Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Ini Belum Seberapa, Mas!


__ADS_3

‘’Aku heran deh, Nel. Tumben kamu kayak gini,’’ selidik mas Deno menyunggingkan bibirnya kala berada di mobil. Aku yang masih fokus menyetir menoleh sejenak lantas tersenyum.


‘’Heran kenapa? Wajarlah aku kayak gini ke suamiku sendiri. Ada-ada aja kamu, Mas,’’ sahutku sembari menggelengkan kepala lantas fokus kembali menyetir.


Semoga dia tak begitu curiga dengan sikapku agar semua rencanaku berjalan dengan lancar. Aku lebih banyak diam dan fokus menyetir, jadi kami tak begitu banyak mengobrol. Hanya sesekali saja. Entah kenapa selalu saja isi pesan dari si pelakor itu menari-nari di benakku, membuat hatiku teriris dan rasa benci hadir pada si lelaki yang duduk di sampingku ini. Tak berselang lama, aku telah tiba di depan Transmart. Bergegas memarkirkan mobilku.


‘’Yuk, Mas!’’ ajakku kepada lelaki yang masih bergeming sedari tadi.


‘’Ah, iya, Nel.’’ Aku dan mas Deno bergegas memasuki Transmart. Dia mengenggam erat tanganku, aku memandanginya sejenak.


‘’Andai saja kamu tipe lelaki yang setia, Mas,’’ batinku. Aku menggeleng berkali-kali lantas menghembuskan napas gusar.


‘’Nel, kamu kenapa?’’ dia menatap heran wajahku. Mungkin dia terdengar bunyi helaan napasku.


‘’Ah, enggak apa-apa kok, Mas. Yuk kita jalan!’’ Aku bergegas menarik tangan kekarnya lantas kembali melangkah. Mataku tertuju ke pakaian untuk pria yang begitu tampak keren, dengan gaya kekinian. Perlahan kulepaskan genggaman tanganku darinya.


‘’Ke sini deh, Mas!’’ panggilku tatkala dia melangkah ke lain arah.


‘’Kamu yakin mau belikan baju kayak gini buat aku?’’ tanya mas Deno di saat aku sedang asyik memilih pakaian yang cocok untuknya.


‘’Iyalah, Mas,’’ sahutku singkat tanpa menoleh.


‘’Ah, ini kayaknya cocok deh untuk kamu.’’


Celana jins berwarna hitam dan baju kaos dengan gaya kekinian, jika mas Deno yang memakai ini kuyakin dia akan tambah kelihatan tampan dan lebih muda. Tentu akan membuat si pelakor itu tambah lengket dan jatuh cinta sama suamiku. Ah, membayangkannya saja membuat hatiku kembali tergores. Bukankah ini semua rencanaku?


Aku mengukurkan ke tubuh kekarnya, dia tampak kebingungan.


‘’Nah, iya kan. Apa kubilang, kamu tampan banget jika pake baju ini. Kelihatan lebih muda.’’ Aku terkekeh sedangkan wajahnya tampak kebingungan entah apa yang ada di pikirannya.


‘’Mas, kok malah bengong? Yuk temenin aku ke kasir!’’ Aku menepuk pundaknya pelan setelah selesai memilih pakaian untuknya.


‘’Ah, iya. Kamu nggak shoping dulu? Aku yang bayarin nanti.’’


‘’Nggak usah, Mas. Sekarang yang penting kamu aja dulu ya. Bajuku kan banyak di rumah, nggak kepake juga mubazir kan. Kapan-kapan ajalah,’’ kilahku.


Dia tampak mengangguk.


‘’Mas, Mas! Capek aku bersandiwara di depan kamu. Rasa sakit hati ini nggak bisa kuhilangkan,’’ batinku sembari tersenyum sinis.


Aku bergegas melangkah menuju kasir dan membayar semua belanjaanku.


‘’Kok kamu yang bayar? Emang uangmu banyak? Kan uang mingguan belum aku kasih.’’ dia berbisik di belakangku tatkala aku menyerahkan uang kertas.


