
‘’Hei! Kamu bilang apa sih, Sayang? Bukannya selama ini kita melakukannya tanpa menikah. Kenapa kamu harus ragu? Kalo memang nggak sah, setelah kamu melahirkan kita akan menikah lagi kok.’’
Aku menghela napas kasar,’’Nggak semudah itu, Mas,’’ sahutku sambil melipat tangan di dada.
Hari ini hidupku sungguh sial sekali. Bagaimana tidak, aku dan mas Deno digerebek warga ke rumah mewahku. Lelakiku itu hingga babak belur dibuatnya dan kami dibawa ke Balai Desa untuk dinikahkah secara paksa. Kenapa bisa-bisanya warga tahu kalau aku membawa lelaki ke rumahku? Aku tak habis pikir dengan warga yang kepo dan suka mengurus hidup orang lain. Apa salahnya aku membawa lelaki ke rumahku? Apa urusannya sama mereka? Toh itu bukan rumah mereka. Aku juga tak minta uang sama mereka untuk biaya hidupku.
Terngiang-ngiang di telingaku kata cacian dan hinaan yang dilemparkan para warga padaku. Mereka seperti tak pernah berbuat dosa saja dan kelakuannya sebelas dua belas dengan si Nelda. Tapi, pernikahan paksa ini jadi untung besar juga buat aku. Karena aku bisa bebas membawa mas Deno ke rumahku tanpa adanya larangan dari para warga kepo. Juga tentu ini jadi alasan untuk aku agar mami tak membawaku ke luar kota ikut dengannya.
Awas saja kalau aku tahu siapa dalang di balik ini semua. Akan kupastikan hidup mereka tak kan aman! Atau ini ulah si sok alim? Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu wahai wanita sok alim.
‘’Apa maksud kamu, Chika?’’
‘’Mami nggak akan terima kita nikah paksa kayak gini. Kamu tahu sendirilah gimana Mami. Apalagi kalo dia tahu aku tengah mengandung anakmu,’’ kataku sambil menoleh pada dia yang terbaring di ranjang rumah sakit.
‘’Permisi, Mba, Mas! Mohon dilunasi dulu biaya administrasinya.’’ Wanita berseragam itu memasuki ruangan rawat mas Deno hingga membuat aku beralih menatap lelaki yang terbaring.
‘’Oke, Sus.’’ Wanita berseragam itu melangkah keluar dari ruangan. Aku bergegas mendekati lelaki yang selama ini setia di sampingku itu.
‘’Mas, untuk biaya administrasi rumah sakit mana?’’ Aku menampung tangan ke arahnya. Eh, lelaki itu malah terheran.
‘’Pakai uang kamu aja dulu ya, Sayang.’’ Membuat aku membulatkan mata. Jadi kartu ATM yang kukasih selama ini ke mana? Bukankah isi kartu itu begitu banyak. Apa habis sebanyak itu sama mas Deno?
‘’Apa? Pake uang aku? Hei, Mas! Kamu kan tahu kalo aku nggak kerja lagi,’’ kesalku yang menatapnya dengan tajam.
Aku pun banyak kebutuhan sehari-hari, jadi mana cukup. Selama ini toh juga aku membiayai hidupnya bahkan sejak dia tak bekerja lagi di perusahaan itu. Ke mana uang yang aku berikan sebanyak itu? Apa dia berikan pada anaknya?’’
‘’Hem, iya. Aku tahu kalo kamu nggak kerja. Kan uang dari orangtuamu masih ada. Pake aja itu dulu,’’ katanya dengan enteng. Kalau saja aku tak sedang mengandung anak darah dagingnya, mungkin aku akan cepat bosan dengan kelakuan lelaki ini.
‘’Sayang, kamu nggak keberatan kan? Biar aku cepat sembuh. Emang kamu tega ngelihat aku terusan terbaring di rumah sakit kayak gini?’’
Akhirnya kata-kata yang berhasil membuatku luluh seketika keluar juga dari mulut lelaki tampan itu. Aku bergegas mendekatinya, lalu mengenggam erat tangan kekarnya yang tengah terpasang infus.
__ADS_1
‘’Demi kamu apapun akan aku lakukan, Mas. Asalkan kamu tetap di sini bersamaku,’’ lirihku dengan nada manja sambil menetap matanya yang kelihatan sayu.
Ya, mungkin karena dia kelelahan dan kesakitan setelah diamuk para warga. Dia membalas genggamanku lalu mengecup tangan mulusku.
‘’Makasih, Sayang. Aku janji sama kamu, aku akan selalu di samping kamu.’’ Tangannya terangkat membelai rambut hitam panjangku yang tergerai. Membuat aku mengulum senyum bahagia. Aku menyahut dengan anggukan.
