
‘’Bu, ada Mas-Mas paket yang nanyain Ibu,’’ kata wanita separuh baya itu yang tergopoh-gopoh melangkah menghampiri aku yang tengah beberes rumah.
Sebenarnya bibi tak membolehkan aku, tapi aku tetap memaksa bibi agar aku diperbolehkan untuk beberes rumah. Alasanku padanya, biar tubuhku lebih terasa hangat setelah beberes. Karena selama ini aku hanya berdiam diri di ruang rawat saja.
‘’Mas paket? Aku nggak mesan apa pun kok, Bi,’’ sahutku dengan terheran dan menatap wanita yang kuangggap sebagai keluargaku itu.
‘’Tapi katanya untuk Ibu. Temui aja dulu sana, Bu.’’
‘’Biar Bibi yang melanjutkan beberesnya. Kan Ibu baru keluar dari rumah sakit,’’ imbuhnya kemudian yang bergegas mengambil alih kemoceng dari tanganku.
‘’Udah aku bilang, Bi. Biar tubuhku lebih hangat dan sebagai ganti olahraga pagi,’’ kataku sembari tertawa kecil.
‘’Maraton aja biar tubuh terasa hangat, Bu. Nanti malah Bibi dimarahin sama Mas Reno lagi. Upps.’’ Dia membungkam mulutnya dengan telapak tangan, membuat aku terkesiap dan menggeleng.
‘’Ada-ada aja si Bibi,’’ keluhku.
Dan bergegas melangkah keluar dari rumah. Tampak lelaki yang mematung di depan garasi. Aku yakin bibi yang membukakan pagar untuk lelaki itu.
Matanya pun seketika tertuju padaku,’’Mba, Mba yang namanya Nelda kan?’’
‘’Ini ada paket untuk Mba,’’ katanya yang bergegas menyodorkan padaku. Sebuket bunga mawar tampaknya yang begitu indah.
‘’Mohon diterima ya, Mba.’’
‘’Ta—tapi aku nggak mesen apa-apa, Mas.’’
‘’Iya, saya tahu. Ini adalah kiriman dari seseorang untuk, Mba.’’ Dengan ragu aku meraih sebuket bunga itu.
‘’Mohon ditanda tangani dulu ya, Mba.’’
Lelaki asing itu menyodorkan kertas dan pena padaku. Tanpa pikir lagi, aku bergegas menandatanganinya dan mengembalikan kertas serta pena itu pada lelaki si tukang paket.
‘’Oke, makasih ya, Mas.’’
Dia tampak mengangguk dan tersenyum ramah, lalu hilang dari pandanganku seketika. Aku menatap sebuket bunga mawar dalam pangkuanku itu, tampak terselip surat kecil. Aku bergegas meraihnya.
‘’Assalamua’alaikum, Nel. Kamu harus banyakin istirahat ya, biar bener-bener pulih dulu. Dan jangan lupa obatnya di makan. Oh ya, satu lagi bagaimana kabar Naisya? Semoga saja dia sehat selalu ya. Sampaikan salamku padanya. Btw, aku minta ma’af karena aku lancang mengirim bunga dan surat ini ke kamu. Karena aku nggak bisa ke rumahmu, aku sibuk banget sekarang. Sekali lagi ma’af ya, kamu jangan marah sama aku. Karena jika aku nggak mengirimkan surat dan bunga ini, aku enggak akan tenang dibuatnya.’’ ~ Reno~
‘’Jadi ini dari Reno?’’ lirihku yang terus saja memandangi surat kecil dan sebuket bunga itu. Aku menghela napas dengan berat.
’’Apa sebenarnya yang dia mau dariku?’’ gumamku. Aku bergegas menyelipkan kembali surat itu dan bergegas melangkah memasuki rumah.
__ADS_1
‘’Ah iya, pagar belum aku tutup.’’
Aku kembali melangkah menuju pagar dan menutupnya. Begitu repot rasanya rumah sebesar ini tak ada yang menjaga. Ya, dulu aku punya security rumah pribadi, namanya pak Jojo. Tapi setelah anaknya meninggal dunia di kampung halaman, membuat dia tak pernah lagi ke sini. Sejak itulah aku tak ada niat lagi mencari security baru. Karena memang susah mencari security seperti pak Jojo yang disiplin, tegas dan sangat baik.
Selesai menutup pagar, aku bergegas melangkah memasuki rumah.
‘’Apa aku buang aja kali ya bunga dan surat ini?’’ gumamku lirih.
‘’Bu?’’
‘’Ah ya, Bi.’’
‘’Wah, Ibu bawa sebuket bunga nih. Ciee,’’ godanya yang menghampiriku dan menatap apa yang tengah aku bawa.
Aku menghela napas pelan,’’Apaan sih, Bi,’’ keluhku kemudian. Membuat wanita itu terkekeh pelan dan terus saja menatapku.
‘’Jangan-jangan dari Mas Reno lagi, Bu,’’ tebaknya sembari mengangkat satu alis matanya. Aku hanya tersenyum tipis dan melanjutkan langkahku menuju kamar, namun bibi terus mengikuti langkahku.
‘’Kalo Ibu enggak mau, berikan aja ke Bibi ya.’’