Dia tak tahu jika aku punya penghasilan sendiri selama ini, bahkan aku punya tabungan sendiri. Ya, aku diam-diam menulis di *** APP, di aplikasi itu ada sistem bagi hasilnya. Lumayan untuk tambahan biaya hidupku dan Naisya sehari-hari, bahkan uangnya berlebih. Jika terjadi sesuatu nantinya dengan rumah tanggaku, jadi aku masih bisa membiayai hidup putriku.


‘’Nggak apa-apalah, Mas. Sekali-kali kok, aku pake uang tabunganku,’’ ucapku lirih dan kembali memasukkan dompet ke tas mewah yang kusandang.


‘’Makasih, Mbak.’’ Karyawan yang duduk di kasir itu tampak tersenyum ramah setelah membayar semua belanjaanku.


Aku mengangguk lantas tersenyum,’’Sama-sama, Mbak.’’ Untung saja mas Deno tak menanyakan perihal tabunganku, darimana uang yang kutabungkan itu didapatkan. Aku tak mau mengatakan pekerjaanku yang sebenarnya kepada lelaki itu. Nanti dia malah melarang mentah-mentah, esok gajiku bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari Naisya jika terjadi sesuatu antara aku dan mas Deno.


Alhamdulillah, tulisanku disukai banyak orang dan di sosmed instagram aku juga aktif, bahkan banyak sekali followersku.


Dia masih bergeming berdiri di belakangku,’’Yuk, Mas!’’ ajakku menarik pelan tangan kekarnya. Oh iya, seketika aku teringat sesuatu. Aku bergegas memanggil wanita yang berseragam yang berdiri menjelang pintu ke luar itu.


‘’Mba, Mba!’’ panggilku melambaikan tangan. Dia menoleh dengan tatapan ragu.

__ADS_1


‘’Sa—saya?’’


‘’Ah, iya.’’ Aku mengangguk dan bergegas menghampirinya.


‘’Ada yang bisa saya bantu, Mba?’’ tanya wanita berseragam itu dengan ramah.


‘’Aku mau nanya nih, di sini ada tempat mengganti pakaian khusus pria nggak, Mbak?’’ tanyaku, karena aku tak menemukan ruangan khusus untuk mengganti pakaian lelaki.


‘’Ada, di sebelah sana. Mari saya anter!’’ dia bergegas melangkah, aku mengikutinya dan mas Deno tampak kebingungan, lantas aku menarik tangannya.


‘’Nah, ini, Mbak!’’ tunjuknya ke ruangan itu.


‘’Ah, ya. Makasih banyak, Mbak.’’


‘’Sama-sama, saya tinggal dulu.’’ Aku mengangguk lantas tersenyum. Wanita berseragam itu seketika hilang dari pandanganku. Aku memandangi lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu, dia tampak kebingungan.


‘’Mas, ayo cepetan ganti bajumu! Ini aja pake!’’ Aku merogoh kantong belanjaan dan memilih pakaian yang menurutku cocok untuknya. Lantas menyodorkan ke lelaki yang tampak bergeming sedari tadi.


‘’Emangnya kita mau ngapain sih, Nel? Kayak mau syuting aja,’’ sungutnya, tak kunjung meraih baju yang kusodorkan sedari tadi.


‘’Mas, Mas! Jangan gitu dong, sesekali turutin kemauan aku napa.’’ Aku tersenyum tipis memandangi wajah tampannya yang dirundung kebingungan.


‘’Sesekali kamu bilang? Bukan hanya sesekali aja, bahkan udah sering aku turutin kemauan kamu!’’ kesalnya tampak dari raut wajahnya itu, aku terkekeh.


‘’Iya, iya deh. Cepetan sana, ganti bajumu!’’


Aku kembali menyodorkan baju secara paksa ke tangannya dan mendorong tubuh kekarnya itu ke dalam ruang khusus. Dengan terpaksa dia menutup pintu ruangan itu untuk mengganti pakaiannnya, sejenak menatapku dengan tatapan aneh.


