Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Membohongiku Untuk Kesekian Kalinya


__ADS_3

‘’Nel, kamu harus jujur sama aku. Di mana sih kamu pesen makanan tadi sore?’’ tanya mas Deno tampak mukanya memerah. Aku tak mengubris pertanyaannya karena saking asyiknya bermain bersama Naisya, putriku.


‘’Nel! Kok kamu nggak dengerin, Mas!’’ Suaranya mulai terdengar kesal. Aku menoleh sejenak.


‘’Apaan sih, Mas? Orang lagi sibuk main dengan Naisya juga!’’ sahutku ketus. Tanganku sibuk menyusun mainan Naisya agar terlihat menarik dipandangi oleh Naisya.


‘’Apa salahnya sih menjawab pertanyaan doang,’’ sungut lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu.


‘’Kamu aneh-aneh aja sih, Mas. Ya, di warung nasilah aku beli. Masa di toko emas,’’ sahutku seketika.


‘’Iya, di warung nasi, okey. Nama warungnya apa? Kamu sih, tinggal bilang aja kok repot amat,’’ rutuknya seperti kucing yang tengah terjepit, membuatku hampir saja tertawa lepas mendengar rutukannya. Tapi aku mencoba menahan tawa semampuku.


‘’Bukan aku yang beli. Temenku itu yang mesan kemaren.’’


‘’Hah? Apa? Temen kamu?’’ dia terperanjat kaget dan matanya melotot.


‘’Iya, temenku. Kenapa sih, Mas? Jangan-jangan kamu kenal dengan temenku lagi. Ayoo ngaku!’’ serangku seketika.


‘’Rasain tuh kamu, Mas!’’ batinku sembari terkekeh.


‘’A—aku kenal dengan temenmu? E--enggaklah, emang siapa sih nama temenmu itu?’’ wajahnya begitu kaget dan seperti tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Gimana kalau aku buat dia lebih kaget lagi. Dia pasti tak akan mau mengakui pengkhianatannya kok.


‘’Ahh! Aku nggak mau gegabah. Mainnya tuh pelan-pelan aja.’’


‘’Elsa, nama temenku. Mas kenal Elsa?’’


‘’E—enggak,’’ sahutnya cepat, secepatnya dia menggeleng dan memalingkan muka, entah apa yang tengah ada di pikiran lelaki pengkhianat itu.


‘’Kamu nggak boleh lagi mesen menu yang begituan!’’ ketusnya kemudian.


‘’Lah, kok begitu? Masakannya enak banget loh, Mas. Kok kamu aja yang nggak suka. Aneh deh!’’


Hahah! Aku yakin semua menu itu tak asing lagi bagi rasa lidah dan pemandangannya. Secara kan si pelakor itu setiap hari membawa mas Deno makan di luar. Masih saja dia berusaha membohongi aku. Membohongi untuk kesekian kalinya. Aku ini bukan wanita bodoh dan wanita yang bisa kamu khianati terus-menerus.


‘’Pokoknya aku nggak suka menu itu! Kamu yang suka, aku nggak suka. Jangan kamu ulang lagi mesen menu itu!’’ ketusnya. Sangat kelihatan urat lehernya saking menahan amarahnya padaku dan melangkah seketika ke luar dari kamar, pintu dibantingnya keras.


‘’Astaghfirullah! Dari sana aja udah kelihatan aneh sikapmu, Mas,’’ lirihku pelan dan mengelus punggung Naisya, dia tampak kaget dengan bunyi banting pintu barusan.


‘’Minum dulu, Sayang!’’ Aku menyuguhkan botol yang berisi air minum kepada putriku dan dia meraihnya lantas meneguk hingga tandas. Aku tersenyum menatapinya.


‘’Anak satu-satunya Mama nih.’’ Aku meraih kembali botol yang kosong lantas mengecup keningnya, dia tampak tersenyum memandangiku.


‘’Karenamu Mama jadi sekuat ini, Nak,’’ gumamku seketika.


