Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Dilamar?


__ADS_3

Setahun kemudian..


Hari ini adalah ulang tahun Reno, lelaki yang selama ini kukira tidak baik. Lelaki yang selama ini aku ragukan ketulusan hatinya. Ternyata dia memang lelaki yang baik dan peduli padaku, terutama pada Naisya. Dia banyak sekali berkorban untukku dan juga anakku. Akibat kepeduliannya itu membuat sikap dinginku lenyap, apalagi Naisya sangat senang bermain dengan lelaki itu.


‘’Udah setahun lebih tanpa kehadiran Mas Deno di sisiku dan juga Naisya. Semoga kamu tenang di alam sana ya, Mas. Dan diampuni segala dosa-dosamu,’’ lirihku sambil mematut diri di cermin.


Ya, sudah setahun lebih lamanya aku menjanda. Sedangkan sahabatku Fani sudah menikah duluan dengan Fahmi, lelaki pilihan Mamanya. Yang ternyata dia adalah lelaki baik.


Seiring berjalannya waktu rasa luka masa lalu itu dengan pelan mulai sembuh, disembuhkan oleh lelaki baik yang bernama Reno. Malaikat yang dititipkan Allah untukku.


‘’Ma, yuk kita jalan sekarang. Kan kita mau tempat Om Reno.’’ Naisya bergegas menghampiriku membuat aku tersadar dari lamunan.


Aku menoleh lalu tersenyum lebar menatap anakku yang sudah berusia enam tahun lebih itu. Begitu cantik kamu, Nak.


‘’MaasyaaAllah, anak Mama cantik banget,’’ pujiku yang bergegas memeluknya.


‘’Ma? Katanya mau ke rumah Om Reno?’’ ulang si kecilku yang membuat aku tertawa pelan.


‘’Iya, Sayang. Kita tunggu Bibi ya. Kan kita bareng sama Bibi juga.’’ Aku mengelus kepalanya yang dibalut kerudung.


Sangat cantik putriku memakai kerudung, baju lengan panjang dan rok panjang. Hadiah ulang tahun dari Reno. Ditambah hiasan tipis dari si Bibi Sumi.


‘’Wah, cantik banget Adik ya.’’ Si Bibi sudah tampak rapi dengan pakaian kondangannya, tergopoh-gopoh menghampiri kami. Senyumannya seketika terbit.


‘’Iya dong, Bi. Kan tadi Bibi yang dandani Adik.’’ Si kecilku tersenyum semringah, membuat dia makin cantik.


‘’Ya udah, kalo gitu kita langsung berangkat aja.’’


‘’Horee! Mau ketemu sama Om Reno,’’ teriaknya dengan riang, membuat aku tersenyum lebar memandangi anakku yang meloncat kegirangan.


Ya, dia memang semakin dekat dengan Reno, bahkan semejak ada kabar dari Neneknya kalau Sang Papa sudah diperkirakan meninggal dunia karena sudah dibuang ke jurang oleh lelaki misterius. Waktu itu aku sempat kaget mendengarnya, namun disatu sisi hati kecilku mengatakan kalau itu semua adalah balasan dari Allah akibat perbuatannya.


Aku dan Naisya melangkah ke luar, sedangkan Bibi Sumi mengunci pintu belakang dan depan. Dengan semangat anakku menaiki mobil, dia memang sudah pintar sekali. Tanpa bantuanku dia bisa membuka pintu mobil. Aku tersenyum senang memandangi anak semata wayangku itu. Dia tumbuh menjadi anak baik, pintar dan sopan. Itu semua tak terlepas dari didikan si Bibi dan juga aku, Mamanya.


‘’Lah, Adik duduk di belakang?’’ Aku heran memandangi si mungil itu.


‘’Iya, Ma. Kalo di depan Adik duduk, gimana dengan Bibi? Nggak ada temen dong Bibinya. Kan kasihan,’’ katanya dengan wajah memelas. Aku tertawa kecil.


