Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
POV Bibi Sumi


__ADS_3

Sebenarnya aku tak percaya pada lelaki yang baru saja menjadi security di sini. Tapi apalah daya, tak mungkin aku melarang bu Nelda untuk pergi refreshing. Karena dia juga butuh menenangkan pikirannya dengan jalan-jalan ke luar, apalagi konflik rumah tangga yang dipikulnya akhir ini, ditambah mertua si ibu yang masuk rumah sakit. Tapi suaminya tak mengizinkan bu Nelda untuk membezuk sang mertua. Aku tak terbayangkan bagaimana hancur hatinya sekarang dan begitu banyak beban pikirannya, jika aku di posisi bu Nelda pasti aku akan gila atau memilih mengakhiri hidup.


‘’Kasihan sekali kamu, Dik,’’ gumamku dalam hati sambil menatap Naisya yang tengah asyik bermain.


Anak seusia dia masih butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya. Dia tak tahu apa-apa, dia tak tahu konflik yang tengah menimpa kedua orangtuanya hingga dia terpisah dari sang papa. Bu Nelda pun tak salah dan tak egois menurutku, karena tak pantas rasanya mempertahankan lelaki biadab seperti pak Deno.


‘’Bi, Bibi kok melamun? Ayo main sama Adik,’’ ajaknya yang membuat aku tersadar dari lamunan. Aku tersenyum dan mengangguk.


‘’Bibi bantuin Adik masak ya?’’ kataku sambil meraih benda kecil mungil itu.


Bentuknya lucu sekali, bermacam-macam. Ada peralatan dapur yang ukurannya begitu kecil, boneka, binatang-binatangan, rumah-rumahan, dan berbagai macam mainan yang memenuhi ruang bermainnya Naisya. Itu semua ide dari majikanku, katanya agar sang anak senang bermain dan tak kenal dengan benda canggih yang akan membuat dia lupa segalanya.


Aku salut sama majikanku, dia bisa membuat Naisya tak kenal dengan ponsel di saat anak-anak lainnya lengket dengan benda itu dan tak bisa dipisahkan. Eh, bu Nelda malah bisa menjauhkan anaknya dari benda canggih. Sungguh luarbiasa, bukan? Dia berhasil mendidik anaknya.


‘’Bi, Adik ngantuk banget. Tapi Adik tidurnya di sini aja ya,’’ katanya yang bergegas menaiki tempat tidur kecil itu. Bu Nelda sengaja menyediakan tempat tidur di ruang bermain Naisya, jadi kalau dia mengantuk bisa langsung merebahkan tubuh mungilnya di ruang ini.


‘’Iya, Dik. Baca doa dulu ya.’’ Aku bergegas menyelimutinya.


‘’Bismika allahumma ahya wabismika ahmuut.’’ Tangan mungilnya menengadah ke atas. Membuat aku tersenyum lebar.


‘’Tapi, kok Mama lama banget ya, Bi.’’ Dia beralih menatapku.


‘’Bentar lagi Mama pasti pulang, Dik. Adik tidur siang dulu ya. Nanti pas Mama pulang, Mama pasti bilang kayak gini. Eh, pinter banget sekarang Adik ya Bi. Dia tidur siang sendirian, gitu katanya.’’


‘’Ya udah deh, Bi. Adik tidur siang dulu ya.’’ Aku mengangguk seketika.

__ADS_1


Aku senang sekali karena Naisya tak rewel dan dia mudah sekali diatur. Mungkin karena Naisya sudah terbiasa denganku. Aku bekerja di sini sejak Naisya berumur tiga bulan.Tak berselang lama dia sudah terlelap. Aku bergegas bangkit dan melangkah ke luar, kututupi dulu pintunya.


Ah iya, aku belum mencuci pakaian bu Nelda dan Naisya. Mumpung matahari masih asyik menyengat, mudahan saja jemuranku kering secepatnya. Bergegas aku melangkah ke belakang. Pakaiannya sudah kukumpulkan sejak tadi di ember berukuran sedang itu. Tinggal memasukkannya ke dalam mesin cuci. Ya, cucianku tak begitu banyak, karena aku tak membiarkannya menumpuk.


Sambil menunggu mesin cuci bekerja aku mau memberi makan ikan dulu di kolam belakang. Siapa tahu majikanku itu lupa memberi makan ikan, karena dia tergesa-gesa pergi ke luar. Setelah tiba di belakang, kuedarkan pandangan guna mencari makanan si ikan.


