Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Nikah Paksa


__ADS_3

POV Deno


‘’Hentikan!’’


Tubuhku terasa tak berdaya dibuatnya karena menerima tendangan dan pukulan berkali-kali. Kalau begini bagaimana caranya aku bisa lolos dari mereka. Teriakan Chika tak digubris oleh mereka, hingga aku dikerumuni warga. Berbagai pukulan dan tendangan yang di hadapkan padaku.


Tubuhku mungkin sudah babak belur karena terasa begitu tak berdaya. Terasa darah segar bercucuran di hidung. Seketika pemandangan pun kabur dan aku tak ingat apa-apa.


***


‘’Kalian kenapa main hakim sendiri? Seharusnya dilaporkan sama saya.’’ Terdengar samar olehku, namun mata enggan untuk dibuka karena tubuhku terasa begitu sakit.


‘’Dasar! Laki-laki dan perempuan sama saja. Belum menikah eh tahu-tahunya tinggal bersama. Entah apa yang mereka lakukan!’’


‘’Membuat kampung ternodai saja!’’


‘’Eh, bukannya mereka ini yang lagi viral?’’


‘’Percuma kaya raya, kalo kelakuannya mesum begini!’’


‘’Ibu Bapak, bagaimana kalo kita nikahkan saja si pembawa petaka ini?’’ Banyak sekali hinaan dan cacian yang dilemparkan pada kami.


Dengan pelan aku duduk, kuedarkan pandangan. Ternyata aku sudah berada di Balai Desa. Tampak wanitaku itu berderaian air matanya menatap ke arahku. Sedangkan para warga sudah heboh. Aku ingin sekali lari dari sini, namun tak punya tenaga lagi. Bagaimana aku bisa lari dari sini, ya? Bukan pernikahan paksa seperti ini yang kuinginkan.


‘’Tenang dulu, Bapak, Ibu.’’


Lelaki berpakaian seragam itu mencoba menenangkan para warganya, namun tetap saja mereka tak bisa diam. Membuat gendang telingaku terasa sakit.


‘’Kami nggak akan tenang, sebelum pasangan haram ini dinikahkan sekarang juga!’’ Jika aku punya tenaga, aku akan menghabisi para warga yang sok suci.


‘’Bagaimana kalo kita adukan semua perbuatannya ini ke Maminya?’’


‘’Saya mohon, tenanglah dulu. Saya akan segera mengambil tindakan. Tapi kalian harus tenang.’’

__ADS_1


Aku tak menyangka akan seperti ini kejadiannya. Kenapa warga kepo itu malah menggerebek aku dan selingkuhanku? Kami tak pernah menganggu hidupnya, kenapa mereka malah mengusik kebahagiaanku dan Chika. Dasar! Tunggu saja balasan dariku!


‘’Bagaimana kami bisa tenang sementara kampung ternodai karena ulah dua orang bejat ini. Malah nanti kami yang akan terkena imbasnya.’’


Begitu muak sekali aku mendengar ucapan warga. Mereka seperti tak punya dosa saja. Cuih! Dasar sok suci!


‘’Sebentar! Ini suaminya Mba Nelda, bukan? Yang lagi viral itu. Bagaimana bisa dia menikah kalo statusnya masih jadi suami Mba Nelda. Tentu harus meminta persetujuan dulu dari istri pertamanya,’’ kata wanita berkerudung yang baru saja datang.


Ingin aku meludahi wanita itu. Sial! Berita tentang perselingkuhanku sudah tersebar ke mana-mana. Ini semua karena si wanita sok suci itu.


‘’Jangan harap hidupmu akan tenang, Nelda.’’


‘’Gimana ini, Pak? Kalo nggak dinikahkan mereka akan membuat maksiat lagi. Atau kita usir aja dari sini?’’


‘’Tenang dulu para warga. Lelaki ini sudah sadar . Kita dengarkan dulu dari mulutnya sendiri. Mana tahu dia sudah cerai.’’


‘’Aku sudah cerai,’’ sahutku cepat sambil meringis kesakitan.


***


‘’Karena kalo sedang hamil. Maka pernikahan kalian nggak akan sah. Dan pernikahan tentu nggak bisa dilanjutkan,’’ lanjutnya yang membuat aku muak saja. Seketika Chika menatapku.


‘’Nggak, Pak. Chika nggak sedang hamil kok,’’ sahutku cepat mewakili wanitaku yang masih terdiam.


