Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Video Mas Deno?


__ADS_3

Dua hari kemudian..


Anak semata wayangku sudah bisa dibawa pulang, Alhamdulillah panasnya sudah turun. Ya, walaupun dia sering memanggil nama Papanya. Terutama di saat tengah tertidur pulas. Sesuai prediksi Dokter Nira, anakku itu kemungkinan tengah merindu berat pada Papanya. Ditambah dia kekurangan istirahat, dia sering begadang karena tak bisa tidur beberapa hari kemarin.


Aku pun sudah mencoba menghubungi nomor kontak Mas Deno, tapi nihil. Lelaki itu malah mereject telepon dariku, bahkan sudah berulangkali aku hubungi namun sekali pun tak diangkatnya. Apa dia tak kepikiran Naisya di sana? Apa dia tak mengalami hal yang sama seperti Naisya yang tengah rindu berat padanya? Atau karena dia sedang asyik bersama si pelakor itu? Jadi lupa sama anaknya? Aku menghela napas lega. Biarkan saja lelaki itu, toh dia tak kan mau peduli pada anakku. Biarkan saja aku yang membesarkan dan mendidik Naisya.


****


Hari ini aku bersyukur sekali, karena anakku bisa dibawa pulang. Aku mengusap kepala putriku yang tengah terlelap di pangkuanku. Ya, tentu karena hembusan angin yang menerpa dari balik kaca mobil. Ditambah tubuhnya masih terasa lemas. Sesekali lelaki yang tengah menyetir itu melirik ke belakang. Tatapannya itu sangat berbeda menurutku.


‘’Nel, aku udah telpon Bibi untuk membereskan kamar Naisya dan memasak untukmu,’’ kata Reno yang membuat bibirku melukiskan senyuman, namun seketika aku menariknya kembali.


‘’Ya Allah. Makasih banyak ya, Ren. Kamu udah mau direpotkan, apalagi selama Naisya di rumah sakit,’’ kataku yang merasa tak enak pada lelaki itu.


Ya, selama anakku rawat inap di rumah sakit dialah yang banyak membantuku. Mulai dari bergantian menjaga Naisya jika aku lelah, menghibur anakku, menjemput makanan ke rumah untukku, dan pokoknya dia selalu siap siaga membantuku. Aku tak habis pikir dengan lelaki itu, padahal aku selalu bersikap dingin padanya, tetapi kenapa dia tak peduli dengan sikap dinginku?


Apa karena rasa cintanya yang terlalu besar padaku? Ah, tidak! Aku tak mau memikirkan itu dulu. Belum tentu rasa cintanya tulus padaku, belum tentu juga dia lelaki yang baik untukku dan aku cuman ingin fokus membesarkan serta mendidik Naisya, putriku satu-satunya.


‘’Aduh, aku jadi nggak ingat. Kan Naisya disarankan Dokter untuk minum air hangat,’’ gumamku yang bergegas merogoh tas yang kusandang. Berniat akan menghubungi si Bibi.


‘’Aku udah kasih tahu Bibi kok.’’


Ternyata lelaki itu mendengar ucapanku. Duh, kenapa dia sebaik ini padaku dan Naisya? Apa ini semua tulus dari lubuk hatinya?


***


Tak berselang lama si roda empat sudah memasuki pekarangan rumahku. Reno membukakan pintu untukku. Seketika lelaki itu mengambil Naisya dari gendonganku dengan pelan. Netranya menatapku dengan tatapan teduh, membuat aku membalas tatapannya. Jantungku berdegup kencang.


‘’Hem, ma’af. Aku bawa dulu Naisya ke dalam ya.’’ Dia tampak salah tingkah, begitupun denganku yang mengalihkan pandangan dengan cepat.


‘’Iya.’’


Tak hentinya aku menatap punggung lelaki itu dari jauh.


‘’Nelda?’’ Membuat aku terperanjat dan mengelus dada.


‘’Eh, Mba Lili? Duh, bikin kaget aja,’’ keluhku. Wanita itu malah terkekeh pelan. Mba Lili, tetanggaku di sebelah kanan rumahku.


‘’Kayaknya laki-laki itu cocok jadi Papa barunya Naisya deh, Nel.’’ Membuat aku menghembuskan napas berat. Ada-ada saja ucapan Mba Lili ini. Aku menggeleng cepat.


‘’Saya nggak ada kepikiran ke sana, Mba. Setelah apa yang terjadi kemaren. Saya mau fokus mendidik dan menjaga Naisya dulu,’’ kataku dengan lirih.

__ADS_1


‘’Ya, saya paham.’’ Mba Lili mengangguk.


‘’Tapi, sepertinya laki-laki itu cinta sama kamu deh,’’ celetuk wanita itu yang membuat aku kembali menghela napas.


‘’Kita masuk dulu yuk, Mba,’’ kataku yang mengalihkan pembicaraannya.


‘’Enggak usah, Nel. Tadi saya cuman mau ngelihat keadaan Naisya.’’ Wanita itu senyumannya mengembang.


‘’Alhamdulillah Naisya udah lumayan membaik, Mba. Makanya udah dibolehkan pulang sama Dokter,’’ sahutku sambil tersenyum menatap wanita berambut panjang itu.


‘’Alhamdulillah kalo gitu. Semoga Naisya cepat sembuhnya ya. Ini saya membawa buah-buahan untuknya,’’ ujar Mba Lili yang beralih menatap kantong plastik yang ditentengnya lalu menyodorkan padaku.


‘’Ya Allah. Repot banget, Mba. Kita masuk dulu yuk. Biar dibikini minuman sama Bibi Sum.’’