Ya, karena Naisya aku bisa sekuat ini. Sebenarnya hatiku begitu rapuh, hatiku teriris setelah mengetahui pengkhianatan suamiku kepadaku. Laki-laki yang selama ini kupercaya sepenuhnya, ternyata seperti itu kelakuannya. Seharusnya aku menyisakan sedikit ketidakpercayaan dan rasa was-wasku terhadap suamiku.


Semuanya telah kuberikan padanya dan aku menemaninya sedari nol, sebelum dia naik jabatan. Bahkan sebelum dia mendapat kerja yang layak untuknya. Ternyata setelah dia naik jabatan, kelakuannya pun meningkat dan dengan beraninya dia bermain dengan wanita lain di belakangku, bahkan udah 4 tahun lamanya dan tak pernah terbongkar, baru sekaranglah semuanya terbongkar.


Terdengar olehku langkah kaki menuju kamar. Kuyakin itu adalah si lelaki pengkhianat itu. Nah, benar kan apa yang kupikirkan. Dia bergegas memasuki kamar dan meraih kunci mobil yang tergantung di lemari.


‘’Ke mana dia malam begini?’’ mataku terus saja sedikit meliriknya.


‘’Nel, aku mau pergi dulu. Temenku ngajak nongkrong di luar,’’ pamitnya. Kukira dia tak kan meminta izin sama sekali kepadaku.

__ADS_1


‘’Oke, Mas. Tapi jangan pulang larut malam,’’ sahutku dan kembali fokus bermain bersama Naisya. Dia tak menjawab malah bergegas melangkah ke luar dari kamar.


‘’Apa bener kamu hanya nongkrong dengan temenmu saja, Mas? Atau nongkrong dengan selingkuhanmu itu?’’ gumamku tersenyum sinis. Aku tahu apa yang harus kulakuan untuk membuktikan dia nongkrong dengan teman kantornya atau dia nongkrong dengan selingkuhannya itu. Aku bergegas meraih benda pipih.


Berdering?


‘’Assalamua’alaikum, Nel! Tumben kamu nelpon malem begini.’’


‘’Wa’alaikumussalam. Mas Deno di tempat kamu nggak, Ndra?’’ Andra adalah teman dekatnya mas Deno, sekaligus teman kantornya.


‘’Enggak tuh, emangnya Deno belum pulang?’’


‘’Atau kamu ngajak Mas Deno nongkrong malem ini?’’ tanyaku yang tak menjawab pertanyaannya.


‘’Enggaklah, aku aja lagi di rumah mertuaku nih.’’


Allah! Lalu dengan siapa mas Deno nongkrong? Aku semakin merasa curiga.


‘’Ya udah, makasih banyak ya, Ndra. Jangan bilang ke Mas Deno kalo aku nyariin dia.’’ aku segara memutuskan sambungan telepon.


Aduuh! Siapa lagi yang akan kuhubungi untuk mencari kebenaran apakah dia memang benaran nongkrong dengan temannya atau tidak.


Andi? Ya, Andi juga teman dekatnya mas Deno, sekaligus teman kantornya. Kucoba menghubungi nomor Andi.


‘’Assalamua’alaikum. Ada apa, Nel?’’


‘’Wa’alaikumussalam, Ndi. Kamu sama Mas Deno nggak? Atau nongkrong dengan dia malem ini gitu?’’


‘’Enggak, Nel. Kebetulan aku lagi main sama anakku nih. Nggak bisa keluar. Emang si Deno nggak di rumah?’’


‘’Ya udah, makasih banyak ya, Ndi? Jangan bilang kalo aku nyariin Mas Deno.’’ aku segera memutuskan telepon dan menghela napas kasar.


Kupandangi Naisya mulai menguap. Segera kubereskan mainan yang tergeletak di depannya, lantas membaringkan Naisya di sebelahku dan menepuk pelan pantatnya. Tak lama kemudian dia pun terlelap. Hatiku sungguh tak tenang malam ini. Bagaimana kalau aku tanya aja sekalian kepada wanita itu? Apa aku kuat? Aku pasti kuat untuk mencari kebenaran ini. Bergegas kuraih kartu baru di bawah kasur dan mengganti kartu ponselku dengan kartu rahasia itu, kartu khusus menghubungi si pelakor.