‘’Ya udah, Mas. Kamu istirahat ya. Aku mau ngurus administrasi dulu,’’ kataku yang bergegas bangkit.
Aku yang akan melangkah, namun dia menarik tanganku hingga membuat aku terhuyung ke tubuhnya. Kedua netra kami saling bertemu. Dia malah tersenyum nakal. Aku bergegas bangkit.
‘’Awas! Jangan nakal dulu. Kamu tuh masih sakit, Mas.’’ Aku menoel hidung mancungnya membuat dia tertawa lepas. Tak ingin berlama-lama menatap lelaki yang berhasil membuatku mabuk kepayang itu. Aku bergegas melangkah ke luar dari ruangan lalu menuju tempat pengurusan administrasi rumah sakit.
BRAAKK!
‘’Aw! Astaga!’’ Aku terduduk di lantai sambil menahan rasa sakit. Keterlaluan sekali!
‘’Hei, Mba! Kalo jalan itu pake matanya dong!’’ Aku bangkit dan menunjuknya dengan kasar. Seketika dia mengangkat wajahnya.
‘’Kamu nggak apa-apa?’’ Dia bergegas mengecek tangan hingga siku.
‘’Aku nggak apa-apa.’’
‘’Syukurlah. Sekali lagi aku minta ma’af ya.’’
‘’Hem, santai aja. Oh iya, kamu ngapain di sini?’’
‘’Aku nemanin Papaku. Beliau masuk rumah sakit sudah seminggu.’’
‘’Astaga! Semoga Papamu cepat sembuh ya, Fan.’’
Dia menyahut dengan anggukan lalu tersenyum,’’Kamu sendiri ngapain di sini?’’
__ADS_1
‘’Aku nemanin Mas Deno. Kasihan nggak ada yang nemanin dia. Kan semejak si Nelda menuduh Mas Deno, dia nggak pernah balik lagi ke rumah istrinya,’’ kataku.
Wanita berambut sebahu itu tampak membungkam mulutnya,’’Apa? Deno sakit? Ta—tapi apa istrinya nggak tahu?’’
‘’Iya, Fan. Aku udah kasih tahu kok. Dia sendiri yang nggak mau dateng menjenguk suaminya. Padahal ya, Mas Deno itu cinta mati sama istrinya. Eh, si Nelda malah menuduh aku selingkuh sama suaminya. Bahkan sampai memviralkan aku dan Mas Deno di café. Keterlaluan banget kan?’’
Aku melipat tangan di dada sambil tersenyum sinis memandangi wanita yang katanya dulu sahabat si sok suci. Entah sekarang bersahabat atau bukan, itu bukan urusanku. Namun, rencanaku tetap akan kujalankan.
‘’Beneran keterlaluan tuh orang. Aku nggak tahu apa yang ada di pikirannya sampe tega menuduh suami sendiri. Aku kira dia benaran alim sesungguhnya,’’ kesal Fani yang berhasil membuat aku tertawa dalam hati.
‘’Hem, kamu mau bayar biaya administrasi Papamu juga?’’ Seketika membuat wajahnya berubah menjadi sendu.
‘’Se—sebenarnya sih iya. Tapi a—aku..’’
‘’Atau jangan-jangan wanita ini nggak punya uang untuk bayar biaya administrasi Papanya? Hem, ini kesempatan emas buat aku.’’
‘’Aku paham kok. Kamu pasti nggak punya uang untuk bayar administrasinya. Secara kan kamu nggak kerja lagi,’’ sahutku sambil menepuk lengannya.
‘’Pake uang aku aja. Kebetulan aku mau membayar biaya administrasi Mas Deno.’’
Berhasil membuat dia tercengang. Aku tersenyum lebar dan menarik tangannya dengan pelan.
‘’Aku tahu kamu butuh banget. Yang penting sekarang pake aja uang aku.’’
‘’Ta—tapi, Chika..’’
Langkahnya seketika terhenti, lalu beralih menatapku.’’Kamu beneran ingin membantu aku? Atau ada maksud lain?’’ Wanita ini seperti peramal saja, tapi aku akan berusaha untuk tetap jadi Chika yang baik dan berprikemanusiaan.
‘’Ya ampun, Fan. Aku itu ikhlas membantu kamu. Jangan berburuk sangka sama aku. Bukankah kamu ingin Papamu segera sembuh?’’ Aku tersenyum manis menatap wanita yang tengah terheran itu.
‘’Sepertinya dia mulai percaya sama aku. Sahabatmu akan terus aku perdaya, Nelda.’’
__ADS_1
Bersambung.