‘’Duh, sayang Mama. Pinter banget sih Adik.’’ Aku langsung memasuki mobil dan bergegas menghidupkan mesinnya. Kujalankan si roda empat.

__ADS_1


‘’Eh, Ma? Kok Bibi ditinggalin?’’ Lagi-lagi membuat aku tertawa.


‘’Nggak dong, Sayang. Kan Bibinya mau mengunci pagar dari luar. Jadi kita tunggu Bibi di depan,’’ jelasku kemudian. Entah kenapa hari ini hatiku begitu terasa senang.


‘’Bu? Yuk kita berangkat. Mas Reno udah nungguin tuh.’’


Aku pun bergegas melajukan mobil.


****


Tak berselang lama kami sudah tiba di depan rumah Reno. Kutepikan mobil dan langsung turun. Si Bibi menggandeng tangan Naisya, sedangkan aku dibiarkan sendirian. Aku seperti wanita single saja celetukku dalam hati yang tersenyum lebar. Hatiku sekarang begitu bahagia, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bergegas aku memasuki rumah Reno, sedangkan si Bibi dan Naisya sudah masuk ke rumah Reno.


‘’Assalamua’laikum.’’ Semua mata tertuju padaku. Terutama Reno yang memandangiku tak berkedip.


‘’Wa’alaikumsalam.’’


‘’Om,’’ sapaku yang bergegas menyalami tangan orangtuanya Reno, beliau tersenyum ramah. Tentu Reno sudah menceritakan semua tentang aku pada Papanya, pun juga aku sudah pernah bertemu dengan beliau.


‘’Nelda? Akhirnya kamu datang juga. Om kirain nggak akan datang,’’ celoteh lelaki paruh baya itu.


‘’Datanglah, Om.’’ Aku tertawa kecil.


Eh, ternyata Naisya dan si Bibi sudah mengenggam kado di tangan mereka. Aku langsung menghampiri Reno yang sedari tadi tak hentinya memandang ke arahku.


‘’Makasih, Nel.’’ Dia mengangguk.


‘’Happy birth day, Om Reno.’’ Kali ini Naisya yang mengucapkan.


‘’Makasih, Dik. Sayangnya Om Reno nih.’’ Tangannya mengelus kepala Naisya.


‘’Ini kadonya dari aku, Om.’’ Anakku bergegas menyodorkan kado yang membuat para tamu undangan tersenyum.


‘’Wah, ini Adik yang membungkus kadonya? Bagus banget. Makasih ya.’’ Lelaki itu langsung mengambil kado dari tangan Naisya lalu memandangi kado yang bersampul panda itu.


‘’Bibi yang menyiapkan, Om. Dan uang untuk membeli kadonya minta ke Mama,’’ katanya dengan polos, berhasil membuat para tamu tertawa.


Begitu juga dengan Reno dan orangtuanya. Aku memberi kode agar si Bibi memberikan kado yang tengah dipegangnya sedari tadi. Bibi langsung memberikannya padaku.


‘’Dan ini dari aku ya, Ren. Jangan dilihat dari harganya. Tapi lihatlah siapa yang memberikannya.’’ Senyumannya mengembang lalu bergegas mengambil kado yang kusodorkan.

__ADS_1


‘’Makasi ya,’’ kata lelaki itu dengan suara lembut. Entah kenapa hatiku jadi tersentuh.


***


Tak ada acara hembus lilin. Hanya ada memotong kue yang tak pakai lilin, makan bersama, dan do’a bersama yang dipimpin oleh seorang Ustadz.


Setengah jam kemudian.


‘’Reno, udah saatnya Papa menuruti semua keinginan kamu. Supaya kamu bahagia. Papa pun akan ikut bahagia.’’ Lelaki itu berucap sambil menatap haru anak lelakinya.


Entah apa maksud Om Jaksa dibalik ucapannya itu. Seketika terbit senyuman di bibir lelaki yang berjas abu-abu itu.


‘’Papa beneran kan?’’ Disahut anggukan oleh lelaki paruh baya. Reno lelaki tampan yang baru saja aku akui ketampanannya, merogoh saku-sakunya dan mengeluarkan sesuatu.


‘’Nelda, maukah kamu menikah denganku? Aku janji aku akan menjagamu dan juga Naisya,’’ katanya sambil bertekuk lutut dan memperlihatkan cincin padaku.


Membuat dadaku berdentum keras, para tamu undangan menyaksikan dan tersenyum memandang ke arah kami. Begitu juga dengan Papanya Reno yang ikut tersenyum, si Bibi juga ikut tersenyum sambil menutup mulut dan Naisya anakku terlihat begitu senang. Alhamdulillah, ternyata Papanya Reno sudah mengizinkan anaknya untuk melamar aku. Padahal dulu, beliau sempat tak setuju. Ya, itu hal biasa karena aku seorang janda beranak satu, sedangkan Reno? Lelaki yang masih lajang.


Seketika aku teringat dengan mimpi yang datang tiga kali berturut-turut.


‘’Nelda, kamu harus menerima cintanya lelaki itu. Dia lelaki baik kok, bahkan lebih baik dari aku. Tentunya dia nggak akan memberikan luka padamu, seperti aku yang memberikan luka di hatimu,’’ kata lelaki yang suaranya tak asing lagi bagiku. Aku tengah duduk melamun di taman sendirian. Lalu aku menoleh.


‘’M—Mas Deno? Ngapain kamu di sini? Pergi!’’ teriakku dengan amarah yang membumbung tinggi, aku bergegas bangkit dan menatap tajam lelaki yang menoreskan luka di hatiku itu. Namun, dia malah tersenyum. Ekspresinya tampak berbeda dari yang kemarin-kemarin.


‘’Aku akan pergi, Nel. Tapi, aku cuman mau bilang ke kamu. Terimalah cinta lelaki itu dan hiduplah bersamanya. Hanya dia yang aku percaya untuk bisa menjaga kamu dan anak kita.’’


‘’Si—siapa maksud kamu, Mas?’’


‘’Reno. Lelaki baik, yang cintanya tulus padamu. Dia juga akan menyayangi anak kita. Aku yakin hidupmu akan lebih bahagia bersamanya,’’ jelasnya sambil tersenyum lebar. Seketika Mas Deno hilang dari pandanganku.


‘’Mas Deno! Mas! Kamu ke mana? Apa maksud ucapan kamu ini, Mas?’’ teriakku lantang mencari keberadaan lelaki itu. Namun, seketika aku terbangun. Ternyata aku bermimpi ketemu dengan Papanya anakku.


‘’A—apa benar yang dikatakan Mas Deno di dalam mimpiku? Memang selama setahun lebih aku kenal dengan Reno, dia memang berbeda daripada Mas Deno. Kesabarannya, kepeduliannya, dan perhatian yang tulus selalu diberikan padaku. Bukan padaku saja, melainkan pada Naisya. Anak kandungku satu-satunya,’’ monologku dalam hati.


‘’Ma? Terima dong. Naisya maunya Papa barunya itu Om Reno,’’ kata Naisya yang membuat aku tersadar dari lamunanku.


Membuat aku tersipu malu, pipiku terasa panas kala ditatap begini oleh lelaki yang berhasil menghilangkan rasa trauma dan menyembuhkan hatiku yang luka selama ini.


Aku menghela napas pelan dan merapakalkan kata basmalllah serta do’a dalam hati. Ya, anakku tentu bakalan bahagia jika Papa barunya itu adalah Reno, lelaki yang selama ini begitu dekat dengannya. Kebahagiaan anakku kebahagiaanku juga.

__ADS_1


‘’A—aku mau.’’


Bersambung.


__ADS_2