‘’Selamat malam, Mba! Mba, aku mau nanya nih. Mas Deno sama Mba sekarang nggak? Aku cuman mau memastikan aja.’’ aku memberanikan diri mengirimi pesan ke pelakor itu. Tampak centang dua, tetapi belum berwarna biru. Itu pertanda belum direadnya. Aku sungguh mencemaskan suamiku. Ngapain aja dia di luar sana dengan si pelakor itu jika memang dia bersama malam ini.


P sedang mengetik?


Hatiku semakin tak tenang dibuatnya.


‘’Selamat malam! Iya, Mel. Masmu sedang sama aku nih. Dia manja banget tahu nggak, nggak bisa jauh dariku.’’


Degh! Lemas lunglai tubuhku ini seakan-akan tulang belulangku lepas begitu saja. Air mataku berhasil lolos, dadaku terasa sesak membunjah menahan rasa sakit, dan ubun-ubunku terasa panas.


‘’Ya Allah! Ternyata benar dugaanku. Sudah kesekian kalinya aku dibohonginya. Bodoh banget aku jadi wanita.’’ Aku menyeka air mata dengan kasar. Kubiarkan benda pipih itu tergeletak di ranjang.


‘’Emang kenapa, Mel? Istrinya nyariin Mas Deno ya? Bilang aja nggak tahu atau kamu bilang sama aku juga nggak apa-apa kali ya. Supaya dia sadar, kalo dia nggak menarik lagi di mata Mas Deno.’’


Allah! Kuatkan aku. Jangan biarkan diriku rapuh, jangan biarkan aku jadi wanita yang tak berdaya dan mudah rapuh. Air mata terus saja membasahi pipiku dan dadaku terasa kian sesak.


‘’Nggak, Mba. Aku penasaran aja. Ya udah, udah dulu ya. Jangan dibilangin kalo aku sedang nyariin Mas Deno.’’ tanganku bergetar hebat mengetik pesan balasannya. Segera kukirimkan dan bergegas mengganti kartuku dengan kartu lama kembali.


‘’Apa kurangnya aku coba?’’ ucapku lirih di sela isakan tangisku.

__ADS_1


Air mata tak dapat lagi kubendung. Hatiku ini terasa ditusuk ribuan belati berkali-kali. Sebenarnya aku tak patut menangisi lelaki pengkhianat seperti dia, tetapi hatiku begitu teriris dengan semua pengkhianatan yang dilakukannya terhadapku, yang tak kusangka sedikit pun dia akan mengkhianatiku. Ternyata aku salah selama ini. Lelaki yang bersikap manis dan romantis belum tentu tak berkhianat di belakang kita. Terkadang itu hanya sebagai untuk menutupi kesalahan dan pengkhianatannya saja agar tak kita ketahui.


Aku sungguh tak habis pikir. Kenapa hatinya bisa berpindah kepada wanita lain, kenapa hatinya bisa berpaling kepada wanita lain? Apakah kekuranganku selama ini? Bahkan sebelum aku mengetahui semua kebusukannya, seleranya selalu kubuatkan dan apa pun kesukaannya selalu kusediakan. Aku pun selalu berdandan yang cantik untuknya. Menantinya pulang bekerja dari kantor dengan berdandan cantik dan menyambutnya. Terus di mana kurangnya aku? Aku benar-benar tak habis pikir. Secantik apakah si pelakor itu? Sampai suamiku tergila-gila dan berpaling dariku.


Kepalaku makin berdenyut rasanya dan pikiran begitu kalud. Suara di luar sana membuyarkan lamunanku.


‘’Bu, Ibu nggak makan malem? Udah Bibi siapkan nih.’’


‘’Astaghfirullah! Ternyata aku belum makan sama sekali. Baru tadi sore makan dengan menu pesanan si Pelakor itu.’’ aku menghembuskan napas pelan dan mengusap air mata.


