
Berulangkali dia mencoba melepaskan gandengan tanganku. Berulangkali juga aku menggandeng tangan kekarnya. Jujur saja, sebenarnya aku hendak meluapkan amarahku padanya. Karena dia telah berani pergi tanpa seizinku. Sejak tadi aku sibuk mencari keberadaan kekasihku itu, namun tak kudapati keberadaannya. Hingga membuat aku memutuskan untuk jalan-jalan ke luar mengendarai mobil, menghalau rasa suntuk sekaligus juga mencarinya.
Eh, ternyata aku melihat kekasihku itu tengah berdiri di dekat warung kecil. Ada anaknya, pembantu dan juga lelaki yang berpakaian security. Ingin rasanya aku menjelaskan semuanya ke bocah kecil itu kalau aku adalah calon mama tirinya. Namun, dia sudah keburu pergi dibawa oleh pembantunya itu. Tapi aku sempat bicara, entah dia mengerti dengan apa yang kukatakan atau bagaimana. Yang penting aku sudah mengatakan yang sebenarnya.
‘’Mas, kenapa sih kamu ini?’’ kesalku karena sejak tadi dia seperti menghindar dariku.
‘’Humm. Kamu sih, jangan dekat anakku bersikap kayak gitu.’’ Membuat aku menghela napas kasar.
‘’Apa masalahnya, Mas? Kan emang aku calon istri kamu. Dan apa salahnya aku menggandeng tangan calon suami aku di depan calon anak tiriku?!’’
Nada suaraku kali ini naik beberapa oktav dan menatapnya dengan tatapan tajam. Siapa yang tak kesal dan marah coba. Aku sekadar menggandeng tangannya saja dia malah menepis tanganku. Apa salah aku menggendeng tangan kekasihku sendiri di depan anaknya?
‘’Sayang, kamu nggak salah kok. Cuman salah tempat aja,’’ katanya lembut.
Ya, jika aku sudah berkata ketus maka dia pasti akan mengalah dariku. Secara dia tak mau jika kehilangan aku. Apalagi sekarang hidupnya di tangan aku. Tanpa aku mungkin dia akan jadi gelandangan di luar sana.
‘’Pak Deno, aku mau melanjutkan pekerjaanku,’’ kata lelaki berseragam itu, yang tadi diam seribu bahasan sekarang dia malah bersuara.
‘’Iya. Jangan lupa dengan tugasmu.’’ Lelaki itu mengangguk dan bergegas meninggalkan kami. Aku terheran dengan ucapan kekasihku itu.
‘’Apa maksud kamu, Mas? Kamu kenal sama dia?’’ selidikku.
‘’Ah, tentu saja. Dia kan securitynya Nelda. Aku cuman ngingatin dia supaya menjaga anakku.’’ Kupandangi wajah kekasihku. Seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikannya dariku.
‘’Kamu serius? Kamu nggak nyembunyiin sesuatu dari aku kan, Mas?’’
‘’Sayang, apaan sih kamu. Mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu dari calon istriku ini,’’ katanya lembut dan membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku menghela napas pelan. Awas saja kalau dia berbohong padaku.
‘’Syukurlah. Ya udah, kita pulang aja sekarang,’’ ajakku yang bergegas menggandeng tangannya dan melangkah menuju mobilku.
Kali ini dia yang menyetir, sedangkan aku duduk di sampingnya. Mobil pun melaju kencang. Oh iya, aku baru teringat. Tadi dia kan bertemu sama anaknya. Kok bisa-bisanya dia bertemu dengan bocah itu? Untuk apa? Apa dia memberi anaknya uang? Tidak, aku tak sudi jika uangku diberikan untuk anak si sok suci itu.
‘’Mas, kamu nggak kasih uang kan ke anakmu itu?’’ kataku to the point. Dia yang tengah menyetir seketika menoleh sejenak.
__ADS_1
‘’Nggaklah, Sayang. Ngapain aku ngasih uang ke dia,’’ sahutnya sambil tertawa renyah dan kembali fokus menyetir.
‘’Awas aja kalo kamu bohong sama aku!’’ ancamku seketika. Lelaki yang kuancam malah tangan kirinya memegangi jemariku. Sedangkan tangan kanannya sibuk menyetir.
‘’Mana mau aku membohongi pacar cantikku ini.’’ Tangannya terangkat mencubit pipiku.
Membuat senyuman terbit di bibir. Dia paling bisa membuat aku bahagia, membuat aku terbang di udara. Itu yang membuat aku bertahan dengannya. Apalagi sekarang aku tengah mengandung anak darah dagingnya, tentu membuat aku semakin ingin mempertahankan hubungin ini.