‘’Nggak repot kok.’’


‘’Kapan-kapan aja ya, Nel. Saya mau buru-buru pergi ke pasar nih.’’ Wanita itu kembali menunjukkan seulas senyuman.


‘’Ya udah. Saya terima ya. Sekali lagi makasih banyak loh, Mba.’’ Aku langsung meraih apa yang disodorkan oleh Mba Lili. Dia menyahut dengan anggukan lalu bergegas melangkah meninggalkanku.


Aku langsung melangkah memasuki rumah. Di dalam rumah, aku melihat lelaki itu tengah melangkah ke luar dari rumahku.


‘’Nggak usah, Nel. Aku ada perlu,’’ sahutnya lemah. Ada apa dengan lelaki ini?


‘’Ya udah. Kamu hati-hati ya. Sekali lagi makasih banyak, Ren.’’ Aku mendekati lelaki itu. Netranya menatapku lama, membuat aku mengalihkan pandangan. Dia pun langsung meninggalkanku tanpa merespon ucapanku. Apa dia marah sama aku?


***


Mumpung anakku masih terlelap, aku bergegas mengambil wudhuk. Setelah itu melaksanakan solat duha empat raka’at. Mumpung masih jam sepuluhan. Belum selesai aku membuka mukena, benda canggih berbunyi. Seperti ada pesan yang masuk di aplikasi hijau itu. Aku langsung bangkit dan meraih ponsel di nakas lalu membawanya menghenyak di tempat tidur. Nomor baru? Video? Aku bergegas mengkliknya. Ternyata video Mas Deno.


‘’Dik, ma’afkan Papa ya. Papa sayaang banget sama Adik. Yang nurut sama Mama ya. Jangan nakal.’’


‘’Untuk kamu Nelda. Aku sangaat menyesal atas semua perbuatanku yang aku lakukan pada kamu dan anak kita. Ma’afkan aku. Jaga anak kita baik-baik ya. Selamat tinggal.’’


‘’Ya Allah. Apa maksud video ini? Selamat tinggal? Jangan-jangan terjadi sesuatu sama Mas Deno.’’


Tak terasa buliran air mataku ikut berjatuhan melihat video Mas Deno yang bicara sambil sesenggukan. Lalu siapa yang mengirim video ini? Aku bergegas menghubungi nomor baru yang tak dikenal itu. Namun, nihil. Nomornya tak aktif. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang tak beres.


‘’Aku harus menyelidikinya,’’ lirihku sambil mengusap buliran air mata. Aku yang akan bangkit, seketika mengundurkan niat. Benda canggihku berdering, mataku mengerjap pelan.


‘’Nomor baru? Siapa?’’

__ADS_1


‘’Hallo!’’


‘’Loh nggak perlu cari tahu di mana keberadaan suami loh. Karena itu percuma. Dia udah gue bunuh,’’ katanya diakhiri dengan ketawa besar.


Dadaku tiba-tiba sesak tak karuan, tubuh lemas begitu saja dan buliran air mata menetes kembali.


‘’Si—siapa kamu?!’’ teriakku.


Namun tak ada tanggapan dari seberang sana. Ya Allah malah dimatikan oleh manusia misterius ini. Aku langsung meletakkan benda canggih di nakas lalu menghenyak di tempat tidur. Mataku beralih menatap putri kesayangan yang tengah terlelap.


‘’Apa yang terjadi sebenarnya sama Papa kamu, Dik?’’


‘’Biar bagaimanapun juga dia tetap Papa kandungmu.’’ Aku memijit kepala yang terasa nyut-nyutan.


Di satu sisi aku sedih sekali, bagaimana kalau semua yang dikatakan oleh lelaki misterius itu benar. Bagaimana kalau Mas Deno benaran sudah mati ditangan lelaki itu? Dan di sisi lain, sebenarnya aku tak mau peduli dengan lelaki itu. Dia sudah menancapkan sembilu di hatiku, sampai kini masih belum kunjung sembuh luka itu.


Setiap perbuatan buruk pasti ada balasannya dari Allah, dan mungkin itu semua balasan dari semua perbuatannya yang dilakukannya padaku. Ya, perselingkuhan yang dia lakukan selama empat tahun itu.


Mataku kembali tertuju pada benda canggih yang tengah berdering. Aku langsung meraihnya.


‘’Fani?’’


‘’Nel, kamu udah tahu belum? Chika si pelakor meninggal dengan keadaan yang memprihatinkan.’’ Membuat aku membungkam mulut.


‘’Innalillahi wa innailaihi roji’un. Kamu benaran, Fan?’’


‘’Iya, Nel. Aku barusan melihat beritanya. Kukirimkan linknya sama kamu ya.’’


‘’Aku matikan dulu.’’ Tanpa menunggu respon dariku telepon pun terputus.


Aku termangu. Apa iya wanita itu meninggal dunia? Tak berselang lama pesan masuk di aplikasi hijauku. Ternyata Fani yang mengirimkan link berita, aku langsung mengkliknya. Aku sungguh terkesiap.


‘’Apa? Dia meninggal karena kelaparan di jalan dan karena keguguran?’’


‘’Ya Allah. Semoga dia husnul khotimah. Aku udah mema’afkannya sekarang.’’ Ya, tak salah lagi.


Ini benaran foto Chika, rambutnya berantakan, dan sungguh memperhatinkan keadaannya. Dalam waktu yang sama aku mendengar kabar buruk tentang dua orang yang menoreskan luka di hatiku.


‘’Ya Allah. Ampunilah semua dosa-dosa mereka. Aku udah ikhlas atas apa yang terjadi.’’


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2