‘’Nah itu dia. Biasanya si Ibu yang ngasih makan ikan sih. Tapi entah kenapa aku sekarang kepengen juga ngasih makan ikan, ngelihat mereka pada berebut makanan itu seru banget menurutku.’’ Aku bergegas memberikan santapan si ikan, seketika ikan besar-besar bermunculan dan saling rebutan. Membuat aku tersenyum lebar. Ternyata bahagia itu sederhana ya. Melihat ikan-ikan berebut makanan saja membuat hatiku bahagia.


‘'Jangan rebutan kayak gini dong. Semuanya kebagian kok,’’ kataku yang mengajak bicara ikan-ikan. Ah, jika orang lain mendengar mungkin mereka akan mengira aku sudah mulai tak waras, pasti orang mengiraku bicara sendiri.


Biasanya di kolam belakang ini tak ada ikan yang hidup, baru beberapa hari si ibu membelinya. Itu pun atas saranku, sayang rasanya kolam sebesar ini tak diisi dengan ikan-ikan. Airnya begitu jernih, apalagi kolamnya tampak minimalis.


Seketika aku terdengar bunyi klakson mobil. Apa bu Nelda dan si Dodo sudah datang? Aku berniat akan membukakan pagar, tapi kuurungkan kembali niat. Tadi seingatku, pagar tak dikunci. Ah ya, kalau dikunci pun kan si Dodo bisa membuka dari luar pagar. Apalagi dia mahir dalam segala hal. Tak perlu diragukan lagi.


‘’Lebih baik aku ke depan dulu. Aku mau mengecek keadaannya Bu Nelda. Mana tahu lelaki itu macam-macam sama majikanku.’’ Seketika aku melangkah ke depan, namun langkahku terhenti tatkala sudah berada di depan kamar majikanku. Kenapa wajah bu Nelda berantakan seperti itu? Dan kenapa wajahnya sesendu itu? Katanya pergi refreshing, tapi kenapa malah begini?


‘’Bu—‘’


‘’Aku mau istirahat dulu, Bi,’’ katanya yang memotong ucapanku dan bergegas menutup pintu kamarnya dengan keras. Membuat aku terkesiap dan mengelus dada.


‘’Ya Allah. Ibu kenapa nih? Nggak biasanya beliau kayak gini,’’ lirihku.


‘’Apa ini karena si Dodol itu?’’ Ya, tak salah lagi. Masa iya, tiba-tiba bu Nelda bersikap aneh. Aku yakin ini ada sangkut pautnya sama si lelaki itu, aku yakin dia sumber masalahnya. Aku harus temui dia!


***

__ADS_1


‘’Hei, Dodol! Kamu apain Bu Nelda? Hah?’’ Eh, dia malah tertawa.


‘’Namaku Dodo, Bi. Nggak pake L. Gimana sih.’’


‘’Saya itu nanya ke kamu kok malah jawabnya yang lain sih? Kamu apain Bu Nelda? Jawab jujur!’’


‘’Apa maksud Bibi? Aku nggak ngapain-ngapain kok. Cuman bawa Bu Nelda ke tempat sesuatu aja untuk refreshing.’’


‘’Jangan pura-pura deh kamu. Ke mana kamu bawa Bu Nelda?’'


‘’Bi, udah ya. Kalo Bibi nggak suka sama aku nggak harus kayak gini juga. Pake nuduh aku segala lagi,’’ kesalnya, tentu saja membuat amarahku naik seketika.


‘’Hei, Bu Nelda itu sedih banget mukanya. Ini pasti gara-gara kamu. Jangan bohong lagi!’’ tunjukku dengan telunjuk kiri.


‘’Udah ya, Bi. Ini karena aku menghormati Bibi, aku bisa aja melakukan apa pun sama Bibi karena Bibi udah menuduh aku yang enggak-enggak. Untung Bibi lebih tua dari aku. Kalo enggak—‘’


‘’Kalo enggak apa? Hah? Kamu mengancam saya? Saya akan cari bukti kalo kamu memang lelaki penjahat!’’


‘’Bi, udah ya. Kita di sini sama-sama cari rezeki. Jadi tolong jangan kayak gini. Seharusnya kita itu saling support satu sama lain. Bukan malah menuduh aku yang enggak-enggak. Bibi nggak ada bukti kan?’’


Membuat aku menggeleng. Apa iya yang dikatakan oleh lelaki ini? Atau ini hanya untuk menutupi keburukannya saja? Tapi aku akan berusaha untuk mencari tahu siapa lelaki yang bernama Dodo ini sebenarnya dan apa dia benaran orang baik yang ingin bekerja di sini?


‘’Tapi, tunggu! Kenapa aku merasa lelaki ini seperti ada hubungannya dengan Pak Deno?’’


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2