Ya, walaupun mamiku berkeinginan kuat untuk menjodohkan aku dengan lelaki pilihannya di luar kota. Jujur saja, aku juga terasa sulit untuk menolak keinginan mami, terasa sulit bagiku menolak perjodohan ini. Apalagi sifat mami yang tak mau ditantang dan mengenai hubungan aku dengan mas Deno tak pernah diketahui oleh kedua orangtuaku itu. Setahu mereka aku masih jomblo.
Aku sengaja tak menceritakan hubunganku ini. Takutnya mami dan papi mencari info lebih jauh tentang kekasihku itu, ditambah dia masih status sebagai suaminya si sok alim. Nanti malah menambah problem besar dan jadi penghalang bagiku untuk mendapatkan mas Deno seutuhnya.
Seketika benda canggihku berdering di tas kecil. Membuat kekasihku kembali menoleh.
‘’Siapa, Sayang?’’
Kupandangi layar benda canggih itu, tertera nama mami di sana.
‘’Lah, kok aku dikacangin sih, Sayang?’’
‘’Ah ya, Mas. Ini tuh telpon dari Mami,’’ sahutku sambil tersenyum hambar.
‘’Kenapa nggak diangkat?’’
Aku menghela napas gusar. Tanpa pikir lagi bergegas kugeser tombolnya ke atas.
‘’Hallo, Mi!’’
‘’Chik, Mami mau ngabarin dua hari lagi Mami mau pulang jemput kamu.’’
Membuat aku terperanjat dibuatnya dan membungkam mulut. Untung saja kekasihku tak mendengar suara mami, jadi dia tak tahu apa yang tengah dikatakan oleh mamiku. Dia melirik sejenak padaku lalu kembali fokus menyetir.
‘’Mi, kan aku udah bilang. Aku bisa memilih sendiri. Aku ini nggak anak kecil lagi.’’
__ADS_1
‘’Mami nggak akan maksa kamu untuk menerima perjodohan ini. Tapi Mami mau kamu tinggal sama Mami, biar Mami nggak pusing lagi mikirin kamu yang jauh ini.’’
Apa maksud mami? Apa dia mencurigaiku? Atau malah sudah tahu semua tentang aku di sini? Kalau iya, mami tak mungkin masih bisa setenang ini mengobrol denganku. Tapi kenapa dia menyuruhku untuk tinggal bersamanya? Ah, ada apa ini? Membuat aku pusing saja. Jika aku dijemput sama mami, berarti aku harus meninggalkan kekasihku.
Tidak! Aku tak bisa hidup tanpa dia. Mas Deno adalah separuh jiwaku. Jika dia tak ada jiwaku akan hancur lebur. Apalagi sekarang aku tengah berbadan dua, tengah mengandung benihnya di rahimku. Mana bisa aku tinggal sama mami dalam keadaan seperti ini. Yang ada semuanya akan terbongkar. Apalagi perutku makin hari makin membesar. Mami dan papi pasti marah besar jika tahu anaknya hamil tanpa suami.
‘’Nggak, aku nggak mungkin bisa pergi sama Mami,’’ monologku dalam hati. Kedua netra lelaki di sampingku itu menatap sejenak dan pandangannya kembali fokus ke depan.
‘’Mi, tapi ma’af. Aku nggak bisa. Mami kan tahu kalo aku—‘’
‘’Nggak ada alasan apa pun. Mami nggak terima alasan apa pun dari kamu. Atau Papimu yang akan menjemput?’’
Ya ampun! Ini makin rumit rasanya. Apalagi jika papi yang menjemput aku pulang, semuanya pasti kebongkar secara cepat. Aku tahu betul papi, dia tak bisa dibohongi dan tak bisa main rahasia di belakangnya.
Berulangkali kuhela napas berat,’’Mami aja yang jemput. Udah dulu ya, Mi. Ini aku lagi di jalan mau pulang ke rumah,’’ kataku lirih dan bergegas mematikan sepihak tanpa menunggu jawaban dari mami. Aku tak mau berlama-lama bicara dengan wanita yang telah melahirkanku itu. Yang ada membuat aku semakin pusing tujuh keliling.
‘’Sayang, apa kata Mami?’’
Aku menunduk dan hanya diam membisu. Tanganku sibuk memasukkan benda canggih itu ke tas kecil milikku. Apa aku katakan saja? Kembali kuhela napas dengan berat.
‘’Mami tetap mau jemput aku ke sini. Makanya kamu buruan nikahi aku,’’ rengekku sambil menatap mata elangnya.
Dia malah tak berkutik dan pandangannya fokus menatap jalanan. Dasar lelaki! Sampai sekarang aku digantung tak bertali. Aku juga butuh kepastian, apalagi aku tengah mengandung anak darah dagingnya. Ditambah mami yang memaksa aku untuk tetap tinggal bersamanya di luar kota.
‘’Ceraikan si sok suci itu secepatnya. Atau kamu ingin aku menggugurkan kandungan ini?!’’
Bersambung..
Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya.
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe
__ADS_1