‘’Disuruh ganti baju aja payah!’’ upatku sembari menggeleng. Tak berselang lama, lelaki itu sudah tampak lebih tampan dan muda dengan pakaian baru yang dikenakannya. Membuatku terkesima dengan penampilannya yang sudah berubah, mulutku terpenganga dibuatnya dan jantungku berdentam hebat. Seolah seperti aku jatuh cinta kembali. Ah, ini tak boleh.


‘’Nel! Kamu nggak boleh kayak gitu, yang ada semua rencanamu nanti gagal!’’ aku mengingatkan diri sendiri, aku menggeleng berkali-kali. Tampak lelaki itu menutup kembali pintu dan melangkah mendekatiku.


‘Banget, tapi kamu pengkhianat, Mas!’’ aku membatin.


‘’Nel!’’ panggilnya kembali.


‘’Ah iya, kamu terlalu tampan untukku, Suamiku.’’ Entah kenapa aku spontan saja mengatakan seperti itu.


‘’Maksudmu?’’ dia tampak terheran.


‘’Ah, maksudku kamu tuh tampan banget. Nggak selevel denganku, secara kan aku jelek.’’ Aku menyunggingkan sedikit bibirku.


‘’Lah, kok kamu ngomong kayak gitu? Kamu tuh cantik banget, Nel.’’


‘’Cantik? Kalo aku cantik nggak mungkin kamu nyari wanita lain lagi di luar sana, Mas!’’ Aku membatin.


‘’Kan aku ngomong apa adanya, Mas. Salah?’’ ketusku. Seketika aku teringat sesuatu. Ya, aku tak bisa mengundur-undur waktu lagi, hari ini harus kutuntaskan semuanya.


‘’Ma’af, aku hanya bercanda. Jangan terlalu dipikirin deh, Mas,’’ lirihku kembali.


‘’Yuk kita ke mobil!’’ ajakku menarik tangannya, lantas menggandeng tangan kekarnya itu walau dengan terpaksa kulakukan.


Aku bergegas melangkah menuju tempat parkiran mobil dan menghidupkan mesinnya, tampak mas Deno masih bergeming. Entah apa yang tengah dipikirkannya. Seketika lewat wanita berpakaian selutut dan menampakkan lekuk tubuhnya itu.


‘’Hei, Mas! Sendirian aja? Boleh kenalan?’’ sapanya dengan genit dan menyodorkan tangan mulusnya itu, baju yang dikenakannya tak berlengan membuat kulit mulusnya itu lebih kelihatan. Aku masih memantau mas Deno dari dalam mobil. Aku yakin dia tengah meneguk salivanya. Apalagi melihat wanita begituan di depan mata keranjangnya itu.


‘’Ah, berdua. Aku udah punya istri.’’ Dia tampak menelungkupkan kedua telapak tangannya di dada dan itu membuatku muak. Dasar lelaki bermuka dua! Di depanku dia seolah seperti lelaki sholeh dan setia, dan di belakangku lain lagi, bermain dengan si pelakor.

__ADS_1


Cuih! Aktingmu sungguh luarbiasa. Kamu kira aku bakalan percaya begitu saja, kalau kamu bukan tipe suami yang mudah tergoda dengan wanita secantik itu.


Seketika tampak kekecewaan di wajah wanita itu. Dasar wanita penggoda!


‘’Oh ya? Ma’af kalo gitu.’’ Dia bergegas meninggalkan mas Deno. Aku menggeser sedikit mobilku agar mendekat ke arah mas Deno berdiri. Kuturunkan kaca mobil.


Dia menoleh,’’Nel, kamu jangan salah paham dulu, ya? Tadi tuh dia ngajak kenalan, aku langsung bilang kalo aku udah punya kamu,’’ ucapnya bermanis mulut.


‘’Aku udah tahu gimana kelakuan kamu yang sebenarnya, Mas!’’ aku membatin.


‘’Hemm!’’ aku hanya menyahut dengan berdehem. Dia bergegas memasuki mobil dan menghenyak di sebelahku. Tanpa bicara aku bergegas melajukan mobil.


Tak habis pikir dengan sandiwara yang diperbuat oleh mas Deno, dia pikir aku tak tahu tentang pengkhianatannya terhadapku. Aku bukan wanita bodoh yang bisa dikhianati terus-menerus.


