siap jadi tempat keluh
kesah.’’ Aku melepaskan pelukan dari bibi dan menatapnya.
Ya Allah, begitu mulia hati wanita ini. Jiwanya begitu keibuan. Membuat aku merasakan kehangatan dari seorang ibu, walaupun bibi bukan wanita yang melahirkanku. Namun, di diri bibi ada sosok mama. Wanita itu mampu menenangkanku di saat seperti ini dan selalu ada buat aku di saat dunia tak lagi berpihak padaku.
Aku mengangguk, lalu mencoba untuk tersenyum.
‘’Bi, sekali lagi makasih banyak ya. Bibi baik banget dan semoga Allah membalas semua kebaikan Bibi.’’
‘’Aamiin, sama-sama, Bu.’’
Wanita separuh baya itu mengangguk lalu tersenyum padaku.
Bunyi benda canggih itu mengalihkan perhatian kami. Aku dan bibi saling pandang. Dengan malas aku meraih benda canggih yang terletak di tempat tidur.
‘’Nel, awas kamu ya!!’’
Bersambung..
Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya.
__ADS_1
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe