
‘’Astaghfirullah! Dik, kok kamu panas banget, Nak.’’ Aku meraba kepala Naisya. Membuat aku terkesiap dan panik dibuatnya.
‘’Bibi!’’
‘’Bi! Cepat ke sini!’’
‘’Iya, Bu?’’ Wanita separuh baya itu terperanjat memandangi aku.
‘’Naisya, Bi. Kepalanya panas banget.’’
‘’Tenang ya, Bu. Biar Bibi coba kompres dulu.’’ Aku sungguh tak tenang dibuatnya. Bagaimana tidak, tubuhnya begitu panas.
‘’Pa—Pa.’’ Membuat mataku membulat.
Papa? Matanya masih terpejam namun dia memanggil mas Deno. Anakku ketika demam tak pernah memanggil papanya. Apa dia begitu rindu pada mas Deno? Ya Allah. Aku harus bagaimana?
‘’Bu, biar Bibi yang mengompres,’’ kata wanita separuh baya itu yang tengah melangkah memasuki kamar dengan tergopoh-gopoh sambil membawa baskom dan handuk kecil.
Di saat anakku demam panas seperti ini bayangan wajah Mas Deno pun hadir di benakku. Ada apa ini? Bisa-bisanya aku teringat sama lelaki itu di saat genting seperti ini.
‘’Nggak, Nel. Kamu harus fokus ke anakmu. Nggak usah memikirkan lelaki brengsek yang nggak tahu terima kasih.’’ Aku berusaha mengingatkan diriku sendiri.
‘’Pa—Pa.’’
Membuat aku terkesiap lalu beralih memandangi anak semata wayangku, padahal matanya masih terpejam. Apa karena dia terlalu rindu sama papanya membuat dia demam begini?
Sudah berulangkali dikompres oleh Bibi, namun panasnya tak kunjung turun. Kini Bibi kembali mengompres anakku.
‘’Bu, alangkah baiknya dibawa ke rumah sakit aja,’’ usul si bibi yang tengah memberhentikan tangannya mengompres kepala Naisya.
Dalam hati aku juga membenarkan ucapan si bibi Sumi. Tapi, tak mungkin aku bisa sendiri membawa anakku. Kalau aku yang memeluknya, lalu siapa yang menyetir? Ah, iya Fani? Dia kan sudah berada di rumahnya dan sudah baikan sama Tante Siska. Apa aku hubungi saja dia?
‘’Bibi benar. Tapi aku butuh temen.’’ Aku langsung bangkit dan meraih benda canggih yang terletak di nakas. Segera kutekan nomor kontak sahabatku itu.
Berdering..
‘’Assalamua’laikum, Nel.’’
‘’Wa—wa’alaikumsalam, Fan. Kamu bisa bantu aku nggak? Naisya panasnya tinggi banget. Aku mau bawa ke rumah sakit. Tapi, aku bingung siapa yang akan menyetir. Kalo ada kamu, kamu bisa memeluk Naisya di belakang. Biar aku aja yang nyetir.’’
‘’Duuh, ma’af banget sebelumnya nih, Nel. Aku lagi di rumah sakit. Papa nggak ada yang jagain.’’ Membuat aku memijit kening dengan pelan. Lalu pada siapa lagi aku minta bantuan?
‘’Oke, Fan. Nggak apa-apa. Aku matikan dulu ya.’’
‘’Ma’af banget sekali lagi ya, Nel.’’
‘’Iya, Fan. Nggak apa-apa. Aku ngerti kok.’’ Aku langsung memutuskan sambungan telepon sepihak.
‘’Gimana, Bu?’’ Aku menggeleng lemah.
‘’Fani lagi di rumah sakit, Bi. Papanya nggak ada yang jagain,’’ kataku lirih.
‘’Duh, mana panasnya semakin tinggi lagi, Bu,’’ kata si bibi sambil meraba kepala Naisya. Membuat aku terperanjat.
‘’Bibi aja yang memeluk Naisya di belakang ya. Biar aku yang nyetir.’’
__ADS_1
‘’Tapi siapa yang jagain rumah, Bu? Apalagi Bibi belum selesai masak untuk makan siang.’’
‘’Nggak apa-apa, Bi. Kita kunci aja rumah ya. Kita nggak punya banyak waktu.’’
‘’Biar aku yang bawa Naisya ke mobil. Bibi yang mengunci rumah.’’
Aku bergegas menggendong anakku dan membawanya ke luar menuju garasi. Dengan pelan kunaikkan dia ke mobil lalu membaringkannya.
‘’Nelda?’’ Aku mengerjap pelan melihat sosok lelaki itu yang berdiri di depan pagar besi yang tengah tertutup.
Aku tak punya waktu untuk meladeni lelaki ini. Sekarang yang lebih penting adalah kesembuhan Naisya, aku harus bawa anakku ke rumah sakit sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Aku hanya terdiam, untung saja si bibi langsung tiba dan menghampiriku.
‘’Mas Reno?’’ sapa si bibi Sum yang membuat aku mengerjap malas.
‘’Iya, Bi. Bibi dan Nelda mau ke mana?’’
‘’Kami mau ke rumah sakit membawa Naisya, Mas Reno.’’ Membuat aku menoel lengan si bibi.
‘’Hem, eh, Bu. Ini tas Ibu tadi ketinggalan di dalam. Ibu butuh ini kan?’’ Wanita separuh baya itu memperlihatkan tas sandangku yang sempat aku lupa membawanya. Kuhela napas dengan pelan.
‘’Makasih ya, Bi. Kita langsung berangkat sekarang.’’ Aku langsung mengambil tas yang tengah disodorkan si bibi lalu bergegas memasuki mobil tanpa melirik lelaki itu.
‘’Bi? Tunggu sebentar!’’
Membuat aku menghempaskan pintu mobil dengan keras. Di saat genting seperti ini bisa-bisanya lelaki itu memperlambat waktuku untuk membawa Naisya ke rumah sakit.
‘’Ma’af, Mas Reno. Bibi mau—‘’
‘’Bi, biar aku aja ya. Aku aja yang ngantarin Naisya. Aku kan bisa nyetir. Lagian nggak ada yang jagain rumah. Emang Bibi udah masak untuk makan siang?’’
‘’Nelda! Ma’af, biar aku yang nyetir.’’ Membuat aku terkesiap memandangi lelaki itu yang membuka pintu mobil.
‘’Kita nggak punya banyak waktu. Kasihan Naisya. Kamu bisa meluk dia di belakang.’’
Tanpa berkata apapun aku bergegas berpindah posisi duduk. Aku memeluk putriku di kursi belakang. Sedangkan lelaki yang bernama Reno itu langsung melajukan si roda empat. Ya, kali ini aku tak boleh egois. Yang paling penting sekarang Naisya tiba di rumah sakit dan mendapatkan perawatan dari dokter. Aku terus saja mengecup kening putriku yang tengah dalam pangkuan. Kubelai rambutnya.
‘’Sayang, Adik pasti kuat. Yang sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita pasti akan sampe di rumah sakit,’’ kataku lirih.
Kuraba kepalanya, membuat aku semakin cemas. Panas anakku malah semakin naik.
‘’Ya Allah! Kuatkan anakku. Sembuhkan dia.’’
‘’Nel, kamu yang tenang ya. Banyakin berdo’a,’’ kata lelaki yang tengah fokus menyetir itu sesekali melirik ke belakang lewat kaca spion.
Entah kenapa kali ini membuat hatiku lebih tenang. Ada apa denganku?
Tak berselang lama mobilku sudah tiba di depan rumah sakit. Lelaki itu bergegas turun. Aku yang akan membuka pintu mobil membuat tanganku terhenti. Karena lelaki itu sudah duluan membuka pintu mobil untukku.
‘’Biarkan aku yang membawa Naisya ya. Kamu jangan khawatir.’’ Dia bergegas mengambil Naisya di pangkuanku lalu menggendongnya. Membuat aku termenung.
‘’Ternyata dia lelaki baik,’’ gumamku lirih sambil menatap punggungnya yang sudah berjarak denganku.