‘’Alaah! Bohong! Kalian aja serumah. Gimana nggak akan hamil cobak. Laki-laki mana tahan melihat wanita sebohay dan seseksi Chika!’’ cibir salah seorang wanita tua, ingin sekali aku menyumpel mulutnya agar tuh mulut bisa diam.


‘’Tenang dulu. Saya bertanya sama calon pengantin wanita, bukan sama kamu!’’ Nada suara si bapak penghulu mulai naik. Membuat aku tersenyum sinis sambil menahan rasa sakit yang masih terasa di tubuhku.


‘’A—aku nggak lagi hamil kok. Memang iya aku serumah dengan Mas Deno. Tapi kami nggak ngapa-ngapain. Kami pisah kamar.’’


Membuat semua mata tertuju pada kekasihku itu. Dasar Chika, dia bisa saja! Dia memang pandai sekali bersandiwara. Prestasinya patut aku acungi dua jempol. Itu mungkin karena dia yang lama kenal denganku, membuat prestasiku ikut menurun pada wanita ini. Aku bangga memiliki kekasih seperti wanita ini. Biarkan saja Chika berdusta biar aku dan dia bisa tinggal serumah kembali. Jikalau pun tak sah pernikahan ini tak apa-apa, toh kami bisa bebas melakukan apa saja dan ini hanya sebagai penutup mulut warga saja.


‘’Kamu benaran nggak bohong?’’

__ADS_1


‘’Nggak, Pak,’’ sahutnya lirih.


‘’Baiklah, sepertinya Chika memang nggak berbohong. Kita langsung saja pernikahan ini.’’


‘’Saudara Deno bin Setia, saya nikahkan dan saya kawinkan kamu dengan Chika Permata binti Wijaya dengan separangkat alat sholat dibayar tunai.’’


‘’Saya terima nikah dan kawinnya Chika Permata binti Wijaya dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai.’’


‘’Bagaimana para saksi?’’


‘’Sah.’’


Kulihat tak ada raut bahagia dari muka kekasihku yang kini berstatus sebagai istri baruku. Aku yakin dia tak menginginkan kondisi seperti ini.


‘’Nah, ini kan udah sah jadi suami istri. Kalian bebas mau ngapain aja,’’ kata wanita muda yang membuat aku menatapnya tajam. Namun, dia tersenyum sinis memandangiku.


‘’Kalian sudah sah jadi suami istri. Silahkan disalami dulu suaminya.’’


Chika bergegas memutar tubuhnya hingga wajah cantiknya bisa kutatap. Kedua netra kekasihku masih sembab, mungkin karena lama menangis. Seketika Chika meraih tanganku lalu mengecupnya.


***


Beberapa jam setelah dilangsungkan pernikahan abal-abal. Aku dan Chika diizinkan untuk tetap tinggal di rumah milik kedua orangtuanya. Namun, rasa sakit di tubuhku tak bisa hilang karena terluka akibat pukulan dan tendangan yang di lemparkan padaku. Membuat aku masuk rumah sakit.


‘’Mas, bukan kayak gini yang aku inginkan,’’ kata wanita yang sudah berstatus sebagai istri keduaku itu. Dia menatap jendela dengan tatapan kosong.


‘’Ya, gimana lagi. Tapi ini adalah salah satu cara supaya aku nggak sembunyi-sembunyi lagi masuk rumah kamu dan aku bisa tinggal bareng sama kamu, Sayang.’’


‘’Iya, jugak sih. Tapi, nanti Mami datang sebentar lagi. A—aku nggak tahu harus bilang apa ke Mami,’’ katanya dengan suara bergetar.


‘’Kamu tenang aja. Aku sendiri yang akan bertanggung jawab. Aku akan bilang kalo kita udah nikah.’'


‘’Ta—tapi, Mas. Bukannya Bapak penghulu bilang kalo sedang hamil, pernikahan nggak akan sah,’’ sungutnya yang membuat aku terkekeh, padahal aku tengah menahan kesakitan di ujung bibir yang masih berdarah.

__ADS_1


‘’Hei! Kamu bilang apa sih, Sayang? Bukannya selama ini kita melakukannya tanpa menikah. Kenapa kamu harus ragu? Kalo memang nggak sah, setelah kamu melahirkan kita akan menikah lagi kok.’’


Bersambung.


__ADS_2