‘’Jangan dibuang, Bu,’’ imbuhnya yang membuat aku tertawa kecil, lalu menoleh.
Tampak putriku masih tertidur nyenyak. Tanpa pikir lagi, aku bergegas menaruh sebuket bunga itu di atas almari. Kupajang di sana. Ya, sebenarnya aku ingin membuang bunga itu, namun hati kecilku memberontak. Biasanya aku memang tipe wanita yang suka menghargai pemberian orang lain, walaupun barang yang diberikan padaku itu bukan barang yang kusukai. Maka aku akan tetap menyimpan barang itu dengan baik.
‘’Mana tahu sekarang Ibu bertukar pikiran,’’ katanya sembari terkekeh di luar sana.
‘’Enggaklah, Bi.’’
‘’Ah, iya. Bi aku boleh minta tolong nggak?’’ Aku bergegas menghampiri bibi yang berada di ambang pintu kamarku.
‘’Boleh, Bu, Buat Ibu apa sih yang enggak,’’ godanya yang membuat aku tersenyum lebar.
‘’Ih, Bibi gombal,’’ kataku sembari mencubit lengannya dengan pelan. Tampak dia mengelus lengannya, aku tersenyum dan menggeleng.
‘’Gini, aku mau nyari security untuk rumah kita ini. Bibi bisa membantuku untuk membuatkan posternya? Nanti biar kita pajang di depan.’’
Si bibi tampak berpikir.
‘’Kalo Bibi enggak bisa, Bu. Kan tulisan Bibi jelek,’’ katanya dengan terkekeh. Itu membuat aku ikut tertawa kecil.
‘’Biar Bibi minta buatkan saja ke Mas-Mas di warnet sebelah ini,’’ imbuhnya kemudian.
__ADS_1
‘’Bagus juga idenya, Bi. Tapi secepatnya ya, biar kita bisa memajangnya dengan cepat.’’
‘’Siap, Bu,’’ ujarnya seperti seseorang yang tengah melapor pada komandannya.
‘’Makasih banyak ya, Bi. Ya udah, Bibi sarapan dulu sana.’’
‘’Iya, Bu. Eh, Bibi belum selesai membuatkan sarapan untuk Ibu. Kalo gitu Bibi ke dapur dulu ya.’’ Aku menyahut dengan anggukan. Bergegas aku menghenyak di ranjang, tampak putri mungilku tengah mengusap bola matanya.
‘’Papa,’’
Satu kata, namun mampu membuat dadaku terasa sesak dan hatiku perih. Aku berusaha untuk mengalihkan ucapan putri mungilku.
‘’Mama ya, Nak? Ini Mama ada di dekat Adik,’’ kataku pelan dan mengusap kepalanya.
‘’Bukan, Ma. Adik maunya Papa!’’ pekiknya yang membuat aku kaget dan hatiku juga perih mendengar seseorang yang ditanyakan oleh anakku itu. Ya, waktu dulu jika Naisya bangun tidur maka dia akan bermain dengan papanya.
‘’Sayang, dengerin Mama ya. Papa sibuk, kan Mama udah bilang ke Adik.’’ Lembut aku berkata dan mencoba menjelaskan. Namun, dia malah menangis yang membuat hatiku semakin pedih dibuatnya.
‘’Apa yang aku cemaskan ternyata terjadi. Ma’afkan Mama ya, Nak,’’ gumamku dalam hati yang menatap putri semata wayangku tengah sesenggukan. Aku bergegas menyeka air matanya.
‘’Jangan nangis. Nanti anak cantik Mama ini malah jelek, gimana?’’
Kali ini senjataku tak mempan. Biasanya begitulah caraku membujuk Naisya atau mengajaknya bermain.
‘’Kita mandi dulu ya, Dik. Setelah itu, baru main sama Mama.’’
Dia malah menggeleng cepat. Air matanya terus saja membasahi pipi mungilnya. Aku harus pakai cara apa lagi Ya Allah untu membujuk anakku?
‘’Adik rindu sama Papa,’’ katanya lirih di sela isakan tangisnya. Rindu sama papanya? Membuat air mataku lolos seketika, namun dengan kasar aku langsung menyekanya.
‘’Bagaimana ini? Apa aku egois dengan caraku seperti ini yang nggak membolehkan dia bertemu dengan Papanya? Tapi, Mas Deno belum tentu mau bertemu dengan Naisya. Apa yang harus aku lakukan Ya Allah?’’ aku membatin.
Hatiku sungguh teriris. Aku sekarang kebingungan. Apa aku menuruti keinginan anakku untuk bertemu dengan papanya? Atau bagaimana? Tapi aku khawatir jika lelaki itu malah tak mau bertemu dengan anakku atau malah selingkuhannya tak memperbolehkan, bisa saja kan?
‘’Dik, kenapa? Kok nangis?’’ suara bibi terdengar dari luar dan bergegas memasuki kamarku.
‘’Gimana kalo nanti Bibi suruh Om Reno ke sini? Tapi Adik harus diem dulu dan sekarang mainnya sama Bibi dulu ya.’’
Membuat aku terheran. Naisya malah berhenti menangis. Apa segitu dekatnya dia sama lelaki itu?
Bersambung.
__ADS_1