‘’Nelda? Ayo cepat.’’ Aku tersadar seketika dan mengucap istighfar lalu mengikuti langkah lelaki itu.
‘’Dok! Dokter!’’ teriak Reno yang tengah menggendong Naisya. Seketika dua orang wanita itu mendorong brankar lalu menaikan anakku ke atas benda itu.
__ADS_1
‘’Mohon tunggu di luar ya, Bu,’’ katanya karena aku mencoba melangkahkan kaki untuk memasuki ruang itu.
Aku memijit kening dan menarik napas dengan pelan lalu menghembuskannya. Ruang itu pun langsung ditutup oleh wanita yang berpakaian serba putih.
Aku mondar-mandir dengan perasaan yang dilanda kecemasan.
****
Tak berselang lama pintu ruangan itu terbuka.
‘’Ba—bagaimana keadaan anak saya, Dok?’’
Aku bergegas bangkit dan menghampiri wanita yang tengah berdiri di ambang pintu ruangan itu. Diikuti dengan Reno.
‘’Alhamdulillah. Untung Ibu dan Bapak bertindak cepat.’’ Membuat aku menghela napas lega.
‘’Tapi untuk dua hari ini si kecil harus dirawat inap, supaya panasnya cepat turun.’’ Kali ini aku menghela napas berat. Semoga saja panas anakku cepat turun.
‘’Saya sarankan Bapak untuk tetap di samping si kecil. Dari tadi sepertinya dia memanggil Bapak terus—‘’
‘’Hem, ma’af, Dok. Ini bukan Papanya,’’ sanggahku cepat. Membuat dokter dan suster itu mengerjap pelan.
‘’Oke, kalo gitu hubungi suami Ibu secepatnya. Karena sepertinya si kecil merindukan Papanya.’’ Seketika aku terperanjat dibuatnya. Aku harus bagaimana? Apa aku harus menghubungi Mas Deno demi Naisya? Tapi lelaki itu mau mengangkat telpon dariku? Apa dia mau menjenguk Naisya ke rumah sakit?
*****
‘’Pa—Pa.’’
‘’Sayang, kan ada Mama di sini.’’ Aku mengecup tangan mungilnya yang terpasang infus.
‘’Adik pengen Papa juga di sini, Ma.’’
‘’Pa—Papa adik lagi kerja di luar negri, Sayang. Jadi nggak bisa jengukin Adik. Kan ada Mama di sini,’’ jelasku yang mencoba untuk menahan buliran yang hendak menetes.
‘’Om Reno?’’ Aku beralih menatap Reno yang tengah berdiri di sampingku.
‘’Iya, Dik. Cepat sembuh ya.’’ Lelaki itu ikut duduk di sebelahku.
‘’Om mau nggak jagain Adik di sini? Soalnya kata Mama, Papa lagi kerja di luar negri.’’
‘’Mau dong. Om akan selalu jagain Adik di sini.’’
‘’Ya Allah kenapa disaat seperti ini malah Reno yang selalu ada untukku dan membantuku?’’
Tidak! Nelda, itu hanya kebetulan saja. Kamu jangan mudah baper dan luluh dengan sikap Reno. Aku berusaha mengingatkan diri. Bergegas kuambil benda canggih di tas, dengan pelan aku melangkah membawanya ke luar dari ruangan. Mumpung Reno tengah mengajak anakku bercerita.
‘’Kali ini aku nggak boleh egois.’’ Tanpa berpikir lagi aku langsung memencet nomor kontak lelaki yang menghadirkan luka di hatiku itu. Ya, aku dapat nomor baru lelaki itu dari si bibi beberapa hari nan lalu.
Berdering..
‘’Astaghfirullah? Direject? Segitunya kamu Mas. Apa kamu memang nggak peduli lagi sama anak kamu?’’
Aku yakin dia sengaja mereject telepon dariku. Dia kan tahu nomorku ini, sejak nikah dengannya dan sampai saat ini aku belum mengganti nomor baru. Kecuali nomor baru special untuk menjalankan rencanaku itu, hanya untuk menghubungi si pelakor waktu itu.
Bersambung.
__ADS_1