‘’Eh, iya, Bi. Aku lagi nggak ada selera,’’ sahutku seadanya. Ya, memang itu yang kurasakan saat ini. Selera makanku kandas begitu saja.


‘’Ibu sakit? Bibi bawa ke rumah sakit, ya?’’


‘’Nggak, Bi.’’


‘’Bibi masuk ya?’’ Bibi Sum bergegas memasuki kamarku yang tak dikunci.


‘’Kenapa mata Ibu sembab?’’ bibi Sum tampak terperanjat kaget memandangi kedua netraku. Aku menunduk seketika.


‘’Nggak ada, Bi.’’


‘’Jangan bohongi Bibi. Ceritalah, Bu.’’ Bibi Sum mendekatiku. Dadaku terasa membuncah. Ingin rasanya menceritakan semua yang kurasakan kepada bibi agar pikiranku sedikit tenang dan ringan.


‘’Ba—Bapak selingkuh, Bi.’’ akhirnya ucapanku keluar juga. Sontak membuat bibi Sum kaget dan membekap mulutnya seketika.


‘’A—apa? Ibu beneran?’’ matanya melotot. Aku hanya mampu menganggukkan kepala. Tangisanku tak dapat dibendung lagi. Langsung kupeluk bibi Sum dengan erat dan mengeluarkan rasa sakit hatiku semuanya dengan menangis sejadi-jadinya.


‘’Ya Allah, menangislah, Bu. Biar hati Ibu plong. Bibi merasakan apa yang Ibu rasakan. Bibi yakin Ibu pasti kuat,’’ lirihnya mengelus punggungku.


‘’Nggak habis pikir dengan Bapak, kok teganya menduakan Ibu. Apa kurangnya Ibu coba? Cantik, sholehah, baik, pinter masak, punya Naisya, dan selalu memanjakan selera Bapak. Lah, apalagi coba?’’


‘’Itulah, Bi. Aku juga nggak habis pikir. Apa yang membuat Bapak bermain di belakangku.’’ Aku melepas pelukan pelan lantas menatap bibi Sum yang syok sedari tadi wajahnya dengan semua pengakuanku.


‘’Tapi, Bibi harus janji ya? Menutupi semua ini, jangan sampe tahu Bapak kalo aku udah mengetahui semua tentang perselingkuhannya yang selama 4 tahun itu.’’ aku memegang jemari bibi Sum. Sontak kembali membuat mata bibi sempurna membulat.


‘’4 Tahun?’’ ulangnya kembali dengan mata melotot saking kagetnya. Aku kembali membalas dengan anggukan. Kuseka air mata yang selalu menetes.


‘’Ya Allah, jadi sudah 4 tahun Bapak berselingkuh baru sekarang Ibu tahu?’’ aku pun kembali mengangguk.


‘’Bibi nggak tahu harus bilang apa. Bibi yakin, Ibu pasti kuat dan jangan paksakan diri kalo Ibu memang nggak bisa bersama Bapak. Jangan lupa selalu berdo’a sama Allah ya, Bu? Minta yang terbaik kepada-Nya. Ini demi Naisya, Ibu harus kuat.’’ Bibi Sum meraih jemariku dan memberikan kekuatan untukku. Aku menghela napas kasar.


‘’In syaa Allah, Bi. Do’akan aku selalu ya, agar tetap kuat. Makasih banyak Bibi udah mendengarkan semua curhatanku,’’ ucapku dengan suara parau.


‘’Bibi akan selalu bantu dengan do’a dan selalu support Ibu. Pokoknya apapun yang ingin Ibu ceritain, ceritain aja ke Bibi ya?’’ aku hanya menyahut dengan anggukan.


‘’Ya udah, Ibu istirahatlah! Selagi Naisya tertidur pulas.’’ Bibi Sum menepuk pundakku pelan dan memberikan senyum penyemangat. Aku mengangguk. Bibi Sum pun bergegas melangkah ke luar dari kamarku.


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Oh ya, btw kadang males ngelanjutin ceritanya karena nggak ada yang baca. Semoga aja ada satu orang yang membaca novel recehku ini setiap kali update.

__ADS_1


See you next time! ❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2