‘’Nel, kamu marah ya?’’ panggilnya lirih.


‘’Hemm!’’ Aku menyahut hanya dengan berdehem, masih fokus menyetir mobil.


‘’Tuh kan, aku minta ma’af. Dia sendiri yang menggodaku dan udah kukatakan kalo aku punya istri,’’ jelasnya panjang lebar.


Bagaimana pun kamu memberikan penjelasan terhadapku, tetap saja aku tak bakalan memercayaimu lagi. Karena kamu sudah terlanjur menyakiti hatiku, empat tahun lamanya kamu berkhianat di belakangku.


‘’Iya deh, aku ma’afin. Tapi awas saja kalau kamu berani berkhianat di belakangku, Mas!’’ spontan ke luar dari mulutku. Dan jari telunjuk kananku menunjuk ke arahnya. Membuat mukanya berubah seketika, seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Ya, apalagi kalau bukan pengkhianatannya itu kepadaku.


‘’Kok ka—kamu bicara kayak gitu, Sayang?’’ lidahnya kelu.


Aku tersenyum sinis dan masih fokus menyetir mobil. Ah iya, seharusnya aku lebih bisa bersabar lagi agar semua rencanaku berjalan dengan lancar. Ini entah kenapa mulut tak bisa diajak kompromi. Dan keinginan begitu membuncah di dada, ingin melabrak dan memberi pelajaran kepada lelaki di sampingku ini.


‘’Heem! Maksudku gini. Jangan berkhianat di belakangku, karena do’a seorang istri itu cepat diijabah oleh Allah loh.’’ Aku membetulkan ucapan. Membuat dia terpenganga.


‘’Kenapa, Nel? Kamu nggak percaya sama, Mas? Apa kamu meragukan kesetiaanku?’’


Cuih! Sudah muak dan bosan mendengar ucapan rayuan yang keluar dari mulutmu itu!


Dasar lelaki pembohong! Darahku benar-benar mendidih kali ini dibuat olehnya, untuk meredam amarahku bergegas kutarik napas pelan dan menghembuskannya. Alhamdulillah, terasa lega kali ini hatiku walau masih ada sedikit kekesalan.


‘’Nel!’’ panggilnya kembali karena aku tak menyahut ucapannya.


‘’Ah, iya,’’ sahutku lemah.


‘’Apa kamu meragukan kesetiaan, Mas? Kamu nggak percaya sama aku?’’ tanya lelaki itu mengulangi pertanyaannya yang sama. Aku melirik sejenak ke arahnya. Dan kembali fokus menyetir.


‘’Ada-ada saja, Mas. Mana ada seorang istri yang meragukan kesetiaan suaminya dan nggak percaya dengan suami sendiri. Ngaco kamu, istri yang begituan tanda suaminya bermain di belakangnya. Lah, kamu kan nggak bermain bersama wanita lain di belakangku.’’ Kali ini ke luar dari mulutku sendiri dan aku tertawa kecil. Kembali kutelusuri wajah tampannya itu, dia semakin terperanjat saja dengan ucapanku barusan dan berusaha menyembunyikan muka pengkhianatannya itu.


‘’A—aku nggak mungkinlah mengkhinati kamu,’’ sahutnya dengan bibir kelu, tampak keringat dingin membasahi wajah tampannya. Aku terkekeh dan meraih tissue di depanku lantas menyodorkan ke mas Deno.


‘’Nih, Mas! Ada AC mobil loh, kok masih terasa panas?’’ perutku sakit menahan tawa dan menunjuk seketika ke AC yang tengah hidup. Dia tampak gelagapan.


‘’Ah, ya. Mu—mungkin karena udara hari ini terlalu panas.’’ Seketika lidahnya kelu dan mukanya berubah masam, dia bergegas meraih tissue yang kusodorkan dan menyeka keringat dingin yang sedari tadi menetes di wajahnya.


‘’Ini belum seberapa, Mas!’’ aku membatin dan tersenyum sinis.


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


**See you next time! ❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe**


__ADS_2